Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
78. Gaya helikopter


__ADS_3

Meskipun awalnya seperti menolak, tapi lama-lama akhirnya Syifa berhasil takluk. Apalagi sensasi yang Joe berikan sungguh nikmat dan membuat melayang ke udara.


Setelah puas memadu kasih di atas meja kerja HRD, serta berhasil menjatuhkan beberapa barang di sana karena kuatnya guncangan, akhirnya Joe menggendong tubuh Syifa dan merebahkannya di lantai dengan posisi tengkurap. Tapi dengan alas beberapa pakaian mereka yang sudah terlepas, supaya Syifa sendiri tak merasa kedinginan nantinya, meskipun saat ini seluruh tubuhnya sudah benar-benar bermandikan keringat.


"Kita akan melakukan gaya helikopter, Yang," ucap Joe seraya berbisik di telinga kiri Syifa, lalu menggigitnya dan seketika membuat bulu roma perempuan itu berdiri.


"Caranya gimana, A?" tanya Syifa dengan napas memburu.


"Aku akan mengajarimu."


(Nggak perlu dijelaskan detail kali, ya, biar kalian bayangin sendiri aja caranya. Wkwkwk)


*


*


*


Sementara itu di pos satpam.


Sembari menunggu Joe dan Syifa selesai dengan masalahnya, satpam itu mengajak Robert untuk masuk ke dalam pos. Sebab di dalam sana ada sofa dan televisi, supaya nantinya Robert tak merasa bete.


"Dek Robert kepengen makan apa sekarang? Atau minum apa? Biar Om belikan di restoran depan," tawar satpam itu, saat baru saja melihat Robert duduk kemudian menyalakan televisi yang menempel pada tembok.


"Perut Robert sebenarnya laper, Om." Robert menyentuh perutnya, yang memang sejak sampai kantor sudah keroncongan.


"Ya sudah, Om belikan kamu makan, ya? Kamu mau makan sama apa?"


"Robert makannya kepengen bareng Mommy tadinya. Disuapi Mommy, Om."


"Tapi Mommy Adek 'kan lagi mengobrol sama Pak Bos, takutnya lama," sahut satpam itu, kemudian terdiam sebentar untuk mencari sebuah ide. "Eemm ... bagaimana kalau makan burger saja dulu, buat pengganjal perut?"


"Boleh deh." Robert mengangguk setuju. "Tapi Robert lagi kepengen dagingnya pakai daging ayam, Om."


"Iya. Nanti Om belikan. Minumnya apa, Dek?" tanya Satpam itu lagi.


"Teh manis hangat saja, Om. Kayaknya enak." Robert seketika membayangkan dan langsung menelan ludahnya. Tak lama kemudian, suara cacing diperutnya berdemo.


"Ya sudah, tunggu sebentar ... Adek jangan ke mana-mana, ya! Om akan kembali dalam waktu 15 menit."


"Siap, Om Satpam!" Robert mengangguk dan mengangkat tangannya ke arah dahi yang seolah-olah memberikan hormat.


Pria berseragam hitam itu tersenyum, lalu melangkah keluar dari pos satpam.


Robert mengganti saluran tv. Mencari film kartun. Namun mendadak, dia merasa seperti ada yang aneh, serta ada yang hilang juga. Tapi entah apa itu.


"Kok aku ngerasa seperti ada yang hilang, ya? Tapi apa yang hilang kira-kira?" gumam Robert seraya menggaruk rambut kepalanya. "Tapi Mommy 'kan sudah berhasil ketemu Daddy, tandanya masalah sudah selesai, kan? Tapi kok tetap aku merasa ... seperti ada yang hilang?"


Mungkin rasa hilang yang Robert maksud adalah ketidak adanya Abi Hamdan. Hanya saja saat ini dia belum mengingatnya.


*

__ADS_1


*


30 menit kemudian, seusai menuntaskan hasratnya—Joe dan Syifa akhirnya kembali menuju pos satpam.


Sebetulnya Joe sendiri belum merasa puas, sebab dia bermain hanya sebentar. Hanya satu ronde.


Namun, mengingat anaknya yang menunggu diluar dan hanya ditemani satpam—dia jadi tak bisa leluasa. Joe baru bisa tenang jika anak semata wayangnya itu dititipkan oleh orang tuanya atau Sandi.


"Nanti besok kita lanjut lagi, ya, Yang. Dan apakah tadi rasanya sangat nikmat?" tanya Joe seraya menoleh ke arah istrinya sebentar.


Mereka bertiga sudah menaiki mobil ke arah jalan pulang. Joe mengemudi sedangkan Syifa di sampingnya bersama Robert yang sudah tertidur di atas pangkuannya.


"Aa bicara apa, sih?" Syifa yang sudah merona itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia terlihat begitu malu sekali. "Padahal harusnya, kita tuh nggak boleh bercinta di sana, A."


"Lho, kenapa memangnya? Bukankah itu sensasi baru, bercinta di kantor dan dengan gaya helikopter, Yang?" Joe bahkan masih mengingat, suara seksi Syifa yang mendesaah begitu kencang karena permainannya.


"Ya kayak nggak punya rumah aja. Apalagi itu ruangan HRD. Bukan ruangan Aa. Kalau sampai yang punya ruangan itu melihat aksi kita dan marah gimana, A? Aa bisa dilaporkan ke atasan Aa dan Aa dipecat."


"Nggak bakal ada yang berani memecatku, Yang. Santai saja." Joe tersenyum.


"Kenapa begitu?" Syifa menoleh ke arah Joe dengan kening yang mengerenyit. "Oh ya, aku juga sampai lupa untuk bertanya sama Aa saat kita mengadakan resepsi."


"Tanya apaan, Yang?" Joe menoleh sebentar ke arah Syifa.


