
"Daddy, kenapa sih kita musti ke rumah sakit? Memang siapa yang sakit?" tanya Robert yang saat ini tangannya digandeng oleh Joe.
Sebelum dirinya berangkat sekolah, Joe memang mengajaknya untuk pergi ke dokter. Untuk sekedar mengecek kondisi kesehatannya.
Mereka tak hanya berdua, tapi dengan Abi Hamdan juga. Pria tua itu memang sengaja ingin ikut, sebab katanya ingin mengantar cucunya juga ke sekolah.
"Buat cek kesehatan Sayang, hanya sebentar juga kok. Ayok." Joe langsung mengajak Robert masuk ke dalam ruangan Dokter yang sebelumnya sudah membuat janji. Jadi dia tak perlu mengantre.
Dokter itu juga dokter yang sama yang sempat menangani penyakit anaknya.
*
"Bagaimana kondisi Robert, Dok? Apa semaunya sehat?" tanya Joe yang kini duduk bersama Abi Hamdan pada kursi, di depan dokter pria. Robert berada di atas pangkuannya, tengah bermain ponsel miliknya.
"Alhamdulillah, Pak, semuanya bagus." Dokter itu tersenyum menatap selembar kertas di tangannya, itu merupakan hasil tes. "Robert sehat."
"Alhamdulillah ya, Allah." Joe mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Tentu dia senang dengan hasil yang memuaskan itu.
"Bapak bisa mengecek kesehatan Robert sebulan sekali. Nggak apa-apa," kata Dokter. "Tapi Robert musti rajin minum vitamin."
"Iya, Dok." Joe mengangguk, kemudian menoleh ke arah Abi Hamdan yang sejak tadi diam saja. "Abi mau sekalian periksa kesehatan nggak? Mumpung kita ada di rumah sakit?"
"Nggak ah. Abi 'kan nggak lagi sakit, Jon," tolak Abi Hamdan.
"Mengecek kesehatan nggak musti dalam keadaan sakit, Pak." Dokter pria menyahuti. "Malah, mengecek kesehatan itu penting karena supaya kita memantau kondisi kesehatan kita dimasa mendatang. Juga dengan penyakit-penyakit yang akan menyerang di tubuh kita."
"Sakit sama sehat 'kan yang ngasih Allah. Jadi meskipun diperiksa hasilnya sehat ... belum tentu kita sehat. Bisa saja besoknya sakit. Kan kita nggak tau," sahut Abi Hamdan yang terdengar tidak setuju dengan pernyataan dokter.
"Tapi, Pak, lebih baik kita—"
"Maaf, Dok." Joe langsung menyelanya. Sebab takut jika nanti mereka berdebat. Ini masih pagi dan rasanya tidak bagus jika berbicara menggunakan urat yang kencang. "Terima kasih untuk hari ini. Aku, Robert dan mertuaku pamit. Robert juga musti sekolah." Dia lantas berdiri, kemudian menggendong tubuh Robert.
"Sama-sama, Pak," sahut Dokter itu sambil tersenyum. "Semoga Robert, Bapak dan sekeluarga sehat."
"Amin." Joe tersenyum.
"Sampai jumpa Om Dokter! Dadah!" Robert melambaikan tangannya, saat Joe membawanya melangkah keluar dari ruangan itu.
"Sampai jumpa juga, Dek Robert." Dokter itu membalas lambaian tangan Robert.
__ADS_1
*
*
Mereka bertiga kini menaiki sebuah mobil, dan Joe yang mengemudi. Sedangkan di sampingnya Abi Hamdan bersama Robert yang berada di atas pangkuannya.
"Oh ya, Jon ... Abi lupa untuk bertanya tentang kandungan Syifa sama kamu."
"Kandungan Syifa?" Joe mengerutkan keningnya, lalu menoleh dengan wajah bingung. "Maksudnya gimana, Bi?"
"Syifa udah berapa bulan kandungannya? Waktu itu pas dia masuk rumah sakit ... kayaknya dokter nggak ada bahas soal janinnya."
"Aku juga lupa. Tapi kayaknya mau sebulan," jawab Joe asal. Lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kok lupa?" Abi Hamdan mengerutkan keningnya heran. "Kamu menikah sudah sebulan, kan, terus pas kamu tau Syifa hamil itu ... pas usia kandungan berapa memangnya?" Dia tentu ingat, Syifa hamil sebelum mereka menikah. Jadi otomatis bisa lebih dari sebulan. "Masa bayi di dalam kandungan umurnya nggak naik-naik, Jon? Aneh."
"Pas Syifa hamil, kami belum periksa. Syifa hanya mengetesnya dari tespack, Bi. Jadi aku lupa. Mungkin mau dua bulan."
