
"Abi! Bukan begitu maksud ...." Ucapan Joe terhenti berikut dengan langkah kakinya, saat dimana dia melihat Abi Hamdan, Robert dan Mami Yeri masuk ke dalam sebuah mobil taksi yang baru saja melaju pergi.
Tak ingin hilang akal dan menyia-nyiakan waktu. Dia pun bergegas berlari menuju mobilnya yang berada di parkiran, kemudian masuk ke dalam sana.
*
*
*
'Ya Allah, lagi-lagi ada ujian,' batin Abi Hamdan yang nampak sedih. Dia berpikir, cobaan dari Allah saat ini sedang terus di hidupnya.
Memang, hidup tanpa ujian itu pasti tak akan seru. Sebab tak ada sebuah tantangan. Tapi kali ini, rasanya beda saja karena begitu berturut-turut. Hampir tanpa jeda.
Pertama dia terkunci di dalam ruang kerja Joe, sampai menahan lapar semalam. Kedua, motornya hancur digiling orang yang tidak dikenal.
Seperti belum cukup, sekarang dia justru mengalami keterkejutan akibat istrinya mendadak menelan kunci tanpa sebab.
Abi Hamdan sangat hafal dengan bentuk kunci kamarnya, cukup besar dan pastinya akan berbahaya jika masuk ke dalam tenggorokan.
'Umi ngapain, sih, pakai nelan kunci segala? Kayak nggak ada makanan saja. Kan di kulkas banya makanan,' keluh Abi Hamdan dalam hati.
"Opa yang sabar ... Robert yakin semuanya akan baik-baik saja," ucap Robert yang mencoba menenangkan. Dia pun memeluk tubuh Abi Hamdan dengan erat.
"Perlu ambulan nggak, Pak? Kebetulan aku punya nomor ambulan rumah sakit tadi." Mami Yeri menawarkan. Dia duduk di depan, di samping sopir taksi.
"Boleh, Bu." Abi Hamdan menganggukkan kepalanya.
Mami Yeri pun segera mengambil ponselnya di dalam tas emasnya, kemudian menghubungi ambulan.
*
*
30 menit kemudian, mobil berwarna telor asin itu akhirnya sampai dipinggir jalan depan rumah Abi Hamdan.
Pria tua itu pun segera turun bersama Robert yang digendong, kemudian berlari cepat masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Mami Yeri langsung membayar ongkos taksi terlebih dahulu. Setelah itu barulah dia turun dan mengejar besannya.
__ADS_1
"Umi! Apa Umi baik-baik saja?!"
Umi Maryam dan Syifa yang berada di dapur sedang memotong sayuran sontak dikejutkan karena mendengar suara bariton secara tiba-tiba, dan datang bersamaan dengan derap langkah yang cepat.
Umi Maryam pun langsung menoleh, dan dia mengerutkan keningnya kala suaminya itu tiba-tiba menyentuh lehernya dengan wajah panik serta bercucuran keringat.
Robert yang berada dalam gendongan Abi Hamdan pun mengikuti, menyentuh leher sang Oma yang tertutup kerudung instan berwarna merah.
"Umi nggak apa-apa? Apa tenggorokan Umi sakit?" tanya Abi Hamdan dengan penuh kecemasan.
"Apa Oma sesak napas?" tanya Robert yang sama paniknya.
"Eng ...."
"Pak Hamdan! Mobil ambulannya sudah datang!" Mami Yeri menyeru, suaranya terdengar jauh namun lantang.
"Ambulan? Mau apa ada ambulan segala, Bi?" tanya Syifa yang baru saja mengangkat bokongnya dari kursi.
Dia tampak takut, tapi takutnya bukan lantaran mendengar mobil ambulan. Tapi mendengar suara Mami Yeri. Sebab takutnya jika wanita itu akan mengajaknya kembali memeriksa kandungan.
Abi Hamdan sama sekali tak menjawab pertanyaan dari anaknya. Dia malah langsung menurunkan tubuh Robert kemudian berpindah untuk mengangkat tubuh Umi Maryam.
"Abi! Abi mau bawa Umi ke mana?" tanya Syifa yang tampak bingung.
Robert pun menarik tangan Syifa, untuk ikut bersamanya mengejar Opa dan Omanya. Tapi perempuan itu justru menggelengkan kepalanya, sambil menepis pelan tangannya.
"Kamu duluan saja, Nak, nanti Mommy nyusul."
"Oh ya sudah." Robert mengangguk, dia pun langsung berlari meninggalkan Syifa keluar dari dapur.
"Abi! Kita mau ngapain?" Umi Maryam benar-benar kaget dan bingung, ketika suaminya itu hendak memasukkannya ke dalam mobil ambulan. Dan ada sopir ambulan juga yang membantu membuka pintu.
"Umi harus dibawa ke rumah sakit. Takutnya kunci yang Umi telan berdampak buruk diperut Umi," sahut Abi Hamdan dengan cemas.
