Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
83. Nggak bisa pelan


__ADS_3

"Maaf, Bi. Aku memang nggak pernah mengisi makanan di dalam kulkas," jawab Joe dengan perasaan bersalah.


"Ya minimal buah kek, Jon, kan lumayan buat ganjel perut!" omel Abi Hamdan lalu terduduk di sofa.


"Biasanya memang ada. Tapi sekarang mungkin pas sudah habis," jelas Joe kemudian menambahkan. "Sekarang Abi mau aku belikan makanan di restoran atau mau makan di restoran sekalian pulang?" tawar Joe.


"Sekalian pulang saja, Jon. Biar nggak lama." Abi Hamdan menyentuh perutnya yang menjadi sakit sekarang, tubuhnya pun seketika gemetaran.


"Ya sudah, ayok kita pulang, Bi." Joe berdiri dengan tangan yang menarik lengan Abi Hamdan, supaya pria itu ikut berdiri. "Di depan ada restoran, Abi bisa langsung makan di sana."


"Tapi sarung sama celana Abi basah, Jon, dan Abi cuma menemukan handuk ini di kamar mandi. Jadi Abi pakai." Abi Hamdan menyentuh handuk putih yang dia pakai. "Tapi Abi nggak mau keluar hanya pakai handuk, dan nggak mau juga pakai sarung Abi yang basah. Nanti yang ada masuk angin."


"Abi ganti pakaian dulu berarti. Sebentar ... aku ambilkan." Joe langsung bergegas masuk ke dalam kamar pribadinya, kemudian membuka lemari untuk mengambil salah satu pakaiannya.


"Masa Abi pakai bajumu, sih, Jon? Nggak mau lah!" teriak Abi Hamdan menolak.


"Kenapa nggak mau, Bi? Katanya takut masuk angin." Joe kembali dengan membawa paper bag besar, kemudian menaruhnya di atas pangkuan Abi Hamdan. Dan pria itu memang sudah kembali duduk.


"Ya nggak maulah. Ini 'kan baju pernah kamu pakai, masa dipakai lagi sama orang tua, mana mertua lagi. Nggak sopanlah, Jon!" omelnya sambil menaruh benda itu di atas meja dengan sekali hentakan.


"Itu baju baru, Bi," jawab Joe. Tak mungkin juga dia memberikan baju bekas dirinya kepada Abi Hamdan. Selain tidak sopan, itu semua juga karena dia sendiri memang selalu mempunyai pakaian baru di lemari. Entah membeli sendiri, hadiah dari orang tua, atau dari beberapa rekan bisnisnya. "Buka saja dulu, terus lihat," sarannya.


Abi Hamdan mengerucutkan bibirnya, sambil membuka isi di dalam paper bag yang ternyata adalah sebuah kotak. Pakaian itu ada di dalam kotak dan satu set stelan jas berwarna mocca.


Terlihat mewah dan bagus, bahkan dia terkejut melihat bandrol harga yang masih menempel di sana.


"Astaghfirullahallazim ... ini seriusan, harganya 50 juta? Yang benar saja, Jon!" Abi Hamdan menganga sampai air liurnya menetes. Mungkin baru seumur-umur, dia melihat pakaian dengan harga semahal itu.


"Memangnya masih ada bandrolnya, ya?" Joe mengambil kotak tersebut, kemudian membukanya untuk memastikannya sendiri. Ternyata memang benar masih ada bandrolnya dan segera dia buang benda tersebut, lalu memberikan lagi kepada Abi Hamdan. "Udah ini, pakai, Bi."


"Tapi ini kamu serius beli jas 50 juta, Jon? Kenapa kau membuang-buang uang?!"

__ADS_1


"Pakaian 'kan kebutuhan, Bi, jadi itu bukan aku buang uang," bantah Joe.


"Tapi nggak perlu semahal ini, Jon. Pakaian 'kan yang terpenting bisa menutup aurat dan tidak membuat kita kedinginan serta kepanasan," tegur Abi Hamdan menasehati.


"Namanya barang limited edition, Bi, wajar kalau mahal. Bahannya juga bagus. Udah sekarang Abi ganti baju, katanya tadi laper."


"Limitid limitid, apa itu limitid!" Abi Hamdan hanya berdecak sambil marah-marah. Tapi kedua kakinya itu sudah melangkah menuju kamar pribadi Joe untuk mengganti pakaian di sana.


Beberapa menit kemudian, dia pun kembali dan terlihat sudah memakai pakaian dari Joe. Terlihat agak aneh menurutnya, juga sedikit kebesaran, sebab tubuh Joe sepertinya lebih berisi dibanding Abi Hamdan.


