Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
30. Kita harus melakukannya


__ADS_3

"Oh. Nggak apa-apa, Bi. Ya sudah kalau—"


"Abi mau ngomong sama Jojon dulu sebentar, Fa," sela Abi Hamdan cepat. "Berikan hapemu kepadanya."


"Iya." Syifa menarik benda pipih itu dari pipi kanannya, lalu mengulurkan tangan. "Ini A ... Abi mau bicara."


"Iya." Joe mengangguk dan langsung mengambil benda tersebut, sedangkan Syifa memilih untuk mengambil kunci dan membuka pintu rumah. "Iya, Bi, ini Joe."


"Jon. Tadi orang tuamu 'kan datang terus bawa buah sama susu ibu hamil ... nanti tolong buatkan Syifa susu ibu hamilnya, ya, kata Mamimu juga, kamu bisa membuatnya pas istrimu dulu hamil Robert."


"Aku memang bisa, Bi. Nanti aku buatkan." Joe menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, Abi sama Umi pulang paling sore. Kamu tidurin si Robert dulu nanti habis makan siang, biar kamu dan Syifa bisa bersenang-senang."


"Bersenang-senang?" Joe mengulang kata itu, dan otaknya langsung travelling.


"Iya. Pelan-pelan aja, tapi, dan jangan terlalu buru-buru ... supaya Syifanya nggak takut. Ingat juga dia 'kan lagi hamil muda."


"Yang Abi maksud ini bercinta, kan?"


"Kenapa musti diperjelas? Harusnya kamu sendiri mengerti. Ya sudah, ya! Abi tutup teleponnya."

__ADS_1


Tut ... Tut ... Tut.


Setelah panggilan itu mati, Joe langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Sebab sempat melihat Syifa sudah duluan masuk.


'Kesempatan emas, Robert juga lagi main.'


Cepat-cepat pintu utama rumah itu dia tutup kembali, kemudian menguncinya dengan rapat.


'Apa sekarang waktunya, aku dan Syifa bisa bercinta?' batin Joe. Secara refleks kedua telapak tangannya terbuka diudara, kemudian berdo'a. 'Ya Allah ... tolong lancarkan lah, supaya tongkatku bisa muntah. Kasihan dia.'


"Aa ...," panggil Syifa yang baru saja datang dari dapur. Sehingga mengagetkan Joe dan membuatnya tersentak.


"Ah ya, kamu sudah siap, Yang? Ayok kita lakukan sekarang." Joe berbalik badan. Kemudian melangkah mendekat kepada Syifa. Dilihat gadis itu tengah berdiri sambil memegang nampan yang berisi dua gelas es teh manis..


"Pernikahan yang sesungguhnya." Joe perlahan mengambil nampan, lalu menaruhnya di atas meja kaca. Setelah itu, dia pun meraih tubuh Syifa untuk dia gendong. Dan lantas kedua kakinya melangkah menuju kamar.


"Maksud Aa apa? Dan kenapa aku digendong begini?" tanya Syifa dengan mata yang terbuka lebar. Terlihat dia kaget dan ketakutan, bahkan tubuhnya saja sudah merinding.


"Kita harus melakukannya, Yang, aku udah nggak tahan banget." Tibanya di kamar, Joe langsung membaringkan tubuh Syifa dengan lembut ke atas kasur. Kemudian mengunci pintunya dengan rapat.


"Maksud Aa bercinta?" Syifa beringsut mundur sambil menarik tubuhnya. Dilihat Joe sudah melangkah mendekat sambil melepaskan jasnya.

__ADS_1


"Iya, Yang."


"Sekarang? Tapi ini 'kan masih siang, A." Susah payah Syifa menelan saliva, sebab melihat sang suami sudah bertelanjang dada. Beberapa potong roti sobek di perutnya itu membuatnya mengalihkan pandangan. Merasa malu sendiri.


"Memang kenapa kalau siang?" Joe merangkak naik ke atas kasur. "Boleh 'kan, Yang, sekarang? Aku janji akan melakukannya dengan pelan-pelan dan kalau kamu merasa sakit ... kita udahan."


"Tapi, A aku ...." Bibir Syifa terasa kelu sekali untuk mengatakan jika dia ingin menolaknya. Apalagi ibu jari Joe sudah meraba bibirnya.


"Aku Jonathan, Yang, suamimu. Bukan Beni. Jadi kamu nggak perlu takut sama aku, aku nggak akan menyakitimu." Joe dengan perlahan naik di atas tubuh Syifa, sambil menarik gesper.


"Ta-tapi ... nanti Aa akan menyesal karena telah melakukannya," sahut Syifa dengan terbata. Seluruh wajah cantiknya itu seketika berkeringat.


"Kenapa? Aku menginginkannya. Kenapa aku musti menyesal?" Joe mengecup sebentar bibir Syifa dengan lembut, lalu tersenyum.


"Karena aku udah nggak pera*wan."


"Kata siapa kamu nggak pera*wan? Aku sendiri yang akan membuktikannya."


"Tapi 'kan .... eemmmpppt!" Mata Syifa sontak terbelalak, kala Joe langsung menautkan bibirnya. Dengan perlahan dia melummat, lalu menyesapnya penuh semangat.


Tangan Joe sudah mulai meraba-raba ke arah dada, kemudian meraih beberapa kancing atas gamis yang Syifa kenakan. Dan dengan cepat, dia pun melepaskannya satu persatu.

__ADS_1


...Om Joe nakal🤣 santai Om santai, kebelet bener kayaknya 😆...


__ADS_2