
"Maaf, Nab. Tapi saya nggak bisa," tolak Ustad Yunus. Bukan tak ada sebab tentunya dia menolak.
"Lho ... kenapa, Tad?" Zaenab terlihat kecewa, tapi dia masih berusaha menampilkan senyuman manis diwajahnya. "Oh ... atau Ustad ada acara lain, ya?"
"Kalau acara sih enggak ada, Nab. Tapi saya hanya takut nantinya ada kesalahan pahaman."
"Kesalahan pahaman?" Alis mata Zaenab saling bertaut. Dia terlihat bingung. "Maksudnya?"
"Maaf ... saya saat ini sedang menjalin ta'arufan dengan seorang perempuan, Nab. Dan rasanya tidak etis, jika saya pergi dengan perempuan lain."
"Tapi kita pergi 'kan cuma kondangan, Tad. Nggak ke mana-mana. Selain itu aku juga 'kan tetangga Ustad."
"Saya ngerti, Nab." Ustad Yunus mengangguk. "Tapi tetap saja ... namanya manusia 'kan enggak tau. Bisa saja nanti perempuan incaran saya itu melihat saya pas lagi sama kamu. Nanti bisa-bisa dia berpikir saya nggak serius sama dia. Padahal 'kan saya betul-betul serius."
"Oh ... tapi memangnya, perempuan incaran Ustad itu siapa? Apakah anak RT sini? Apa sebelah?" tanyanya yang mendadak jadi kepo. Tapi dalam hati, dia merasa sedih lantaran mendengar Ustad yang jomblo itu ternyata sudah punya tambatan hati.
"Rumahnya jauh, Nab. Jadi pastinya bukan di RT sini atau sebelah."
"Apa dia cantik?"
"Cantik," jawabnya tanpa ragu. "Dan saya berpikir semua perempuan itu cantik di dunia ini, Nab."
"Kalau aku? Bagaimana, Tad?" Zaenab langsung membereskan kerudung segi empatnya meski tak berantakan.
Walau perempuan itu memakai hijab, tapi Ustad Yunus akui jika pakaiannya agak ketat. Karena dadanya terlihat membusung sekali.
Untungnya, Ustad Yunus ini memang selalu menjaga pandangan. Maka tak heran, selama ngobrol dia kerap kali menatap ke arah lain.
"Kan saya sudah bilang, Nab. Kalau perempuan itu semuanya cantik."
"Berarti aku juga cantik, begitu?"
"Iya."
"Terus—"
"Permisi ... assalamualaikum ...," sela seorang pria yang baru saja datang. Melangkah menghampiri mereka.
"Walaikum salam." Ustad Yunus dan Zaenab menyahut bersama lalu menatapnya. Dia seorang pria dan memakai stelan jas berwarna abu-abu muda, terlihat begitu rapih sekali.
"Saya ingin tanya, Pak. Itu rumah di sebelah masjid ... benar rumahnya Ustad Hamdan Sonjaya, bukan?" tanyanya kepada Ustad Yunus.
"Benar, Pak." Ustad Yunus mengangguk. "Tapi kenapa ya, Pak?"
__ADS_1
"Saya ingin bertemu dengannya, tapi ke mana orangnya, Pak? Tadi pas ke sana rumahnya sepi seperti nggak ada orang."
"Kebetulan beliau memang lagi sakit, Pak. Sekarang lagi di rumah sakit, lagi dirawat."
"Oh gitu ...." Pria itu menggaruk rambut kepalanya, dan wajah terlihat bingung sekarang. "Kira-kira, di sini selain Ustad Hamdan ... apa ada Ustad lain, yang bisa ngusir mahluk halus, Pak? Saya butuh banget soalnya."
"Ustad Yunus ini juga bisa mengusir mahluk halus, Pak," tunjuk Zaenab dengan gerakan dagu.
"Siapa yang diganggu makhluk halus, Pak? Apa Bapak?"
"Oh, ternyata Bapak ini seorang Ustad? Ah maaf, saya nggak tau. Salam kenal, Tad." Pria itu langsung mengulurkan tangannya kepada Ustad Yunus dengan raut tak enak, dan Ustad Yunus pun segera menyambutnya.
"Enggak masalah, Pak. Jadi siapa yang diganggu makhluk halus? Apa keluarga Bapak?"
"Kita ngobrol dulu, Tad. Biar jelas nanti saya ceritakan detailnya." Pria itu langsung duduk, kemudian menatap ke arah Zaenab. "Mbaknya bisa pergi nggak? Saya ingin bicara empat mata dengan Ustad Yunus," pintanya, saat melihat Ustad Yunus sudah duduk di sampingnya.
"Kenapa memangnya? Rahasia?" tanya Zaenab yang terlihat enggan untuk pergi. Aslinya dia masih ingin mengobrol dengan Ustad Yunus.
"Iya, Mbak." Pria itu mengangguk.
"Sebaiknya kamu pulang saja, Nab. Nggak baik juga, mendengar orang yang sedang mengobrol serius. Apalagi berupa rahasia begini."
