
"Bukan untuk dimakan, Opa. Tapi nanti mau Robert pajang di rumah. Pasti lucu, kan, bentuknya?"
"Iya, iya, lucu." Abi Hamdan mengangguk dan kembali terkekeh.
Robert dan Papi Yohan pun diminta untuk berbaring di atas brankar. Keduanya terhalang oleh gorden, tapi kepalanya masih dapat melihat satu sama lain.
"Bawa hape nggak kamu, Rob?" tanya Papi Yohan dengan kepala yang sudah menoleh kepada Robert.
"Enggak, Opa." Robert menggeleng. "Apa Opa Yohan mau memvideokan momen disunat juga?"
"Bukan. Tapi Opa mau mengajakmu mabar ML." Dia pun menunjukkan ponselnya yang saat ini berada dalam genggamannya sendiri.
"Orang kita mau disunat, masa mabar? Ya nggak fokus dong, Opa."
"Malah lebih bagus, Rob, biar kita rileks dan nggak ketakutan. Jujur ... Opa juga ada sedikit takut. Tapi cuma sedikit lho, ya!"
"Robert juga takut, cuma sedikit juga." Robert cengengesan. "Oh ya, Robert jadi penasaran... sebetulnya apa, sih, alasan Opa Yohan disunat? Apa Opa juga mau masuk Islam?" tanyanya penasaran. Robert tentu tahu jika Papi Yohan dan keluarganya adalah non muslim. Maka tak heran, jika dia bertanya hal demikian.
"Rencana sih gitu, kamu do'akan saja, ya, biar semuanya lancar."
"Amiinnn ...." Robert mengusap wajahnya. "Robert do'akan. Tapi Oma Soora ikut masuk Islam juga nggak, Opa? Soalnya kata Daddy ... kalau suami istri itu harus satu agama. Nggak boleh berbeda."
"Oma Soora juga ikut."
"Kalau Tante Yumna?"
"Ikut juga, paling nanti kalau mau menikah dengan Ustad Boy," jawabnya berharap.
"Ustad Boy?!" Kening Robert seketika mengerenyit. Dia juga terdiam sebentar. "Oh pasti maksudnya, Tante Yumna sekarang sudah punya pacar, ya, Opa dan dia seorang Ustad. Bagus deh ... berarti dengan begitu, Tante Yumna nggak bakal mengharapkan Daddy lagi."
"Memangnya kemarin-kemarin, Tante Yumna masih mengharapkan Daddymu, Rob? Apa saja yang dia lakukan?" tanya Papi Yohan penasaran.
Abi Hamdan yang di samping Robert hanya mendengarkan percakapan mereka sembari merekam video. Dan tanpa mereka sadari juga, saat ini keduanya itu sedang melakukan proses penyunatan oleh dokternya masing-masing.
"Enggak kemarin, udah lama sih, Opa. Cuma ya gitu ... dulunya Tante Yumna sering dateng buat menemui Daddy. Pernah berantem juga sama Mommy lho, karena sangking kesalnya Mommy sama dia."
"Tapi sekarang udah nggak, kan?"
__ADS_1
"Iya. Udah nggak." Robert mengangguk.
"Menurutmu sendiri ... Ustad Boy sama Tante Yumna cocok nggak, sih?"
"Ustad Boy itu seperti apa orangnya? Kalau Robert sendiri nggak tau, jadi bagaimana bisa Robert mengatakan cocok atau nggaknya, Opa?"
"Lho ... kata Ustad Boy kamu kenal dia, Rob. Masa kamu sendiri nggak kenal dia?"
"Masa sih?" Robert mengerutkan keningnya, sembari terdiam dan mengingat-ingat adakah nama Ustad Boy dalam kamus hidupnya. Sebab sejauh ini, cuma nama Ustad Yunus dan Abi Hamdan saja, yang dia tahu seorang Ustad dan juga dia kenal. "Perasaan ... Robert nggak tau, dan nggak kenal juga yang punya nama Boy. Apalagi Ustad Boy."
"Orangnya diluar, Rob, yang tadi ngobrol sama kamu dan Daddymu. Yang ganteng, marbot masjid di sini," jelas Papi Yohan.
"Kalau marbot masjid di sini mah Ustad Yunus, Opa, bukan Ustad Boy. Lagian siapa sih Ustad Boy? Enggak kenal." Robert menggeleng.
"Ya ampun!!" Papi Yohan langsung tepok jidat, lantaran lagi-lagi lupa pada nama Ustad Yunus, sebab terlanjur suka dengan panggilan kesayangannya. "Iya, maksud Opa itu Ustad Yunus. Opa sering banget manggil dia dengan sebutan Boy. Jadi lupa."
"Oohhh ... ngomong dong dari tadi, Robert pikir Ustad yang mana," kekeh Robert.
