
"Papi benar juga." Mami Yeri mengangguki ucapan sang suami, lalu menarik tangan Syifa. "Ayok, Fa. Kita ke dokter kandungan, siapa tau jenis kelamin dan jumlah cucu kedua Mami sudah terlihat sekarang."
Syifa mencoba menahan kakinya. "Tapi, Mi, bagaimana dengan kondisi A—"
"Maaf ... Pak, Bu, Nona," sela Dokter itu cepat. Dan yang mana mampu menghentikan langkah kaki dari kedua orang tua itu. "Jadi ini kalian ingin mendengar bagaimana kondisi Pak Joe atau tidak? Kok langsung mau pergi begitu saja?" tanyanya dengan heran.
"Lho, bukannya aku sudah menebaknya tadi, Dok. Kalau si Joe keracunan," ujar Papi Paul.
"Saya tidak mengatakan Pak Joe keracunan, Pak." Dokter menggelengkan kepalanya.
"Terus apa dong, Dok?!" Mami Yeri tampak mulai kesal, sebab dokter itu sejak tadi begitu bertele-tele sekali ingin menyampaikannya. "Jelaskan langsung saja. Biar kami semua langsung tau."
"Kemungkinan Pak Joe mengalami kehamilan simpatik, Bu, atau sindrom couvade," jelas Dokter itu.
"Apa itu kehamilan simpatik?" Papi Paul mengerutkan keningnya. Kalimat itu tampak asing dalam pendengarannya, karena dia sendiri belum pernah merasakannya.
"Lebih mudah kita menyebut kalau Pak Joe mengalami ngidam, Pak. Dan kita sendiri tau, ngidam itu nggak melulu tentang menginginkan sesuatu, tapi bisa jadi karena mual dan muntah."
"Lho, yang benar saja, Dok." Papi Paul tiba-tiba bergelak tawa. Entahlah, menurut dia mungkin lucu. "Nggak mungkin Joe ngidam. Kan yang hamil istrinya. Aneh tau, Dok."
"Itu memang benar, Pak. Kehamilan simpatik biasanya dialami suami saat kehamilan istri berada di trimester pertama dan ketiga. Apalagi istrinya tadi mengatakan kalau dia hamil 3 bulan lebih, jadi itu bisa terjadi," jelas Dokter itu.
"Tapi aku baru denger ... kalau suami bisa ngidam. Mungkin Dokter salah kali." Papi Paul tampaknya masih belum percaya.
"Kalau memang Bapak tidak percaya dengan ucapan saya ... Bapak bisa tanyakan langsung ke dokter kandungan. Nanti Pak Joe sekalian ikut saja pas istrinya mau periksa kandungan, Pak," saran Dokter itu.
"Sekarang Aanya udah bangun belum, Dok? Udah nggak pingsan lagi dia?" tanya Syifa penasaran.
"Pak Joe sudah bangun dari pingsannya, Nona." Dokter mengangguk. "Tapi sebaiknya Pak Joe pakai kursi roda dulu, kalau ingin membawanya ke ruang kandungan. Karena takutnya dia pingsan lagi."
__ADS_1
"Perlu dirawat nggak, Dok? Si Joe?" tanya Mami Yeri yang kembali terlihat khawatir. "Kalau kondisinya memang masih lemah ... Joe biar dirawat saja, nggak apa-apa, Dok."
"Iya, Bu. Pak Joe memang harus dirawat dulu mulai malam ini. Karena dia juga perlu diinfus supaya tubuhnya kembali fit."
*
*
*
Setelah mendengar penuturan dari sang dokter, mereka pun akhirnya menurutinya.
Joe kini sudah dibawa oleh Papi Paul di atas kursi roda, sedangkan Mami Yeri sendiri membawa kantong infusan anaknya, karena pria itu ternyata langsung diinfus.
Syifa berada di samping Joe, dan mereka semua menuju ruangan dokter kandungan untuk mendaftar.
Selain Papi Paul belum terlalu yakin kalau anaknya mengalami kehamilan simpatik, dia juga ingin tahu sekali dengan kondisi calon cucunya yang masih di dalam perut.
Joe mengangguk pelan. "Iya, Pi. Tapi mungkin beda-beda, Pi. Nggak apa-apa, yang terpenting Syifa dan adiknya Robert selalu sehat." Dia pun menyunggingkan senyuman tipis, saat Syifa mengenggam tangannya.
