
Saat mobil itu sampai di depan kantor polisi, Bu Hajah Dijah pun langsung melakukan siaran langsung pada aplikasi face*book-nya, dan benda pipih mahalnya yang sejak tadi dia genggam mengarahkan pada kamera depan.
'Wah ... baru juga beberapa detik, sudah ada yang nonton.' Bu Hajah Dijah membulatkan matanya yang sudah berbinar, kala melihat sudah ada 50 orang yang langsung menonton siaran langsungnya. Padahal baru beberapa detik dimulai.
"Kok sepi ya, Pa? Mana kerabatnya di Jojon?" tanya Fahmi heran saat menatap sekeliling halaman kantor polisi itu. Sebab tak ada mobil selain mobil polisi di sana.
"Coba masuk saja dulu, Mi, kita lihat ke dalam," usul Pak Haji Samsul. Anaknya itu langsung mengangguk setuju dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Eh!" Seorang perwira polisi yang baru saja keluar dari ruangannya sontak terkejut, melihat kedatangan Fahmi bersama keluarganya. Padahal baru saja, dia dan temannya hendak menuju rumah mereka.
Namun, bukankah ini hal yang bagus? Mereka tentu tak perlu capek-capek menangkap. Sebab tersangkanya seolah sudah menyerahkan diri.
"Assalamualaikum, selamat pagi, Pak," ucap Fahmi dengan wajah ceria, dia mengulas senyum. Ekspresi wajahnya sama dengan kedua orang tuanya yang sama-sama ceria.
"Walaikum salam. Selamat pagi juga, Pak, silahkan masuk." Pak Polisi membukakan pintu ruangan saat di mana dia keluar tadi. Itu sebuah 'Ruang Keluhan' dan di dalamnya ada rekan sesama profesinya yang baru saja berdiri dari duduknya. Kemudian melangkah menghampiri.
"Dia Fahmi anakku, Pak, yang menjadi korban dari kasus kemarin." Pak Haji Samsul memperkenalkan, meskipun kemarin sudah memberitahukan foto Fahmi. Sebab khawatir kalau mereka tak mengenali Fahmi.
"Iya, saya tau, Pak." Pria itu mengangguk. "Silahkan masuk dulu, mari." Pintu itu kali ini dibuka dengan lebar. Dan teman seprofesinya langsung memegang lengan kanan Fahmi.
"Ngapain masuk? Aku hanya ingin memastikan Jojon benar-benar masuk buih. Dan di sel mana Jojon berada? Apa kalian bisa menunjukkannya?" tanya Fahmi penasaran.
"Sebelum Anda melihat di mana selnya. Saya meminta Anda untuk duduk, Pak. Ayok ... duduk dulu." Pria yang memegang lengan Fahmi langsung menarik tubuhnya. Memaksanya sedikit untuk ikut masuk dan duduk di salah satu kursi yang kosong.
"Kenapa Bapak main tarik-tarik aku kayak gini? Nggak usah kasar kenapa, sih?" Fahmi terlihat tidak terima dan juga marah, diperlakukan sedemikian rupa. Tangan pria berseragam itu pun langsung dia tepis kasar.
"Maaf. Tapi Bapak sebaiknya menonton secara lengkap rekaman CCTV ini," ucap Pak Polisi seraya menunjuk ke arah laptop di atas meja. Dan temannya yang sudah duduk di kursi di depannya langsung memutarkan rekaman tersebut, serta mengarahkan laptopnya di depan Fahmi dan kedua orang tuanya.
Awalnya, rekaman CCTV itu terlihat tidak ada yang salah sama sekali. Namun, setelah beberapa menit berlalu. Baik Pak Haji Samsul atau Bu Hajah Dijah—keduanya terlihat terheran-heran, sebab melihat anaknya itu terus menerus bolak balik menuju prasmanan untuk mengambil makanan serta minuman.
__ADS_1
Dan cara dia makannya pun benar-benar tak mencerminkan seorang muslim yang baik. Begitu rakus seperti orang yang kelaparan.
"Astaghfirullahallazim. Kenapa kamu begitu rakus sekali, Mi? Seperti nggak pernah makan saja," gerutu Bu Haja Dijah yang merasa malu dengan kelakuan anaknya. Apalagi kedua polisi itu mengetahuinya.
Dia saat ini berdiri di belakangan tubuh anaknya. Sedangkan suaminya sudah duduk di sebelah Fahmi.
Rekaman CCTV itu kembali bergulir, hingga sampai di mana mereka semua melihat—tangan Fahmi yang panjang itu menyelinap masuk ke dalam tas yang dipakai oleh seorang perempuan, saat mereka berdua sama-sama duduk di kursi.
Benda apa yang diambil tidak terlihat jelas, sebab gerakannya begitu cepat dan langsung dia masukkan ke dalam kantong celananya.
Tapi meski begitu, semua orang tentu sudah tahu jika apa yang Fahmi lakukan ada mencuri.
'Sial! Kenapa ada rekaman saat dimana aku mencuri?' batin Fahmi kesal.
Dia dan kedua orangnya tentu terkejut melihat apa yang mereka tonton itu.
Fahmi pun hendak mematikan rekaman tersebut, rasanya dia tak tahan serta menurutnya itu tidaklah penting. Karena itu juga merupakan aibnya dan dia tak mau aibnya dilihat oleh orang-orang meskipun orang tuanya sendiri.
"Jangan coba-coba menghentikan rekaman ini, kalau Bapak nggak mau menanggung akibatnya," ujarnya dengan nada mengancam. Manik matanya yang hitam pekat itu menyorot tajam ke arah Fahmi.
