
Syifa pun masuk ke dalam kamarnya, kemudian mengangkat tubuh Robert untuk mengubah posisi tidurnya. Barulah setelah itu menepuk-nepuk pelan pipinya, juga mengguncang kedua lengannya. "Nak! Ayok bangun!"
"Robert ... Nak, bangun!" seru Syifa lagi, yang kembali mengguncang tubuh Robert. Memang cukup susah membangunkan bocah itu, musti dengan kesabaran.
"Ayok sahur, Nak, nanti Mommy suapi. Kamu juga dari semalam belum makan, kan?" Syifa mendekat, lalu mencium kening anaknya. Dan akhirnya, bocah itu dengan perlahan membuka kedua matanya.
"Sahur?!" Robert menatap Syifa dengan bingung, sambil mengerjapkan matanya berulang kali.
"Iya. Kita akan memulai puasa sunnah. Ayok bangun, Nak, Mommy gendong ke kamar mandi untuk cuci muka, ya?" Syifa langsung meraih tubuh anaknya untuk dia gendong, kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Puasa dalam rangka apa, Mom?" tanya Robert bingung.
Dalam ajaran umat Kristen Protestan, di sana juga diajari untuk berpuasa.
Namun, Puasa protestan tidak berpatokan pada hari-hari tertentu harus berpuasa, tetapi dalam keyakinan Protestan Pribadi masing-masing yaitu manusia itu sendiri yang menentukan hari untuk berpuasa yang dipilihnya sendiri selama 1 minggu, 1 bulan dan jangka waktu tertentu yang dipilihnya di harapkan bisa lagi berlanjut di bulan-bulan berikutnya.
Dalam melaksanakanya Pribadi yang berpuasa sebisa mungkin tidak di ketahui oleh kerabat, sanak saudara, dan orang-orang di sekitarnya di saat berpuasa, oleh sebab itu puasa Protestan tidak di umumkan secara resmi.
Agama Kristen Protestan secara resmi tidak mewajibkan untuk berpuasa yang berarti tidak memiliki bulan khusus untuk berpuasa, tetapi Ketua masing- masing Gereja mengajarkan pada umatnya menyempatkan diri agar sesering mungkin Berdoa dan Berpuasalah dengan keinginan, ketulusannya sendiri bukan karena paksaan.
Patokan berpuasa Umat Kristen Katolik dan Kristen Protestan sama-sama mengambil dasar dalam ajaran Alkitab.
"Puasa dalam rangka menyambut hari raya kurban. Puasa kali ini nggak wajib, sih, Nak, tapi pahalanya sangat bagus. Dan kata Daddymu ... kamu juga belum pernah puasa. Jadi sekalian belajar, Nak." Syifa mengambil air pada bak kamar mandi dengan gayung, kemudian menuangkannya ke telapak tangan dan mengusap ke wajah anaknya.
"Oh. Puasa itu yang nggak makan sama minum 'kan, Mom?" tanya Robert. Selain belum pernah berpuasa, Robert juga memang belum pernah diajari. Dan Joe sendiri juga sama, tidak pernah puasa, karena seperti uraian di atas—umat Kristen tidak diwajibkan, jadi tidak masalah kalau tidak mau mengerjakannya.
(Mohon dikoreksi kalau Author salah)
"Iya." Syifa mengangguk. "Nanti makan sama minumnya baru boleh setelah adzan magrib, Nak."
"Ooohh." Robert mengangguk-anggukkan kepalanya. "Berarti kita sahurnya makan sama daging unta dong, Mom? Tapi sejak kapan unta-unta kita sudah datang dari Arab? Robert kok nggak tau?"
"Sahurnya kita makan ayam kecap, Nak, bukan daging unta," jawab Syifa.
"Lho, terus kita makan daging untanya kapan dong, Mom? Kan katanya Daddy mau kurban unta?"
__ADS_1
"Kurban itu untuk dibagikan ke orang-orang, Nak, bukan khusus untuk diri sendiri."
"Lho, berarti nanti kita nggak boleh makan daging untanya, dong? Padahal 'kan dagingnya enak, Mom."
"Bukan nggak boleh. Tapi yang khususnya itu untuk dibagikan ke beberapa warga yang membutuhkan. Tapi tenang saja, kita yang berkurban juga tentu mendapatkan sesuai syariatnya," jelas Syifa.
