Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
223. Hasil keringat sendiri diusia dini


__ADS_3

"Oh ... berarti pas awal lomba kamu sendiri sudah menyadari, kalau kamu kapicirit, Nak?"


Secara tidak sadar, Robert berkata jujur dan mengakui peristiwa yang dia alami. Tapi memang dia tak ada niat untuk menutupinya sekarang, sebab sudah terlanjur ketahuan juga.


"Padahal kamu pas lomba balap karung sudah bilang mules mau berak 'kan, ya? Terus kenapa tiba-tiba ikut menyusul, sampai ikut perlombaan memecahkan balon juga?" tanya Pak Zaka penasaran.


"Awalnya Robert memang mules, Pak." Robert menganggukkan kepalanya. "Tapi pas di toilet nggak keluar sama sekali. Dan Opa Hamdan memutuskan untuk membawa Robert kembali ke lapangan. Terus ... berhubung lomba itu belum usai, jadilah Robert ikut menyusul."


"Terus awal kapiciritnya kapan? Pas kamu selesai lomba balap karung, apa pas dimulai lomba memecahkan balon?" tanya Pak Bambang sembari mencerna apa yang anak muridnya katakan.


"Pas awal keluarnya Robert sih nggak sadar. Tapi sadar-sadar itu pas lomba balap karung itu selesai, Pak."


"Oh ...." Pak Bambang dan Pak Zaka langsung mengangguk-angguk. "Berarti, pas kamu ikut lomba memecahkan balon ... kamu sudah dalam keadaan kapicirit, ya?" tebak Pak Bambang. Robert pun menganggukkan kepalanya.


"Iya, Pak. Itulah kesalahan Robert."


"Harusnya udah tau kapicirit ... kamu langsung ngomong sama Bu Syifa atau keluargamu, Rob. Supaya kamu bersih-bersih ke toilet dan mengganti celana, bukan malah melanjutkan ikut lomba," tegur Pak Zaka menasehati.


"Tapi saat itu, Robert takut, Pak. Mangkanya Robert nggak ngomong."


"Takut kenapa? Masa pergi ke toilet doang takut? Bukannya kamu sering bolak balik ke toilet, ya, pas sekolah?"


"Bukan takut pergi ke toiletnya, tapi takut kalau nanti Robert ke toilet sambil mengganti celana ... Robert digugurin lagi. Robert 'kan nggak mau, Robert kepengen ikutan dan kepengen menang, Pak."


"Tapi daripada begini. Teman-temanmu jadi korban sekarang."


"Iya, Robert tau. Itu 'kan Robert udah minta maaf, Pak. Maafin Robert ... Robert memang salah." Bola mata Robert sudah berkaca-kaca, dia juga terlihat ingin menangis.


"Ya sudah, masalah ini Bapak anggap sudah selesai ya, Rob ... Pak Joe," ucap Pak Bambang yang terlihat tak tega melihat Robert. Dan lebih baik pembasahan ini diselesaikan saja, karena khawatir dia menangis.


Mendengar itu, bola mata Robert seketika menjadi berbinar. Dia juga mengulum senyum. "Serius ... masalah ini sudah selesai, Pak? Jadi maksudnya, Robert juga bisa dikatakan menang?" Ekspresi wajahnya itu sudah sumringah, karena sudah senang duluan.


"Tadi Bapak dan Pak Zaka sempat berunding, tentang lomba yang kamu menangkan. Tapi kami memutuskan ... jika lomba itu lebih baik diulang saja. Karena bisa dikatakan ... kamu menang tidak sah, Nak."


"Lho ... kok nggak sah?" Wajah senang Robert seketika lenyap dan berubah menjadi sedih. Bahkan sekarang dia sudah menitihkan air mata. "Tapi Robert 'kan nggak curang, Pak. Robert memecahkan balon cuma pakai bokong, bukan pakai kuku apalagi gigi ... Hiks!"


"Iya, Bapak tau. Tapi 'kan kamu tau sendiri kalau lomba itu sempat kacau, bahkan banyak yang pingsan."


"Tapi—"

__ADS_1


"Robeeert ...," sela Joe cepat, lalu menatap sang anak dan mengusap air mata pada kedua pipinya. "Apa yang dikatakan Pak Bambang ada benarnya. Akan lebih bagus jika lomba itu diulang saja, biar adil."


"Tapi nanti bisa-bisa Robert kalah, Dad. Nggak jadi juara satu ...." Robert merengut dengan raut sedih. Dia masih menangis tersedu-sedu.


"Jangan patah semangat begitu dong, Sayang. Lomba balap karung saja kamu bisa juara tiga padahal ada dibelakang. Jadi pasti ... kali ini kamu bisa juara satu."


