Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
136. Enak banget


__ADS_3

"Jadi dewasa itu nggak enak tau, Rob," sahut Joe.


"Nggak enaknya kenapa?" Robert menoleh ke arah Joe dengan kening yang mengerut. "Robert lihat Daddy enak-enak aja tuh, dan terlihat bahagia banget apalagi pas menikah lagi sama Mommy Syifa," tambahnya.


"Menikah itu nggak melulu soal kebahagiaan, Sayang. Pasti ada ujiannya juga," jelas Joe. "Kalau kamu sudah dewasa, banyak yang musti kamu pikirkan. Kamu juga harus semangat kerja, buat ngasih nafkah istri dan anakmu kelak."


"Kayaknya pembahasan ini udah terlalu jauh deh, A," sahut Syifa yang menurutnya akan lebih baik menyudahi saja pembahasan ini. "Lebih baik ... sekarang kita ke kamar saja. Buat mandi, yuk, Nak," tambahnya berbicara kepada Robert.


"Ayok, Mom." Robert mengangguk setuju. Lantas merelai pelukan dan menggenggam tangan Syifa. "Robert akan tunjukkan letak kamar Daddy kepada Mommy."


"Aku pamit ke kamar dulu, ya, A ... Mi ... Pi," pamit Syifa seraya menatap suami dan kedua mertuanya.


"Iya, Yang." Joe yang menyahut. Dia mengangguk dan tersenyum menatap Syifa. "Nanti aku nyusul, ya, kamu ambil saja baju gantinya di lemariku. Ada di sana."


"Iya, A." Syifa pun mengajak Robert melangkah bersama, dan bocah itu menunjuk ke arah lift.


"Oh ya, Papi punya salep pereda nyeri nggak? Pinggangku rasanya pengen patah, sakit dan pegel banget." Joe menyentuh pinggangnya sambil kembali meringis.


"Ada. Nanti Papi suruh Bibi dulu bentar untuk mengambilnya, ya?" Papi Paul bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju dapur untuk meminta tolong pada pembantu rumah tangganya.


"Kok bisa, pinggangmu sakit?" tanya Mami Yeri. "Pas di bioskop kamu bercinta lagi, ya, sama si Syifa? Pakai gaya apa?"


Sepertinya, lagi-lagi yang ada diotak Mami Yeri adalah tentang bercinta dan gayanya. Padahal sudah jelas tadi, jika Joe mengatakan kalau dirinya terkena musibah.


"Ini gara-gara aku habis ngepel seluruh ruangan bioskop, Mi, bukan bercinta."


"Jadi beneran, itu karena kamu ngompol?"


Joe mengangguk lesu.


"Tapi alasan kamu ngompol itu apa, Joe? Kok bisa, sih?"


"Gara-gara si Robert, Mi. Padahal aku udah bilang sama dia ... untuk jangan nonton film horor, karena selain membuat jantung berdebar, bisa berakibat kencing dicelana," jawab Joe, kemudian melanjutkan. "Ya kupikir Robert yang akan kencing dicelana ... eh taunya malah aku yang kencing dicelana."


"Seriusan? Jadi itu sebabnya kamu ngompol? Karena takut? Hahaha ...." Mami Yeri bergelak tawa, merasa lucu mendengar cerita anaknya.


"Bukan takut, Mi, tapi itu karena kaget," bantah Joe. "Soalnya, ada pria di sampingku yang pegang tanganku. Udah tau lagi suasana film. Kan tegang, jadi refleks lah aku teriak. Eh malah bocor ... nggak ketahan."


"Memangnya pria di sampingmu itu kenapa pegang tanganmu segala? Apa dia juga ikut takut ... pas nonton?"


"Katanya sih gara-gara aku mau main hape. Padahal niatku main hape juga mau menghubungi Ustad Yunus, mau nanya do'a nahan kencing," terang Joe.


"Ustad Yunus itu bukannya Omnya si Sandi, kan?" tebak Mami Yeri.


"Iya." Joe menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tapi memangnya ada ... do'a nahan kencing? Dan untuk apa kencing ditahan? Bukannya itu nggak baik buat kesehatan, ya, Joe?"


"Aku nggak tau, ada apa nggaknya do'a nahan kencing. Soalnya 'kan situasi lagi panik, Mi. Dan alasan aku nahan kencing juga karena takut pergi ke toilet."


"Kenapa nggak minta antar Robert saja?"


"Orang dia lagi serius nonton. Lagian nggak maulah aku, minta anter dia. Nanti dia berpikir aku cemen lagi. Masa ke toilet saja diantar. Aku juga malu sama Syifa, Mi, takut nanti dia ilfil sama suaminya yang penakut ini." Joe merengut sambil membuat napasnya dengan lesu.


"Lagian kamu kok lebay banget sih, Joe. Jadi orang kok penakut banget. Ngapain juga takut sih sama film horor? Setannya 'kan bohongan."


"Meskipun bohongan 'kan serem wajahnya, Mi," balas Joe. "Ah Mami juga sama sih, kayak aku. Penakut juga. Mana berani Mami nonton film horor?"


"Mami penakut juga wajar, namanya perempuan. Yang nggak wajar itu kamu!" hardiknya sambil menunjuk ke wajah Joe. "Laki-laki tapi penakut. Malu kali sama tongkatmu."


"Nggak ada hubungannya sama tongkat, Mi," bantah Joe. "Si Syifa saja perempuan, tapi dia nggak takut tuh, nonton film horor." Dia membalikkan ucapan Mami Yeri. Supaya tak dipojokkan.


"Semua orang beda-beda, Joe. Tapi kayaknya nggak lucu aja, kalau laki-laki itu penakut. Mana udah tua lagi."


