Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
116. Kalian kali ini selamat


__ADS_3

Mendengar apa yang Mami Yeri katakan, Papi Paul pun dengan perlahan membuang napasnya gusar. Kemudian mengelus dadanya yang masih terasa begitu emosi.


'Robert sampai pingsan selama dua jam? Yang benar saja?' Papi Paul membatin sambil mengusap kasar wajahnya, lalu geleng-geleng kepala. Dan dengan raut kesal, menatap Syifa yang masih memeluk Joe dengan erat. 'Ternyata bukan hati Joe saja yang sudah kerasukan Syifa, tapi hati Robert juga. Kenapa mereka jadi begini, hanya karena Syifa? Apa keistimewaan yang perempuan ini punya sebenarnya?' tambahnya yang merasa tak habis pikir.


"Pi bagaimana? Cepat kasih jawaban!" pinta Mami Yeri diseberang sana, yang masih menunggu jawaban dari sang suami.


"Kalau Robert masih pingsan, biarkan Papi, Joe dan Syifa yang ke Korea, Mi." Jawaban dari Papi Paul mengisyaratkan jika pria itu telah setuju dengan usulan dari istrinya. Meskipun dari lubuk hati yang terdalam, dia sama sekali tak ikhlas.


"Ya sudah, Mami tunggu kalian. Sekarang kalian berangkat, ya? Hati-hati dijalan."


"Iya, Mi," jawab Papi Paul lalu mematikan panggilan.


"Pi, apa aku nggak salah dengar kalau Robert pingsan?" tanya Syifa menatap Papi Paul. Wajahnya tampak begitu khawatir. "Kenapa, kok bisa pingsan?"


"Mana Papi tau. Kamu nanya Papi terus Papi tanya siapa, Fa?" ketus Papi Paul sambil memutar bola matanya. Dia pun melepaskan tubuh Joe, lalu mundur sedikit. "Kalian kali ini selamat, karena Robert. Sekarang cepat ikut Papi masuk ke dalam mobil. Kita akan terbang ke Korea," tambahnya kemudian melangkah masuk ke dalam mobilnya lebih dulu.


"Maksudnya, kami nggak jadi bercerai, Pi? Papi bersedia memaafkan aku dan Syifa, begitu?" tanya Joe yang tampak begitu girang. Dia menghampiri mobil Papi Paul dan menatapnya dari jendela yang terbuka, sedangkan Syifa masih berada dalam pelukannya.


"Kalian memang nggak jadi bercerai. Tapi bukan berarti Papi bisa memaafkan kalian semudah itu. Kalau sampai suatu hari nanti kamu atau Syifa berani berbohong sampai menyakiti hati Papi dan Mami ... Papi langsung seret kamu ke pengadilan, Joe!" ancamnya sambil melotot dan menunjuk-nunjuk wajah tampan sang anak.


"Enggak, Pi! Nggak akan!" sahut Joe cepat dengan gelengan kepala. "Aku dan Syifa akan saling terbuka kepada Papi dan Mami. Nggak akan ada rahasia di antara kita kecuali itu adalah aib," tambahnya meyakinkan.


"Sudah, cepat kalian masuk ke dalam. Kita nggak ada waktu banyak," perintah Papi Paul.


Syifa perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Joe, kemudian menatapnya. "Aku diajak pergi ke Korea, A?"


Joe mengangguk. "Iya, Sayang. Ayok izin dulu ke Umi dan Abi."


Mereka pun berbalik badan, kemudian melangkah maju mendekat kepada Abi Hamdan dan Umi Maryam. Setelah itu, keduanya langsung mencium punggung tangannya secara bergantian.

__ADS_1


"Abi, Umi, aku izin bawa Syifa ke Korea, ya?" pinta Joe.


"Silahkan, Jon," jawab Abi Hamdan sambil tersenyum dan mengusap puncak rambut menantunya. Kemudian memeluk tubuhnya. "Jaga baik-baik Syifa dan rumah tangga kalian. Salam juga untuk Robert. Abi dan Umi akan mendo'akan dari sini untuk kesehatannya. Dia jagoan, pasti akan baik-baik saja," tambahnya sembari mengusap punggung Joe, lalu melepaskan pelukan.


"Itu pasti, Bi. Amin ... terima kasih," ujar Joe sambil tersenyum manis.


"Sama-sama."


"Kalian mau bawa bekel nggak?" tawar Umi Maryam. "Dan Umi bantu untuk beres-beres baju kalian, ya?"


"Enggak perlu, Umi," tolak Joe dengan gelengan kepala. "Kita langsung pamit saja, takutnya Papi marah kalau menunggu lama."


"Tapi nanti di sana kalian pakai baju ganti apa dong?" tanya Umi Maryam.


