Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
71. Malam ini aku lembur


__ADS_3

"Lho, kok bisa?" Pak Bambang tampak terkejut, kedua matanya terbelalak. "Terus bagaimana keadaannya? Apa dia sudah dibawa ke rumah sakit, Leon?"


"Aku nggak tau, Pak," jawab Leon sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi tadi kamu bilang tau dari Papinya Juna. Memangnya kapan kamu ketemu Papinya Juna?" tanya Pak Bambang lagi.


"Enggak ketemu. Tapi Om Tian telepon Daddyku. Katanya dia sudah sempat menghubungi Bapak, tapi nomor Bapak nggak aktif dari pagi. Terus mau telepon Bu Syifa ... tapi nggak punya nomornya," jelas Leon.


"Oh begitu." Pak Bambang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya sudah, kalau sampai besok atau lusa Juna tetap nggak masuk ... kita semua akan datang untuk menjenguknya, ya, anak-anak."


"Iya, Pak." Bukan hanya Leon yang menjawab, tapi seluruh murid-murid di sana.


"Sekarang kita mulai absen dulu, ya." Pak Bambang menatap kembali buku absen di atas meja, lalu mulai mengabsen satu persatu murid di dalam kelas.


***


Di dapur.


"Oh ya, Fa ... apa makanan kesukaan Joe?" tanya Umi Maryam yang kini tengah mencuci beberapa wadah bekas dagangannya. Penjualan nasi uduknya hari ini begitu laris manis, semuanya hampir tak ada sisa berikut dengan gorengannya.


"Aku nggak tau, Umi." Syifa menggelengkan kepalanya. Kemudian memasukkan pakaian Joe dan Robert ke dalam mesin cuci.


"Kamunya nggak ada nanya sama dia?"


"Enggak."


"Lho, harusnya nanya dong, Fa. Joe sama Robert itu suka apa. Dan mulai sekarang kamu juga musti belajar memasak, kan sudah berumah tangga."


Selama ini, memang Syifa tidak bisa memasak. Jangankan untuk memasak, membantu Umi Maryam untuk memasak pun tidak.


Menurutnya, pekerjaan yang begitu ribet di rumah adalah memasak. Maka dari itu, Syifa memilih membantu hal lain saja dari pekerjaan rumah.


"Nanti aku coba tanya deh sama Aa, atau Robert pas pulang sekolah, Umi."


"Terus, sekarang kamu maunya Umi masak apa hari ini, Fa?"


"Terserah Umi saja. Uminya awalnya mau masak apa memangnya?"


"Tadi pagi Abi sempat ngomong pengen makan sama sayur asem, ikan asin, lalapan terong dan sambel terasi. Tapi masalahnya ... Umi ragu masaknya, Fa."


"Ragunya kenapa?" tanya Syifa bingung. "Oh ... apa Umi nggak ada uang, ya? Umi butuh berapa memangnya?" Syifa sudah merogoh kantong celana jeans. Namun segera, Umi Maryam menggelengkan kepalanya.


"Uang mah ada. Cuma yang Umi bingung ... takutnya Robert sama Joe nggak doyan makanan begituan, Fa."


"Iya juga, ya, Mi." Syifa mengangguk-anggukkannya. Dia juga baru sadar. "Masak ayam saja kalau begitu, Mi, buat mereka."

__ADS_1


"Ayam dibikin apa?"


"Ayam kecap saja. Tapi ayamnya ada nggak di kulkas? Apa Umi mau beli dulu bareng sama aku?"


"Biar Umi sendiri saja yang beli ke pasar, lagian kamu 'kan ...." Ucapan Umi Maryam seketika terhenti kala mendengar suara bel rumahnya berbunyi.


"Biar aku yang membukanya, Umi," ucap Syifa yang berlalu saat sudah menyalakan mesin cuci. Tapi Umi Maryam segera menyusulnya, sebab khawatir kalau sampai yang datang adalah orang jahat.


Bukan maksud bersu'uzan, hanya saja Umi Maryam sekarang lebih mewanti-wanti pada Syifa, semenjak perempuan itu pernah diculik.


Ceklek~


Pintu rumah itu dibuka, dan ternyata Sandi yang datang.


"Assalamu'alaikum Bu Maryam, Bu Syifa," sapanya sambil mengulas senyum.


"Walaikum salam." Syifa dan Umi Maryam menjawab secara bersamaan. Lantas Syifa pun bertanya, "Pak Sandi ada perlu apa? Atau Aa dan Robert ketinggalan sesuatu?"


"Enggak, Bu." Sandi menggeleng, kemudian melangkah menuju mobilnya dan membuka bagasi untuk mengambil beberapa kantong berwarna hijau berukuran sedang berjumlah 4. Lantas, segera dia kembali menghampiri kedua perempuan yang masih berdiri diam di ambang pintu. "Pak Joe tadi pagi telepon, meminta saya untuk pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Katanya biar Bu Maryam nggak capek membeli ke pasar. Dan ada bahan-bahan untuk membuat nasi uduk juga di sini, Bu."


"Masya Allah rezeki." Umi Maryam tampak berbinar, melihat apa yang dia lihat. Bukan hanya telur, daging ayam, daging sapi dan minyak sayur saja—tapi juga beberapa sayuran semuanya ada. Dan sampai ke bumbu-bumbunya juga. "Joe benar-benar menantu yang baik, duh ... jadi meleleh hati Umi." Umi Maryam mengelus dadanya, sangking senangnya dia sampai tak kuasa mengeluarkan air mata.