"Enak saja tua. Aku masih muda kali, Mi." Joe mendengkus sambil memutar bola matanya dengan malas. Ternyata bukan hanya Robert saja yang menyebalkan dan terus meledeknya, tapi sekarang Mami Yeri juga sama.


*


*


*


Joe membuka pintu kamar mandi seusai gosok gigi. Lantas dia pun perlahan melangkah menuju kasur, menghampiri istri dan anaknya yang sudah duluan ada di sana.


Robert terlihat sudah tertidur pulas, sedangkan Syifa sendiri masih sibuk membacakan dongeng yang dia baca lewat ponselnya.


"Yang ... aku minta maaf, ya," ucap Joe dengan wajah bersalah. Segera dia naik ke atas kasur, kemudian membaringkan tubuhnya dengan kepala yang menyangga pada kedua paha Syifa.


Istrinya itu berada di tengah-tengah antara dirinya dan Robert. Duduk selonjoran.


"Maaf untuk apa, A?" Syifa menaruh ponselnya di bawah bantal, lalu menatap ke arah Joe sambil mengusap rambutnya.


"Kayaknya malam ini kita libur dulu bercintanya, besok baru lanjut."


"Pasti karena Aa kehabisan gaya, ya, buat bercinta?" tebak Syifa.


"Ini bukan tentang gaya, Yang," sahut Joe sambil menggelengkan kepalanya. "Tapi tentang pinggangku, yang terasa sakit," tambahnya sambil menyentuh pinggang sambil meringis.


"Kok bisa sakit? Udah minum obat dan diolesi salep belum? Mau aku beliin obat atau gimana, A?" Syifa langsung ikut menyentuh pinggang Joe, dan ikut-ikutan meringis juga. Seolah merasakan apa yang Joe rasakan.


"Nggak usah, Yang," tolak Joe sambil tersenyum dan menggeleng kecil. "Aku udah minum obat tadi habis makan, tinggal dibaluri salep saja yang belum."

__ADS_1


"Salepnya ada nggak? Sini biar aku bantu olesi, A."


"Ada." Joe merogoh kantong sebelah kiri celana kolornya, lalu memberikan sebuah benda yang mirip seperti pasta gigi ke tangan Syifa. "Ini salepnya. Tapi memangnya nggak apa-apa, kalau kamu yang olesi? Takutnya mengganggumu lagi," tanyanya dengan perasaan tidak enak.


"Menganggu apa, sih, A? Memangnya aku lagi kerja, ya, pakai menganggu segala?" Syifa terkekeh. "Udah sekarang Aa tengkurap dulu, biar enak aku olesinya."


"Oke deh. Pelan-pelan ya, Sayangku."


"Iya, A," sahut Syifa.


Joe pun dengan perlahan bangkit, kemudian membuka kaosnya. Setelah itu dia meluruskan posisi tubuhnya dan tengkurap di samping Syifa.


Penutup salep itu perlahan Syifa buka, kemudian menekan isinya pada ujung jari tengah dan telunjuk. Setelahnya dengan perlahan dia mengolesi pada pinggang Joe, sambil memijitnya tipis-tipis.


"Duh ... enak banget, Yang ...," puji Joe sambil memejamkan mata. Dia merasakan hangat pada kulitnya, ditambah sentuhan tangan yang membuat tubuhnya meremmang.


Padahal Syifa mengolesinya biasa saja, tapi bisa-bisanya itu membuat darah Joe berdesir lebih cepat yang berakibat miliknya yang tiba-tiba menegang.


"Kalau pijatanku terasa sakit, Aa ngomong saja, ya?"


"Nggak sakit, malah enak banget. Bikin pengen, Yang," jawab Joe sambil mendesaah.


"Pengen apa?"


"Pengen nggak berhenti. Pengen terus dipijitin, hehe ...," kekehnya. "Ternyata kamu bisa mijit ya, Yang, belajar di mana?"


Syifa langsung tersenyum dengan kedua pipi yang merona. Menurutnya itu merupakan sebuah pujian. "Nggak belajar di mana-mana, hanya saja aku sering pijitin kaki dan bahu Abi, A, kalau dia minta."


"Oh ... beruntung, ya, Abi Hamdan punya anak seperti kamu, Yang. Tapi lebih beruntung lagi aku ... yang punya istri sesempurna kamu."


"Aku nggak sempurna, A. Aku masih banyak kekurangan."


"Apa memangnya kekuranganmu? Setauku nggak ada, Yang."


"Aku nggak bisa masak, A, dan aku juga belum bisa ngasih Aa anak."


"Masak bisa belajar, anak juga akan secepatnya hadir, Yang."


"Apa kalau aku hamil, Mami dan Papi akan berubah kayak dulu lagi, A?"


"Maksudnya?" Joe mengalihkan posisi kepalanya, untuk menoleh ke arah Syifa. Raut wajahnya tampak bingung.


Syifa tersenyum, tapi mimik wajahnya tampak sendu. "Aku tau, mungkin berubahnya Mami dan Papi karena kecewa sama aku yang ternyata nggak beneran hamil. Aku bisa memaklumi itu. Tapi aku melihat, sekaligus mendengar dari Robert ... Mami sepertinya lebih menginginkan Yumna yang jadi istri Aa, ketimbang aku."


"Kok kamu bilang kayak gitu?" Joe mengangkat lengannya, lalu mengusap pipi kanan Syifa yang terlihat memerah. Bola matanya pun sudah berkaca-kaca. "Memang, Mami ngomong apa saja kepada Robert? Yang ada hubungannya dengan Yumna?" tanyanya yang tak tahu menahu.

__ADS_1


^^^...Bersambung......^^^


__ADS_2