
"Berlebihan apa, sih, yang kamu maksud itu? Kamu jangan sembarang kalau bicara, ya, Joe! Kalau nggak ada bukti jatuhnya fitnah tau nggak!" teriak Mami Yeri tak terima.
"Mami maaf ...," potong Syifa cepat. "Aku, Aa dan Robert permisi pulang saja sekarang. Dan terima kasih juga dengan hari ini, aku senang diajak belanja sama Mami dan Papi. Assalamualaikum."
Syifa pun buru-buru menarik Joe pergi dari sana, sebelum suaminya itu membalas ucapan orang tuanya. Sedangkan Robert sendiri sudah mengintilinya dari belakang.
Ketiganya langsung masuk ke dalam mobil Joe, dan pria itu diam tanpa kata tapi dengan raut wajah masam.
Mobil itu pun tak lama melaju pergi, meninggalkan rumah mewah tersebut.
*
*
*
Sampainya di rumah, Joe masih saja diam membisu. Tapi dia selalu berada di samping Syifa.
Kemana pun aktivitas yang istrinya itu lakukan, pasti Joe selalu ada. Hanya saja tidak dengan mengatakan apa-apa, sampai ketiganya berbaring di atas kasur.
"Mommy ... tadi kok Mommy kenapa bisa pulang ke rumah Opa dan Oma? Kenapa nggak langsung pulang ke rumah ini?" tanya Robert dengan mata yang menatap ke arah langit-langit kamar. "Untungnya, Robert dan Daddy kebetulan ada di sana. Mungkin kalau nggak ada, ya kami masih nggak tau Mommy berada di mana."
"Maafin Mommy ya, Sayang. Tapi alasan Mommy ada di sana karena memang Opa dan Oma yang meminta. Mereka mengatakan ingin mengajak Mommy ke rumahnya, supaya tau rumah mereka," jelas Syifa.
'Kan bisa besok, Yang, atau pas sama aku. Lagian kamu juga kenapa nggak tolak aja, sih? Nurut aja kamu ... dengan apa yang Mami dan Papi minta.' Joe yang berada di samping Syifa membatin dengan rasa kesal di dadanya. Tapi sama sekali dia tak ada niat untuk bergabung membahas masalah yang Robert katakan.
"Oh ... gitu." Robert mengangguk. "Terus, Mom ... besok 'kan katanya ada rapat di sekolah. Robert udah bilang sama Daddy dan dia mau ikut rapat, tapi Mommy sendiri mau ikut juga, nggak? Atau kalau nggak ... Mommy di rumah saja, sama Robert, ya?"
"Mommy juga ikut rapat, Nak," jawab Syifa. "Tapi Mommy ikut sebagai guru di sana, bukan walimu."
"Oh ... terus kira-kira jurinya siapa, Mom? Mommy bukan?"
"Mommy dan Bu Gisel guru TK, ditunjuk jadi host. Jadi Mommy nggak jadi juri, Sayang."
__ADS_1
"Mommy memangnya nggak bisa mengajukan diri jadi juri, ya, Mom?"
Syifa menggeleng. "Nggak bisa, Nak. Soalnya itu keputusan Pak Bambang dan kepala sekolah TK."
"Terus yang jadi jurinya cuma mereka berdua, Mom?"
"Bertiga, satunya Pak Zaka. Guru olahraga."
"Kenapa nggak Mommy saja, sih, ya? Padahal Robert 'kan ada rencana mau ikut semua lomba agustusan." Robert terlihat mengerucutkan bibirnya dengan raut kecewa.
"Ya ikut tinggal ikut, Nak. Kamu bisa daftarnya sama Mommy. Dan nggak masalah juga ... kalau Mommy nggak jadi juri. Kan Mommy jadi host, jadi masih ikut serta dalam acara."
"Masalahnya, Robert dari dulu nggak pernah menang, Mom ... kalau ikut agustusan kayak gitu. Jadi kesel sendiri."
"Dari kapan memangnya, kamu ikut lomba agustusan?"
"Dari TK. Pas bagian A dan B. Tapi Robert kalah melulu."
"Ya ada dong, Mom. Mommy 'kan bisa saja langsung menangi Robert meskipun Robert kalah. Kan namanya juri."
"Ya kalau seperti itu berarti sama saja dengan curang dong, Nak," ujar Syifa sambil tersenyum, kemudian mencoba menasehati. "Curang itu dosa, Allah nggak suka. Memangnya kamu mau ... Mommy berdosa gara-gara kamu?"
Robert langsung menggeleng cepat. "Nggaklah, Mom. Nggak mau!" tegasnya.
