
Joe menatap langit-langit mobil sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Tapi semakin lama, pandangan matanya itu menjadi berputar.
Perlahan dia pun menyentuh hidungnya lagi, sebab terasa basah. Dan ujung jarinya ada darah cukup banyak. Kepalanya makin terasa berat, begitu pun dengan matanya.
"Dad! Daddy nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Robert yang memutar kepalanya ke belakang, tapi dia mendapati Joe telah memejamkan mata. Dan sebetulnya Joe sudah pingsan saat ini. "Dad ...," panggil Robert sekali lagi.
"Daddymu nggak kenapa-kenapa, Sayang." Mami Yeri tiba-tiba menyahut tanpa menoleh. "Kamu duduk yang benar, kita akan obati Daddymu."
Robert mengangguk, kemudian membenarkan posisi duduknya. Dia memilih untuk menuruti, meskipun sebenarnya banyak sekali pertanyaan di dalam otaknya.
Namun, tentu Robert juga ikut menyaksikan apa saja yang telah terjadi. Sembari termenung, dia pun mulai mencerna apa saja yang dia tangkap barusan.
'Oma Yeri sama Opa Hamdan marah karena Daddy berbohong. Berarti ini artinya Robert nggak jadi punya adik bayi, dong, kan Mommy Syifa nggak lagi hamil.'
Robert langsung mengerucutkan bibirnya, tampaknya dia juga sama kecewanya sebab tak jadi mempunyai adik bayi.
'Tapi kok Daddy tega, sampai berbohong kayak gitu? Bukannya selama ini Daddy orangnya jujur, ya? Kenapa sekarang justru berbohong?'
Robert membatin, serta bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
"Halo, Pi," ucap Mami Yeri yang tengah melakukan panggilan dengan suaminya. Tapi masih berpokus sambil mengemudi.
"Iya, Mi?"
"Papi pulang ke rumah, ya, Mami mau bicara penting. Tapi sekalian juga minta Dokter Victor untuk datang," pinta Mami Yeri. Dokter Victor ini adalah dokter keluarganya.
"Lho, kok minta Dokter Victor untuk datang juga, Mi? Memangnya mau apa? Mami sakit?" tanya Papi Paul yang terdengar bingung.
"Nanti Papi tau kalau kita sudah ketemu. Sudah, ya." Mami Yeri langsung memutuskan panggilan.
***
"Bi, kenapa Syifa dikunci di dalam kamar dan kenapa Abi nggak mengizinkan Joe masuk?" tanya Umi Maryam menatap suaminya.
Abi Hamdan kini duduk disofa panjang sambil memijat alis matanya. Dia merasakan kepalanya begitu pening disertai gemuruh di dalam dada.
Alasan utama meninggalkan Joe diluar sana karena dia merasa muak saja, dengan apa yang telah terjadi. Abi Hamdan juga tak mau ambil resiko, jika nantinya Joe makin parah dia pukuli, karena sangking emosinya tadi.
"Bi ... kasihan, Joe. Dia melakukan hal itu pasti terpaksa dan—"
__ADS_1
"Umi nggak usah banyak bicara, sekarang lebih baik buatkan Abi kopi hitam! Kepala Abi mumet!" sergah Abi Hamdan cepat dengan dada yang naik turun.
Umi Maryam langsung mengangguk karena takut, sebab suara suaminya itu terdengar begitu meninggi.
Gegas, dia pun berjalan menuju dapur. Tapi sepertinya, baik Umi atau Abi—keduanya sama-sama lupa jika Abi Hamdan saat sedang berpuasa.
'Kasihan Joe dan Syifa,' batin Umi Maryam dengan raut sedih. Sepertinya memang, hanya dia satu-satunya yang mengerti dengan kondisi sepasang pengantin baru itu. Tapi dia sendiri tidak bisa apa-apa di sini, sebab bagaimanapun apa yang telah Joe lakukan adalah salah. 'Semoga saja akan ada titik terang, dan hubungan kalian akan baik-baik saja.'
Syifa menyibak gorden jendela kamarnya, kemudian menatap ke arah luar. Mencari-cari keberadaan Joe.
"Ke mana Aa? Dan di mana mobilnya?" gumam Syifa seraya menyeka air matanya yang berada dipipi.
Segera dia pun berlari menuju meja riasnya untuk mengambil ponsel, kemudian mencoba menghubungi Joe. Tapi justru nomornya tidak aktif.
"Duh ... kok nggak aktif? Ke mana Aa? Apa masih ada diluar?" Syifa mengigit ujung kuku jempolnya dengan perasaan yang mendadak cemas. Jantungnya pun ikut berdebar kencang. "Semoga Aa masih ada diluar, dan semoga semuanya baik-baik saja. Aku nggak mau kita pisah, aku nggak mau kehilangan Aa. Aku mencintai Aa," tambahnya dan kembali menangis tersedu.
Tanpa disadari, Syifa telah mengakui—jika dirinya sudah jatuh cinta kepada suaminya.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1