Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
212. Muntah-muntah


__ADS_3

Setelah berusaha membangunkan Robert, dan Syifa pun ikut membantunya—akhirnya bocah berkepala botak itu mengerjapkan matanya secara berlahan.


Dia juga menatap sekeliling dan tampak keheranan sebab di depannya itu sudah ada para Oma dan Opanya.


"Lho, kok ada Opa dan Oma? Mau ngapain dan kita sedang di rumah siapa ini?" Pandangan mata Robert terhenti pada pintu rumah, lalu memerhatikan rumah yang menurutnya asing.


"Ini rumah Ustad Yunus, Nak." Yang menjawab Syifa.


"Udah, sekarang kamu langsung ikut makan saja, Rob. Daddy udah laper banget soalnya," titah Joe dan langsung melahap satu sendok pertama nasi gorengnya. Dia sudah sangat tidak sabar dan tak tahan sekali menahan lapar yang melanda sejak tadi.


Abi Hamdan dan Umi Maryam pun mengikutinya, sedangkan Syifa langsung menyendokkan nasi goreng tersebut ke mulut Robert.


"Ayok buka mulutnya, Nak," pinta Syifa.


"Aaaa ...." Bocah itu sebenarnya masih bingung, ditambah nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. Tapi karena diberikan suapan apalagi dari Syifa, dia pun tanpa sadar membuka mulut.


"Papi dan Mami ayok makan, kok diem mulu?" Joe menyendokkan nasi goreng ke mulut Syifa, tapi sejak tadi dia memerhatikan wajah kedua orang tuanya yang tampak terbengong saja.


"Rasanya enak kok, Mi, Pi. Apa Mami dan Papi mau aku suapi?" tawar Syifa yang mana membuat mata kedua mertuanya itu berbinar.


"Bo ...." Baru saja kedua orang tua itu ingin menjawab kata 'boleh' tapi Joe sudah keburu memotongnya.


"Apaan sih kamu, Yang! Nggak usah!" tegasnya melarang. Tentu Joe tidak akan menyukai jika momen itu terjadi, apalagi untuk Papinya. "Udah cepet makan, Mi, Pi. Kapan lagi coba kita makan bareng-bareng dalam satu wajan begini. Ditambah bareng Syifa. Harusnya kalian seneng ... karena aku mengajak kalian juga." Joe mencoba menasehati, namun dengan mulut yang terisi penuh sambil mengunyah.


"Ayok makan, Mi," ajak Papi Paul dengan lesu kepada istrinya.


Sebenarnya tidak mau, bahkan sangat. Tapi entah mengapa dia kali ini tidak bisa menolak karena melihat Syifa makan dengan lahap. Perutnya pun mendadak lapar oleh sendirinya.


"Iya, Pi." Seperti halnya Papi Paul, Mami Yeri juga terlihat ragu untuk melakukannya.


Namun, dia terpaksa dan akhirnya melahap nasi goreng itu meskipun sedikit. Tak lupa untuk membaca do'a terlebih dahulu.


Awal-awal makan, yang terlihat begitu lahap adalah Joe, Robert, Abi Hamdan dan Syifa. Sedangkan Umi Maryam dan Mami Yeri sendiri terlihat biasa saja karena tidak terlalu lapar.


Tapi diakhir-akhir, saat nasi goreng itu sedikit lagi mau habis—Papi Paul justru berebutan dengan Abi Hamdan, masing-masing ingin dirinya saja yang menghabiskan makanan itu.


"Bapak 'kan tadi udah makan banyak. Jadi udahan dong sekarang makannya," pinta Papi Paul dengan mata melotot.


"Kenapa memangnya? Orang tanggung," sahut Abi Hamdan.

__ADS_1


"Bukan masalah tanggung, tapi akunya kurang, Pak!" Karena kesal melihat besannya tak kunjung mengakhiri makannya—Papi Paul pun memutuskan untuk merebut sendoknya.


Sayangnya, Abi Hamdan justru masih meneruskan dengan cara pakai tangan dan itu sungguh membuat Papi Paul tambah jengkel.


"Ih nyebelin banget sih! Udah botak, susah dibilangin lagi!" Akhirnya dialah yang mengakhiri makan, meskipun belum sepenuhnya puas.


Melihat tangan Abi Hamdan yang makan secara langsung entah mengapa membuatnya seketika jijik. Meski dia sendiri juga tahu, jika besannya itu sudah ke kamar mandi sebelum makan.


Berbeda dengan dirinya yang dari awal tidak ke kamar mandi, bahkan kalau boleh jujur—sisa ilernya yang berkerak masih terlihat meskipun agak samar.


"Kalau Papi masih kurang, biar aku pesan lagi," tawar Joe yang sejak tadi memerhatikan mertua dan orang tuanya berdebat.


