Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
97. Dia akan kembali bersamamu


__ADS_3

"Maafkan aku, Pak." Papi Paul perlahan lepaskan tangan Syifa dari tangannya. "Aku tetap ingin Syifa dan Joe berpisah. Karena memang baiknya begitu."


"Baik? Baik bagaimana, Pak?" tanya Abi Hamdan, suaranya kali ini sedikit merendah. "Bukankah setauku ... disetiap agama, perceraian itu dilarang. Dan kita sebagai orang tua juga tidak boleh meminta anak kita bercerai. Karena yang menjalankan kehidupan mereka, bukan kita."


"Aku tau itu." Papi Paul mengangguk. "Tapi semua orang tentu memiliki pendapat masing-masing. Dan pendapatku memang Joe dan Syifa harus berpisah. Aku nggak mau, Joe makin berubah ketika masih bersama Syifa."


"Berubah? Berubah bagaimana?" tanya Abi Hamdan bingung.


"Harusnya Bapak nggak perlu tanya, karena Bapak sendiri sudah tau jawabannya," jawab Papi Paul dengan sinis.


"Memang apa? Aku nggak ngerti." Abi Hamdan makin terlihat bingung.


"Berawal dari Joe yang pindah agama, kemudian Robert mengikutinya. Apa Bapak pikir ... aku yang sebagai orang tua nggak sakit hati, melihat anak dan cucu semata wayangku berpindah agama? Itu semua 'kan awalnya dari Syifa juga." Tatapan mata Papi Paul tampak menjadi dingin sekarang. Sedikit pun dia tak luluh melihat menantunya menangis, masih tetap dengan pendiriannya dari awal.


"Tapi Syifa sama sekali nggak memaksa Joe atau Robert untuk pindah agama, Pak," sahut Abi Hamdan membela.


"Iya, tapi 'kan syarat menikah dengan Syifa dia harus pindah agama. Kan sama saja itu," balas Papi Paul dengan kesal.


"Kan memang menikah berbeda agama itu nggak dibolehkan, Pak. Mangkanya, salah satu dari mereka yang mengalah."


"Ya harusnya jangan Joe dong, yang mengalah. Dia 'kan yang menjadi pemimpin keluarga, seharusnya Syifa yang pindah."


"Tapi Joe sendiri yang mau, dia juga bilang dari awal kalau ingin masuk Islam, Pak."


"Ah aku nggak percaya, pasti awalnya Joe terpaksa karena memang dia sudah dekat dengan Syifa," bantah Papi Paul sambil menggeleng pelan. Perlahan dia pun berdiri dari duduknya, seraya membenarkan jas. "Sepertinya, pembahasan ini sudah cukup. Dan aku harap kalian semua menghargai keputusanku. Nanti proses perceraiannya biar pihak Joe saja yang mengurusnya, jadi kalian akan terima beres. Kalau begitu aku permisi."


Setelah mengatakan hal itu, Papi Paul langsung melangkah pergi keluar dari rumah. Syifa yang melihatnya langsung berlari menyusul, kemudian menghentikannya. Berdiri di depannya.

__ADS_1


"Papi, Aa sekarang sudah masuk Islam dan menikah denganku. Harusnya Papi mendukung pernikahan anaknya, bukan malah meminta Aa untuk berpisah. Aa dan aku juga saling mencintai, kami—"


"Syifa sudahlah," sela Papi Paul yang terlihat mulai jengah. "Kan Papi sudah katakan, kalau kamu harus menghargai keputusan Papi. Jadi berhentilah untuk bersikap seperti ini." Dia pun berlalu menuju mobil, kemudian masuk ke dalam dan sopirnya langsung menyalakan mesin mobil.


Namun, seperti tak ada kata lelah. Syifa sekarang justru menghampiri dan menepuk-nepuk kaca mobil. "Papi nggak bisa pisahkan aku dan Aa! Aa bilang aku cinta terakhirnya, Pi, bagaimana bisa dia ...." Ucapan Syifa terhenti kala tiba-tiba dia ditarik oleh Abi Hamdan, untuk menjauh dari mobil itu. Sebab khawatir kalau mobil itu akan melaju.


Dan benar saja, setelah Syifa menjauh, mobil itu benar-benar melaju pergi keluar dari halaman rumahnya.


