Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
268. Robert nggak mau sunat


__ADS_3

"Enggak enak gimana, Nak?" tanya Syifa bingung.


"Enggak tau, Mom, Robert juga. Aneh." Robert menggeleng, lalu menyentuh dadanya yang berdebar. "Coba deh, Mommy pegang dada Robert ... jantung Robert juga deg-degan tau."


"Namanya orang hidup yang pasti deg-degan lah, Rob. Ada-ada saja kamu ini," kekeh Joe yang tengah mengemudi, saat dimana anaknya itu menarik tangan Syifa untuk menyentuh dadanya.


"Ini cuma perasaan kamu saja kali, Nak. Karena Mommy yakin ... semuanya akan baik-baik saja." Syifa tersenyum dan mencoba menenangkan hati anaknya.


'Ya Allah ... semoga apa yang dikatakan Mommy benar, semuanya akan baik-baik saja,' batin Robert.


Beberapa menit kemudian, mereka pun akhirnya sampai di rumah Abi Hamdan.


Namun, ketiganya tampak terheran-heran, sebab banyak sekali anak-anak beserta orang tuanya tengah duduk pada kursi plastik yang juga sama banyaknya. Sampai-sampai ada beberapa di halaman rumah Abi Hamdan juga.


"Omaaa ..!!" Robert menghamburkan pelukan, saat Umi Maryam keluar dari rumah. Sedangkan Joe dan Syifa langsung mencium tangan sembari mengucapkan salam.


"Assalamualaikum, Umi."


"Walaikum salam," jawab Umi Maryam, lalu mencium puncak kepala Robert.


"Ini ada buah, buat Umi sama Abi," ucap Joe yang memberikan sebuah plastik putih yang berisikan dua kilo jeruk.


"Terima kasih, Joe, merepotkan sekali." Umi Maryam menerimanya dengan senang hati, sambil tersenyum manis.


"Ngomong-ngomong ... itu kok banyak orang Umi, apa ada yang hajatan?" tanya Syifa penasaran sembari menatap beberapa orang di sana.


"Oh itu ada sunat massal gratis, Fa."


"Sunat?!" Mendengar kata sunat, Robert langsung membulatkan mata. Wajahnya pun seketika ikut menegang.


"Wahh ... bagus dong ada sunat massal. Kalau si Robert ikut daftar bisa nggak ya, Mi?" tanya Joe yang tampaknya ingin anaknya itu ikut sunat.


"Daddy ngomong apa, sih? Robert nggak mau—"


"Cucu Opa udah datang rupanya," sela Abi Hamdan yang tiba-tiba datang menghampiri mereka, kemudian langsung mengendong tubuh Robert dari depan dan mencium keningnya. "Opa dari tadi lho, nungguin kamu. Oh ya, Opa juga punya baju baru untukmu. Kita ganti baju sekarang, ya?"

__ADS_1


Opa Hamdan langsung melangkah masuk ke dalam rumah, lalu membawa sang cucu menuju kamar Syifa.


"Kok ganti baju? Kenapa, Opa?" tanya Robert yang terlihat sudah khawatir. Jujur saja, saat mendengar Joe yang mengatakan tentang daftar sunat massal, dia sudah ketakutan. Yang intinya dia memang takut disunat.


"Kan Opa beli untukmu, dan sengaja memang untuk dipakai hari ini." Abi Hamdan menurunkan Robert di atas kasur. Di atas sana memang sudah ada koko model jubah berwarna putih dan peci, serta ada bola sepak baru juga. "Opa juga belikan bola untukmu, Nak. Nanti kalau kamu sudah sembuh ... kita main bola, ya?"


"Aku sembuh?!" Ucapan Abi Hamdan terdengar ambigu sekali, tentu membuat Robert bingung. "Maksudnya?"


Kaos yang Robert kenakan sudah berhasil terlepas, kini tinggal celana.


"Kan kamu akan disunat hari ini, Nak."


"APA?! SUNATT?!" Robert memekik dengan keterkejutannya. Celana jeans yang kini sampai dibawah lutut langsung ditahan olehnya.


"Kenapa, Nak?" tanya Abi Hamdan yang heran dengan apa yang cucunya lakukan, padahal sedikit lagi benda itu akan terlepas dari tubuhnya. "Ayok cepat dilepas, biar kita bisa langsung ikut mengantre di depan masjid."


"Opa ... Robert nggak mau sunat!" seru Robert terang-terangan.


"Kenapa nggak mau? Jangan takut, Nak. Nggak akan sakit. Dan banyak teman juga, jadi kamu nggak perlu khawatir."


"Lho, Nak? Kamu kenapa?" tanya Syifa yang saat keluar kamar anaknya itu menabrak tubuhnya. Bocah itu pun segera memeluk Syifa dan beringsut ke belakang. Seolah meminta perlindungan padanya.


