
"Joe benar, Fa." Umi Maryam yang duduk di sebelah Syifa ikut menimpali. "Kamu pasti capek, istirahat saja nggak apa-apa."
"Umi kalau mau istirahat juga boleh," sahut Joe. "Selain aku menyewa kamar untuk sendiri, Umi, Abi, Mami dan Papi juga ikut bermalam dan aku sudah menyewa kamar untuk kalian."
"Padahal Abi sama Umi bisa pulang, Joe, jadi kamu nggak perlu menyewa kamar untuk kita. Lagian pasti mahal, kan?" Umi Maryam merasa tak enak sebenarnya, meskipun sejujurnya ada rasa senang sebab ini pertama kalinya dia menginjak gedung hotel. Apalagi sampai menginap segalanya.
"Kalau langsung pulang pasti capek, Umi. Nggak apa-apa juga, soalnya 'kan kalau nyewa kamar lebih dari satu itu dapat diskon. Jadi lebih murah." Joe hanya berbohong. Sengaja, supaya baik Umi atau pun Abi—keduanya tak akan menolak.
"Benarkah?"
"Benar." Joe mengangguk cepat.
"Memang harga sewa perkamarnya dalam semalam berapa, Joe?"
"Kalau soal itu aku nggak tau, Umi. Soalnya semua pembayaran aku minta Sandi yang mengurus." Kali ini, Joe tidak berbohong. Dia memang menyerahkan semuanya kepada Sandi dan tak hafal juga berapa biaya sewa perkamar pada kelas VIP di sana.
Bukan Joe tak pernah menginap di hotel, tapi semua hotel pastinya beda-beda harga dan dia sendiri bukan tipe yang selalu tanya harga terlebih dahulu, sebelum hendak membeli atau menyewa sesuatu.
"Oh gitu. Ya sudah terima kasih, Joe. Maaf kalau Umi dan Abi jadi merepotkanmu."
"Masa merepotkan? Nggaklah, Umi," sahut Joe sambil terkekeh, kemudian menatap kembali kepada istrinya. "Gimana, Yang? Mau istirahat sekarang apa nggak? Aku juga sekalian mau mandi, nih, lengket banget badanku."
Membawa-bawa nama badan yang lengket, supaya dirinya tak malu di depan Umi Maryam. Juga merayu Syifa untuk menyetujui permintaannya. Tapi memang ada benarnya juga, tubuh Joe sangat lengket saat ini.
"Udah sana istirahat saja, Fa. Tadi kamu ngeluh sakit kaki mulu," ujar Umi Maryam.
"Lho, kakimu sakit, Yang? Coba aku cek." Joe langsung berjongkok, namun saat hendak menyentuh kedua kaki Syifa dibalik gaun putihnya—gadis itu seketika menahan.
__ADS_1
"Jangan, A," larang Syifa.
"Kenapa jangan?"
"Kakiku kotor dan lagian nggak pantes juga, masa suami megang kaki istrinya?" Selain itu, Syifa juga merasa malu. Sebab ada beberapa tamu undangan juga yang memusatkan atensinya kepada mereka.
"Nggak pantesnya kenapa? Dan kenapa juga kakimu bisa kotor? Perasaan fasilitas di sini cukup bersih deh." Joe menarik sedikit gaun Syifa, tapi belum sempat dia melihat kakinya—sekarang berganti Umi Maryam lah yang menahan.
"Udah bawa ke kamar saja, Joe. Biar sekalian kamu lihat kaki Syifa di sana," ujar Umi Maryam.
'Kalau sudah ke kamar mah bukan cuma kaki yang aku lihat, Umi, pasti semuanya,' batin Joe dan langsung tersenyum dengan kedua pipi yang merona. Tanpa sadar miliknya pun mulai mengeras dibalik celana.
Segera, dia pun meraih tubuh istrinya untuk dia gendong, kemudian berdiri tegak.
"Ya ampun Aa!" Syifa memekik lantaran terkejut. Tanpa basa-basi Joe melakukan hal itu dan tentu tanpa seizin darinya. "Kenapa aku digendong segala, A? Aku malu. Turunkan aku!" pintanya dengan kedua kaki yang bergerak-gerak.
"Iya, Joe." Umi Maryam tersenyum dan ikut senang melihatnya, meskipun sekarang Syifa sudah menutupi wajahnya ke dada Joe karena malu menjadi pusat perhatian.
Joe melirik ke arah Robert sebenarnya, memastikan jika anaknya tidak sedang memerhatikannya. Dan ketika dirasa cukup aman, dia pun gegas berjalan cepat menuju lift. Kemudian langsung masuk ke dalam ketika pintu itu terbuka.
'Ya Allah, tolong lancarkan semuanya. Yang aku inginkan adalah memiliki Syifa seutuhnya,' batin Joe penuh harap, sambil mengingat-ingat do'a yang sempat Ustad Yunus beritahu.
Syifa yang sejak tadi diam membeku dalam gendongan Joe diam-diam mendengar suara debaran jantung milik suaminya. Begitu kencang dan napasnya pun terasa tersenggal-senggal.
'Kenapa dengan Aa? Kok jantungnya sampai berdebar dan napasnya kayak orang habis lari-lari?' batin Syifa bingung.
Ting~
__ADS_1
Pintu lift itu terbuka di lantai 3. Gegas Joe pun keluar dari sana dan masuk ke dalam kamar pengantin mereka.
Dengan perlahan, Joe membaringkan Syifa ke atas kasur berwarna putih dengan taburan kelopak bunga mawar di atasnya. Setelah itu dia berlari menuju pintu, hendak menutup serta menguncinya dengan rapat.
"Bagus dan wangi banget kamarnya, A," gumam Syifa sambil menatap sekeliling.
Ruangan bernuansa putih itu terlihat sangat luas, bersih serta wangi.
Banyak sekali beberapa bunga mawar yang berada di pot bunga, menghiasi sudut kamar. Serta beberapa lilin aromaterapi yang menyala pada sisi tembok. Memberikan kesan romantis, sejuk dan menenangkan.
Bisa dibilang, ini pertama kalinya Syifa menginap di dalam hotel. Tentunya pengalaman ini akan menjadi pengalaman pertama dan tak mungkin dia lupakan. Sebab dia juga menginginkan sebuah pernikahan sekali dalam seumur hidup.
"Siapa yang menghias kamar ini, A? Apa ...." Ucapan Syifa seketika menggantung diujung bibirnya kala mendengar suara pintu kamar mandi baru aja dibuka.
Ceklek~
Dan setelah itu, tiba-tiba saja Joe keluar dari kamar mandi dengan keadaan bu*gil serta basah hampir sekujur tubuhnya.
Tentu, hal tersebut membuat Syifa terkejut. Apalagi dia sendiri tidak ingat sejak kapan suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi.
"Lho, A, Aa habis ngapain dan kenapa Aa nggak pakai apa-apa?!" seru Syifa dengan mata melotot. Namun segera, dia menarik tubuhnya untuk duduk dan beringsut ke belakang sambil menarik selimut.
Susah payah dia juga menelan ludah, saat melihat tongkat bisbol suami yang begitu mengacung, panjang dan besar. Tubuhnya pun seketika bergetar hebat dan mendadak merasa takut.
Berbeda dengan Syifa yang tampak syok, Joe justru sekarang tengah tersenyum dengan wajah memerah, kemudian melangkah mendekat sambil berkata, "Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."
...Yah gantung deh🤣 padahal dikit lagi mau eksekusi 🤭...
__ADS_1