
"Nggak bakal, Yang." Joe menggelengkan kepalanya, dan berusaha meyakinkan. "Kamu nggak perlu mikir jauh-jauh. Kita nggak akan bercerai sampai kapan pun." Dia lantas membungkukkan badannya mendekat ke arah istrinya, lalu mengecup bibir ranum itu secara singkat.
"Aa mencintaiku, kan?" tanya Syifa dengan tatapan teduh dan perasaan takut.
Takut sekali rasanya jika dirinya kehilangan Joe hanya karena masalah ini.
"Tentu saja, Yang. Kamu 'kan wanita terakhir di hidupku." Joe mengelus puncak kerudung Syifa, lalu mencium keningnya. Wajah perempuan itu langsung merona dan dia pun tersenyum malu-malu. "Sandi, tolong antarkan Syifa pulang dengan selamat, ya?" pinta Joe kepada sopirnya, seraya menutup pintu mobil.
"Iya, Pak." Sandi mengangguk cepat.
"Oh ya, San." Ucapan Joe barusan langsung menghentikan langkah kaki Sandi, padahal pria itu hendak melangkah memutar menuju kursi kemudi.
"Kenapa, Pak?"
"Habis mengantar pulang, tolong kamu carikan seorang bidan atau dokter kandungan. Tapi minta dia untuk bersedia dibayar untuk berbohong."
"Bohong?" Kening Sandi mengerenyit. Merasa aneh dengan perintah sang majikan, sebab selama ini Joe tidak pernah melakukan hal atas dasar kebohongan.
"Iya. Tapi ini bohong demi kebaikan, demi keutuhan rumah tanggaku, San," jelas Joe yang seakan mengerti dengan ekspresi wajah Sandi.
"Coba Bapak ceritakan sedikit, apa yang terjadi dan apa yang Bapak inginkan untuk saya bisa membantu?" Sandi tampak penasaran. Dia sendiri tadi tak mendengar jelas percakapan antara Joe dan Syifa. Selain tak berniat menguping, juga karena itu tidak sopan menurutnya.
"Demi bisa menikahi Syifa dan mendapatkan restu dari orang tua ... aku nekat berbohong, San. Aku bilang kalau Syifa sedang mengandung."
Sandi menganga mendengar cerita Joe. Jujur saja dia baru tahu, alasan utamanya. Padahal dia sempat berpikir kalau pernikahan Joe dan Syifa memang karena pada dasarnya mereka berjodoh saja.
__ADS_1
Jadi orang tua Joe merestui, dan mengikhlaskan anak semata wayangnya untuk pindah agama, serta menikah dengan perempuan muslim.
"Maaf sebelumnya, kalau pertanyaan saya menyinggung. Tapi memangnya ... Bu Syifa sendiri belum hamil, Pak? Bukannya Bapak dan Bu Syifa sudah hampir sebulan atau bahkan lebih, menikah?" tanya Sandi.
"Bukan masalah sebulan aku sudah menikah, San. Tapi masalahnya aku menanam bibitnya baru kemarin, pas selesai pesta. Jadi nggak mungkin ajaib langsung jadi." Joe menghela napasnya dengan frustasi.
"Lho, kenapa Bapak baru nanem? Memangnya kemarin-kemarin pas selesai akad ... Bapak dan Bu Syifa ngapain? Kenapa nggak langsung bikin saja, Bapak 'kan sudah berpengalaman." Sandi berbicara dengan santai sekali, padahal dia sendiri belum mengalami namanya pernikahan. Dan betapa beratnya cobaan Joe ketika kehendak membobol gawang.
"Ah kamu, San!" Joe mengusap kasar wajahnya. Merasa kesal, tapi bukan kepada Sandi. Melainkan kepada dirinya sendiri yang dengan gegabah berbohong. Apalagi dilakukan bukan hanya kepada orang tua, tapi mertuanya juga. "Banyak faktor yang memengaruhi, kenapa aku baru bisa menanamnya. Udah sekarang mending kamu cepat carikan bidan atau dokter, yang mau dibayar untuk berbohong. Mengatakan Syifa sedang hamil sekitar dua bulanan atau sebulan setengah, karena aku sendiri 'kan bilangnya Syifa hamil diluar nikah."
