
Setelah Abi Hamdan dipindahkan pada ruang perawatan khusus VIP, keempat orang itu pun langsung menemaninya.
Syifa, Joe dan Robert juga berencana ingin ikut menginap malam ini, karena tak mungkin juga mereka membiarkan Umi Maryam seorang diri menunggu suaminya yang belum sadarkan diri.
"Mommy! Robert kepengen buka hadiah lomba ini bareng Mommy!" pinta Robert yang menghampiri Syifa di sofa sambil membawa kotak hadiah.
Perempuan itu tengah duduk bersama Umi Maryam sambil makan beberapa potong buah apel. Sedangkan Joe sendiri ada di kasur lantai, di samping ranjang mertuanya. Pria tampan bermata sipit itu sudah tertidur pulas di sana. Sepertinya dia kecapekan.
"Ayok kita buka, Nak!" sahut Syifa dengan semangat lalu mengambil kotak kado tersebut, kemudian mengangkat tubuh anaknya untuk duduk di atas sofa bersama.
Mereka pun lantas membukanya bersama dengan hati-hati. Dan saat melihat isi hadiahnya ternyata itu adalah sebuah laptop. Ada secarik kertas juga di sana, yang bertuliskan.
'Laptop ini untuk belajar, ya, Sayang. Supaya kamu makin rajin dan pintar'
Namun, terlihat wajah Robert tak bereaksi apa-apa. Senang tidak, kecewa pun tidak. Benar-benar datar.
"Wih ... laptop, Nak! Ini bagus banget." Syifa lah yang justru sumringah. "Ada suratnya juga. Tapi siapa kira-kira yang nulis, ya?"
"Mommy suka nggak? Sama laptop ini?" tanya Robert.
__ADS_1
"Lho, harusnya Mommy yang tanya kamu, Nak." Syifa menatap heran pada sang anak. "Kamu suka nggak? Kok kamu kelihatan biasa saja?"
"Robert biasa saja karena Robert udah punya laptop di rumah, Mom. Bahkan dapat hadiah laptop pas ulang tahun dari Opa Paul saja belum dibuka sama sekali kardusnya. Jadi kayaknya ini juga nggak bakal kepake."
"Oh gitu. Pantes kamu biasa saja." Tidak heran juga, karena memang Robert terlahir dari keluarga kaya yang apa-apa pasti serba ada. Apalagi dia adalah cucu pertama. "Tapi namanya hadiah ... harus tetap disyukuri, Nak. Nanti kita belajar, ya, dengan laptop ini. Supaya kepake dan kamu makin pintar."
"Setuju!!" Robert mengangguk cepat lalu memeluk tubuh Syifa. Kedua sudut bibirnya langsung terangkat dengan raut senang.
*
*
*
Abi Hamdan pun mengerjap-ngerjapkan matanya secara perlahan, lalu menatap ruangan yang menurutnya asing.
Wajah dan hidungnya masih terpasang ventilator oksigen. Dokter sendiri belum berani melepaskannya, kalau memang dia bernapas belum benar-benar stabil.
"Alhamdulillah ... akhirnya Abi sudah sadar," ucap Umi Maryam yang berada di sofa. Lantas dia pun berdiri dan melangkah mendekati suaminya.
__ADS_1
"A ... Abi di-dimana, Um-mi?" tanyanya dengan napas tersendat. Dia juga langsung menyentuh dada.
"Rumah sakit, Bi." Umi Maryam menarik kursi kecil di dekat ranjang, lalu mengenggam tangan kanan suaminya. "Apa dada Abi sakit? Dan sesak? Kalau iya ... jangan terlalu dipaksakan untuk bicara, Bi."
"Se-sedikit, Um-mi," jawabnya sambil mengangguk pelan. "Syi-fa, Ron-Robert sama Jo-jon, ke man-na?" tambahnya yang melihat di dalam kamar inap hanya Umi Maryam seorang diri.
"Joe ke kantor, Bi. Kalau Syifa lagi antar Robert ke mini market depan."
"Oohh ...." Abi Hamdan hanya mendesaah, lalu mengerjapkan mata.
"Sebentar ya, Bi." Umi Maryam berdiri, lalu mencium takzim punggung tangan suaminya. "Umi panggilkan dokter dulu. Abi juga musti sarapan, karena udah pingsan semalaman. Pasti laper."
Abi Hamdan hanya menjawab dengan anggukan kepala, lalu menatap punggung istrinya yang sudah menghilang dari balik pintu.
'Kok bisa aku pingsan, sampai dibawa ke rumah sakit segala?' batinnya bertanya. Abi Hamdan pun terdiam sejenak, sembari mengingat-ingat momen yang sepertinya sempat terlupakan. Saat sudah ingat, justru dia terlihat membulatkan mata. 'Ya Allah ... bisa-bisanya aku pingsan pas penyerahan hadiah mobil? Dadaku juga sesak banget. Tapi jujur ... aku benar-benar terkejut dan nggak nyangka, kalau aku dapat dompres. Padahal, yang awalnya kepengen dapat hadiah mobil 'kan si Robert.'
Abi Hamdan pun seketika teringat, saat momen dimana dia mengajari Robert untuk latihan lomba. Bocah itu sangat bersemangat kala itu, karena terus menyebut jika hadiah yang dapat dia raih nanti adalah sebuah mobil.
'Kasihan si Robert. Ternyata dia nggak dapat mobil dari hadiah. Mungkin karena faktor masih kecil ... mangkanya para panitia nggak memberikan hadiah mobil itu. Eh tapi ... bagaimana kalau kuberikan saja mobil itu padanya? Untuknya? Pasti dia senang banget, kan?' Entah ada ide darimana, sehingga Abi Hamdan berpikir seperti itu.
__ADS_1
...Baik amat, Bi 🤧...