Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
252. Hitam dan bergigi tonggos


__ADS_3

Apakah ini artinya doa Joe mustajab?


Entahlah, tapi semoga saja. Dan tentu Joe sangat mengharap akan hal itu.


Pria itu langsung mengulum senyum, mendapatkan kabar baik dari Sandi. Segera, dia pun membalas chat dari asistennya.


[Jam berapa kira-kira kamu ingin ke kampusnya?]


Ting!


Sandi pun secepatnya membalas hanya lewat beberapa detik saja. [Pagi, Pak. Habis sarapan. Nanti besok kalau berhasil saya akan kabari Bapak lagi.]


[Aku mau ikut, San.]


[Lho ... katanya Bapak bilang ingin bulan madu dengan Bu Syifa?] Sandi membalasnya lagi.


[Syifanya nggak mau. Sepertinya aku musti membereskan hal ini dulu, San. Baru membujuknya. Soalnya agak sulit.]


[Yang sabar ya, Pak. Ya sudah ... maaf kalau saya mengganggu waktu Bapak. Kalau begitu selamat malam dan sampai ketemu besok.]


[Iya, San.] Joe membalas, dan berakhirlah chatting antar keduanya.


*


*


Keesokan harinya.


Ceklek~


Sebuah pintu kamar dibuka oleh Robert, dan sontak dia pun membulatkan matanya mendapati sang Daddy berbaring di lantai dengan mata terpejam.


"Dad ... kenapa Daddy berbaring di lantai?" Robert langsung berjongkok, kemudian menyentuh lengan Joe seraya menggoyangkannya.


"Berbaring di lantai? Kok bisa?!" Syifa yang sedang memakai hijab seketika terkejut mendengarnya. Segera dia pun berlari keluar dari kamar sebab merasa khawatir terhadap suaminya.


"Eh ... jam berapa, Rob?" tanya Joe yang baru saja membuka mata, kemudian mengerjap beberapa kali sambil menatap wajah sang anak.


"Jam 5. Ternyata Daddy tidur, ya? Tapi kenapa tidur di lantai?"


'Kenapa Aa malah tidur di lantai? Harusnya dia tidur di kamar tamu saja,' batin Syifa.


Ada rasa bersalah di dalam dada, karena sempat mengunci kamar supaya pria itu tak masuk. Semua yang dia lakukan atas dasar rasa kesalnya, tapi tentunya dia tak menginginkan pria itu untuk tidur di lantai.

__ADS_1


"Ah iya, semalam Daddy gerah banget, Rob. Mangkanya tidur di lantai," jawab Joe berbohong, sembari tersenyum menatap Syifa.


Tidak mungkin dia jujur kepada Robert kalau sedang ada masalah. Bisa-bisa makin runyam. Dan dia juga tak yakin—jika sang anak akan memihak padanya.


Malah yang ada—bocah itu justru ikut memusuhi.


"Daddy mau mandi dan sholat Subuh dulu kalau begitu. Takut waktunya keburu habis." Joe berdiri, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar sembari mengusap puncak kepala sang anak.


'Apa aku berlebihan? Kok aku jadi kasihan, ya, sama Aa. Habis aku kesel sih ... gimana dong?' batin Syifa bingung.


"Mom!" Robert menggerakkan tangan kanan Syifa yang sudah dia genggam. Perempuan itu langsung tersenyum dan menatapnya. "Ayok bikin sarapan, Mom. Katanya Mommy mau bikinin Robert nasi goreng sosis."


"Oh iya. Ayok, Nak," ajak Syifa, lalu mengandeng tangan sang anak dan melangkah bersama menuruni anak tangga.


Sampainya di dapur, Syifa langsung membuka rice cooker dan mengambil nasi. Semalam dia sempat meminta tolong bibi pembantu untuk masak, karena besoknya nasi itu akan dibuat menjadi nasi goreng.


"Mom ... boleh Robert tanya sesuatu?" Robert sudah duduk di kursi dapur, di depan meja. Sambil memerhatikan Syifa.


"Boleh ... bicara saja, Nak."


"Mommy nggak lagi berantem sama Daddy, kan?"


Gerakan tangan Syifa yang sedang membuka kulkas seketika terhenti, lalu menoleh pada sang anak. 'Apa kelihatan, ya, kalau aku marah sama Aa?' batinnya.


"Syukurlah ...." Robert terlihat mengelus dada sambil menghela napas. "Mungkin hanya perasaan Robert saja ya, Mom. Soalnya Robert perhatikan Mommy itu sejak sampai rumah cemberut terus. Dan kalau misalkan ada hal yang menyebalkan tentang Daddy ... Mommy bicara saja langsung. Atau kalau nggak berani ngomong langsung ke Daddy ... ngomongnya ke Robert aja. Biar nanti Robert yang akan marahi Daddy!" Bocah itu mengepalkan kedua tangannya di atas meja.


"Iya, Nak." Syifa mengangguk, dan senang dengan ekspresi yang ditampilkan oleh Robert. Sebab itu seakan jelas jika bocah itu begitu menyayanginya. "Tapi Mommy dan Daddy memang nggak lagi berantem kok. Itu memang perasaan kamu aja."


*


*


*


Seusai mengantarkan Syifa dan Robert ke sekolah—Joe pun langsung ikut Sandi untuk menemui salah satu cecunguk itu.