"Daddymu benar, Nak." Pak Bambang menimpali, lalu mengelus kepala botak anak muridnya. Mencoba memberikan support, supaya semangat itu tak hilang. Sejauh ini, Robert adalah murid yang berprestasi di sekolah, dan dia yakin—jika di perlombaan Robert pun mampu menjadi juara. "Buktikan kepada Bapak, dan yang lain ... kalau kamu bisa jadi juara meskipun tanpa kapicirit. Semangat ya, Nak!"


*


*


Satu jam kemudian....


Sejujurnya Robert tidak setuju, dengan keputusan yang diambil oleh Pak Bambang dan Pak Zaka. Begitu pun dengan Joe yang ikut menyetujuinya.


Tapi mau bagaimana lagi. Menangis pun rasanya percuma dan tak ada gunanya. Jadi sebisa mungkin—sekarang Robert mencoba menerima keadaan dan kembali bersemangat untuk memulai lomba yang diulang.


"Berhubung tadi sempat ada musibah ... jadi lomba memecahkan balon kita ulangi, ya, anak-anak," ucap Syifa yang berada di tengah-tengah lapangan.


Berbeda dengan tadi, dengan jumlah peserta 20 orang. 10 dari kelas satu dan 10 dari kelas dua. Sekarang justru jumlah pesertanya lebih sedikit. Mungkin pengaruh karena kondisi anak-anak yang keracunan tadi. Dan memilih untuk mengugurkan diri.


Tapi semakin sedikit peserta, semakin besar kemungkinannya mereka-mereka yang masih bertahan akan menjadi juara. Juna dan Atta juga tidak ikut, peluang Robert untuk menang semakin tinggi di sini.


"Kalau tadi balon yang dipecahkan harus 5. Sekarang jadi 3, ya, anak-anak. Jauh lebih mudah dan cepat, bukan?" tanya Gisel.


Peraturan pun ikut diubah, demi memudahkan dan mempercepat durasi waktu lomba.


"Iya, Bu!" sorak beberapa peserta dengan semangat.


Di depan Robert sudah ada Umi Maryam yang berdiri dengan stand by memegang balon. Robert akan mencoba lebih fokus dan semangat lagi, untuk bisa meraih juara satu. Dia yakin—kali ini dia akan bisa.


'Bismillahirrahmanirrahim ... ya Allah, semoga Robert menang. Dapat juara satu. Tolong bantu Robert, dan beri Robert kemudahan dalam memecahkan balon. Buatkan lah bokong Robert lancip, supaya tiga balon ditangan Oma Maryam mampu Robert pecahkan dalam waktu singkat,' batinnya yang sudah berdo'a dalam hati, lalu mengusap wajahnya sembari membuang napas.


"Ibu akan hitung dari ...." Syifa sudah memberikan aba-aba. Juga langsung menyentuh puncak kepala anaknya sembari ikut mendoakannya dalam hati. "Tiga ... dua ... satu ... mulai!!"


"Robert! Robert! Robert!"


"Juara! Juara!"

__ADS_1


"Ayok semangat! Semangat!"


"Dapat mobil! Dapat mobil!"


"Jangan menyerah! Jangan menyerah!"


Para suporter bayaran langsung bersorak-sorai, menyemangati Robert. Berikut dengan Joe, Papi Paul, Mami Yeri dan Abi Hamdan.


"Robert! Robert!"


"Kamu pasti juara!"


Dor!


Dor!


Dor!


Bagaikan sebuah kilat, dalam waktu beberapa detik saja Robert sudah berhasil memecahkan ketiga balon itu.


Dan ajaibnya, bokong bocah itu ibarat sebuah jarum, sebab sangat tajam sekali. Sehingga baru diduduki saja balon itu sudah langsung pecah tanpa susah payah menekannya.


Dor!


Dor!


Dor!


Setelah Robert yang selesai memecahkan balon, berikutnya adalah Leon, kemudian Baim.


"Hore!! Robert menang!!" Syifa yang bersorak terlebih dahulu. Sangking senangnya dia pun mengangkat tubuh anaknya, lalu menciumi kepala botaknya.


Joe, Papi Paul, Mami Yeri, Umi Maryam dan Abi Hamdan pun langsung menyusul ke lapangan. Dan tubuh kecil bocah itu kini sudah berpindah ke atas pundak Abi Hamdan, lalu dia angkat naik turun.


"Jagoan Opa!! Juara satu!" seru Papi Paul yang mengangkat tangan cucunya ke udara.


"Terima kasih ya, Allah!" seru Robert penuh syukur dengan senyuman yang merekah indah. Kedua pipinya terlihat merona dan dadanya pun ikut berbunga-bunga. "Akhirnya Robert dapat mobil hasil keringat sendiri diusia dini."


...Alhamdulillah ya, Rob 🥰...

__ADS_1


__ADS_2