"Bapak parah sih ini." Sandi geleng-geleng kepala, merasa tak habis pikir dengan ide konyol majikannya yang membuat panjangnya masalah. "Baru dengar saya ada orang berbohong mengaku hamil diluar nikah, biasanya 'kan zaman sekarang ... meskipun benar sudah hamil diluar nikah, tapi dia berbohong dan mengatakan nggak." Sambil melangkah menuju kursi kemudi, Sandi bergumam sendiri, kemudian masuk ke dalam sana.
Melihat mobil Sandi sudah berlalu pergi, Joe pun langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit, kemudian menuju ruangan dokter kandungan.
"Lho, Joe, di mana Syifa?" tanya Mami Yeri yang berdiri dari duduknya bersama dengan Robert.
"Maaf, Mi. Tadi Syifa aku suruh pulang dengan Sandi."
"Lho, kok pulang?" Kening Mami Yeri mengerut. "Syifa 'kan musti periksa kandungan, Joe. Dokternya udah nungguin di dalam."
"Ada urusan mendesak, Mi. Kalau soal periksa kandungan ... bisa lain waktu saja."
"Urusan mendesaknya apa dulu? Dan kenapa Syifa buru-buru pulangnya tanpa pamit sama Mami?" Mami Yeri terlihat masih bingung.
"Itu, Uminya, Mi," jawab Joe dengan ragu. Manik matanya tampak bergerak-gerak tak jelas.
__ADS_1
"Uminya? Kenapa dengan Uminya?"
"Uminya Syifa terkunci di dalam kamarnya." Hanya ide ini yang ada di dalam otaknya, dan Joe pun langsung meminta maaf dalam hati. Karena telah berbohong lagi apalagi dengan membawa-bawa nama mertuanya. 'Ya Allah, maafkan aku. Umi, maafkan Joe.'
"Kok bisa terkunci di kamarnya? Tapi memangnya Uminya Syifa nggak pegang kunci sendiri?" tanya Mami Yeri lagi yang masih bingung. Wajah Joe sudah terlihat berkeringat sekarang.
"Pegang. Tapi kuncinya tertelan." Makin ngawur saja ucapan Joe. Sebab jujur saja dia memang tidak ahli dalam urusan berbohong, dan merasa bingung sendiri memikirkan ide gilanya itu.
"Astaga!" Mata Mami Yeri sontak membeliak, dengan mulut yang menganga. Robert pun melakukan hal yang sama.
"Oma Maryam menelan kunci kamar? Kok bisa, Dad?" tanya Robert terkejut bukan main, dia pun melangkah mendekat ke arah Joe seraya menggenggam erat tangannya. "Terus, kondisi Oma gimana? Oma harus dibawa ke rumah sakit, Dad!" tambahnya yang menggoyangkan tangan Joe. Raut wajahnya itu tampak begitu khawatir.
"Astaghfirullahallazim!" Seseorang tiba-tiba saja datang dan langsung beristigfar, dan membuat Joe berbalik badan.
"A-Abi!!" Mata Joe melotot, melihat mertuanya saat ini sedang berdiri di depannya bersama seorang polisi yang sempat dia minta untuk menjaganya.
"Apa tadi Opa nggak salah dengar, Nak, kalau Oma Maryam menelan kunci?" tanya Abi Hamdan menatap Robert dengan tubuh yang menegang.
Bocah berusia 7 tahun itu langsung mengangguk cepat dan berlari menghampirinya. "Itu benar, Opa. Sekarang kita harus pulang ke rumah! Cek kondisi Oma Maryam!" serunya tampak panik.
Abi Hamdan segera meriah tubuh cucunya untuk dia gendong, setelah itu berlari pergi dari sana dengan tergesa-gesa. Mami Yeri pun mengikuti mereka, berlari menyusul sampai meninggal Joe.
"Ya ampun! Bukan begini yang aku mau!" Joe tentunya ikut panik juga, dengan reaksi mereka semua karena alasan diluar nalarnya itu.
Gegas, Joe pun berlari mengejar. Sebelum mertua, anak, serta Maminya benar-benar pergi. Dan mengecek langsung kondisi Umi Maryam yang katanya menelan kunci.
__ADS_1
...----------------...
...Om Joe stress 🤣...