Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
76. Aku kira kamu kangen


__ADS_3

"Apa pabriknya Daddy jauh dari kantor ini, Rob?" tanya Syifa saat mereka berdua telah sampai di halaman kantor


"Lumayan, tapi kita musti naik mobil, Mom," jawab Robert. Namun, langkah kakinya yang sedikit lagi menarik Syifa menuju jalan raya langsung terhenti. Kala teringat jika dirinya tak memegang uang. "Tapi, Mom, masalahnya uang Robert udah habis. Terakhir untuk bayar Om sopir tadi, gimana dong?" Dia jadi ragu ingin mengajak Syifa pergi ke pabrik.


"Oh iya, Mommy juga lupa. Terus bagaimana dong? Apa kita pulang saja?" Syifa berbalik tanya, raut wajahnya tampak begitu sedih.


Robert menatap ke arah satpam yang tengah duduk sambil merokok di depan pos, mendadak dia mempunyai sebuah ide. Dan segera berlari menghampirinya. "Om ... boleh Robert minta tolong?" tanyanya.


"Minta tolong apa, Dek?" Satpam itu langsung berdiri dan mematikan rokoknya yang terlihat masih panjang batangnya.


"Robert mau pinjam uang 200 ribu untuk ke pabriknya Daddy bersama Mommy. Nanti besok sepulang sekolah ... Robert janji akan mampir untuk mengembalikan uang Om," pinta Robert dengan sungguh-sungguh.


Terlihat jelas, jika itu adalah sebuah pengorbanannya meminjam uang demi mengantarkan Syifa ke pabrik. Meskipun Robert sendiri tak tahu detail terkait masalah yang terjadi antara kedua orang tuanya, tapi dia akan berusaha ikut menyelesaikan.


"Nak ... kamu nggak perlu pinjam uang segala ...." Syifa melangkah mendekat, menghampiri anaknya. Sebab suara Robert tadi cukup jelas dia dengar dan rasanya tidak tega, membawa-bawa Robert dalam masalah yang dia buat sendiri.


Robert menoleh sambil tersenyum. "Nggak apa-apa, Mom, kan supaya —"


"Yang! Robert!" sela seseorang yang berteriak. Dia baru saja turun dari mobilnya yang sudah terhenti di depan halaman kantor. Kemudian berlari menghampiri Syifa dan Robert.


Mereka berdua lantas menoleh ke sumber suara, berikut dengan sang satpam. Sontak saja, kedua mata Robert dan Syifa tampak berbinar. Merasa senang saat orang tersebut adalah Joe.

__ADS_1


"Aa ke mana saja?! Aku mencari Aa daritadi!" teriak Syifa marah. Tapi dia langsung memeluk tubuh suaminya dengan tubuh yang sudah gemetar.


Rasa takut kehilangan itu seketika muncul, apalagi jika pria itu hilang karena diambil oleh perempuan lain.


Kedatangan Joe ke sana bukan karena dirinya punya indera keenam. Tapi karena cincin kawin yang tersemat pada jari manis Syifa menghubungkan sebuah GPS dari ponselnya.


Selian itu, saat dalam perjalanan mencari mereka bertiga—Joe sempat ditelepon oleh satpam kantor. Yang kebetulan orangnya juga sekarang ada di sini.


Dia mengatakan jika Robert datang bersama Mommy sambungnya untuk mencari Joe. Dan menurutnya, ini penting dan maka dari itu dia memberitahu Joe.


"Harusnya aku yang nanya, Yang. Kenapa kamu dan Robert ada di sini? Kenapa sampai ke kantor segala?" tanya Joe bingung.


Dia juga perlahan melepas pelukannya Joe, saat berhasil menghirup aroma tubuhnya. Agak asem seperti belum mandi, dan saat memerhatikan wajahnya—Syifa yakin jika Joe memang belum mandi, sebab wajahnya pun berminyak. Namun anehnya, pakaian Joe tidak sama seperti tadi pagi yang dia ingat dengan warnanya.


"Bukan begitu, Yang," sahut Joe sambil menggelengkan kepalanya. "Nggak masalah kalau kamu mau datang, tapi aku hanya heran saja kenapa kalian nggak memberitahuku dulu? Sampai nggak pamit sama Umi, padahal Umi pasti khawatir mencari kalian."


Syifa menatap ke arah Robert, lalu mengelus puncak rambutnya. "Nak! Mommy tinggal sebentar di sini apa, boleh? Mommy ingin bicara berdua dulu sama Daddy, ingin menyelesaikan masalah. Tapi kamu nggak boleh ke mana-mana."


"Boleh, Mom." Robert mengangguk patuh, lalu tersenyum dan menggenggam tangan kanan Syifa dengan lembut. "Mau lama juga nggak apa-apa, asalkan masalah kalian cepat selesai. Tapi Robert minta ... kalian jangan sampai berantem, Robert nggak mau itu terjadi. Robert nggak mau kehilangan Mommy."


"Iya, Nak." Syifa mengangguk, lalu menatap ke arah satpam. Padahal dia belum meminta untuk menjaga Robert tapi pria itu sudah mengangguk dan terlihat paham.

__ADS_1


"Robert biar sama saya, Bu. Saya akan menjaganya."


"Terima kisah, Pak." Setelah melepaskan genggaman tangan Robert, kini dia menarik tangan Joe. Membawa pria itu untuk cepat masuk ke dalam kantornya.


"Kita jangan ngobrol di sini. Banyak CCTV yang terpasang. Mending di ruangan HRD saja, Yang." Sekarang giliran Joe yang membawa Syifa masuk ke dalam ruang HRD, sebab kebetulan—HRD di sana juga sudah pulang dan ruangannya kosong.


Tapi, bukan berarti ruangan ber-AC itu tak ada CCTV. Di situ juga ada, hanya saja tidak banyak seperti di lobby. Sebab akan lebih mudah bagi Joe untuk menghapusnya jika sewaktu-waktu diperlukan.


"Memangnya kenapa kalau ada CCTV? Aa malu, kalau ada yang tau aku datang ke kantor, gitu?" tanya Syifa penuh curiga. Dia memerhatikan Joe yang sedang menutup pintu serta menguncinya.


"Bukan begitu, tapi 'kan tentu kita musti menjaga privasi, Yang. Nggak mungkin juga kita berciuman dilihatin orang, kan?" Joe terlihat santai menanggapi. Dia lantas berbalik untuk berhadapan dengan Syifa, dan secara langsung dia pun menangkup kedua pipi itu sambil meraup bibirnya.


Syifa dibuat terkejut, sebab apa yang dilakukan Joe sangat tiba-tiba. Namun, segera dia mendorong dada suaminya untuk menghentikan ciuman yang baru dimulai beberapa detik itu.


Bukan tidak mau berciuman, hanya saja saat ini waktunya tidak tepat. Apalagi perasaannya masih gegana (gelisah, galau, merana)


"Lho, kenapa udahan? Aku kira kamu kangen sama aku, Yang, karena aku pulangnya lembur," keluh Joe yang tampak kecewa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Sabar, Om, binimu lagi negatif thingking itu, mangkanya nggak mau dicium 😆...

__ADS_1


__ADS_2