Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
269. Berikan jalan


__ADS_3

"Mommy jangan percaya, sedangkan Mommy sendiri 'kan belum pernah merasakannya dan ...." Ucapan Robert seketika menggantung, lalu dia pun memegang kepalanya sambil meringis dan memejamkan mata. "Aduuuhhh ... kepala Robert mendadak sakit banget, kelihatan berputar-putar juga," tambahnya kemudian dan mulai oleng.


"Nak!!" Abi Hamdan langsung memegangi tubuh Robert, sebelum bocah itu terjatuh. Gegas, dia pun menggendongnya dan berlari keluar dari rumah.


"Kepala Robert sakit banget, Opa! Masa Opa tega bawa Robert untuk sunat?!" tanya Robert dengan tubuh yang bergetar dan harap-harap cemas.


"Opa akan membawamu ke rumah sakit. Jon! Ayok bawa Robert ke rumah sakit!" teriaknya kepada sang menantu, lalu membuka pintu mobil Joe dan masuk bersama Robert yang didudukkan di atas pangkuan.


"Iya, Bi!" Joe langsung berlari dan menyusul masuk ke dalam mobil.


"Dih ... Robert nggak mau dibawa ke rumah sakit, Opa!" tolak Robert dengan gelengan kepala.


"Kamu harus dibawa ke rumah sakit, Nak! Kan katanya tadi kepalamu sakit," ujar Abi Hamdan khawatir. Dia tiba-tiba mengingat dengan penyakit Robert yang dulu, dan merasa takut jika alasannya sakit kepala karena penyakit itu yang kembali kambuh.


"Iya, Daddy juga khawatir sama kamu, Rob. Mending kita ke rumah sakit saja." Joe menimpali, lalu menarik gas mobilnya dengan kecepatan tinggi.


'Duuhhh ... bagaimana ini? Bisa-bisa aku ketahuan kalau berbohong,' batin Robert yang jadi cemas sendiri. Benar memang, apa yang dia lakukan hanya pura-pura demi lolos tak jadi sunat. 'Oh ya, ada cara jitu. Coba saja seperti waktu itu.' Mendadak dia pun kembali mendapatkan sebuah ide.


Ide yang dimaksud Robert ini adalah ide kalau misalkan dirinya dibawa ke UGD, jadi otomatis Abi Hamdan dan Joe akan meninggalkannya berdua bersama dokter yang akan memeriksanya.


Nanti di sana, dia akan meminta bantuan supaya ikut berbohong dan mengatakan jika dia harus dirawat inap. Momen itu sama persis seperti apa yang dilakukannya saat di Korea, saat dimana Mami Yeri memaksanya untuk mau menjadikan Yumna sebagai pengganti Mommynya.

__ADS_1


Namun, sayangnya kali ini usaha Robert tak sesuai ekspektasi. Sebab dirinya ternyata tidak dibawa ke UGD, melainkan hanya dibawa ke ruangan dokter umum untuk diperiksa.


Semua itu mungkin karena dirinya masih dalam keadaan sadar, jadi posisinya tidak genting yang diharuskan dibawa ke unit gawat darurat.


"Bagaimana dengan cucuku, Dok? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Abi Hamdan dengan cemas, memerhatikan setiap apa yang dokter itu lakukan kepada Robert.


Bocah itu juga masih dalam keadaaan telanjang dada, tadi tak sempat mengambil kaosnya karena panik. Tapi celana jeans pendeknya sudah kembali dipakaikan oleh Abi Hamdan.


"Dia baik-baik saja kok, Pak," jawab Dokter sambil tersenyum.


"Tapi Robert bilang sakit kepala, Dok," ucap Joe yang terlihat tidak percaya dengan apa yang dokter itu katakan. "Apa perlu dia dirontgen?"


"Iya, Robert memang sakit kepala kok, Dad. Bahkan sangat," ujar Robert dengan masih berpura-pura, lalu meringis sembari memegangi kepala.


"Baik, Dok." Joe mengangguk, lalu menatap ke arah Abi Hamdan sembari melepaskan jas kemudian menyelimuti dada anaknya. "Aku titip Robert sebentar ya, Bi. Aku mau ke resepsionis dulu."


"Iya, Jon." Abi Hamdan mengangguk, Joe pun melangkah pergi dari sana.


"Rontgen itu apa, Opa?" tanya Robert bingung, menatap sang Opa.


"Rontgen itu—"

__ADS_1


"Rontgen itu tindakan medis yang menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik untuk mengambil gambar bagian dalam dari tubuh seseorang, Nak," potong Dokter itu cepat, lalu kembali menjelaskan. "Nanti kepalamu itu seperti akan difoto bagian dalamnya, biar tau alasan kamu sakit kepala itu karena apa. Karena memang ada penyakit, atau memang pura-pura."


Mendengar kalimat terakhir yang disampaikan, Robert langsung menelan ludahnya dengan kasar. Tampaknya Dokter itu tahu, jika bocah itu hanya mengelabui Daddy dan Opanya. Tapi tidak dengan dirinya.


'Duuhh ... gawat! Celaka lagi dong kalau setelah dirontgen aku ketahuan berbohong. Bagaimana ini? Apa mending aku kabur saja?' batinnya yang lagi-lagi mulai berpikir.


"Eeemmm ... Opa, Robert kepengen berak kayaknya, mules. Apa Opa bisa bawa Robert ke toilet?" tanya Robert berbohong, lalu mengelus perutnya.


"Bisa, Nak. Ayok." Abi Hamdan langsung meraih tubuh Robert dan menggendongnya. Namun saat dirinya hendak melangkah, berniat keluar dari ruangan dokter umum itu, salah satu lengannya justru langsung dipegang oleh sang dokter entah apa sebabnya.


"Temani Robert sampai selesai buang hajat, Pak. Bapak juga jangan sampai lengah, kalau nggak mau dia kabur," tegurnya sembari menatap Robert.


'Apa-apaan Dokter ini?!' Robert menyeru dalam hati dengan penuh kekesalan, bibirnya juga ikut mencebik. 'Kenapa dia seolah tau dengan isi pikiranku? Apa jangan-jangan dia punya kesaktian yang bisa baca pikiran orang?'


"Maksud Dokter apa?" tanya Abi Hamdan yang tak paham dengan apa yang dikatakan dokter pria itu.


Dokter menggelengkan kepalanya, tapi dia menyunggingkan sebuah senyuman tipis. "Saya nggak ada maksud apa-apa kok, Pak. Saya hanya mengingatkan, karena biasanya anak-anak 'kan paling takut diperiksa. Apalagi periksa rontgen atau disunat, benar, kan?"


Robert sontak terbelalak. Betul-betul dia terkejut dan sangat percaya sekali jika dokter itu memanglah punya kekuatan membaca pikiran orang. 'Fiks, sih! Dokter ini memang sakti! Nyesel aku pura-pura sakit kepala, harusnya aku langsung kabur saja dari rumah Opa Hamdan,' batinnya.


"Oh gituuuu. Baik, Dok." Abi Hamdan mengangguk. Setelah tangannya sudah tak lagi dipegang, dia pun melangkah keluar dari sana bersama Robert.

__ADS_1


'Ya Allah ... Robert yakin, sekarang hanya Allah lah satu-satunya yang bisa membantu Robert. Tolong Robert ya, Allah. Berikan jalan supaya Robert nggak jadi sunat. Robert benar-benar takut. Robert belum siap,' batinnya berdo'a, karena kali ini dia sudah buntu ide.


...Jangan dikabulin ya Allah 🤭🙈...


__ADS_2