Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
142. Unta dari Arab


__ADS_3

"Maaf ... tapi Bapak ini siapa, ya?" tanyanya sambil menatap dari ujung kaki hingga kepala. Ternyata selain berpakaian rapih, pria itu juga memakai sepatu kerja berwarna hitam mengkilap.


"Saya petugas jasa ekspedisi pengiriman hewan, Pak, kebetulan hari ini mau mengantarkan 6 ekor unta yang dibeli Jonathan Anderson dari Arab," jawab pria tersebut, kemudian melanjutkan. "Apa Bapak ini dengan Pak Hamdan Sonjaya? Mertua dari Pak Jonathan?"


"Iya. Betul, Pak. Saya Hamdan." Abi Hamdan menganggukkan kepalanya, tapi wajahnya terlihat terkejut. Sehabis mendengar apa yang pria itu sampaikan. Dia juga tak menyangka—jika Joe benar-benar ingin kurban 6 ekor unta, terlebih dari Arab pula belinya. "Tapi, Pak ... saat ini menantuku ada di Korea. Kok bisa, dia beli unta ke Arab? Apa dia saat ini mengajak Syifa anak saya ke Arab?"


"Kebetulan yang membeli Pak Sandi, asistennya, Pak. Tapi via online," jawab pria kemeja putih itu, kemudian mengulurkan tangannya untuk memberikan kertas beserta pulpen ke tangan Abi Hamdan. "Silahkan Bapak tanda tangan, untuk tanda terimanya."


"Tapi untanya ngomong-ngomong di mana?" Abi Hamdan mengambil dua lembar kertas tersebut, tapi matanya langsung menatap ke arah halaman rumah.


Tak mungkin rasanya dia langsung tanda tangan, sedangkan 6 untanya tidak terlihat di depan mata.


"Ada di lapangan di belakang masjid ini, Pak. Bapak boleh ikut saya untuk melihatnya," ajak pria itu.


"Iya. Ikut dulu saja, baru tanda tangan." Abi Hamdan mengangguk setuju.


Dia pun langsung menutup pintu rumahnya, kemudian melangkah bersama pria itu menuju lapangan di belakang masjid di samping rumahnya.


Lapangan itu memang biasa untuk menaruh hewan kurban setiap tahunnya. Sedangkan dihari-hari biasa, lapangan itu dijadikan tempat futsal. Entah untuk kalangan anak-anak, remaja, dewasa sampai Bapak-bapak sekalipun.

__ADS_1


"Ustad Hamdan ...," sapa Ustad Yunus dengan senyuman dibibirnya, ketika melihat Abi Hamdan melangkah menghampiri.


Dan ternyata, pria berpeci hitam itu sedang berada didekat salah satu unta berkurang cukup besar. Sedang memberikannya makan segenggam rumput.


"Iya, Tad." Abi Hamdan menganggukkan kepalanya, kemudian menatap sekeliling lapangan yang cukup luas itu dengan takjub.


Ada 6 ekor unta di sana, yang diikat secara berjejer. 3 sapi dan 5 kambing dan 2 domba.


"Itu unta-untanya, Pak." Pria berkemeja putih itu menunjuk beberapa ekor unta, sambil menatap Abi Hamdan. Dan pria tua itu langsung berlari pada unta yang kebetulan menatapnya, dan sudah ada namanya juga di badannya.


"Gemuk banget untanya. Seumur-umur aku baru kali ini melihat dan memegang unta secara langsung." Wajah Abi Hamdan terlihat merona karena sangking senangnya, jantungnya pun ikut berdebar-debar ketika dia mengelus-ngelus bulu unta yang berwarna coklat itu. "Duh ... jadi tambah sayang aku kayaknya sama si Jojon. Dia memang yang terbaik, menantu idaman," tambahnya yang langsung memeluk unta, bahkan sambil menciuminya.


"Eh Umi, iya ... benar! Ini unta-untanya. Katanya dari Arab lho, Mi," sahut Abi Hamdan yang terlihat antusias.


"Seriusan? Dari Arab? Pantes ganteng-ganteng untanya." Umi Maryam cepat-cepat mendekat, kemudian disusul beberapa ibu-ibu di belakangnya. "Umi mau naik dong, ke atasnya. Boleh nggak, sih? Sekalian difoto juga, Bi," pinta Umi Maryam yang tampak seperti anak kecil.


Selain Abi Hamdan, dia juga baru pertama kali melihat unta dan memegangnya secara langsung. Mereka berdua hanya melihat unta dari layar televisi saja.


"Tapi ini 'kan unta buat kurban, Umi, masa dinaikin? Nanti berat dong, kasihan untanya." Abi Hamdan mengelus kembali kepala unta. Hewan itu juga terlihat menurut, diam saja sejak tadi.

__ADS_1


"Memangnya Abi pikir Umi gendut?" Umi Maryam menatap suaminya dengan kesal. Bibirnya langsung menggeriting. "Dan bukannya hewan kurban itu buat tunggangan kita diakhirat, ya? Jadi apa salahnya kita naikin? Buat kenang-kenangan aja. Umi kepengen, kan jarang-jarang lihat unta, Bi."


"Ibu boleh menaiki untanya," sahut pria berkemeja putih yang masih ada di sana. "Tapi sebaiknya, Pak Hamdan tanda tangan dulu pada surat penerimanya ... karena saya kebetulan mau pamit pulang, Pak," tambahnya sambil menatap Abi Hamdan.


"Oh iya, aku sampai lupa." Abi Hamdan pun segera menandatangani dia surat yang sejak tadi masih pegang. Tapi pandangan matanya pun langsung tertuju pada nominal yang tertera disana, serta sudah ada cap bertuliskan lunas. "20 ribu riyal?" Kening Abi Hamdan tampak mengerenyit. "Berapa 20 ribu riyal itu, kalau dirupiahkan?"


"Sekitar 79 juta lebih, Tad." Ustad Yunus menyahut.


"Masya Allah, 79 juta?" Abi Hamdan dan Umi Maryam membulatkan matanya. Lantaran terkejut dengan nominal uang yang begitu fantastis itu.


"Banyak banget, Bi, apa dompet Joe akan aman, setelah dia berkurban?" tanya Umi Maryam kepada sang suami, dengan tatapan heran.


Namun, bukannya dijawab, pria itu justru tiba-tiba jatuh pingsan. Karena syok dengan harga 6 unta itu.


"Astaghfirullah! Abi!" jerit Umi Maryam. Segera dia berjongkok menghampiri suaminya.


Ustad Yunus, Pak RT, pria berkemeja putih serta beberapa bapak-bapak yang kebetulan ada di sana itu langsung berkerumun. Bersama-sama mengangkat tubuh Abi Hamdan, lalu merebahkannya pada kursi bale yang ada di sana.


Salah satu orang yang membawa minyak angin langsung mengolesi pada beberapa bagian tubuh Abi Hamdan, supaya pria itu cepat tersadar.

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2