"Nah ... mangkanya. Kalau memang kamu kepengen menang, ya pakai jalur jujur ... itu pasti lebih bagus. Besok 'kan kamu libur, nih, jadi mending waktunya dihabiskan untuk latihan lomba. Jangan main."
"Memang, lombanya apa saja, Mom? Bukannya kata Mommy tadi pagi itu akan dibahas pas rapat orang tua, ya?"
"Iya, sih. Tapi feeling Mommy sih paling nggak jauh-jauh dari balap karung, makan kerupuk dan bawa kelereng dengan sendok. Ya kalau pun ada lomba yang terlihat baru ... itu paling tambahan. Tapi kalau tiga lomba itu pasti selalu ada, setiap dimana pun ada yang mengadakan acara agustusan. Percaya deh sama Mommy."
"Oh gitu. Ya udah deh ... besok Robert nggak jadi main sama temen-temen. Mau latihan buat lomba aja. Kan Robert juga kepengen dapat hadiah mobil, punya mobil sendiri dari hasil kerja keras sendiri, Mom."
Syifa terkekeh, lalu mengelus kepala botak anaknya. "Besok pas Daddy dan Mommy mau berangkat ke sekolah... kamu nanti kami antar ke rumah Opa Hamdan dan Oma Maryam saja, ya, biar nanti kamu latihannya ditemani Opa. Dia setiap tahunnya selalu menang lomba tau, Nak, pasti kamu akan hebat jika latihan ditemani dia."
__ADS_1
"Masa, sih, Mom? Lomba apa saja Opa menang?" Robert terlihat begitu antusias.
"Pokoknya setiap lomba, Nak. Mungkin kecuali panjat pinang."
"Kalau di sekolah ... tahun ini ada panjat pinangnya nggak, Mom?"
"Belum tau Mommy, Nak. Kalau pun ada ... pasti bukan buat anak muridnya. Soalnya panjat pinang begitu 'kan biasanya untuk dewasa."
"Ya nggak apa-apa. Biar nanti orang tua muridnya saja yang ikut lomba. Nanti Mommy minta Daddy buat ikut panjat pinang. Dia setiap tahunnya nggak pernah ikut lomba tau, Mom. Payah memang Daddy."
"Kenapa memangnya nggak ikut?"
"Ya biasa, ngomongnya sibuk jadi nggak sempat." Robert mendengkus kesal.
"Oke, nanti Mommy coba usulin dulu lomba panjat pinangnya pas rapat. Kalau setuju ... baru Mommy minta Daddymu buat ikut lomba."
"Terima kasih Mommy yang cantik. Robert sayang Mommyyyy ...." Robert langsung memiringkan tubuhnya, lalu memeluk Syifa dengan erat. "Robert mau tidur deh, ngantuk," tambahnya yang langsung menguap.
Syifa langsung menutup mulut anak sambungnya, lalu mencium pipi. "Jangan lupa baca doa, Sayang. Selamat malam."
"Malam juga, Mom." Robert mengangguk dan dengan perlahan dia pun memejamkan mata, sambil membaca doa dalam hati.
Beberapa menit kemudian setelah dirasa-rasa Robert sudah mulai terlelap, Syifa pun merelai pelukan anaknya. Lalu membalik tubuhnya untuk mengahadap ke arah Joe.
Entah mengapa, mendadak Syifa merasa birahi. Padahal tidak ada sebab dan akibat.
"Aa ... apa Aa udah tidur?" tanya Syifa lirih, lalu menyentuh pipi Joe. Dilihat wajah suaminya itu begitu tenang dengan mata yang tertutup rapat. Dan sepertinya Joe memang beneran sudah tidur, sebab terdengar suara samar-samar dengkuran halus. "Aneh ... kok tiba-tiba aku rasanya kepengen, ya? Padahal 'kan nggak dipancing duluan," gumamnya sambil mengusap wajah beberapa kali.
Syifa pun mendekatkan wajahnya ke arah Joe, kemudian mengecup bibir sang suami secara singkat. Dan pandangan matanya pun seketika tertuju pada celana kolor pendek yang Joe kenakan, tepat pada bagian yang terlihat menggembung.
'Coba kupegang aja kali, ya? Kayaknya tongkatnya bangun, meskipun orangnya sudah berada dalam mimpi.' Susah payah Syifa menelan saliva, ketika tangan kanannya dengan beraninya merogoh ke dalam kolor sang suami.
...Syifa, kok kamu nakal, sih sekarang 🙈🤣...
__ADS_1