"Oh gitu. Berarti, berkurban itu sama saja seperti kita berbagi, ya, Mom?"
"Betul." Syifa menganggukkan kepalanya.
"Nanti Robert minta Daddy untuk kurban unta setiap sebulan sekali deh. Biar semua warga bisa makan daging unta setiap bulannya," sahut Robert dengan enteng.
"Kurban itu hanya ada setahun sekali, Nak. Jadi kita hanya berkurban setahun sekali saja," jawab Syifa.
"Oh gitu."
"Iya, kecuali kalau niat kita memang hanya ingin berbagi. Tidak menyebutkan ingin berkurban. Itu baru boleh," jelas Syifa.
"Kita sahurnya hanya bertiga? Yang lain ke mana?" tanya Robert bingung. Dia berlari menghampiri Umi Maryam untuk memeluk tubuhnya.
"Yang lain nyusul, Nak," jawab Umi Maryam. Dia pun mengangkat tubuh Robert dan mendudukkannya pada kursi di samping Syifa, lalu mencium rambutnya.
"Ya ampun, Mommy!" Tiba-tiba saja, bocah itu menyeru dan berdiri di atas kursi. Kedua matanya tampak membulat sempurna.
"Ya ampun kenapa, Nak?" tanya Syifa yang langsung menoleh kepada anaknya, dengan kening yang tampak mengernyit.
"Robert baru ingat, kalau semenjak kita berhasil menemukan Daddy ... Opa nggak ada. Tapi Opa ke mana kira-kira? Dan apakah dia juga sudah pulang bersama kita?" Ternyata bukan hanya Syifa saja yang baru ingat pria tua itu tidak ada, tapi Robert juga. Kasihan sekali memang, nasib Abi Hamdan.
"Opa ketinggalan di kantor Daddy, Rob. Tapi Daddy sudah pergi ke sana untuk menjemputnya," jawab Syifa.
"Ya ampun. Jadi Opa ditinggalin di kantor, Mom? Di ruangan Daddy?"
"Iya." Syifa mengangguk dengan wajah bersalah. "Mommy juga lupa, Nak."
__ADS_1
"Kasihan banget Opa. Mana ruangan Daddy suka terkunci secara otomatis lagi, Mom."
"Apa?! Serius kamu, Rob?!" Syifa memekik dengan keterkejutannya. Kedua bola matanya membulat sempurna.
Dan Umi Maryam pun melakukan hal yang sama, ditambah sekarang jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Rasa khawatirnya itu tiba-tiba menyeruak di dalam dada.
Takut terjadi sesuatu oleh suaminya. Mengingat, jika Fahmi saja sampai masuk rumah sakit gara-gara terkunci di dalam toilet. Jangan sampai Abi Hamdan juga meerasakan hal yang sama.
'Ya Allah, tolong lindungi suami hamba. Semoga dia baik-baik saja,' batin Umi Maryam penuh harap.
"Iya, Mom. Tapi semoga saja Opa baik-baik saja," sahut Robert.
\*\*\*
30 menit kemudian, mobil Joe akhirnya sampai di depan halaman kantor. Gegas, pria tampan bermata sipit itu pun turun dari mobil. Saat pintunya dibukakan oleh seorang satpam.
"Pagi Pak Bos. Pak Bos kok pagi-pagi datang ke kantor? Apa ada barang yang ketinggalan?"
"Mertuaku ketinggalan, Pak. Bapak juga cepat ikut aku!" perintah Joe yang langsung berlari tergesa-gesa masuk ke dalam kantornya.
Satpam itu pun berlari mengejar Joe, hingga keduanya berhasil masuk bersama ke dalam lift menuju lantas atas di mana letak ruangan Joe berada.
Ting~
Sampainya di sana, Joe langsung menurunkan handle pintu ruangannya. Namun ternyata terkunci.
Tapi memang ruangan itu sering terkunci secara otomatis, sebab Joe sendiri yang memang mengaturnya. Jadi tidak akan ada orang yang sembarangan masuk, kecuali orang tersebut mengetahui kodenya.
Setelah berhasil membuka kunci, Joe langsung mendorong pintu berbahan emas itu.
Ceklek~
"Abi!" teriak Joe seraya berlari masuk. Satpam di belakangnya juga ikut masuk mengikuti Joe.
Namun, seketika Joe terbelalak saat melihat tak ada kehadiran mertuanya itu.
...Yah... ilang 🤣...
__ADS_1