"Alhamdulillah ... sudah selesai ya, Nak, kamu sudah boleh bangun sekarang," ucap Dokter berkacamata yang berada di samping Robert.
"Udah selesai apanya, Dok??" Robert langsung menatap ke arah dokter dengan raut bingung.
Benar ternyata, itu ujung tongkatnya atau biasa disebut kulup.
"Jadi ini ujung tongkatnya Robert Pak Dokter?" tanya Robert dengan sorotan tak percaya, sambil terus memandangi kulupnya.
"Iya. Lucu, ya?"
"Tapi sejak kapan proses sunatnya, Dok? Kok Robert nggak tau? Dan nggak berasa apa-apa?"
"Udah daritadi, Nak. Cuma kamunya saja yang asik mengobrol, jadi nggak sadar."
"Bener, kan, kata Opa juga apa ... sunat itu nggak sakit," ucap Abi Hamdan sambil memakaikan celanna dalam berbentuk batok pada Robert. Khusus untuk tongkat yang habis disunat dan kebetulan memang diberikan oleh perawat tadi.
Robert mengangguk. "Iya, malah nggak berasa apa-apa, Opa. Tapi apa Robert sempat dibius?"
"Dibius dong, tadi Opa juga lihat pas dokter menyuntikmu," jawab Abi Hamdan, lalu meraih tubuh sang cucu.
__ADS_1
"Semoga cepat sembuh ya, Nak. Jangan lupa minum obatnya, nanti dikasih bareng sama hadiah," ucap Dokter.
"Iya, Dok. Terima kasih." Robert tersenyum. Opa Hamdan pun membawanya sampai keluar dari masjid.
"Waahh ... gimana jagoan Daddy? Nggak nangis, kan?" Joe langsung bangkit dari duduknya di teras masjid bersama Ustad Yunus, saat melihat mertua dan anaknya datang.
"Enggak, Dad!" Robert menggeleng. "Malah ... Robert nggak inget, tau-tau udah dipotong aja. Daddy mau lihat nggak ... ujung tongkat Robert? Bentuknya lucu tau."
Dia pun langsung menunjukkan kulupnya kepada Joe. Ustad Yunus yang ikut melihatnya langsung terkekeh.
"Mau buat apa itu kulupnya, Rob? Kok dibungkus segala?" tanya Ustad Yunus, lalu memberikan sebuah paper bag ke tangan Abi Hamdan. Itu adalah hadiah sunat dan uang jajan untuk Robert.
"Oh jadi namanya kulup ya, Ustad?" Robert menatap Ustad Yunus. Dan pria itu mengangguk. "Robert malah baru tau ternyata ada namanya. Bagus juga namanya, tapi ini nanti mau dipajang di rumah. Dimasukkan ke dalam bingkai."
"Buat apa, sih, Rob ... Kayak gini pakai dipajang apalagi dibingkai segala? Mending dibuang, geli tau!" Joe tak setuju, bahkan dia sudah ingin membuangnya. Tapi cepat-cepat Robert merebutnya.
"Jangaaaann, Dad!" tegasnya marah. "Ini buat kenang-kenangan. Tanda kalau Robert itu udah disunat!"
"Udahlah, Jon, biarkan saja. Yang penting Robert senang," tegur Abi Hamdan yang tak mau ambil pusing. Yang terpenting cucunya sudah mau disunat.
Joe hanya menghela napas, lalu menatap Ustad Yunus. "Aku pamit pulang ya, Ustad. Terima kasih Robert sudah diizinkan sunat disini. Juga terima kasih atas hadiahnya."
"Sama-sama, Pak. Semoga bermanfaat dan dan ada obatnya juga didalamnya."
"Iya. Assalamualaikum."
"Walaikum salam."
Setelah kepergian Joe, Abi Hamdan dan Robert, barulah Papi Yohan keluar bersama Mami Soora yang merangkulnya.
Pria itu masih memakai sarung, tapi sarungnya dia pegang sembari berjalan dengan begitu ngangkang.
"Udah selesai disunatnya, Om? Sakit nggak?" tanya Ustad Yunus.
"Enggak, Boy. Malah nggak berasa karena asik ngobrol sama Robert."
"Bagus deh kalau begitu." Ustad Yunus tersenyum, dia pun menarik laci meja lalu memberikan sekantong plastik yang berisikan obat. "Ini obatnya, Om. Tolong diminum rutin sesuai anjuran yang tertera dibungkusnya. Karena biasanya kalau efek obat biusnya hilang ... pasti akan terasa perih."
__ADS_1
"Terima kasih, Boy." Papi Yohan menerimanya. "Tapi, Boy, ini Om hanya dikasih obat? Nggak ada yang lain gitu?"
...Jangan bilang Om minta uang jajan 🤣🤣...