Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
50. Menuduh tanpa bukti


__ADS_3

"Oma ... di mana Daddy dan Mommy?" tanya Robert pada Umi Maryam, yang duduk sambil menatap Ustad yang tengah bertausiah.


Umi Maryam langsung menoleh, dan menutup mulut Robert ketika sang cucu baru saja menguap. Bola mata bocah itu terlihat sangat merah. "Mommy dan Daddymu ada di kamar, Nak. Kamu ngantuk, ya? Apa mau tidur sekarang?" Dia menarik tubuh Robert untuk lebih dekat.


"Iya, Oma." Bocah itu mengangguk, lalu mengucek kedua matanya dan naik ke atas pangkuan Umi Maryam. Perlahan dia menyandar.


"Tapi Oma nggak bisa cara naik lift dan nggak tau juga di mana kamar Mommy dan Daddymu, Nak." Umi Maryam lantas berdiri sambil mengendong cucunya, dilihat bocah itu sangat lesu. Matanya pun begitu sayup. "Kita cari Opamu saja, ya, Nak, biar dia yang mengantarkanmu." Umi Maryam menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari keberadaan Papi Paul. Tapi tak lama, Mami Yeri datang menghampirinya.


"Lho, pantes dicari-cari nggak ketemu. Ternyata Robert ada di sini dan udah tidur rupanya," kata Mami Yeri yang melihat sang cucu tertidur pada gendongan Umi Maryam. Segera, dia pun mengambilnya untuk dia gendong.


"Iya, Bu." Umi Maryam mengangguk. "Sepertinya Robert capek. Tadinya mau saya antar ke kamarnya Joe dan Syifa. Tapi saya nggak tau kamarnya dan nggak bisa cara naik lift," tambahnya memberitahu.


"Oh. Iya nggak apa-apa, Bu," jawab Mami Yeri tersenyum. "Biar saya yang membawa Robert, kebetulan dia mau tidur dengan saya dan Opanya."


"Iya, Bu."


"Bu Maryam mau sekalian ikut nggak?" ajak Mami Yeri. "Soalnya saya nggak akan balik lagi ke pesta, mau langsung istirahat saja bareng Robert."


Sebenarnya acara resepsi itu masih sangat ramai, begitu pun dengan para tamu yang masih sibuk menyantap hidangan.


Namun, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam, ditambah rasa kantuk yang melanda—Mami Yeri pun memutuskan ingin langsung istirahat saja.


Biarkan suaminya dan kerabatnya saja yang menunggu pesta itu sampai usai. Sebab Papi Paul sendiri lebih kuat begadang ketimbang dirinya.


"Saya ikut Ibu mau ngapain?" Umi Maryam tampak bingung dengan ajakan dari besannya.

__ADS_1


"Ya istirahat ke kamar. Saya pegang kunci kamar untuk kita. Tadi dikasih sama Sandi, Bu."


"Oh. Tapi Ibu duluan saja deh, saya nanti ke kamarnya bareng Abinya Syifa." Umi Maryam sebenarnya lelah juga, ingin istirahat. Tapi jika meninggalkan suaminya. Dia tentu merasa tak enak.


"Oh ya sudah kalau begitu. Ini kuncinya Ibu pegang saja, ya." Mami Yeri merogoh tasnya, lalu memberikan card sistem ke tangan Umi Maryam.


"Kok kuncinya bentuknya kayak begini, Bu? Ini kayak kartu." Wanita berhijab pashminah berwarna putih itu membolak-balikkan benda tersebut di tangannya, dia tampak heran.


"Memang begitu kuncinya, Bu. Ya sudah, ya," pamit Mami Yeri, kemudian tersenyum dan melangkah pergi meninggalkan Umi Maryam.


"Iya."


***


Seorang pria paruh berlari cepat masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang UGD. Dia terlihat sangat tergesa-gesa serta panik, sebab habis mendapatkan kabar jika anak bungsunya pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.


Pria itu adalah Pak Haji Samsul. Dengan napas yang masih tersengal, dia langsung mencecar beberapa pertanyaan pada Ustad Yunus yang duduk menunggu pada kursi panjang bersama Sandi.


"Fahmi masih ditangani Dokter, Pak Haji," jawab Ustad Yunus. "Tapi saya nggak tau awalnya kenapa dia terkunci sampai pingsan di toilet, Pak."