Sengaja Joe ikut turun tangan, karena rasanya dia ingin ikut andil memberikannya pelajaran. Sebab karenanya, dia harus terpaksa puasa. Menahan rasa sakit pada kepala atas dan bawahnya.


"Bapak sepertinya kurang tidur, ya?" Sandi menoleh sebentar ke arah Joe yang duduk di sampingnya. Dibawah mata sang bos terlihat begitu hitam, wajahnya pun sangat tak bergairah hari ini.


"Iya, San. Aku cuma tidur sebentar semalam. Sakit kepalaku." Bilangnya kepala, tapi yang Joe sentuh justru sel*ngkangan.


"Udah minum obat belum, Pak? Apa kita mampir dulu untuk membeli obat?" tanya Sandi dengan polosnya. Dia sejak tadi masih berkonsentrasi dalam mengemudi.

__ADS_1


"Nggak perlu diobati, karena obatnya nggak ada di apotek."


"Kok gitu?"


"Iya, obatnya hanya Syifa. Tapi tunggu marahnya reda, San. Kita langsung saja ke kampus, aku udah nggak sabar banget ingin memberikan laki-laki itu pelajaran!" Kedua tangan Joe mengepal dan saling meremmas.


"Oke, Pak." Sandi mengangguk.


Beberapa menit kemudian, mereka pun akhirnya tiba di salah satu universitas ternama yang ada di Jakarta.


Sandi menghentikan mobilnya di depan gerbang, kemudian langsung turun bersama Joe untuk menghampiri seorang satpam yang berjaga di depan.


"Selamat pagi, Pak. Apa laki-laki ini kuliah di sini?" tanya Sandi dengan sopan, sembari menunjukkan sebuah foto di ponselnya, yang dia ambil dari akun Inst*gram.


Sandi juga sempat memilah, foto mana yang lebih jelas supaya bisa dikenali. Sebab rata-rata foto Udin Slebew itu memakai full filter. Terlihat sangat putih dan ganteng.


"Selamat pagi juga, Pak." Pria berseragam hitam itu langsung memerhatikan layar ponsel Sandi, tapi beberapa detik selainnya dia pun menggelengkan kepalanya. "Enggak, Pak."


"Namanya Udin Slebew, Pak," ucap Joe yang berdiri di samping Sandi.


"Perasaan ... mahasiswa di sini nggak ada yang namanya Udin Slebew." Pria itu menatap Joe dengan wajah bingung. "Kalau hanya nama Udin sih ada, Udin Jamaluddin panjangannya. Cuma sepertinya bukan yang ada difoto, Pak."


"Boleh panggilkan orangnya dulu nggak, Pak?" pinta Sandi. "Karena bisa saja foto dan aslinya nggak sama. Rata-rata ada orang seperti itu soalnya."


"Tapi ngomong-ngomong Bapak-bapak ini siapa? Dan apa hubungan kalian dengan Udin Slebew? Karena saya nggak bisa langsung panggilkan mahasiswa kalau bukan orang yang dia kenal. Apalagi kalau dalam jam pelajaran kelas." Apa yang dia katakan memang sesuai dengan peraturan yang ada. Jadi sebagai seorang satpam dia harus patuh.


"Kami Abangnya," jawab Joe berbohong. "Dan ada hal genting yang mau kami sampaikan, soalnya nomor Udin udah lama nggak bisa dihubungi."


"Abangnya?!" Pria berseragam itu menatap tak percaya, lalu memerhatikan wajah Joe dan Sandi bergantian "Masa, sih? Tapi kok kalian nggak mirip dengan Udin? Apalagi si Udin itu hitam dan bergigi tonggos, Pak."


"Kami beda Ayah, jadi wajar kalau Udin nggak mirip." Joe kembali mengarang cerita dan terlihat tak sabaran. "Sudah cepat panggilkan, Pak. Ini tentang hidup dan matiku. Atau aku juga boleh masuk dan cari sendiri si Udin Slebew itu?"


Meskipun apa yang diucapkan Joe dan Sandi masih terdengar ambigu, tapi satpam itu menganggukkan kepalanya. Mencoba untuk mempercayai. Dari tampang keduanya—sama sekali tak ada tampang orang jahat.


"Sebentar, Pak, saya akan panggilkan ...." Ucapan pria itu seketika terputus diujung bibir, saat dimana sorotan matanya menatap ke depan dan tak sengaja melihat laki-laki yang dia maksud tadi, yang bernama Udin Jamaluddin. "Itu! Itu si Udin, Pak! Udiiinnn ...!" teriaknya memanggil.


Joe dan Sandi langsung menatap ke depan, sesuai dengan arahan jari telunjuk satpam. Dan saat pandangan mata mereka bertemu dengan si Udin, keduanya langsung membulatkan mata. Begitu pun dengan Udin.


Tampaknya ketiganya sama-sama terkejut. Namun, laki-laki yang bernama Udin itu justru tiba-tiba lari dengan wajah ketakutan.


"Itu orangnya, Pak! Si Udin!" seru Sandi yang langsung berlari mengejar. Sebab dia orang yang lebih tahu wajah Udin si tukang ngintip, ketimbang Joe yang hanya tahu dari foto.


Melihat Sandi sudah lari, Joe pun ikut berlari menyusulnya. "Berhenti kau, Udin Tonggos Slebew!" teriaknya kencang.

__ADS_1


...Semangat, Om! 🤣 lari yang kenceng...


__ADS_2