"Ah ya sudah deh." Zaenab terlihat merajuk. Bibirnya mengerucut. "Aku pergi, Tad. Assalamualaikum."
"Walaikum salam."
"Sebelumnya perkenalkan dulu, nama saya Roni, Tad."
"Saya Yunus, Pak."
"Jadi saya 'kan punya bos, ya, Tad. Dia akhir-akhir ini selalu saja kena apes. Katanya itu semua gara-gara sering ketemu kakek-kakek. Dan belum lama ini dia tertabrak mobil, terus hari ini dia baru aja kecelakaan mobil."
"Jadi maksudnya, bos Bapak yang diganggu makhluk halus?"
"Iya." Roni mengangguk. "Dia seorang kakek-kakek dan sering bawa karung, Tad, kata bos saya. Kemarin-kemarin bos sayaq sudah sempat berkunsultasi sama Pak Pendeta. Dan kata Pak Pendeta ... itu mahluk halus, udah coba diusir juga. Tapi sayangnya ... sampai detik ini dia masih diganggu."
"Makhluk halusnya menyerupai kakek-kakek, kan, maksudnya? Atau beneren kakek-kakek manusia biasa, Pak?"
"Mahluk halus yang menyerupai kakek-kakek, Tad. Soalnya dia pernah ngomong sama saya ... pas naik mobil, katanya dia duduk sama kakek-kakek dan meminta saya untuk mengusirnya. Tapi saya sendiri nggak melihat apa-apa, Tad."
"Halusinasi kali, Pak. Barangkali bos Bapak."
"Menurut saya sih begitu, tapi dia nggak percaya. Bos saya juga menyarankan saya untuk mencari orang yang bisa mengusir mahluk halus. Tadinya sih saya ingin memanggil dukun, tapi kata teman saya ... mending Ustad dan kebetulan ... teman saya menyarankan Ustad Hamdan. Sayangnya beliau sakit. Tapi kalau Ustad sendiri bisa, mending Ustad saja."
__ADS_1
"Orangnya sekarang kecelakaan? Terus bagaimana keadaannya? Kalau boleh ... saya ingin bertemu dengannya, Pak."
"Beliau sekarang sedang dirawat, Tad. Kalau mau ... Ustad bisa ikut saya ke rumah sakit sekarang untuk menemuinya."
"Bisa." Ustad Yunus mengangguk. "Tapi saya musti selesaikan pekerjaan saya dulu, Pak. Apa nggak apa-apa, semisalnya Bapak tungguin saya selesai ngepel?"
"Enggak apa-apa. Lagian saya juga hari ini nggak terlalu sibuk, Tad." Pria itu mengangguk setuju.
"Tunggu ya, Pak." Ustad Yunus pun berdiri, kemudian melanjutkan aktivitas mengepelnya yang sempat tertunda.
Dia lantas mengepel semua pada sudut ruangan masjid itu.
Setelah semaunya selesai, mereka pun berangkat bersama menaiki mobil Roni. Tapi sebelum itu keduanya berhenti dulu di rumah Ustad Yunus, karena dia akan memberikan rantang dari Zaenab tadi untuk Umi Mae.
"Dia siapa, Nak? Dan ini dari siapa?" tanya Umi Mae yang tampak heran melihat rantang di tangannya, juga menatap pria asing yang berdiri di samping anaknya.
"Namanya Pak Roni. Dia mau minta tolong sama aku, Umi," jawab Ustad Yunus, lalu menunjuk sebuah rantang. "Dan rantang itu dari Zaenab, katanya dia ngasih buat makan siang."
"Baik banget si Zaenab, ngasih Umi makan siang segala. Tapi kenapa nggak mengantarkan secara langsung saja?"
"Tadinya dia ngasih buat aku. Tapi berhubung aku lagi puasa ... jadi katanya buat Umi saja. Kalau begitu aku permisi ya, Umi." Ustad Yunus lantas membungkukkan badan, lalu mencium punggung tangan Umi Mae dengan takzim. "Assalamualaikum."
"Walaikum salam. Tapi kamu mau ke mana, Nak?" Umi Mae menahan tangan anaknya, lalu menatap ke arah Roni. "Dan Pak Roni ini meminta tolong apa padamu?"
"Katanya bosnya diganggu makhluk halus, Mi. Jadi aku mau coba obati. Soalnya aku udah pernah ngobatin orang yang kena kayak gitu terus sembuh."
"Oh gitu. Ya sudah hati-hati."
"Iya." Ustad Yunus mengangguk.
"Permisi, Bu ...." Roni membungkuk sopan, lalu tersenyum dan melangkah pergi bersama Ustad Yunus.
*
*
*
Beberapa menit kemudian, mereka pun akhirnya sampai di Rumah Sakit Harapan.
Roni langsung mengajak Ustad Yunus ke kamar rawat bosnya.
Namun, saat baru saja sampai dan membuka pintu kamar tersebut, Ustad Yunus justru langsung menghentikan langkahnya yang hendak masuk. Kedua matanya pun ikut membola.
__ADS_1
"Assalamu ...."
...Wahhh ... lihat apa kira² Ustad Yunus 😲...