Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
6. Aku belum menikah


__ADS_3

"Umi mengizinkan." Umi Maryam mengangguk. "Tapi hasilnya baru bisa keluar besok."


Joe langsung menghela napas lega, lalu mengelus dada.


"Umi berhenti menangis." Abi Hamdan merelai pelukan, kemudian menyeka air mata pada kedua pipi istrinya. Dia juga menatap ke arah kaca pintu pada ruangan di depannya. Di sana ada Syifa yang tengah berbaring dengan mata terpejam. Dia sudah memakai pakaian pasien berwarna biru dan ada Robert di sampingnya. Sedang berbaring juga dan memejamkan mata. "Sekarang ... masuk dan temani Syifa di dalam, ya? Abi ingin mengobrol dengan Jojon dulu." Mengelus puncak kerudungnya, lalu tersenyum.


"Iya." Umi Maryam mengangguk pelan. "Eh tapi, ijab kabulnya berjalan dengan lancar, kan?" Menatap ke arah Joe. Pria tampan bermata sipit itu langsung mengangguk dan tersenyum manis.


"Alhamdulillah, lancar Umi. Mulai sekarang ... panggil aku dengan sebutan Joe saja. Nggak perlu pakai 'Pak' karena aku sudah menjadi menantu Umi."


"Iya." Umi Maryam tersenyum kecil, kemudian melangkah pelan masuk ke dalam sana.


"Kita duduk dan mengobrol dulu, Jon." Abi Hamdan langsung duduk di kursi panjang di dekat pintu, lantas menepuk kursi di sebelahnya.


Joe mengangguk, segera dia pun duduk di sana.


"Tolong bicara jujur padaku, Jon. Apakah benar ... Syifa telah diper*kosa oleh Beni?" Abi Hamdan menoleh. Wajahnya tampak merah seperti menahan emosi. Akan tetapi, bola matanya yang terlihat becek itu seperti memperlihatkan jika dia menyimpan rasa sedih yang terasa dalam.


"Nggak, Bi," jawab Joe. Nyatanya dia masih ingin menutupinya.


"Tapi kenapa Dokter mengatakan hal itu?"


"Aku nggak tau."


"Pas kamu menemukan Syifa ... apa yang kamu lihat, dan dimana Syifa diculik?" tanyanya penasaran. Harusnya, pertanyaan ini ditanyakan tadi. Saat Joe baru dan dia menunggu Syifa di ruang UGD.


Namun, lantaran Joe terus meminta untuk segera melangsungkan ijab kabul—jadi dia lupa.


"Syifa diculik di rumah kosong, Bi. Dan aku melihat ... Beni sedang ...." Joe langsung menggantung ucapannya.


"Sedang apa?" tanya Abi Hamdan penasaran.


"Sepertinya ini sudah malam, Bi." Joe menunjuk arlojinya yang menunjukkan pukul 1 malam. Sengaja dia mengatakan hal itu supaya Abi Hamdan mengakhiri percakapannya. Rasanya, Joe tidak mau membahasnya. "Aku capek dan ingin istirahat. Sebaiknya Abi juga tidur."


Joe perlahan berdiri sambil menyentuh tengkuknya. Namun, cepat-cepat Abi Hamdan menahan tangannya.

__ADS_1


"Jawab dulu, apa yang kau lihat, Jon. Beni sedang apa?" tanyanya dengan nada yang terdengar sedikit menekan.


"Sedang mencium bibir Syifa, Bi," jawab Joe. "Tapi aku yakin sekali ... Syifa itu nggak diperko*sa oleh Beni. Karena dia hanya milikku seorang," tambahnya. Kemudian melangkah masuk ke dalam kamar inap itu. Sedangkan Abi Hamdan masih duduk dan diam mematung.


'Semoga saja apa yang dikatakan Jojon benar. Syifa nggak diper*kosa oleh Beni. Aku nggak mau ... anakku seperti piala bergilir,' batinnya dengan rasa yang berkecamuk. 'Cukup Jojon saja yang telah merenggut kesuciannya sampai membuatnya hamil. Itu saja sudah cukup membuatku kecewa dan sakit hati.'


*


"Syifa ... ah maksudku Sayang." Joe berdiri di depan ranjang Syifa. Kemudian memandangi wajah cantik istri barunya yang tampak terlelap dari tidurnya. "Kita sudah sah jadi suami istri, lho, jadi aku ... maksudnya, suamimu. Suamimu ini boleh, kan, menciumimu?"


Umi Maryam tengah duduk di sofa panjang yang jaraknya cukup dekat dengan ranjang.


Sejak tadi, dia terus memerhatikan Joe dan ikut mendengar apa yang pria itu ucapkan. Dengan perlahan, kedua sudut bibirnya tertarik. Dia tersenyum ketika Joe sedang menciumi seluruh wajah Syifa dengan penuh kasih sayang. Dari mulai kening, kedua pipi, hidung, dagu hingga terakhir bibir dan itu dilakukannya berulang-ulang.


'Ternyata Joe benar-benar sangat mencintai Syifa. Syukurlah ... Umi ikut senang melihatnya. Semoga saja pernikahan kalian menjadi pernikahan yang sakinah, mawadah dan warahmah. Amin ... amin ya, Robalalamin ...,' batinnya dalam hati.