"Orang-orang kantor yang datang ke pesta pernikahan kita kenapa memanggil Aa dengan sebutan bos? Begitu pun dengan satpam kantor?" tanya Syifa penasaran.


"Eemmm itu, karena ...." Joe seketika menggantung ucapannya. Dia pun terdiam sebentar, sambil menggaruk rambut kepalanya. Ingin jujur rasanya, tapi ada rasa tidak enak.


"Karena apa? Apa jangan-jangan Aa yang jadi bosnya? Kantor itu milik Aa?" tebak Syifa.


"Aku nggak akan melakukan itu, A. Aa sekarang jujur saja padaku," pinta Syifa.


"Sebenarnya memang iya." Joe mengangguk cepat. "Aku memang bos di sana. Aku pemilik perusahaannya, Yang."


Syifa sontak membulatkan matanya, dia tampak terkejut. Apalagi mengingat kantor Joe yang tidak main-main dengan ukurannya yang besar. "Se-serius, A?" tanyanya tergagap dan tak menyangka.


"Iya." Joe mengangguk. "Tolong jangan berpikir aku orang yang sombong, ya?"


"Enggak." Syifa menggeleng. "Tapi ini berarti Aa orang kaya banget, dong?" Seketika, ada rasa minder di dalam hatinya. Mengingat jika dirinya lahir dari kalangan yang sederhana.


Awalnya Syifa berpikir yang kaya itu hanya orang tua Joe, kalau Joe hanya menjadi karyawan kantor biasa. Namun berkecukupan, dan dibantu oleh orang tua.


"Nggak kaya, biasa aja, Yang."


"Apa perusahaan itu awalnya punya orang tua Aa? Terus Papi Paul pensiun dan Aa yang meneruskannya?" tanya Syifa kembali dengan penasaran.


Dia seketika mengingat alur pada drama Korea yang pernah dia tonton, yang selalu menjadikan anak atau cucunya sebagai penerus kekayaan. Dan barang kali, Joe juga sama. Apalagi dia keturunan Korea juga.


"Itu perusahaan hasil kerja kerasku sendiri, Yang. Aku memulainya dari enol, saat masih duduk dibangku SMA, kelas 3. Ya mungkin modal utamanya dari Papi, tapi saat itu aku meminjamnya dan sudah dibayar juga," jelas Joe memberitahu.


"Oohhh. Hebat banget ya, Aa," puji Syifa dengan mata berbinar. Rasanya dia bangga, sebab suaminya itu teramat sempurna. Namun tetap saja, dari kesempurnaannya itu ads rasa takut kehilangan. "Masih SMA sudah kerja kantoran. Aku dulu pas SMA masih main karet, A, masih suka main masak-masakan juga."

__ADS_1


"Masa, sih?" Joe terkekeh. "Pas masuk SMA kamu umur berapa memangnya?" tanya Joe.


"Kalau nggak salah sih 15 tahun."


"Udah gede, kok masih suka main masak-masakan?"


"Ya suka aja. Kayaknya seru gitu."


"Kalau masak benerannya, bisa kamu?"


"Enggak." Syifa menggelengkan kepalanya, lalu menurunkan pandangan. "Tapi, aku mau belajar. Supaya bisa."


"Bagus itu, Yang." Joe menganggukkan kepalanya.


"Ngomong-ngomong ... apa masakan favorit Aa dan Robert?"


"Kalau favoritku sih sebenarnya gulai babi. Tapi berhubung sekarang aku sudah Islam, jadi makanan favoritku mungkin akan berganti."


"Gantinya jadi apa?"


"Nasi uduknya Umi Maryam."


"Memangnya, nasi uduknya Umi enak banget, ya?"


"Iya." Joe mengangguk. "Aku malah baru pertama kali makan nasi uduk, dan setelah mencobanya sudah langsung jatuh cinta. Ternyata enak banget, ya?" Itulah alasan Joe tadi pagi sampai menyuruh Sandi membelikan bahan makanan untuk membuat nasi uduk. Dia sangat ingin mendukung Umi Maryam untuk terus berjualan.


"Kalau Robert sendiri apa, A?"


"Dia suka sekali bubur abon sapi, Yang."


*


*


*


"Astaghfirullahallazim!" Abi Hamdan tersentak kaget dengan mata yang terbuka lebar, saat dimana tubuhnya terjatuh dari sofa. Dan sekarang terlentang di lantai.


Perlahan dia pun mengatur napasnya naik turun, lalu mengelus dada berulang kali.


"Ya ampun, seperti aku ketiduran. Karena sangking empuknya sofa ini. Bahkan lebih empuk dari kasurku di rumah." Abi Hamdan memandangi sofa panjang nan besar berwarna hitam itu. Hanya baru melihatnya saja dia sudah mulai tertarik, sampai membuatnya berada di dalam mimpi.


"Syifa, bagaimana dengan si Jojon? Apa kamu sudah berhasil menemukannya?" tanya Abi Hamdan seraya bangkit, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar pribadi milik Joe yang kebetulan pintunya terbuka lebar.


"Lho, ke mana Syifa dan Robert?" Abi Hamdan seketika mengerutkan keningnya, kala sudah menatap sekeliling ruangan itu tapi tak berhasil menemukan anak dan cucunya.


Dan sontak saja, dia terkejut bukan main, kala sorotan matanya terhenti pada jam dinding yang menempel tembok. Lantaran di sana sudah menunjukkan pukul setengah 3.


"Astaghfirullahallazim, kok udah setengah 3? Ini serius? Apa jamnya yang rusak?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...Selamat hari raya idul Adha buat yang menjalankan 🙏 mohon maaf lahir dan batin...


...Kalau kebagian daging qurban, tolong bagi-bagi sama Author, ya 🤭...


__ADS_2