
Warna merah pada tongkat bisbolnya sudah agak memudar, berganti dengan kulitnya yang putih. Akan tetapi, belum sepenuhnya kering dan sepertinya belum siap tempur.
Hanya saja, sang pemiliknya itu sudah tak tahan. Mungkin efek lama menduda.
Terdengar konyol memang, akan ide yang Joe katakan. Tapi hanya itulah jalan satu-satunya, setidaknya sudah berusaha. Siapa tahu memang benar, benih Joe lah yang super dan bisa menghasilkan anak. Ketimbang benih milik Beni.
"Bapak mau apa?! Aku nggak mau!" teriak Syifa dengan lantang. Joe yang tengah duduk langsung dia dorong hingga membuat pria itu terjungkal. "Jangan per*kosa aku, Pak! Aku nggak mau!" Syifa jadi berhisteris dan bangun sambil memeluk lutut.
"Dibilangin bukan per*kosa. Kamu ini gimana, sih, Yang. Masa nggak ngerti. Itu 'kan hubungan wajib bagi suami istri dalam Islam." Joe terkekeh. Perlahan dia pun berdiri sambil menarik sarungnya yang melorot, kemudian melangkah menghampiri Syifa.
"Pokoknya aku nggak mau! Jangan paksa aku, Pak!" teriak Syifa dengan wajah ketakutan.
"Jojon! Apa yang kau lakukan?!" Terdengar suara bariton seseorang yang baru saja datang membuka pintu. Orang tersebut adalah Abi Hamdan. Dia datang bersama istrinya, dan langsung berlari menghampiri lalu mencekal pergelangan tangan Joe. "Syifa masih sakit dan mengalami trauma! Bisa-bisanya kamu nggak tahan ingin mengajaknya bercinta, di mana akal sehatmu, Jon?" bentaknya marah.
Sebenarnya Abi Hamdan tak tahu menahu dengan percakapan antara Joe dan Syifa, dia sendiri baru datang dan tidak sempat menguping.
Abi Hamdan berbicara seperti itu hanya menebak. Tapi anehnya, justru tebakannya tepat sasaran. Mungkin dikarenakan melihat sarung Joe terlepas.
"Kamu harusnya sabar dulu, Joe. Lagian ini 'kan di rumah sakit," tegur Umi Maryam. Berbeda dengan Abi Hamdan, suaranya jauh lebih lembut.
"Tapi ini semua—"
"Usir Pak Joe dari sini, Bi!" seru Syifa cepat. Yang memotong ucapan Joe. "Aku nggak mau melihat wajahnya!" tambahnya dan langsung memeluk tubuh Abi Hamdan dengan erat. Seolah meminta pertolongan padanya.
"Sayang, kamu nggak boleh mengusirku seperti itu. Aku 'kan—"
"Pergi!!" jerit Syifa kencang.
__ADS_1
"Jon! Keluar sekarang!" perintah Abi Hamdan dengan jari telunjuk yang mengarah pada pintu.
Umi Maryam pun langsung menarik lengan Joe, kemudian membawa keluar dari sana.
"Joe, tolong mengerti dengan keadaan Syifa. Dia masih terguncang. Harusnya kamu sabar dulu dan tunggu dia baikan," tegur Umi Maryam menasehati.
"Maaf, Umi," jawab Joe pelan dengan wajah bersalah. "Sebenarnya bukan aku nggak sabar, aku hanya menawari ide saja kepada Syifa."
"Ide apa? Tapi kok Syifa terlihat ketakutan gitu?"
"Aku pernah baca buku, katanya kalau kita sedang bersedih ... bercinta adalah solusinya," jawab Joe yang hanya mengarang saja.
"Ngarang aja kamu, Joe," cicit Umi Maryam lalu geleng-geleng kepala. "Di mana-mana kalau bersedih itu kita mengingat Allah. Itu baru masuk akal. Kalau bercinta sih itu mah maunya kamu saja kali," kekehnya.