"Aku mencintaimu, Fa," gumam Joe. Dia lantas menarik kursi kecil di dekat ranjang, kemudian duduk sembari merogoh kantong jas untuk mengambil sekotak perhiasan yang berisi sepasang cincin.


"Ini cincin pernikahan kita. Kita harus memakainya." Joe perlahan membuka, kemudian mengambil cincin yang ukurannya untuk dirinya terlebih dahulu. Lantas memakainya sendiri.


Anehnya, saat dia menarik cincin itu—sama sekali Joe tidak merasa kesusahan. Bahkan terbilang gampang hingga sudah berpindah ke jari manis sebelah kanan. Selanjutnya barulah dia menautkan cincin baru yakni cincin kawin mereka, ke jari manis Syifa sebelah kiri.


'Bukannya cincin itu susah dibuka, ya?' Umi Maryam tentu tahu, sebab dia juga sempat mencoba untuk membantu melepaskan waktu itu, atas permintaan Abi Hamdan. Namun anehnya sekarang, kepada Joe cincin itu bisa terlepas begitu saja. Bahkan tak ada hambatan sama sekali. 'Aneh banget. Giliran sama Joe bisa langsung dilepas dan bahkan dipindahkan,' tambahnya penuh tanya.


***


Keesokan harinya.


Syifa perlahan membuka mata, kemudian mengerjap beberapa kali. Manik matanya pun menatap sekeliling ruang kamar yang terlihat kosong itu. Hanya ada dirinya seorang.


Ceklek~


Tiba-tiba, terdengar suara pintu yang dibuka dan membuat Syifa sontak terperanjat dari posisinya.


Sorotan matanya pun langsung menatap ke arah depan. Ternyata yang masuk adalah seorang dokter wanita berambut pendek dan suster yang mendorong troli berisi makan pagi.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Nona sekarang? Apa sudah baikan?" tanya Dokter itu seraya mendekat. Memang kedatangannya adalah untuk memeriksa keadaan Syifa.


"Aku ...." Sebuah bayang-bayang saat dimana Beni tengah menaiki tubuhnya seketika terlintas dibenak Syifa. Dan itu sontak membuat tubuhnya bergetar. Ditambah rasa takut yang tiba-tiba melanda hati. "Dok-dokter, siapa yang bawa aku ke sini? Apa Kak Beni? Tolong aku, Dok!" Syifa mendadak histeris dan penuh dengan kegelisahan. Dia lantas menarik tubuhnya untuk bangun, kemudian memegang erat lengan kanan Dokter itu dengan wajah ketakutan. "Tolong hubungi polisi, atau Abiku! Supaya Kak Beni—"


"Nona tenanglah," potong Dokter itu cepat. Kemudian mengusap pelan punggung Syifa. Gadis itu pun langsung memeluk tubuhnya. "Nona sudah aman sekarang. Tidak ada yang bernama Beni di sini."


"Tapi dia harus dimasukkan ke penjara! Dia harus dilaporkan polisi, Dok! Aku nggak mau dia datang dan memperko*saku lagi." Syifa menggeleng cepat dan mempererat pelukannya.


"Sudah, Nona. Pria yang bernama Beni sudah ditangani pihak polisi. Nona tenang saja, semuanya akan baik-baik saja." Dokter itu menganggukkan kepalanya saat suster memegang sebuah jarum suntik, yang berisikan obat penenang.


Dengan perlahan, suster itu pun menarik lengan baju Syifa, kemudian mulai menyuntikkan.


"Aakkh!" Syifa mengerang kesakitan. Untuk kedua kalinya, suntikan obat penenang itu dokter berikan padanya.


Kemarin malam saat diperiksa, Syifa sempat siuman. Akan tetapi setelah itu—dia justru histeris dan berteriak-teriak sendiri sambil mengatakan jika dirinya tak mau diperko*sa.


Karena merasa khawatir, Dokter itu pada akhirnya menyuntikkan obat penenang. Dan barulah setelah itu Syifa bisa tenang dan tertidur kembali.


"Kenapa Suster menyuntikku? Ini sakit," cicit Syifa sambil meringis. Perlahan dia pun kembali berbaring dengan dibantu oleh Dokter.


"Maaf, Nona. Itu hanya obat supaya Nona lebih baik," jawab Suster.


Dokter itu pun langsung memeriksa keadaan Syifa. Dari mulai tensi darah, jantung, hingga suhu tubuh. Sebab semalam Syifa juga ada demam.


"Darah sama jantungnya normal. Tapi kalau demam masih ada," ucap Dokter itu sambil memegang stetoskop yang menempel pada dada Syifa dibalik baju.


"Dok, siapa yang membawaku ke rumah sakit? Dan apa pihak rumah sakit sudah menghubungi keluargaku? Apa Abiku sudah tau?" tanya Syifa pelan. Dia terlihat lebih baik sekarang, meskipun wajahnya masih gelisah.


"Suami Nona yang membawa Nona ke rumah sakit. Dan keluarga Nona juga sudah ada di sini. Mereka menunggu diluar," jawab Dokter itu.


"Suamiku?" Kening Syifa mengernyit. Dia tampaknya heran dengan apa yang diucapkan dokter itu. "Tapi aku belum menikah, Dok."


"Tapi kata dia, dia suami Nona."


"Dia siapa yang Dokter maksud?"

__ADS_1


...Jonathan lah, siapa lagi, Fa 🤣...


__ADS_2