"Padahal Aa nggak perlu repot-repot menyuruh Pak Sandi untuk membelikan semua ini, aku jadi nggak enak," ucap Syifa tak enak hati.


"Nggak apa-apa, Bu," jawab Sandi sambil tersenyum. "Pak Joe memang selalu seperti ini. Jadi terima saja ... dia 'kan memang orang yang sangat baik."


"Iya. Ini semua saya yang beli. Saya sering membantu Mama saya ke pasar, jadi tau semua bumbu-bumbu di dapur, Umi," jawab Sandi. "Oh ya, mau saya bantu sekalian bawa ke dapur apa bagaimana, Bu? Cukup berat soalnya."


"Nggak usah, Pak," tolak Syifa. Walau bagaimanapun Sandi adalah seorang pria. Dan di rumah itu hanya ada mereka berdua. Jadi alangkah baiknya pria itu tak perlu masuk ke dalam rumah. "Aku dan Umi bisa membawanya sendiri. Sampaikan terima kasihku ke Aa saja, ya, Pak?"


"Oh ya sudah kalau begitu." Tangan Sandi terulur, lalu memberikan dua kantong yang dia tenteng ke tangan Umi Maryam, dan duanya lagi ke tangan Syifa. "Tapi lebih bagusnya ... Ibu saja yang langsung mengucapkan terima kasih kepada Pak Joe. Pasti dia sangat senang ... jika Ibu yang mengatakannya sendiri."


"Iya, Pak." Syifa mengangguk. Setelah Sandi pamit dan mengucapkan salam—dia dan Umi Maryam pun menutup pintu, lalu melangkah bersama kembali ke dapur.


"Joe benar-benar lelaki terbaik untukmu, Fa," puji Umi Maryam yang terlihat girang, kemudian menaruh dua kantong yang dia bawa di atas meja di dekat kulkas. "Ini sih kayaknya bisa buat satu tahun. Orang banyak banget."


"Nggaklah, Umi, masa setahun. Sayur-sayurannya mana kuat setahun," sahut Syifa. Dia yang lebih dulu membuka kulkas, namun seketika saja keningnya mengerenyit. "Tapi ngomong-ngomong ... semua belanjaan ini cukup nggak, Umi, masuk ke dalam kulkas? Kulkas Umi 'kan kecil," tanyanya dengan ragu. Sebab memang kulkas Umi Maryam hanya satu pintu dengan dimensi 550 x 535 x 970 mm.


"Iya juga, ya, Fa. Kenapa Umi nggak kepikiran?" Umi Maryam langsung menatap isi kulkasnya yang hanya berisi es batu dan beberapa botol air. "Mana freezernya kecil, dan kayaknya daging-dagingnya banyak. Apa muat, ya?"


"Dicoba dulu saja deh kalau begitu, Umi. Barangkali saja cukup. Kan bahan yang lainnya mau dimasak juga," saran Syifa.


"Iya, Fa." Umi Maryam mengangguk.


Mereka pun akhirnya menata bersama beberapa belanjaan itu untuk dimasukkan ke dalam kulkas, dan ada beberapa yang dipotong menjadi dua sebab tak cukup ruang.

__ADS_1


*


*


*


"Halo, assalamualaikum, A." Seusai mandi sore, Syifa menelepon Joe. Selain ingin mengucapkan terima kasih, dia juga ingin bertanya mengapa pria itu belum pulang. Padahal sudah jam 5.


"Walaikum salam, Yang. Lagi apa kamu?"


"Aku lagi duduk di kasur," jawab Syifa. "Oh ya, A, terima kasih atas beberapa bahan makanannya. Tapi harusnya Aa nggak perlu repot-repot, aku dan Umi 'kan bisa belanja sendiri ke pasar."


"Nggak apa-apa, Yang. Lagian aku juga lupa belum ngasih kartu ATM-ku untukmu. Tapi nanti pas pulang aku langsung kasih, ya."


"Kartu ATM untuk apa, A? Aku udah punya kartu ATM sendiri kok."


"Ya buat belanja. Masa seorang suami nggak ngasih uang belanja, Yang."


"Oohh ...." Wajah Syifa seketika merona. "Tapi ngomong-ngomong ... Aa sekarang ada di mana? Apa belum pulang jam kantornya?"


"Sebenarnya udah. Tapi kayaknya malam ini aku lembur deh, Yang."


"Lho, kok lembur? Kenapa A?" Wajah merona Syifa kita berubah menjadi raut kecewa.


"Ada produk baru di kantorku yang mau launching, tapi masih proses pembuatan. Jadi aku musti mengecek ke pabrik dulu habis Magrib. Paling aku pulang jam 7. Nggak apa-apa, kan, ya?"


"Nggak apa-apa. Tapi Aa lemburnya sama siapa kira-kira? Apa sendirian?"


"Sama sekretarisku. Aku ke pabriknya berdua sama dia."


"Perempuan apa laki-laki, A?"


"Perempuan."


Degh!


Jantung Syifa sontak berdegup kencang, dan perasaan takut tiba-tiba datang menyelimutinya. Entah mengapa, ucapan ibu-ibu yang bergosip tadi pagi juga kini terngiang-ngiang di telinganya.


"Kok perempuan sih, A?" tanya Syifa sedikit kesal.


"Kenapa memangnya, Yang?"


"Harusnya jangan, laki-laki saja."


"Tapi sekertarisku memang perempuan, Yang."

__ADS_1


"Apa dia sudah menikah?" tanya Syifa penuh curiga.


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2