"Ternyata pas, ya Bi, meskipun sedikit kebesaran," komentar Joe yang memerhatikan mertuanya dari ujung kaki hingga kepala.


"Enak saja kebesaran, memangnya kamu pikir Abi kerempeng?!" Abi Hamdan kembali mengomel. Memang orang lapar itu bawaannya emosi terus, dan Joe dapat memakluminya. Selain itu dia juga kasihan pada sang mertua yang ditinggalkan semalam di sana.


"Aku nggak bilang Abi kerempeng kok. Ayok kita pergi sekarang, Bi. Kasihan cacing diperut Abi udah berdemo mulu." Joe mendekat, lalu merangkul bahu mertuanya untuk sama-sama keluar dari ruangan itu sampai keluar kantor.


"Tapi ngomong-ngomong ... tadi kamu ngasih Abi pakaian nggak sama sempaaknya lho, Jon. Jadi Abi nggak pakai sempaak," bisik Abi Hamdan ke telinga kiri menantunya.


"Tapi nggak enak tau, Jon, nggak betah Abi. Gatel kayaknya." Abi Hamdan menggaruk inti tubuhnya. Sebenarnya bukan tidak enak karena tak memakai celana dallam, tapi lebih tepatnya dia sendiri tak nyaman memakai stelan jas.


Sebab Abi Hamdan sudah terbiasa memakai sarung dan celana kolor.


"Sabar, Bi. Anggap saja ini cobaan," kata Joe sambil tersenyum dan menepuk pelan pundak sang mertua.


Setelah sampai restoran depan dia pun membukakan pintu, kemudian masuk bersama dan duduk di salah satu meja.


Restoran yang terlihat cukup elit itu begitu sepi sekali, dan sepertinya hanya mereka berdua yang menjadi pelanggan pertama di pagi buta di sana.


"Selamat pagi Pak Jonathan. Silahkan mau pesan apa?" tanya seorang pelayan wanita yang datang menghampiri sambil menyodorkan buku menu di atas meja. Dia terlihat begitu ramah sekali.


"Aku pesan menu yang nggak lama waktu masaknya saja, Mbak, apa saja. Tapi yang penting halal dan enak pastinya," kata Joe yang memilih jalur aman. Sebab dengan begitu perut mertuanya akan cepat terisi.

__ADS_1


"Untuk berapa porsi, Pak? Dua?"


"Ya." Joe mengangguk.


"Abi kepengen makan pakai nasi, Jon," ucap Abi Hamdan dengan lemah.


"Iya, Bi." Joe mengangguk.


"Minumnya apa, ya, Pak?" tanya sang pelayan.


"Abi mau teh tawar hangat, Jon." Abi Hamdan menyahut sambil menyentuh perutnya.


Joe mengangguk, kemudian menatap kembali sang pelayan. "Teh tawar hangat satu, sama susu putih hangat, Mbak."


"Baik." Pelayan itu mencatat pesanan pada buku kecil di tangannya, kemudian membungkukkan badannya. "Tunggu sebentar, Pak, saya akan kembali beberapa menit lagi."


"Iya. Cepetan ya, Mbak, takut pingsan mertuaku." Joe menatap Abi Hamdan tengah meringis dengan masih menyentuh perut. Melihatnya seperti itu—dia jadi tidak tega sekali. "Eh, Mbak, apa ada buah di sini?" tanya Joe lagi sebelum pelayan itu pergi. Dan wanita berseragam hitam itu pun langsung menghentikan langkahnya.


"Ada, Pak. Tapi hanya ada pisang, soalnya belum datang kiriman dari supermarket-nya."


"Nggak apa-apa. Bawakan dulu pisangnya sebelum makanan itu sampai, Mbak," pinta Joe.


"Baik, Pak." Pelayan itu mengangguk, kemudian berjalan cepat pergi meninggalkan mereka.


Hanya dalam waktu satu menit, pelayan itu pun kembali dengan membawakan tiga buah pisang kualitas super di atas piring dan menaruhnya di atas meja. Melihat itu, Abi Hamdan langsung mengambil salah satunya untuk dia makan. Dan terlihat begitu lahap, seperti orang yang sebulan tidak makan.


"Pelan-pelan makannya, Bi," tegur Joe sambil meringis, saat melihat pipi mertuanya itu begitu kembung terisi pisang.


"Nggak bisa pelan, Abi, Jon, lapar banget," jawab Abi Hamdan sambil mengunyah.


...Sungguh kasihan 🤣...

__ADS_1


__ADS_2