"Abi! Aku nggak mau bercerai sama Aa! Aku nggak mau jadi janda, Bi, hiks!" tangis Syifa yang makin pecah. Segera Abi Hamdan membawanya ke dalam pelukan, lalu mengusap-usap punggungnya. Mencoba menenangkan.


"Enggak, Fa. Kamu nggak akan berpisah dengan Jojon. Kamu nggak akan menjadi janda." Hati orang tua mana yang tak sakit hati, melihat anaknya seperti itu. Tentu Abi Hamdan ikut merasakan, apa yang Syifa rasakan.


Umi Maryam pun melangkah menghampiri, sama halnya seperti Abi Hamdan. Dia juga terlihat sedih.


"Tapi Papi bilang ... Aa dan Robert sudah ada di Korea, Bi. Tandanya mereka sudah pergi meninggalkanku, iya, kan?"


"Apa aku harus menyusul mereka ke Korea, Bi? Dan mengajaknya pulang?"


"Enggak perlu." Abi Hamdan menggeleng.


"Kenapa nggak perlu? Kan mereka—"


"Biar mereka sendiri yang pulang dari sana, lalu menemuimu," sahut Abi Hamdan dengan cepat, lalu menyentuh puncak kerudung Syifa dan mencium keningnya. "Abi yakin ... Joe nggak akan mau bercerai denganmu. Jadi dia akan kembali bersamamu, Fa."


'Kembali bersamaku?' batin Syifa. Entahlah, dia merasa tidak yakin. Apalagi mengingat Papi Paul benar-benar seperti sudah menarik restu untuk pernikahannya. 'Benarkah? Tapi kapan kira-kira? Nomor Aa Joe saja susah sekali dihubungi. Ya Allah ... kenapa jadi begini? Aku nggak mau jadi janda. Aku juga nggak rela ... jika nantinya melihat Aa menikah dan mencintai perempuan lain.'


***

__ADS_1


Keesokan harinya.


Seoul, Korea Selatan.


Joe dan Robert perlahan mengerjapkan matanya secara bersama, kemudian menatap langit-langit serta tempat di mana mereka berada.


Itu seperti sebuah kamar, dan mereka juga sama-sama dalam posisi berbaring di atas kasur.


"Dad ... kita di mana? Ini seperti kamar, ya? Tapi kamar siapa, Dad?" tanya Robert dengan linglung. Nyawanya seperti belum sepenuhnya kumpul.


"Seperti kamar Daddy, Rob," jawab Joe yang dengan perlahan menarik tubuhnya untuk duduk. "Tapi kayak kamar yang ada di rumah Opa dan Oma di Korea," tambah Joe saat dia menatap sebuah foto berbingkai di atas nakas. Yang berisi foto pengantinnya bersama Sonya.


"Lho iya, ternyata." Robert ikut terduduk, seraya menatap foto berbingkai di sana. "Eh, Daddy mau ke mana?" Melihat Joe melangkah menuju pintu kemudian membukanya, segera Robert turun dari kasur dan berlari mengejarnya.


"Daddy mau pastiin, ini benar di Korea atau nggak. Tapi kapan kita perginya kira-kira, Rob? Daddy nggak ingat."


Robert langsung meraih tangan Joe. Dan saat pria itu melangkah keluar, dia pun tiba-tiba mencubit kecil punggung tangannya.


"Aawww!" cicit Joe yang tampak terkejut, lalu menatap anaknya. "Kenapa kamu cubit Daddy, Rob? Apa salah Daddy?" tanyanya heran sambil menyentuh tangannya sendiri.


"Daddy nggak salah apa-apa." Robert menggelengkan kepalanya. "Robert hanya memastikan kalau ini bukan mimpi, tapi kayaknya ... ini kerjaan Doraemon deh, Dad."


"Apa hubungannya dengan Doraemon?" Joe menatap ke lantai bawah, tepat di mana ruang keluarga itu berada.


Lama diperhatikan ternyata memang benar, posisi mereka sekarang ada di rumah Papi Paul dan Mami Yeri yang ada di Korea. Tapi Joe masih bertanya-tanya, kenapa mereka bisa ada di tempat itu dalam sekejap, sampai tak ingat kapan berangkatnya.


"Doraemon 'kan punya pintu kemana saja, Dad. Kayaknya kita pernah masuk lewat pintu itu. Terus tiba-tiba sampai ke Korea," celoteh Robert berbicara asal.

__ADS_1


^^^^^^Bersambung....^^^^^^


__ADS_2