Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
141. Tante harus waspada


__ADS_3

"Kalau bisa udah Tante pecat dari kemarin-kemarin, Yum," jawab Mami Yeri. "Tapi 'kan kamu tau sendiri gimana masalahnya? Robertnya nggak mau, sampai-sampai dia masuk rumah sakit. Tante nggak mau mengorbankan cucu kesayangan Tante. Kalau sampai dia kenapa-kenapa ... Tante nggak bisa maafin diri Tante sendiri, Yum."


Okelah kalau itu mengenai Joe. Sebab kemarin saja Mami Yeri berhasil membujuk anaknya meskipun dengan jalur paksa dan sedikit ancaman.


Namun giliran Robert, ini sungguh sulit. Bahkan bocah itulah alasan semua rencananya dan Papi Paul gagal.


"Masa sih, Tan, cuma wajahnya yang mirip almarhumah Mbak Sonya, Robert sampai segitunya menyayangi Syifa?" tanya Yumna yang tak habis pikir. "Meskipun mirip, tapi sikap semua orang 'kan berbeda. Dan aku lihat ... Syifa itu orangnya keras kepala, nggak mungkin dia sesabar itu menghadapi sikap anak kecil yang kadang diluar nalar."


Baru mendapatkan tamparan saja Yumna sudah berpikir jika Syifa tipe orang keras kepala. Padahal, perempuan itu tak mungkin emosi kalau tak ada sebabnya.


Sepertinya memang dia tak sadar dan menganggap sepele apa yang dia lakukan tadi. Maka dari itu, tak ada sedikitpun rasa penyesalan di hatinya.


Malahan—dia jadi sebal kepada Syifa.


"Mungkin karena Syifa gurunya Robert, Yum. Jadi terkesan baik dimata anak muridnya," sahut Mami Yeri.


"Selama ini, Tante udah pernah melihat nggak ... Syifa ngomong kasar atau ngebentak Robert? Atau Robertnya cerita gitu?"


"Setau Tante sih nggak." Mami Yeri berbicara dengan apa adanya sambil menggelengkan kepalanya. "Robert juga nggak pernah cerita apa-apa tentang Syifa. Dan kalau pun ceritanya, paling yang manis-manis aja, Yum."


Jika dipikir-pikir, selama Robert bersama Syifa—tak pernah rasanya bocah itu menangis. Malahan, terlihat lebih bahagia dari sebelumnya.


Namun sayangnya, Mami Yeri seolah menutup mata. Tak pernah berpikir ke arah sana.


"Tapi Tante harus waspada. Jangan percaya begitu saja sama Syifa. Bisa saja ... suatu saat dia berbuat kasar kepada Robert dan Kak Joe. Kasihan banget 'kan ... kalau semisalnya itu dialami oleh Robert, dia masih terlalu kecil, Tan." Yumna lagi-lagi mengompori, supaya Mami Yeri membenci menantunya. "Aku mengatakan hal itu karena aku sayang sama Robert dan Kak Joe," tambahnya.


"Iya, kamu tenang saja, Yum." Mami Yeri tersenyum, kemudian meraih tangan Yumna dan menggenggamnya dengan erat. "Tante akan ikut mengawasi Syifa, dan terima kasih, ya ... kamu udah peduli banget sama Joe dan Robert."


"Nggak perlu berterima kasih, Tan." Yumna menggelengkan kepalanya. "Kan awalnya memang aku yang akan jadi menantu Tante. Jadi wajar kalau aku sepeduli itu," tambahnya seraya tersenyum manis sampai memperlihatkan deretan gigi putihnya. Hati Mami Yeri pun menjadi meleleh, melihat sikap manis dari perempuan itu.


"Manis banget kamu, Yum. Tante jadi sayang deh ... sama kamu," ujar Mami Yeri yang mengelus lembut dagu Yumna dengan senyuman berseri.

__ADS_1


"Aku juga sayang Tante." Yumna langsung memeluk tubuh Mami Yeri, kemudian tersenyum menyeringai. 'Aku harus cari cara, supaya Syifa terlihat jahat di depan Robert. Tapi ... bagaimana caranya?' batinnya yang mulai berpikir.