"Kok bisa nggak tau? Kan Ustad yang membawa Fahmi ke rumah sakit!" Pak Haji Samsul terlihat tak percaya dan juga kesal. Sungguh, otaknya kini tak bisa berpikir jernih. Dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada anak kesayangannya itu. "Kalau Fahmi sampai kenapa-kenapa terus siapa yang mau tanggung jawab?!" tambahnya dengan mata yang agak melotot.


"Memang benar saya nggak tau, Pak." Ustad Yunus jujur apa adanya, lantas dia pun mulai menjelaskan. "Awal saya tau Fahmi pingsan dan terkunci di toilet itu karena tadinya saya ingin buang hajat. Kebetulan toilet semuanya penuh dan banyak yang mengantre. Tapi hanya ada satu bilik toilet yang nggak keluar-keluar orangnya. Merasa penasaran ... saya akhirnya mengetuk-ngetuk pintunya. Tapi nggak dijawab, dan pas saya putar gagang pintunya ... ternyata ada kuncinya dari luar dan terkunci juga. Kemudian ... saya membuka kuncinya serta pintunya dan saat itu ... barulah saya tau ternyata di dalam sana ada Fahmi, tapi dia sudah tak sadarkan diri."


"Ini pasti ada yang ngerjain si Fahmi," tebak Pak Haji Samsul dengan kedua tangan yang tampak mengepal kuat. "Oh ... pasti si Jojon ini. Ya, kerjaan menantu Chinanya Ustad Hamdan."

__ADS_1


"Nggak mungkin, Pak," bantah Sandi seraya berdiri. Begitu pun dengan Ustad Yunus.


"Kenapa bisa nggak mungkin?" Pria tua itu menatap tajam Sandi dengan kedua rahang yang tampak mengeras. "Cuma dia satu-satunya orang di dunia ini yang nggak suka sama Fahmi. Jadi pasti dia pelakunya," tambahnya dengan nada sombong.


"Bapak nggak boleh su'uzan," tegur Ustad Yunus menasehati. "Ini sama saja menjadi fitnah kalau menuduh tanpa ada bukti."


"Tapi selama ini Ustad Yunus juga pasti tau. Bagaimana sikap Jojon yang sok sama Fahmi, dia bahkan berani menonjok Fahmi di depanku."


"Pak Jonathan bukan orang yang sok, dan dia nggak mungkin melakukan hal itu," bantah Sandi yang membela. Selain karena pria itu adalah bosnya, dia juga tentu tahu bagaimana sifatnya. Joe adalah pribadi yang baik.


"Kamu bilang seperti itu karena dia bosmu. Jadi wajar kalau membela." Pak Haji Samsul menggertakkan giginya sambil geleng-geleng kepala. Terlihat jelas, dia sangat yakin jika pria itu pelakunya. "Padahal, niat Fahmi datang ke pestanya adalah untuk menghargai Ustad Hamdan. Tapi bisa-bisanya ... menantunya yang hobi makan daging babi itu bersikap tidak berperikemanusiaan. Benar-benar ...." Belum sempat Pak Haji Samsul menyelesaikan ucapannya, tapi tiba-tiba pintu ruang UGD itu dibuka.


Ceklek~


Keluarlah seorang Dokter pria berkacamata bersama Fahmi yang tengah menyentuh perutnya sendiri. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan kedua bola mata yang berair.


"Fahmi! Apa kamu nggak kenapa-kenapa, kan?!" Segera, Pak Haji Samsul melangkah maju, mendekat ke arah anaknya. Dia juga langsung merangkul bahunya sebab cara berdiri Fahmi terlihat sedikit goyang. Khawatir kalau sampai jatuh.


"Perutku sakit banget, Pa. Nggak kuat rasanya," lirih Fahmi sambil meringis kesakitan.


"Heh! Ambilkan kursi roda! Cepat!" Pak Haji Samsul memerintah kepada Sandi. Sebenarnya meminta tolong, tapi sambil berteriak.


"Iya, Pak." Sandi bergegas pergi dari sana untuk mencarikan Fahmi kursi roda. Dan tak berselang lama, setelah berhasil mendapatkannya, dia pun kembali.


Fahmi langsung dibantu untuk duduk di sana, tapi pria itu masih terus menyentuh perutnya sambil meringis.

__ADS_1


"Kenapa dengan Fahmi, Dok? Kenapa dengan perutnya?" tanya Pak Haji Samsul penasaran sambil menatap Dokter berkacamata.


...Kekenyangan itu dia, Pak Haji 🤣 orang maruk kok dilawan 😆...


__ADS_2