Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
274. Bintang sepuluh


__ADS_3

Malam hari.


"Makannya pelan-pelan, Nak! Nanti tersendak!" seru Syifa menasehati.


Tidak biasanya, Robert ingin makan sendiri tanpa disuapi. Dulu memang iya, selalu sendiri. Tapi semenjak dia sudah punya Mommy baru—hampir setiap harinya Syifa yang menyuapi.


Syifa sendiri selama ini sama sekali tak keberatan. Malah dia senang anak sambungnya itu begitu dekat dengannya.


"Robert laper banget, Mom. Ditambah masakan Mommy sangat enak! Bintang sepuluh pokoknya!" Robert mengangkat semua jarinya tinggi-tinggi, lalu mengambil paha ayam dan langsung melahapnya.


Di atas meja makan, mereka berlima tengah makan malam bersama dengan sop ayam dan orek tempe. Dan memang itu buatan Syifa, meskipun masih didampingi Umi Maryam saat memasaknya. Sebab itu juga resep dari Uminya.


"Terima kasih, Nak. Tapi Mommy masih harus banyak belajar." Syifa tersenyum, lalu mengelus lembut dagu Robert.


"Habis makan, kita langsung pulang, ya, Rob?" ucap Joe yang juga tengah mengunyah. Dia duduk di samping Syifa.


"Enggak mau ah, Dad," tolak Robert menggelengkan kepalanya. "Robert kepengen nginep malam ini di sini. Mau tidur sama Opa dan Oma juga."

__ADS_1


"Oohhh ... ya sudah kalau gitu." Joe mengangguk senang, lalu tersenyum.


"Selesaikan makannya dulu, baru ngobrol. Nggak boleh makan sambil ngobrol," tegur Abi Hamdan menasehati.


"Iya, Bi, maaf ...," ucap Joe menundukkan wajah. 'Eeemm ... nanti malam bisa dong, aku dan Syifa bercinta tanpa diganggu Robert. Semoga saja lancar deh, udah lama juga aku nggak membelai Syifa,' batinnya sambil senyam-senyum, lalu melirik Syifa dan mengedipkan matanya.


'Kenapa dengan mata Aa? Apa kelilipan dia?' batin Syifa heran.


Seusai melihat Robert minum obat dan masuk ke dalam kamar Abi Hamdan, barulah Joe masuk ke dalam kamarnya. Dia menutup pintu dan menguncinya dengan rapat, barulah setelah itu berbaring di atas kasur sembari melepaskan kaos putihnya.


Ceklek~


"A ... besok berarti si Robert nggak masuk sekolah, ya? Mau izin berapa hari kira-kira?" tanyanya seraya melangkah menuju kasur, lalu duduk di samping Joe.


"Izin saja dulu 3 hari, Yang. Barangkali 3 hari tongkatnya sembuh."


"Iya, mudah-mudahan cepet, ya, A. Kasihan aku lihat Robert kesakitan begitu." Syifa menaikkan kedua kakinya ke atas kasur, lalu berbaring dan menyelimuti tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Joe pun mendekat, lalu memeluk tubuh istrinya dan mengecup kening. "Eeemmm, Yang. Kita udah lama lho, Yang."


"Lama?" Kening Syifa tampak mengerut, tak mengerti dia dengan apa yang suaminya itu katakan. "Lama apa, A?"


"Bercintalah, Yang." Joe langsung to the poin, tanpa malu. Lagian sudah biasa juga dia bicara blak-blakan. "Kata kamu ... kita bisa bercinta lagi kalau masalah kita sudah selesai. Dan masalah kita bahkan sudah selesai dari kemarin-kemarin, cuma belum ada waktu untuk bercinta. Jadi sekarang ayok lah ..." ajaknya dengan suara manja, lalu mulai meraba-raba tubuh sang istri. Supaya perempuan itu luluh.


"Sekarang?"


"Iyalah, kapan lagi coba?"


"Eemmm ... ya udah ayok," jawab Syifa setuju. Tak mungkin juga dia menolak sebuah kewajiban seorang istri. "Tapi jangan keras-keras mendesaahnya, atau kalau nggak kita bercinta di dalam kamar mandi saja, A. Biar suara kita nggak terlalu keras terdengar sampai keluar. Kan Aa tau kalau kamarku nggak kedap suara."


Syifa tak mau, pengalamannya dulu saat hendak malam pertama dengan Joe kini terulang lagi. Pasti tidak enak juga, jika sedang enak-enaknya pemanasan hendak memadu kasih justru ditunda. Malah bisa jadi gagal.


"Oke. Kita ke kamar mandi sekarang, Yang!" seru Joe dengan semangat, lalu dia bangkit dari kasur sembari mengangkat tubuh Syifa dan membawa menuju kamar mandi. Tak lupa pintu kamar mandi pun ditutup dengan rapat. "Siap-siap ya, Sayang, Daddy akan tengokin kamu," ucap Joe kepada anaknya, sembari mengelus perut buncit Syifa.


Setelah itu, Joe pun langsung melakukan penyatuan bibir.

__ADS_1


Cup~


^^^ Bersambung....^^^


__ADS_2