"Mommy ... Robert nggak mau disunat, Mom! Tolong Robert!" pintanya memohon dengan wajah ketakutan.


"Nak ... Opa udah daftarin kamu sunat. Selain banyak teman, nanti kamu juga akan dapat uang jajan dan hadiah. Kamu bukannya senang sama hadiah, kan?"


"Kalau bukan mobil hadiahnya Robert nggak suka sama hadiah!" tegas Robert dengan gelengan kepala.


Joe yang masih ada diluar kini sudah masuk ke dalam dan menghampiri mereka. Tak sengaja dia juga mendengar apa yang Abi Mertuanya itu katakan.


"Tadi Daddy sempat ngobrol sama Pak RT, nanya tentang pendaftaran sunat. Dan ternyata memang kamu sudah didaftarin sunat sama Opa, Sayang. Jadi ayok sunat," ajak Joe seraya mengelus puncak kepala anaknya, namun Robert segera menepisnya secara kasar.


"Daddy sama Opa sama saja! Robert itu nggak mau disunat tau!" sunggutnya sambil merengut. Dia juga mengeratkan pelukannya kepada Syifa, meskipun kini celana yang dia pakai sudah melorot sampai kaki.


Robert tak peduli dengan penampilannya yang terlihat sempaakkan doang, mana berwarna kuning. Tapi yang terpenting dia tak jadi sunat.

__ADS_1


"Lho, kenapa nggak mau sunat? Kamu bukannya mau ikut Daddy katanya, jadi mualaf? Apa kamu sudah berubah pikiran sekarang?" tanya Joe tak mengerti.


"Robert mau ikut Daddy jadi mualaf. Tapi nggak perlu sunat, Dad."


"Mana bisa, Rob."


"Daddymu benar, Nak. Itu nggak bisa." Opa Hamdan menimpali. "Disunat itu wajib dalam Islam, jadi kamu harus disunat."


"Tapi Robert belum siap. Robert nggak mau sunat sekarang, Opa," ucap Robert beralasan.


"Kalau nggak sekarang terus kapan?" tanya Abi Hamdan. "Kamu udah gede lho, Nak. Kamu juga udah mau punya adik. Sunat itu bagusnya pas masih kecil ... biar sakitnya nggak berasa."


"Atta saja belum sunat kok, Opa. Padahal dia seumuran Robert dan dia juga beragama Islam dari lahir." Robert mencari alasan lain, demi bisa lolos tidak sunat.


"Kata siapa belum sunat?! Hari ini dia juga ikut sunat massal. Malah tadi udah datang sama Papanya," ucap Joe.


"Daddy jangan bohong!" Robert tak percaya.


"Sumpah. Ngapain Daddy bohong sih? Mobil Papanya saja diparkir di depan rumah Opa Hamdan, Rob. Lihat aja sendiri kalau nggak percaya."


Robert pun langsung memiringkan tubuhnya dan menatap ke arah luar lewat pintu, demi dapat melihat mobil Papanya Atta. Dan ternyata memang benar, ada mobilnya di sana. Di samping mobil Joe.


Beberapa mobil orang tua dari teman-temannya, Robert dapat mengenali. Karena masing-masing dari mereka sering saling memberikan tumpangan.


'Sial! Kenapa si Atta justru ikut sunat massal juga? Harusnya dia nggak perlu ikut, kan dia juga ngomong kalau takut disunat,' batin Robert kesal.


"Tuuuhhh ... selain banyak teman, ada Atta juga ternyata yang ikut sunat, Nak. Masa kamu nggak mau ikutan? Seru tau," ujar Abi Hamdan yang masih berusaha sabar demi bisa membujuk. Dia juga langsung merangkul tubuh cucunya.


'Seru apanya, sih? Orang dipotong tongkatnya masa seru? Opa ini aneh! Aku pokoknya nggak mau disunat! Titik!' seru Robert dalam hati.


"Ada benarnya apa yang dikatakan Opa dan Daddy, Nak!" Syifa mengelus pipi sang anak. Sepertinya dia memihak kepada Joe dan Abi Hamdan. Padahal di sini Robert meminta perlindungan padanya. "Mommy juga pernah dengar... kalau sebelum disunat itu akan dibius katanya, jadi nggak akan terasa sakitnya."


"Mommy jangan percaya, sedangkan Mommy sendiri 'kan belum pernah merasakannya dan ...." Ucapan Robert seketika menggantung, lalu dia pun memegang kepalanya sambil meringis dan memejamkan mata. "Aduuuhhh ... kepala Robert mendadak sakit banget, kelihatan berputar-putar juga," tambahnya kemudian dan mulai oleng.


...Beneran sakit apa cuma akting nih?🤣...

__ADS_1


__ADS_2