Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
54. Karena si Jojon sangat membenci Fahmi


__ADS_3

"Mereka ada di kamarnya, Nak," jawab Abi Hamdan. "Tapi kalau tentang kamu tidur sama Opa dan Omamu ... Opa sendiri nggak tau."


"Tapi kamar Daddy di mana? Apa Opa tau?" tanya Robert kembali.


"Tau, itu di depan kamar Opa dan Omamu," sahut Abi Hamdan. "Udah ... sekarang kita ambil wudhu dulu, ya?"


"Iya, Opa." Robert mengangguk, mereka pun menuju kran air.


***


"Halo, Mi, apa Mami sudah bangun?" tanya Joe yang berada dalam sambungan telepon Mami Yeri.


"Mami baru bangun," jawab Mami Yeri, lalu bertanya, "Ada apa, Joe?"


"Robert lagi apa, Mi? Apa dia masih tidur?"


Mami Yeri langsung menoleh ke samping, dan sontak dia terbelalak lantaran tak melihat cucunya. Tapi rasa kagetnya seketika meluntur lantaran tak ada kehadiran Papi Paul juga. Dia menebak, jika cucunya itu pasti bersamanya.


"Robert sudah bangun kayaknya, tapi sama Opamu. Soalnya pas Mami bangun ... mereka berdua udah nggak ada."


"Oh gitu. Eemm ... apa aku boleh menitipkan Robert lagi kepada Mami? Tapi seharian."


"Seharian?" Kening Mami Yeri tampak mengerenyit. Heran mendengar permintaan sang anak.


"Iya. Bisa 'kan, Mi?" pinta Joe dengan suara yang terdengar begitu lembut. "Aku ingin menghabiskan hariku bersama Syifa berduaan dikamar. Nanti malam atau besok pagi ... aku baru balik dan mengambil Robert."


"Lho, memangnya semalam masih kurang, Joe? Kan kalian udah menghabiskan malam pengantin?"


"Iya, semalam sukses. Tapi aku masih kurang, Mi. Boleh, ya, aku titipin Robert. Mumpung dia hari ini nggak sekolah juga."


"Boleh aja. Tapi apa kamunya nggak kasihan, sama Syifa, Joe?"


"Kasihan kenapa?"


"Istrimu itu lagi hamil muda. Masa kamu goyang terus. Capeklah dia, khawatir juga Mami sama janinnya."


"Mami tenang saja, aku mainnya aman dan pelan kok. Cucu Mami nggak akan kenapa-kenapa," sahut Joe dengan yakin.


"Tapi hanya hari ini saja, ya, Joe. Besok kamu dan Syifa pulang dan libur dulu bercintanya. Kasih jeda buat istirahat. Kasihan."


"Iya. Terima kasih ya, Mi. Tapi Mami jangan kasih tau Robert tentang ini. Cari alasan lain saja. Ya sudah, assalamualaikum."

__ADS_1


"Iya." Mami Yeri mematikan sambungan teleponnya, kemudian beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi.


*


*


Seusai sholat, mandi serta mengganti pakaian—bocah berusia 7 tahun itu kini sudah berada tepat di depan kamar Joe dan Syifa. Tapi dia tidak sendiri, melainkan bersama Abi Hamdan.


Pria itu juga sudah mandi dan berganti pakaian. Tadi Sandi sempat datang membawa pakaian ganti untuknya, Robert, Umi Maryam, Papi Paul serta Mami Yeri.


Robert menengadah ke atas pintu. Ingin memencet bel rasanya, tapi tidak dapat dia jangkau. Akhirnya, dia pun berinisiatif ingin mengetuk pintu.


"Daddy! Mommy!" teriak Robert dengan tangan yang terangkat, namun belum sempat dia berhasil mengetuk pintu tersebut—Mami Yeri yang tiba-tiba datang langsung menahan tangannya.


"Jangan diketuk, Sayang," larangnya yang mana membuat Robert menoleh.


"Kenapa, Oma?" tanyanya heran.


"Biarkan saja Daddymu dan Mamimu berduaan di kamar. Mending kita ke restoran ... makan, yuk, ini juga udah siang," ajak Mami Yeri yang langsung menggendong sang cucu.


"Tapi Robert kepengen makan bareng Mommy, Oma. Pengen disuapi," rengek Robert dengan kaki yang bergerak-gerak, bola matanya juga tampak berkaca-kaca.


"Udah panggil saja Syifanya, Bu, lagian ... mereka berdua semalaman 'kan udah bersama," saran Abi Hamdan. Dia merasa tak tega kepada cucunya.


Papi Paul dan Umi Maryam yang baru saja keluar dari kamarnya masing-masing itu langsung melangkah bersama menghampiri mereka.


"Mami, Robert, Bu Maryam dan Pak Hamdan ... ayok kita makan bersama. Ada restoran temanku didekat sini yang baru buka, dia menawari makan gratis," ajak Papi Paul.