"Aa juga harus sehat. Aku dan adiknya Robert tentu nggak mau lihat Aa sakit," ucap Syifa dengan raut sedih, lalu mengusap perutnya.
"Nanti juga sembuh, Fa. Tenang saja." Mami Yeri langsung merangkul bahu menantunya, lalu mengusapnya perlahan. Mencoba untuk menenangkannya.
*
*
Setelah beberapa menit menunggu antrian, akhirnya nama Syifa pun dipanggil untuk masuk. Tapi syukurlah, kali ini Mami Yeri dan Papi Paul diizinkan ikut masuk juga.
__ADS_1
Itu semua karena dari pihak dokter di UGD tadi sudah mengatakan pada dokter kandungan, untuk memeriksakan kondisi Joe demi memastikan kedua orangnya yang masih terlihat ragukan ucapannya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Papi Paul penasaran, saat melihat Dokter wanita berambut pendek yang telah selesai memeriksa kondisi Joe.
"Pak Joe memang mengalami kehamilan simpatik, Pak. Itu benar." Dokter itu mengangguk.
"Jadi memang benar, ya, apa yang dikatakan Dokter di UGD tadi." Sekarang, barulah Papi Paul dan istrinya percaya. "Tapi bisa diobatin nggak, ya, Dok?" tambahnya kemudian.
"Diobatin gimana maksudnya, Pak?" Dokter itu menatap wajah Papi Paul dengan raut bingung. Tampaknya dia tak paham dari pertanyaan pria tua tersebut.
"Supaya Joe nggak lagi mengalami kehamilan simpatik. Ada pengobatannya, nggak? Seperti disuruh minum obat secara rutin atau ramuan?"
"Sejauh yang saya tau sih tidak ada, Pak." Dokter itu menggelengkan kepalanya. "Kehamilan simpatik itu 'kan berhubungan dengan seorang istri yang tengah hamil. Yang dialami dari semester pertama dan ketiga. Jadi di sini bisa jadi kalau sudah lewat semester ketiga ... Pak Joe akan sembuh dari kehamilan simpatiknya, sampai anaknya lahir. Dan nggak perlu diobati, karena akan sembuh sendiri.'
"Kalau semisalnya dia mengalami mual, muntah dan sakit kepala lagi ... tinggal berikan saja obat untuk penanganan penyakitnya. Tapi tentu dengan anjuran dokter juga. Begitu saja," tambah Dokter itu menjelaskan.
"Baik, Dok, terima kasih. Sekarang aku sudah paham." Papi Paul mengangguk, lalu menatap istrinya dan perempuan itu ikut menganggukkan kepalanya.
"Sekarang tolong USG menantuku, Dok. Aku mau lihat jenis kelamin dan isinya," pinta Mami Yeri.
Dia dan suami langsung membantu Joe untuk turun dari tempat tidur, lalu mendudukkan kembali ke atas kursi roda. Barulah setelah itu, Syifa berbaring. Dan sekarang giliran Syifa lah yang akan diperiksa.
"Tuhan Yesus ... semoga cucuku kembar. Empat, tiga atau dua. Dan dia berjenis kelamin perempuan karena aku sangat ingin mempunyai cucu perempuan." Mami Yeri sudah memejamkan mata sambil terus berucap do'a.
Suaminya yang berada di sampingnya pun melakukan hal yang demikian juga.
"Benar Tuhan Yesus ... tolong hadirkan kami cucu kembar. Biar nanti aku dan besanku nggak akan rebutan setiap kali mengendongnya. Karena besanku itu orangnya menyebalkan dan egois, maunya menang sendiri. Nggak pernah mengalah padaku meskipun dia punya salah," kata Papi Paul yang diakhir ucapannya dia justru menggerutu, lantaran teringat dengan sikap dan perilaku besannya.
"Alhamdulillah, Pak, Bu ... ternyata cucu kalian berjenis kelamin perempuan. Hanya saja ...." Ucapan Dokter seketika menggantung begitu saja, dan itu membuat kedua orang tua Joe membuka matanya lantaran penasaran.
__ADS_1
"Hanya saja apa, Dok?" tanya keduanya sembari menatap layar USG.
...Jangan lupa vote dan hadiahnya, Guys, seperti biasa dihari Senin. Biar up-nya rutin🙏...