"Baju banyak Umi, tinggal beli," sahut Joe. Kedua kali dia pun mencium punggung tangan mertuanya.


"Hati-hati dijalan, ya? Kamu yang nurut sama suami, Fa. Jangan pernah membantah setiap apa pun yang Joe katakan. Dan semoga kalian selalu bahagia serta secepatnya memberikan adik bayi untuk Robert," ucap Umi Maryam mendo'akan, sambil mencium kening Syifa.


Selain masalahnya sudah selesai, sekarang dia juga diajak pergi ke Korea. Ya meskipun tujuannya bukan untuk liburan, tapi tidak masalah. Yang terpenting dia, Joe dan Robert bisa berkumpul kembali.


"Umi dan Abi baik-baik di sini, ya? Nanti kapan-kapan kalau ada waktu aku akan ajak kalian ke Korea untuk liburan. Assalamu'alaikum," ucap Joe.


"Walaikum salam." Abi Hamdan dan Umi Maryam menjawab secara bersamaan. Tangannya melambai saat Joe dan Syifa sudah masuk ke dalam mobil Papi Paul.


"Kamu juga ikut sekalian, San!" perintah Papi Paul di dalam mobil kepada Sandi. Suaranya begitu kencang.


"Baik, Pak." Sandi mengangguk cepat dan langsung ikut masuk, lalu duduk di kursi depan di samping sang sopir.


"Akhirnya, masalah mereka selesai juga, ya, Umi ...." Abi Hamdan menghela napasnya dengan lega, sambil menatap mobil Papi Paul yang sudah menjauh dari rumahnya.

__ADS_1


Umi Maryam mengangguk dengan wajah bahagia. "Iya, Bi. Syukurlah .... Umi sempat takut kalau Syifa dan Joe benar-benar pisah."


"Iya, Abi juga takut. Tapi untungnya tadi Pak Paul ngangkat telepon dulu, ya? Kayaknya sih dari istrinya, yang bilang Robert pingsan. Ternyata Pak Paul suami-suami takut istri juga, ya, Umi," kekehnya mengajak bercanda. Supaya suasana yang sempat menegang tadi kini sudah mencair.


"Memang harusnya begitulah, nurut apa kata istri. Memangnya Abi?" sindir Umi Maryam sambil melirik, kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya.


"Kok ke Abi-Abi? Apa urusannya coba?" Abi Hamdan pun berlari menyusul masuk ke dalam rumah, kemudian menutup pintu dan menguncinya.


Melihat Umi Maryam ada di dapur, hendak membuka kulkas, segera dia pun mendekapnya dari belakang hingga membuatnya tersentak kaget.


"Ih Abi ngapain, sih? Ngagetin aja!" omel Umi Maryam sambil mendorong tubuh Abi Hamdan dengan bokongnya. Tapi justru apa yang dia lakukan membangunkan tongkat sang suami dibalik sarung, yang memang sejak tadi sudah mengeras lantaran mendengar anak dan menantunya bercinta.


"Umi tadi belum jawab, memang pernah Abi nggak nurut apa kata Umi?" tanya Abi Hamdan seraya merengkuh pinggang Umi Maryam dengan sedikit menekannya.


"Ya pernah. Bahkan sering. Apalagi kalau mau pergi-pergi ... Abi itu nggak pernah izin," jawab Umi Maryam sambil mencebik bibir.


"Maaf deh," jawab Abi Hamdan sambil terkekeh, kemudian mencium kepala belakang Umi Maryam yang terbungkus hijab. "Oh ya, mumpung sepi ... bagaimana Umi pijitin Abi di kasur?"


"Ngapain dipijitin segala? Memangnya Abi sakit?"


"Pinggang Abi pegel-pegel, Umi," jawab Abi Hamdan beralasan. Dia pun melepaskan rengkuhan dipinggang Umi Maryam, kemudian menarik tangannya untuk ikut dengannya masuk ke dalam kamar.


"Umi lupa kalau minyak zaitunnya abis, Bi. Sebentar ... Umi ambil minyak sayur dulu di dapur, ya?" Umi Maryam yang sudah terduduk di kasur perlahan berdiri, tapi tangannya langsung dicekal oleh sang suami. Seolah melarangnya untuk pergi.


"Nggak usah pakai minyak-minyak segala deh. Cepetan pijit sekarang, soalnya Abi nggak tahan!" seru Abi Hamdan yang dengan cepat menurunkan sarung serta celananya, hingga membuat tubuh bagian bawahnya itu polos sempurna.


"Astaghfirullahallazim! Abi!" teriak Umi Maryam yang terlihat syok. Cepat-cepat dia menutup matanya.


"Kenapa? Apa Umi terpesona?" kekeh Abi Hamdan dengan wajah merona.

__ADS_1


...Dih ganjennya Abi🤣🤣...


__ADS_2