
"Mi ... Mami tenang dulu, jangan terbawa emosi," tegur Joe dengan lembut seraya meraih tangan Mami Yeri, tapi wanita tua itu langsung menepisnya secara kasar. "Aku akan jelaskan semuanya, biar Mami paham."
Wajar juga memang, Mami Yeri marah dan tak mempercayai.
Sebab diawal dia mengenalkan Syifa dan meminta restu, semuanya atas dasar kebohongan.
Satu kebohongan, bisa melahirkan beberapa kebohongan yang lain. Dan seseorang yang telah dibohongi akan sulit untuk mempercayainya lagi.
Meski Joe menganggap kebohongannya itu adalah hal kebajikan, tapi nyatanya hal tersebut mengundang pro dan kontra.
"Katakan," titah Mami Yeri malas.
"Pertama-tamanya, memang aku sempat menembak Syifa untuk jadi pacarku. Terus mengajaknya serius, Mi. Tapi saat itu, dia menolakku."
"Terus?"
"Ya dia menolak dengan alasan kita beda keyakinan. Selain itu, pas aku ketemu dengan Abinya ... dia bilang, Syifa mau dikenalkan oleh seorang pria bernama Fahmi. Dia calon Ustad, lulusan Kairo. Dan saat itu, aku perlahan mundur ... meskipun Robert sempat sedih, tapi aku berusaha meyakinkannya kalau berbeda keyakinan itu haram hukumnya untuk menikah," jelas Joe.
"Terus?"
__ADS_1
"Terus pas pulang dari kantor, aku nggak sengaja melihat Kakek tunawisma dijalan. Dia meminta air minum awalnya, dan pas aku sudah kasih ... dia malah memberikanku sebuah plastik yang awalnya aku sendiri nggak tau isinya Al-Qur'an. Dia juga mengatakan kalau benda di dalam plastik ini adalah petunjuk yang memberiku jalan untuk menikah lagi, sekaligus dia katakan kalau Robert harus cepat dibawa ke rumah sakit."
"Tunggu ... tunggu ...." Mami Yeri mengerut kening, sambil mulai mencerna sedikit demi sedikit penjelasan dari Joe. "Pas plastik itu dibuka, yang isinya Al-Qur'an ... bagaimana reaksimu?"
"Bingung, Mi."
"Bingung gimana?"
"Ya bingung, Mami pikir saja ... non muslim diberikan kitab sucinya agama lain. Itu buat apa?" Joe menarik turunkan kedua bahunya. "Dan Sandi juga pernah mengatakan ... jika non muslim itu nggak boleh membaca Al-Qur'an, kecuali kalau ada niat masuk Islam."
"Udah tau nggak boleh, terus kenapa kamu baca? Dasar bodoh!" Mami Yeri mendengkus kesal, gemas sekali rasanya kepada Joe. Dan kalau saja tidak karena sayang, kepala anaknya mungkin sudah habis-habisan dia toyor. "Harusnya, berikan saja Al-Qur'an itu kepada Sandi, jangan kamu baca, Joe!" titahnya kesal.
"Udah, Mi. Aku justru langsung memberikan kitab suci itu dihari dimana aku diberikan oleh Kakek tunawisma. Dan Sandi langsung menerimanya."
"Iya. Dia yang bawa mobil, Robert juga lagi aku gendong dan kebetulan ketiduran. Tapi anehnya, ya, Mi ... kok Sandi bilang, dia nggak lihat Kakek itu?" Joe jadi ingat momen itu, dan sampai sekarang belum menemukan alasan mengapa Sandi tak bisa melihat Kakek tunawisma.
"Maksudnya gimana?" Mami Yeri terlihat tak paham.
"Pas mobil kami berhenti dipinggir jalan, terus aku turun dan ngasih air minum ke Kakek itu ... Sandi bilang, dia nggak lihat apa-apa. Malah, katanya ... aku ngomong sendiri. Sedangkan posisi aku lagi ngobrol sama Kakek itu."
__ADS_1
"Mungkin kamu halusinasi kali, Joe. Atau ... jalanan yang kamu lewati itu ada penghuninya, jadi Kakek itu setannya."
"Setauku ... setan itu wajahnya serem, Mi. Tapi Kakek itu nggak. Dan masa sih, ada setan ngasih Al-Qur'an? Yang ada dia kepanasan."
"Tau dari mana kamu, setan wajahnya serem? Memangnya, kamu pernah melihatnya?" Mami Yeri berdecih. Lagi-lagi tak percaya dengan ucapan anaknya dan dianggap ngawur.
"Difilm, Mi."
"Sejak kapan kamu nonton film horor? Bukannya kamu penakut?"
"Nggak nonton, tapi aku sering lihat ada cuplikan adegan film yang diupload di IG dan ada setannya gitu dimunculin."
"Mungkin dia sejenis vampir kali, Joe. Kan vampir di drakor nggak serem, malah kebanyakan ganteng-ganteng," tebak Mami Yeri si pecinta drakor.
"Mana ada sih, Mi, vampir di Indonesia? Kalau pun ada, pasti salah alamat. Di Indonesia paling ada juga pocong, tuyul, nenek gayung, suster ngesot, sundel bolong, kuntilanak dan apalagi, ya?" Joe langsung terdiam, sambil mengingat-ingat nama beberapa hantu di Indonesia yang pernah dia baca lewat internet.
"Itu, Joe. Setan yang hanya kepalanya doang apa namanya? Di Indonesia bukannya ada?" Mami Yeri jadi ikut-ikutan memikirkan tentang nama hantu. Sepertinya, pembahasan mereka mulai melenceng.
"Memangnya ada, setan yang kepalanya doang?" Joe berbalik tanya dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Ada, tapi sama jeroannya juga. Itu serem banget sih, mana cewek lagi. Tapi Mami lupa namanya, coba kamu ingat-ingat, Joe," titah Mami Yeri.
...Lha, malah suruh mikirin setan 🤣 itu jadi nggak, Mi, Om Joe cerai sama Syifanya?😆...