"Tadi bilang sebulan, sekarang dua bulan. Yang benar yang mana, sih, Jon?" Abi Hamdan jadi ikut pusing, sebab jawaban Joe berganti-ganti.
"Kenapa Opa musti pusing?" Robert mendongakkan wajahnya untuk menatap Abi Hamdan, lalu tersenyum. "Bagaimana, kalau besok kita ajak Mommy periksa ke dokter saja. Biar kita semua tau ... berapa usia adik bayi."
'Si Robert kalau ngasih usul benar-benar diluar nalar. Tapi ini membuat aku pusing sendiri,' batin Joe bingung. 'Kalau diperiksa, bisa-bisa Syifa ketahuan nggak hamil dong. Aku 'kan bikinnya baru 2 hari yang lalu. Mana mungkin langsung jadi, kan? Mana ditambah semalam nggak bikin juga, gara-gara ketiduran. Terus gimana dong ini?'
"Besok kita ajak Syifa ke dokter, Jon. Abi juga mau ikut. Tapi Abi mau ... Syifa sekalian difoto perutnya, ya?" pinta Abi Hamdan.
"Difoto?" Joe kembali dibuat bingung. "Difoto gimana maksudnya, Bi?"
"Yang kayak di sinetron-sinetron itu, lho, orang periksa kandungan sambil difoto. Biar janinnya kelihatan. Apa namanya? USB, ya?"
"USG, Bi," jawab Joe.
"Iya. Itu maksudnya. Abi mau tunjukkan ke orang-orang juga, kalau Abi punya foto cucu Abi di dalam kandungan. Pasti keren 'kan, Jon?"
"Iya, keren." Joe mengangguk-nganggukan kepalanya sambil tersenyum aneh. Dia pun langsung memikirkan sebuah ide.
***
Semua murid sudah berdatangan, masuk ke dalam kelas. Dan kebetulan juga sudah terdengar suara bel.
__ADS_1
"Eh, Rob ... udah nonton video yang lagi viral belum di face*book?" tanya Atta yang duduk di sebelah meja Robert.
"Video apaan?" tanya Robert bingung. Bocah itu melepaskan tas ranselnya, kemudian menaruhnya ke dalam laci meja dan duduk dikursi.
"Video Om Fahmi yang masuk ke dalam penjara. Papanya sampai pingsan lho, Rob."
"Masa, sih? Serius?" Robert tampak terkejut. Tapi bola matanya langsung berbinar. Tentu dia senang mendengar berita memuaskan itu.
"Iya." Atta mengangguk cepat. "Bener 'kan kataku, Rob. Setelah kita menguncinya di toilet ... Om Fahmi mendapatkan teguran dari Allah."
"Iya. Tapi kok bisa, videonya ada di facebook. Memangnya siapa yang meng-uploadnya, Ta?"
"Dari akun gosip sih katanya Mamanya. Dia live streaming."
"Oh ... tapi—"
"Selamat pagi anak-anak!" seru Pak Bambang yang baru saja datang yang mana menghentikan ucapan Robert. Semua anak murid di dalam kelas itu pun langsung berdiri tegak.
"Selamat pagi Pak Bambang!" jawab mereka semua bersorak. Kemudian duduk kembali.
"Mommy sama Daddymu pasti lagi bulan madu, ya, Rob? Mangkanya Mommymu belum bisa mengajar." Pak Bambang duduk di kursi guru, di depan murid-muridnya. Kemudian meletakkan buku absen.
"Bulan madu itu apa, Pak?" tanya Robert bingung.
"Maksud Bapak liburan."
"Oh. Enggak." Robert menggelengkan kepalanya. "Mereka nggak liburan, ada di rumah. Tapi tadi pagi pas Robert nanya ... Mommy bilang nggak tau, kapan mau mengajar lagi. Soalnya dia masih capek katanya."
"Oh gitu. Ya sudah nggak apa-apa." Pak Bambang tersenyum, lalu membuka buku absen kemudian menatap ke arah depan. "Lho, tapi itu si Juna ke mana, Ta? Kok nggak ada?"
Dia baru sadar, jika Juna tidak berada di samping Atta. Dan Atta sendiri juga tidak tahu, ke mana temannya itu.
"Dia nggak masuk sekolah hari ini, Pak." Yang menjawab justru Leon, yang duduk di belakang Robert. Bocah itu juga langsung berpindah tempat duduk untuk duduk bersama Atta.
"Kenapa, Leon? Apa kamu tau?"
"Kata Papinya sih tadi pagi ... burungnya tersangkut resleting celana, Pak."
...Kasihan amat 🤣 pasti pedes banget tuh rasanya😆...
__ADS_1