"Tapi kenapa Bapak memutar rekaman seperti ini? Ini nggak penting, harusnya kalau mau memutar ... pas bagian dimana aku dikunci di dalam toilet, Pak!" berang Fahmi tak terima.
"Kenapa? Apa Bapak malu?" sindir Pak Polisi sambil tersenyum miring.
"Malu?" Kening Fahmi mengernyit, dan didetik selanjutnya dia pun tertawa. Sebab rasanya pertanyaan pria itu cukup menggelitik perutnya. "Haha ... ngapain malu? Memangnya aku buat kesalahan?"
"Di sana Bapak mencuri. Apa itu bukan sebuah kesalahan?" Pak Polisi tersenyum aneh.
Dia juga merasa tak habis pikir dengan pikiran pria itu. Padahal kejahatannya sudah terlihat di depan mata, tapi bisa-bisanya dia bersikap biasa saja dan seolah apa yang dia lakukan bukan tindakan kriminal.
__ADS_1
"Apa yang kamu ambil di tas perempuan itu, Mi? Apa benar kamu mencuri?" tanya Pak Haji Samsul memastikan. Sumpah demi apa pun, dia sama sekali tak menyangka serta tak percaya. Kalau benar anaknya itu mencuri.
"Kamu jangan buat kami malu, Mi! Kamu itu anak orang kaya. Ngapain pakai mencuri segala?" hardik Bu Hajah Dijah yang terlihat marah.
"Enak saja mencuri, siapa yang mencuri?!" elak Fahmi marah dan langsung melotot kepada Pak Polisi yang berdiri di sampingnya. "Perempuan tadi itu temanku, namanya Naya. Dan alasan tanganku masuk ke dalam tasnya adalah untuk mengambil suvenirku. Yang ada sama dia. Aku menitipkan barangku padanya."
"Kalau ingin mengambil barang milik Bapak, harusnya nggak dengan cara seperti itu, Pak," sahut Pak Polisi yang duduk di depan Fahmi. Sama sekali dia terlihat tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut pria itu. "Bapak bisa langsung memintanya saja, pada perempuan pemilik tas. Nggak perlu dengan cara diam-diam."
"Kalau Bapak nggak percaya, silahkan Bapak tanya langsung kepadanya. Kalau pun dia mengatakan kalau itu sovenir miliknya ... itu salah besar, karena dia sendiri hanya menemaniku menjadi teman saat pergi ke pesta. Uang amplop pun dariku!" jelas Fahmi panjang lebar. Menurutnya, dia menceritakannya, supaya Pak Polisi dan kedua orang tuanya itu tak salah paham. Serta berpikir yang jelek-jelek tentangnya.
Tentu, dia sangat tak ingin terlihat jelek oleh siapa pun. Termasuk dimata kedua orang tuanya.
"Oh ya? Amplop yang isinya 5 ribu, ya, Pak?" sindir Pak Polisi kemudian tertawa. Temannya pun ikut tertawa.
"Bapak sungguh pelit. Makan banyak tapi memberikan amplop 5 ribu," ejek Pak Polisi satunya.
"Bapak jangan sembarangan fitnah!" berang Pak Haji Samsul marah. Meski sudah melihat jelas di dalam rekaman CCTV jika anaknya panjang tangan—nyatanya Pak Haji Samsul masih ingin membelanya. "Fahmi nggak mungkin memberikan amplop berisi 5 ribu. Bahkan aku yakin ... di dalam dompetnya saja nggak mungkin dia memiliki uang dengan nominal kecil seperti 5 ribu rupiah!" tambahnya dengan nada sombong.
"Terserah, mau Bapak yakin dan nggak yakin. Saya nggak peduli," cicit Pak Polisi yang kembali terkekeh. "Yang pasti sekarang ...." Pak Polisi perlahan merogoh ke dalam kantong celananya untuk mengambil sesuatu. Dan setelah berhasil mendapatkannya dia pun langsung menautkan pada kedua pergelangan tangan Fahmi. "Pak Fahmi saya tangkap, dengan pasal 311 KUHP yang mengatur tentang perbuatan fitnah yang dilakukan oleh seseorang. Perbuatan fitnah yang dapat mencemarkan nama orang lain dapat dikenakan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun," tambahnya dengan tegas.
Fahmi sontak terkejut saat melihat kedua tangannya sudah berhasil diborgol, berikut dengan kedua orang tuanya.
"Lho, kok aku yang mau di penjara? Bagaimana urusannya?" tanya Fahmi yang merasa tak percaya. Tapi jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang dan ada perasaan takut yang tumbuh di dalam hati.
"Ini surat penangkapan Anda, Pak." Pak Polisi yang duduk menggeserkan sebuah amplop putih di depan Pak Haji Samsul. Pria tua itu pun langsung mengambilnya, dan saat membaca dia merasa terkejut sebab yang melaporkan anaknya adalah pria bernama Jonathan.
"Lho, Jojon yang melaporkan Fahmi? Tapi seharusnya, Jojon lah yang di penjara," gumamnya yang juga tak percaya.
"Tuduhan Pak Fahmi terhadap Pak Joe tidak terbukti. Tapi sebaliknya, Pak Joe yang merasa tidak terima melaporkan Pak Fahmi. Jadi sekarang ...." Pak Polisi itu lantas menatap Fahmi, lalu bertepuk tangan sambil senyum dengan penuh kemenangan. "Selamat datang Pak Fahmi, semoga betah tinggal di sel dan gelar sarjana kairo Anda akan ditambahkan menjadi gelar narapidana."
__ADS_1
...Bu Hajah ... coba cek hapenya, itu masih direkam siaran langsung atau nggak? 🤣 kan bahaya kalau dilihat dan jadi viral 😆...