
"Papiku namanya Paul, bukan Panjul. Mami juga namanya Yeri. bukan Yenny," sahut Joe meluruskan.
"Oh iya, maksudnya Pak Paul sama Madam Yeri."
"Ya sudah kalau kalian nggak mau, aku nggak maksa kok." Joe tersenyum miring, lalu bersedekap. "Tapi boleh aku tanya sesuatu sama kalian?"
"Apa, Pak?"
"Apa kalian punya mobil?"
"Punya." Aldi mengangguk.
"Itu 'kan mobilku, Di, bukan mobilmu," sahut Ali yang terlihat tak terima, mendengar temannya yang seolah mengaku-ngaku.
"Enak saja mobilmu." Aldi langsung menatap temannya dengan sengit.
"Memang iya, kan?"
"Tapi kita bayar angsurannya 'kan patungan. Gimana, sih? Otomatis itu mobil milik kita bersama, Al." Aldi mendengkus kesal.
"Ya harusnya kamu bilangnya itu mobil milik kita berdua, tapi kamu malah bilang itu hanya punyamu kepada Pak Jonathan. Gimana, sih, Di?" Ali terlihat sama kesalnya.
"Lha, kamu juga tadi ngomong—"
"Kok kalian jadi berantem, sih?" sergah Joe yang merasa pusing.
Otaknya sekarang begitu mumet memikirkan masalahnya, tapi bisa-bisanya di dalam situasi seperti ini—dua bodyguard-nya itu berantem hanya karena merebutkan siapakah pemilik sebuah mobil tersebut.
Padahal awalnya, Joe ingin menawarkan sebuah mobil. Barangkali keduanya itu tertarik lalu mau diajaknya kerjasama. Dia masih berusaha.
"Maaf, Pak," kata Aldi yang kembali menatap Joe. "Memangnya, ada apa, ya? Kok Bapak nanya-nanya tentang mobil?"
"Aku kebetulan punya satu mobil di rumah yang nggak kepake, kalau mau ... buat kalian saja."
"Wih ... seriusan, Pak?" Ali yang paling semangat dalam hal itu di langsung kembali menyeru. "Mereknya apa, ya, Pak?"
"Lamborghini."
"Merek mahal itu, Pak. Mau deh ... buat saya saja, ya, Pak?" pinta Ali.
"Jangan terkecoh, Al!" Kedua kali, Aldi menegur temannya. "Pak Jonathan pasti mengatakan hal itu karena kembali menawarkan kita kerjasama. Itu nggak boleh!" tambahnya menegaskan.
__ADS_1
"Jangan berburuk sangka," ujar Joe.
"Memang benar kok!" balas Aldi tak percaya, segera dia pun membenarkan kembali posisi duduknya sambil berdecih sebal.
'Ah ... ternyata cukup sulit juga, ya?' Joe hanya menghela napas dengan berat, dia pun akhirnya mengakhiri obrolan itu kemudian mencoba mengaktifkan ponselnya yang mati.
Setelah berhasil aktif, muncullah beberapa banyak notifikasi pesan biasa dari Abi Hamdan, chat dari Syifa serta riwayat panggilan masuk yang tidak terjawab.
Joe langsung membaca isi chat dari Syifa, yang dari kemarin sampai hari ini.
[Aa.]
[Aa dan Robert ke mana? Kok pergi nggak bilang-bilang?]
[Kata Abi, Aa nanti malam mau datang bareng Robert, Mami dan Papi. Kita semua akan merundingkan masalah ini, jadi sebentar lagi masalah ini akan selesai.]
[Aa nggak kenapa-kenapa, kan? Bagaimana dengan kondisi Aa yang habis ditonjok Abi? Apa hidung Aa masih berdarah?]
[Bagaimana puasa kalian? Apa lancar?]
'Aku sampai lupa, Yang, kalau kemarin dalam keadaan puasa. Dan sekarang pun aku lupa untuk puasa, begitu pun dengan Robert,' batin Joe. Padahal baru sepotong chat yang dia baca, tapi matanya sudah berkaca-kaca.
Ada kerinduan juga yang menjalar di dalam rongga dada, apalagi Joe dan Syifa sudah pernah bercinta.
'Apakah kita nggak akan bisa lagi, melakukan gaya helikopter, Yang? Aku sangat merindukamu. Sungguh,' batinnya sedih, lalu mengecup layar ponselnya sebelum melanjutkan kembali untuk membaca isi chat dari Syifa.
[Aa ... aku udah ada diteras rumah, nih, nungguin Aa. Udah mandi juga. Aa dan Robert udah mandi juga, kan?]
[Nanti makan malamnya, kita bareng, ya?]