"Ya aku kira memang membantu. Ya bagaimana, sih, namanya pengantin baru. Umi pasti mengertilah." Joe mengusap tengkuknya. Wajahnya pun seketika memerah dan dia jadi salah tingkah sendiri.
"Sayang. Malah benget, Umi. Maka dari itu aku minta maaf, karena aku kira itu membantunya. Padahal ternyata nggak," sesalnya sambil tersenyum kecil.
"Ya sudah, sekarang kamu ngopi atau pergi kerja saja. Biar Syifa ... Umi dan Abi yang jaga." Umi Maryam tersenyum, lalu menepuk pelan pundak kanan Joe.
"Iya, Umi." Joe mengangguk patuh. Kemudian menatap Umi Maryam yang masuk ke dalam sana. "Ah, ternyata Syifa nggak tertarik dengan ideku. Malah dia ketakutan," gumam Joe sambil merengut. Dia mundur beberapa langkah menuju kursi panjang, lalu merapihkan sarung dan perlahan duduk pada salah satu kursi tersebut.
"Haaahh ...." Joe menghembuskan napasnya dengan berat, kemudian menyenderkan punggungnya pada penyangga kursi. Tiba-tiba, dia pun teringat dengan wajah Syifa yang begitu ketakutan saat melihat dirinya membuka sarung. "Kalau takut begitu ... bisa-bisa aku nggak akan bisa melakukan malam pertama sama dia, dong. Dan terus ... kapan Syifa hamil anakku? Padahal ini 'kan penting, buat Mami dan Papi. Kalau aku ketahuan bohong ... bisa bahaya."
Bukan hanya penting karena kebohongan atas Syifa yang dia katakan hamil. Tapi Joe sebagai pria normal tentunya menginginkannya. Sudah lama Joe berpuasa dan menjalani hidupnya sendiri.
"Aku musti cari cara, supaya trauma Syifa cepat hilang. Tapi ... bagaimana kira-kira?" Joe mengusap-usap dahinya, mencoba berpikir keras. Namun, tiba-tiba saja dia teringat tentang hasil visum yang Umi katakan semalam. "Oh iya. Aku harus melihatnya lebih dulu tentang hasil visum itu. Ini juga berbahaya, kalau sampai semua orang tau jika Syifa terbukti diperko*sa."
__ADS_1
Joe langsung berdiri, kemudian berlari menuju resepsionis. Dia hendak bertanya, sebab tak tahu di mana hasil visum itu berhasil dia dapatkan.
"Permisi, Bu," ucap Joe pada seorang wanita bersanggul yang berdiri di depan sana. Dia memakai jas berwarna putih.
"Iya, Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah dan tersenyum.
"Kemarin malam ... istriku melakukan visum. Dan kata Dokter, hasilnya keluar hari ini. Jadi aku ingin mengambil hasil itu, Bu, tapi kira-kira di mana, ya?"
"Nama istri Bapak siapa? Biar saya cek dulu." Wanita itu menunjuk ke arah monitor kompetisi di depannya.
"Syifa Sonjaya."
Wanita tersebut langsung mengetik pada keyboardnya. "Nama walinya siapa, Pak?"
"Hamdan Sonjaya."
Wanita itu kembali mengetik, kemudian menatap ke arah Joe. "Bisa perlihatkan KTP-nya, Pak?"
"KTP siapa, Bu?"
"KTP Bapak."
"Oh. Oke." Joe merogoh ke dalam saku jas, kemudian mengambil KTP di dalam dompet lalu memperlihatkan kepada wanita di depannya.
"Hasilnya sudah keluar, malah sudah diambil, Pak," jawab wanita itu saat sudah berhasil menemukan apa yang dia cari pada informasi di komputernya.
"Sudah diambil?!" Joe tampak terkejut mendengarnya. "Siapa yang mengambilnya, Bu? Apa Umi Maryam?"
__ADS_1
...Kasihan deh, keduluan orang 🤣...