"Wah, boleh tuh, Pak." Umi Maryam tampak antusias mendengar kata 'gratis' dan namanya di restoran—pasti makanannya enak-enak, itulah yang terbesit di dalam otaknya.


"Maaf, Pak, tapi kayaknya aku dan Uminya Syifa mau pulang ke rumah kami," ucap Abi Hamdan.


"Lho, kok pulang sih, Bi?" Umi Maryam menatap suaminya dengan wajah tak setuju. "Kita 'kan belum menikmati tinggal di hotel, masa pulang?"


Jangankan menikmati, mereka tidur di kasurnya saja belum. Tapi sudah ingin pulang saja Abi Hamdannya.


Pria tua itu mendekat, lalu berbisik ke telinga kanan istrinya. "Nggak enak tinggal di hotel, Mi. Mending di rumah. Ditambah Abi juga mules, pengen berak." Sambil mengusap perutnya.


"Mules?" Kening Umi Maryam tampak mengernyit. "Kan ada tempat berak di kamar kita, Bi. Ngapain pusing-pusing?" Suaranya lebih keras, sehingga mampu didengar oleh besannya.


"Memangnya ... WC di kamar mandi Bapak dan Ibu mampet?" tanya Papi Paul menatap besannya.

__ADS_1


"Nggak mampet, Pak," jawab Abi Hamdan sambil menggelengkan kepala. "Hanya saja, aku nggak biasa berak duduk. Bawaannya nggak mau keluar."


"Oh. Emang WC di rumah sambil tiduran kalau berak?"


"Dih, nggaklah." Abi Hamdan sontak terkekeh. Merasa lucu. "Mana ada berak sambil tiduran. Di rumahku jongkok, Pak."


"Oh ...." Papi Paul ikut terkekeh. "Ya sudah, ayok bareng saja pulangnya. Nanti sekalian aku antar."


"Ah nggak perlu, Pak. Terima kasih," tolak Abi Hamdan yang merasa tidak enak. "Aku dan Uminya Syifa naik ... taksi saja. Kita bareng turunnya saja dari lift, ya?"


"Oh ya sudah." Papi Paul mengangguk.


"Sebentar ... saya mau ambil koper dulu." Abi Hamdan melangkah cepat menuju kamarnya, dan Umi Maryam yang terlihat cemberut itu mengikutinya.


Dari lubuk hati terdalam, Umi Maryam masih ingin berada di hotel. Hanya saja untuk menahan permintaan suaminya—dia tidak bisa.


*


*


Di dalam mobil taksi menuju arah jalan pulang, Abi Hamdan pun tiba-tiba mendapatkan sebuah panggilan masuk dari Pak Haji Samsul. Segera, dia pun mengangkatnya.


"Siapa, Bi?" tanya Umi Maryam yang berada di sampingnya.


"Pak Haji Samsul, Mi," jawab Abi Hamdan menatap istrinya, lalu berkata pada sambungan telepon. "Halo, Pak, assalamualaikum."


"Walaikum salam. Apa Ustad sudah tau kalau Fahmi masuk rumah sakit?" tanya Pak Haji Samsul. Nada suaranya terdengar nyaring sekali.


"Tau, Pak. Kenapa ya, memangnya?"


"Kok tanya kenapa? Harusnya Ustad ada inisiatif dong buat jenguk. Fahmi masuk rumah sakit 'kan gara-gara menantu Ustad," ketusnya yang tiba-tiba marah.


"Menantu?!" Kening Abi Hamdan tampak mengernyit. "Kok bisa, Nak Fahmi masuk rumah sakit gara-gara Jojon, Pak Haji? Memangnya apa yang dilakukannya kepada Nak Fahmi?"


"Dia menguncinya di dalam toilet. Si Fahmi sampai pingsan dan akhirnya dirawat."


"Lho, tapi tadi pagi kata Sandi ... Nak Fahmi masuk rumah sakit karena dia makan terlalu banyak, Pak, kok jadi karena Jojon, sih?" tanya Abi Hamdan bingung.


"Pertama memang karena itu. Tapi Jojon di sini juga salah karena dengan teganya dia mengunci Fahmi. Ustad pikir ... perbuatan Jojon akan dibenarkan, begitu?"


"Masa, sih, si Jojon sampai mengunci Nak Fahmi di toilet? Apa coba alasannya?" Abi Hamdan tampak tak percaya.

__ADS_1


"Mana kutahu, Tad," jawab Pak Haji Samsul kesal. "Tapi aku yakin ... itu semua karena si Jojon sangat membenci Fahmi. Yang aku inginkan sekarang ... si Jojon musti tanggungjawab. Dan Ustad yang sebagai mertua sekaligus tokoh agama ... musti benar-benar menasehatinya, karena perilaku dari menantu Ustad musti benar-benar dirubah. Dia itu nggak berperikemanusiaan."


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2