"Enggak usah! Orang nasi gorengnya juga nggak enak dan nggak higienis, ngapain tambah." Papi Paul mencebikkan bibirnya, lalu bersedekap. Dia tampaknya sudah merajuk.


"Nggak enak dan nggak higienis tapi kurang ya, Pi," ledek Joe sambil terkekeh geli. Dia juga geleng-geleng kepala.


***


Keesokan harinya.....


"Uueekk ... Uueek ... Uueekk."


"Sayang ... Mommy tinggal ke dapur dulu sebentar, ya?" Syifa pamit sambil mengusap puncak kepala anaknya. Dan bocah yang tengah mengunyah roti tawar itu langsung mengangguk.


"Iya, Mom."


"Uueekk ... Uueekk ... Uueekk."


Syifa berjalan menuju dapur, kemudian langsung menyentuh tengkuk suaminya sembari memijatnya dengan lembut. "Aa kenapa? Kok muntah-muntah?"


Joe memutar kran air pada wastafel, lalu membasuh bibirnya sambil kumur-kumur. "Enggak tau, Yang. Mendadak perutku enek," jawabnya sambil mengusap perut.


"Karena makanan atau nggak, A? Atau kopi yang diminum?"


"Enggak tau juga, Yang. Tapi 'kan yang makan roti bukan cuma aku, tapi kamu dan Robert juga makan."


"Iya, sih. Mungkin dari kopinya kali. Atau Aa kena magh. Ya udah, kita langsung periksa saja yuk, A. Dan hari ini Aa nggak perlu berangkat ke kantor."


"Enggak perlu periksa deh, Yang," tolak Joe dengan gelengan kepala. Rasanya malas sekali untuk pergi rumah sakit, apalagi untuk mencium aromanya yang dipenuhi obat-obatan.

__ADS_1


"Kalau enggak periksa, kita nggak akan tau Aa sakit apa."


"Kan tadi kamu udah bilang, kalau aku kena magh, Yang. Aku juga masih ada obat magh pas periksa di Korea. Aku minum itu aja nanti juga sembuh."


"Kan itu aku yang nebak, dan aku bukan dokter, A. Tapi takutnya Aa ada penyakit lain."


"Penyakit apa?"


"Ya nggak tau. Mangkanya periksa dulu saja."


"Daddy kenapa, Dad? Sakit?" Robert berjalan mendekati mereka, lalu menyentuh tangan Joe. Dia juga memerhatikan wajah sang Daddy yang mendadak tampak pucat dengan bibir yang pecah-pecah.


"Kayaknya Daddy sakit, Nak. Mungkin Mommy akan izin nggak masuk ke sekolah. Kamu sekolahnya biar di antar Om Sandi saja, ya?" Syifa sudah merangkul suaminya, meletakkan lengan kanan Joe pada bahunya.


"Tapi bukannya kata Mommy hari ini semua anak-anak menghias kelasnya, ya, Mom, dibantu sama wali kelas. Terus nanti gimana? Apa berarti kelas Robert nggak ikut lomba agustusan besok?" tanya Robert yang tampak bingung.


Semalam sebelum tidur, Syifa memang sudah memberitahukannya. Dan mengirimkan pengumuman itu pada seluruh orang tua murid dari grup wa.


Beberapa lomba agustusan yang lain pun diingatkan lagi, sebab takutnya para orang tua dan murid lupa.


"Kamu nggak perlu izin, Yang," ucap Joe seraya menyentuh dahi, sebab mendadak terasa berkunang-kunang. "Kamu berangkat ke sekolah aja sama Robert. Kasihan dia dan teman-temannya, masa menghias kelas tanpa kamu? Nanti kelasnya kurang cantik dong. Kan kamu sumber kecantikannya." Sambil menahan rasa mual dengan pandangan yang mulai kabur, Joe rupanya masih sempat untuk menggombal.


"Tapi masa Aa sendirian di rumah? Aku khawatir lah, A. Kan Aa lagi sakit." Syifa tampaknya enggan untuk meninggalkan Joe. Sebab memang dia begitu mencemaskannya.


"Di rumah 'kan ada Bibi, ada satpam juga. Nggak sendirian lho aku."


"Telepon Oma aja, Mom. Biar Oma yang tungguin Daddy. Suruh Oma juga buat panggil dokter supaya datang ke rumah," saran Robert memberikan ide.


"Takutnya Oma sibuk, Nak. Dan kewajiban merawat Daddy 'kan Mommy, bukan ....." Belum sempat Syifa melanjutkan ucapannya, tapi tiba-tiba saja tubuh Joe oleng.


Bruk!


Seketika saja, pria berkepala botak itu ambruk di lantai dengan tak sadarkan diri.


"Astaghfirullah Aa!!"


"Daddy!!!"


Syifa dan Robert berteriak secara bersama, karena keduanya sama-sama terkejut melihatnya.

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2