
"Bagaimana dengan baju ini, Bu, Pak?" tanya seorang pelayan toko wanita yang baru saja membuka gorden ruang ganti.
Syifa ada di sana, dia terlihat cantik dan begitu imut mengenakan dress panjang ibu hamil dengan motif polkadot berwarna pink putih.
"Aduhhh ... ini juga lucu. Mami suka!!" Mami Yeri terlihat begitu gemas sekali, melihat apa yang Syifa kenakan. Dan hampir 10 kali dia berekspresi seperti itu, ketika Syifa mencoba beberapa pakaian yang dipilih olehnya dan suami.
"Kamu terlihat sangat manis pakai itu, Fa. Apalagi kalau perutmu udah membuncit," puji Papi Paul yang duduk di samping Mami Yeri.
"Terima kasih, Mi, Pi." Syifa tersenyum. Meskipun sebenarnya sudah mulai lelah, tapi dia tidak bisa membohongi kalau dirinya memang senang sekali diajak mertuanya belanja. Apalagi dengan perlakuan yang begitu lembut.
"Jadi baju ini kalian ambil juga atau bagaimana Pak, Bu?" tanya sang pelayan toko menatap Mami Yeri dan Papi Paul bergantian.
"Ambil dong, orang lucu," sahut Mami Yeri dengan anggukan kepala.
"Coba lagi baju yang lain, Fa, Papi mau lihat," titah Papi Paul.
"Beli baju ibu hamilnya udah cukup segitu saja, Pi, Mi, ini aja udah sepuluh. Kayaknya kebanyakan," ucap Syifa.
"Sepuluh mana cukup, Fa. Kurang lah itu," balas Mami Yeri.
"Udah banyak kok, Mi. Takutnya nanti malah mubazir." Bukan Syifa tak mau mencoba pakaian yang lain, tapi memang benar apa yang dia katakan kalau sepuluh baju baru sudah cukup banyak menurutnya.
Dan kalau boleh jujur, ini adalah momen pertama kali dalam hidupnya, membeli baju sebanyak itu.
"Nggak ada kata mubazir kalau dipakai, Fa. Lagian baju ibu hamil 'kan penting," tegur Mami Yeri.
"Udah, kamu coba sepuluh baju lagi saja, Fa, habis itu udah," saran Papi Paul.
"Jadi belinya hanya dua puluh, Pi?" Mami Yeri menatap sang suami. "Apa nggak terlalu dikit, ya? Minimal lima puluh lah, Pi."
"Udah segitu saja dulu, Mi. Kasihan Syifanya. Dia pasti capek karena terus mencoba pakaian."
"Oh ya sudah deh." Mami Yeri mengangguk setuju.
Syifa pun hanya bisa menghela napas dengan berat, lalu menutup kembali gorden ruang ganti itu dan melepaskan pakaian untuk mencoba yang lain.
*
*
*
Seusai membeli baju ibu hamil, kini mereka beralih pada toko peralatan serta perlengkapan bayi.
"Selamat siang, cari apa, Pak, Bu?" Seorang pelayan wanita menyapa mereka, saat ketiganya baru saja masuk ke dalam toko.
__ADS_1
"Aku mau beli perlengkapan dan peralatan bayi paket lengkap," ucap Papi Paul memberitahu.
"Bayinya cewek atau cowok, Pak?"
"Cewek."
"Pi, kalau misalkan aku hamilnya anak cowok bagaimana?" tanya Syifa yang terlihat ragu. Takut juga nantinya apa yang dibeli mertua menjadi mubazir lantaran anaknya ternyata berjenis kelamin laki-laki.
"Ya sudah, belinya dua saja. Perlengkapan bayi untuk cowok dan cewek," ucap Papi Paul kepada sang pelayan toko.
"Belinya jangan dua doang, Pi," tegur Mami Yeri.
"Terus berapa?" Papi Paul menoleh dengan raut bingung.
"Delapan." Mami Yeri sambil memamerkan jarinya.
"Dih, Mi! Banyak amat?" Syifa tampak terkejut mendengar angka yang Mami mertuanya sebutkan.
"Ya barangkali kamu hamilnya kembar empat cowok atau kembar empat cewek, Fa. Jadi 'kan biar enak."
"Belum tentu aku hamil kembar, Mi." Syifa menggeleng tak yakin.
"Ya berharap dulu 'kan nggak apa-apa, Fa."
"Enggak ah, Fa, Mami kepengennya belinya sekarang delapan." Mami Yeri terlihat bersikukuh.
"Aku ambil delapan peralatan dan perlengkapan bayi lengkap, Mbak. Cewek empat, cowok empat," ucap Papi Paul yang juga menyetujui permintaan istrinya.
Syifa pun akhirnya hanya bisa menghela napas. Karena ingin membantah pun tidak bisa, dan tidak berani.
'Kira-kira bawanya gimana itu? Satu perlengkapan bayi aja kayaknya banyak, apalagi delapan?' Dia jadi bertanya-tanya dalam hati. Dan pandangan matanya pun seketika tertuju pada sopir mertuanya yang berdiri pada dinding kaca
Tampak jelas pria seumuran Sandi itu kesusahan sekali, dengan menenteng beberapa belanjaan pakaian ibu hamil milik Syifa. Dan dia tidak bisa membayangkan, apakah pria itu mampu membawa apa yang sekarang kedua mertuanya itu beli?