[Aa ... Papi meminta kita untuk berpisah.]
[Sumpah demi apapun ... aku nggak mau berpisah dengan Aa.]
'Jadi Papi semalam ke rumah Abi, untuk bicarakan tentang perpisahan aku dan Syifa? Tapi kenapa dia nggak bilang dulu padaku?' batin Joe.
Lagi-lagi dia merasakan sesak di dada, apalagi membayangkan Syifa yang semalaman menunggunya. Tapi nyatanya bukannya datang, dia justru sudah berada di Korea.
[Aa juga pasti nggak mau berpisah denganku, kan? Aku yakin itu. Aku tunggu Aa pulang dari Korea bersama Robert, habis itu bawa aku ke rumah Aa. Aku mau kok, tinggal di rumah Aa mulai sekarang. Aku mau kita sama-sama bahagia, A. Aku nggak mau kehilangan Aa, apalagi melihat Aa mencintai perempuan lain selain aku.] Ini chat terakhir Syifa, yang berujung membuat Joe menangis tersedu-sedu karena sangking sedihnya.
Seolah dia merasakan, betapa sakitnya Syifa sambil mengetik chat itu.
__ADS_1
'Aku juga nggak mau kehilanganmu, Yang. Meskipun aku mengiyakan permintaan Mami dan Papi ... tapi aku akan selalu berdo'a kepada Allah, jika semua ini hanya mimpi. Dan semoga saja ada jalan supaya kita nggak jadi bercerai, meskipun aku sendiri belum menemukannya.'
"Lho, kok Bapak nangis? Seperti anak kecil saja, kenapa, Pak?" tanya Ali yang kembali memerhatikan Joe dari kaca depan.
Joe sama sekali tak menanggapinya, malahan air mataya terus berderai sampai-sampai membuatnya sesenggukan.
"Ini, Pak." Aldi memutar tubuhnya untuk memberikan sebotol air dan beberapa lembar tissu kepada Joe. "Ambil ini."
Joe menggeleng, lalu menyeka air matanya.
***
Keesokan harinya.
"Abi ... coba Abi bujuk Syifa, gih, buat makan," pinta Umi Maryam kepada sang suami.
Saat ini, mereka berdua berada di dapur, di meja makan. Berniat ingin melakukan sahur puasa ketiga.
Umi Maryam tadi sempat ke kamar Syifa, untuk mengantarkan makan sahurnya. Tapi jangankan makan, bangun pun gadis itu tidak.
Malah sejak kepulangan Papi Paul dari rumahnya, Syifa sehari-hari hanya mengurung diri di dalam kamar sambil menangis. Makan pun hanya sesendok dan itu pun hasil dari Umi Maryam yang memaksanya.
"Memangnya Syifa masih susah makan, Mi, dari kemarin?" tanya Abi Hamdan. Dia yang hendak memulai menyuap nasi ke dalam mulut akhirnya tak jadi, lalu menatap istrinya dengan sendu.
"Iya." Umi Maryam mengangguk, wajahnya juga terlihat sama sedihnya seperti Abi Hamdan. "Setiap makan sahur dan buka, cuma sesendok doang. Kayaknya pagi ini Syifa juga nggak usah puasa deh, Bi."
"Kenapa memangnya?" Abi Hamdan langsung berdiri, lalu mendekat kepada istrinya.
"Takut kena magh, orang makannya dikit. Ditambah hampir seharian dia tiduran dikasur sambil nangis, takutnya makruh juga kalau dibawa puasa."
"Abi akan coba membujuknya, ya, Mi." Abi Hamdan tersenyum kecil, kemudian melangkah keluar dari dapur dan menuju kamar Syifa.
Ceklek~
Pintu itu dibuka secara perlahan dan memang tidak dikunci.
Dilihat Syifa tengah berbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya sebatas dada, dia menangis tersedu-sedu sambil memandangi sebuah album foto pernikahannya dengan Joe.
Matanya sembab dan merah, pipinya basah, hidungnya berair, bibirnya pecah-pecah serta rambutnya berantakan. Terlihat begitu kacau sekali Syifa saat ini.
"Fa ... tolong berhenti menangisi Jojon. Jangan begini, Fa," pinta Abi Hamdan berbicara lembut, sambil berjalan melangkah masuk kemudian duduk ditepi kasur. Di samping anaknya. Perlahan dia pun mengelus rambut panjang Syifa, lalu menciumnya secara singkat. "Abi ikut sedih jika melihatmu begini. Jangan menyiksa dirimu sendiri, Fa."
__ADS_1
...Aku juga sedih liat Syifa, Bi 🤧...