Tak lama kemudian, Bibi pembantu pun datang dengan membawa nampan yang berisi baskom kecil dan handuk kecil. Kemudian meletakkannya di atas meja.


"Ini es batu dan handuknya, Nyonya," ucap Bibi pembantu.


"Terima kasih, ya, Bi." Mami Yeri menyahut, kemudian melepaskan pelukan.


"Sama-sama." Bibi membungkukkan badannya sedikit, kemudian melangkah pergi dari sana.


"Biar Tante bantu kompresin pipi kamu, ya, Yum," ujar Mami Yeri yang sudah mengambil handuk, kemudian mencelupkannya ke dalam baskom es batu. Yang ada sedikit airnya di dalam sana.


"Iya, Tante." Yumna menganggukkan kepalanya.


"Mami ...," panggil Joe yang tiba-tiba datang bersama Syifa dan Robert, menghampiri Mami Yeri.


Dilihat wajah Syifa sudah sangat masam, bibirnya mengerucut dan matanya melototi Yumna dengan tajam.


'Masih punya nyali ternyata, kukira dia udah pulang,' batin Syifa kesal.


"Iya, Joe?" Mami Yeri menoleh ke arah sang anak. Dan Joe pun langsung membungkukkan badan, lalu mencium punggung tangannya.


"Aku tadi udah pamit ke Papi. Sekarang aku mau pamit ke Mami, aku ... Syifa, Robert dan Sandi mau pulang ke Indonesia."


"Lho, Kak, jadi Kakak ...." Ucapan Yumna langsung terhenti kala tangan kanan Mami Yeri membungkamnya. Bukan apa-apa, dia hanya takut nantinya akan ada pertengkaran kedua, sebab melihat ada Syifa yang terus melototi Yumna.


"Kamu serius, mau pulang? Apa nggak besok saja? Mami masih kangen sama Robert ... masih mau main sama dia." Mami Yeri meraih tangan Robert, sedikit menariknya untuk mencium pipi.


"Serius, Mi." Joe menganggukkan kepalanya. "Kalau Mami masih kangen sama Robert ... Mami nanti menyusul saja, bareng Papi. Ya sudah, ya, Mi, assalamualaikum." Joe pun segera meraih tubuh anaknya, kemudian dia gendong.


Dan Syifa langsung membungkuk untuk mencium punggung tangan Mami Yeri.

__ADS_1


"Walaikum salam. Hati-hati, ya!" seru Mami Yeri sambil melambaikan tangan.


"Dadah Oma!" Robert juga melambaikan tangan, saat tubuhnya sudah mulai menjauh bersama Joe dan Syifa.


"Dadah, Sayang!" balas Mami Yeri bahkan sambil kisbay.


"Tante udah masuk Islam, ya, memangnya?" tanya Yumna, setelah mereka bertiga menghilang dibalik pintu utama rumah Mami Yeri.


"Enggak." Mami Yeri menggelengkan kepalanya. "Memangnya kenapa?"


"Oh kirain. Soalnya tadi balas salamnya Kak Joe."


"Balas salam doang mah nggak apa-apa kali, Yum. Tapi tadi Tante keceplosan sih ... sebenarnya."


"Kayaknya sih nggak apa-apa." Yumna menganggukkan kepalanya.


***


Jakarta, Indonesia.


Ting, Tong!


Ting, Tong!


Terdengar suara bel diluar rumah Abi Hamdan. Dia yang tengah duduk sambil menonton televisi itu langsung berdiri, kemudian melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


Ceklek~


"Selamat siang," sapa seorang pria asing yang berpakaian rapih. Dia memakai kemeja panjang berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam. Keduanya tangannya memegang dua lembar kertas dan pulpen.


"Siang," jawab Abi Hamdan, lalu mengerutkan keningnya. "Maaf ... tapi Bapak ini siapa, ya?" tanyanya sambil menatap dari ujung kaki hingga kepala. Ternyata selain berpakaian rapih, pria itu juga memakai sepatu kerja berwarna hitam mengkilap.

__ADS_1


...Ada yang bisa nebak, yang datang siapa? 🤔...


__ADS_2