Setelah memilih model yang menurut Mami Yeri dan Papi Paul begitu cocok, Papi Paul lantas membayarnya dengan black card yang dia punya.
"Pi ... kira-kira nanti bawa barang-barangnya gimana? Kasihan sopir Papi nantinya."
"Ngapain pusing-pusing mikirin bawa, Fa? Biar orang tokonya saja yang mengirim langsung," kekeh Papi Paul. Dia pun langsung menulis sebuah alamat pada secarik kertas yang diberikan oleh pelayan toko.
Setelah itu, mereka bertiga keluar dari sana. Syifa berada di tengah-tengah dan digandeng oleh kedua mertuanya.
"Habis dari sini ... enaknya ke mana, ya, Pi?" tanya Mami Yeri sembari berpikir.
"Tanya dulu si Syifanya, dia laper atau nggak. Kalau laper kita makan dulu, habis itu kita pergi karaokean."
__ADS_1
"Aku masih kenyang kok, Pi," jawab Syifa. "Dan mending kita langsung pulang saja. Lagian ini udah sore, takutnya Aa dan Robert nungguin aku pulang," tambahnya sambil menatap jam pada pergelangan tangan. Dan tak terasa sekali, ternyata sudah jam 4 sore.
"Karaokean dulu saja, Fa, mumpung ada di sini. Mami juga mau lihat tempat karaokeannya enak atau nggak," kata Mami Yeri.
"Tapi aku nggak bisa nyanyi, Mi." Syifa menggelengkan kepalanya.
"Kalau nggak bisa nyanyi ya nggak apa-apa, Fa. Nggak perlu nyanyi," sahut Papi Paul.
"Terus nanti aku ngapain di sana, Pi? Masa diem aja?"
"Kamu dengerin Papi dan Mami nyanyi saja. Pasti cucu Papi ingin dengar juga, suara Opa dan Omanya nyanyi. Iya, kan, Sayang?" Papi Paul sudah mengelus perut menantunya, dan seolah-olah berbicara dengan cucunya di dalam sana.
"Tapi tadi Mami udah izin sama Aa, kan? Aku takutnya Aa marah pas tau kita pulang sore atau malam." Syifa menatap ke arah mertua perempuannya.
"Iya, kamu tenang saja, Fa." Mami Yeri mengangguk, kemudian tersenyum manis dan mengusap puncak kerudung Syifa.
Tapi sebenarnya dia berbohong, mengatakan sudah menghubungi Joe. Karena sebenarnya memang belum, dan bahkan tidak akan melakukannya lantaran sengaja.
'Pasti si Joe lagi kelabakan cari Syifa ke mana. Biarin aja. Sesekali dibalas, biar dia nggak kurang ajar sama orang tua,' batin Mami Yeri dengan senyuman miring.
***
Sementara itu di tempat berbeda, Joe dan Robert terlihat mondar-mandir di ruang keluarga di rumah Papi Paul.
Apa yang mereka lakukan sekarang adalah bentuk rasa penasaran dan bingungnya, tentang Syifa yang dibawa pergi ke mana. Ingin menyusul pun tentu tidak bisa, karena Joe sendiri tak tau keberadaannya.
Mencoba menghubungi kembali kedua orang tuanya juga sama saja seperti tadi siang, yakni tidak diangkat dan tidak aktif. Bahkan sekarang, nomor Mami Yeri pun ikut tidak aktif.
"Duuuhh Rob ... Daddy bisa setres lama-lama kalau begini urusannya. Hari sudah mulai gelap dan Mommy belum pulang juga," keluh Joe dengan frustasi. Tatapan matanya begitu nanar menatap ke arah jam dinding yang menempel, di sana terlihat sudah menunjukkan pukul 7 malam.
"Kata Opa Hamdan juga, Mommy nggak ada di sana, Dad," sahut Robert yang sibuk pada ponsel Joe. Dia telah selesai menghubungi orang-orang yang menurutnya mengenal Syifa, Opa dan Omanya. Tapi sayangnya tak menemukan titik terang.
Joe juga sudah meminta tolong Sandi untuk pergi ke beberapa mall di Jakarta, tapi belum membuahkan hasil.
"Itu dia, Daddy jadi pusing, Rob. Daddy malah takut kalau misalkan Mommy diajak ke Korea sama Opa dan Oma. Kan ribet nantinya." Joe menyentuh kepalanya. Ingin rasanya dia menjambak rambut, tapi sayangnya tak ada rambut.
"Kita tunggu sampai malam saja dulu, Dad. Kalau misalkan Opa dan Oma belum membawa Mommy pulang juga ... mending kita laporkan saja ke polisi," saran Robert.
"Nanti kasusnya apa, Rob? Penculikan?"
"Iya, Dad." Robert mengangguk. "Membawa pergi tanpa izin 'kan bukannya saja seperti penculikan, ya? Dan dengan begitu mereka nggak akan ...." Ucapan Robert seketika berhenti, kala mendengar suara pintu yang dibuka sekaligus tawa renyah milik Omanya.
Joe yang juga mendengarnya langsung berlari menuju sumber suara, dan terlihat jelas jika kedua tangannya itu mengepal kuat.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1