"Kunci? Kunci apa?" Kedua tangan Umi Maryam menahan sisi pintu mobil ambulan. Supaya menghentikan suaminya yang hampir memasukkannya ke dalam sana.
"Kunci kamar. Umi habis menelan kunci kamar, kan?"
Apa yang Abi Hamdan ucapkan bertepatan dengan Joe yang baru saja turun dari mobilnya, dia sudah sampai. Tapi sepertinya telat, sebab Abi Hamdan dan Umi sudah dipertemukan serta membahas masalah kunci.
__ADS_1
"Siapa yang menelan kunci kamar? Enggak, Bi!" bantah Umi Maryam dengan gelengan kepala.
"Tapi kata Joe ... Ibu habis menelan kunci," sahut Mami Yeri sambil menatap heran Joe yang sudah terlihat panas dingin di depan mobil.
"Enggak kok, Bu, aku—"
"Mami dan Abi salah paham!" sela Joe cepat.
"Salah paham gimana?" Abi Hamdan langsung menoleh, kedua manik matanya pun menyorot tajam menantunya. "Di rumah sakit kamu bilang Umi menelan kunci, Jon! Sedangkan Umi mengatakan dia nggak nelan kunci."
"Siapa, siapa yang mengatakan Umi menelan kunci, Bi?" kata Joe mencoba meluruskan, meskipun masalah ini memang sudah terlihat makin runyam. "Aku sama sekali nggak bilang Umi menelan kunci. Yang bilang kayak gitu justru Robert." Matanya menatap sang anak.
Bukan maksud melemparkan masalah kepada anaknya. Tapi memang benar Robert lah yang bilang Umi Maryam menelan kunci. Sedangkan Joe hanya mengatakan kuncinya tertelan.
"Kok jadi Robert?" Bocah laki-laki itu menunjuk wajahnya sendiri dengan raut bingung. "Kan Daddy sendiri yang bilang Oma terkunci di dalam kamar. Sedang Oma pegang kunci tapi tertelan. Jadi maksudnya, Oma Maryam menelan kuncinya, kan?" Ucapan Joe sudah Robert bolak balik, sehingga bisa disimpulkan dengan apa yang dia katakan tadi.
"Kuncinya tertelan bukan Oma yang menelan. Tapi maksudnya terjatuh dan hilang, Rob," jelas Joe. Namun nyatanya, apa yang dia katakan itu membuat orang-orang di sana makin bingung jadinya. Sebab alasan Joe makin tak masuk akal dan malah menambah beban masalah.
"Tapi Umi nggak terkunci di dalam kamar, Jor." Umi Maryam membantah apa yang dikatakan menantunya itu. Dan jawabannya itu bisa saja akan menjadi boomerang untuk Joe.
"Jadi kamu berbohong, Joe?" tuduh Mami Yeri dengan rahang yang mengeras. Dia pun melangkah cepat mendekati anaknya.
Joe sontak terbelalak. Secepatnya dia pun menggelengkan kepalanya.
"Itu buktinya Bu Maryam bilang nggak terkunci dikamar! Apalagi menelan kunci kamar!" sarkas Mami Yeri yang sudah mulai tersulut emosi. "Terus alasan Syifa pulang tanpa pamit ke Mami itu apa? Sampai nggak jadi periksa kandungan!" tambahnya yang langsung membahas masalah tadi. Yang sebenarnya itulah poin utama permasalahan Joe.
"Periksa kandungan?" Abi Hamdan mengulang ucapan Mami Yeri. Dia pun akhirnya tak jadi memasukkan istrinya ke dalam mobil ambulan.Tubuh istrinya pun perlahan diturunkan, dan kedua kakinya kini melangkah menghampiri sang menantu dengan raut bingung.
"Itu benar, Pak." Mami Yeri menimpali, lalu menatap besannya. "Tadi aku sempat mengajak Syifa ke dokter kandungan. Tapi tiba-tiba dia pulang dan kata Joe karena Uminya terkunci di kamar serta menelan kunci," tambahnya menjelaskan.
Abi Hamdan langsung menyergap bahu Joe dengan cepat. Dilihat sekarang pria bermata sipit itu sudah bercucuran keringat, dari wajah hingga leher putihnya. Dia juga terlihat susah payah menelan ludahnya.
Ekspresi serta sikap yang ditunjukkan pria itu makin membuat orang-orang di sana bertanya-tanya. Dan tanpa disadari, beberapa tetangga disekitar rumah Abi Hamdan pun berkerumun, ikut menyaksikan apa yang terjadi.
"Ada apa sebenarnya, Jon?" tanya Abi Hamdan dengan mata melotot.
"A-aku ...."
...----------------...
__ADS_1
...Udah jujur aja Om🤣 nggak usah takut, paling nanti kena amukan aja 😂...