Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
207. Belum ada calon


__ADS_3

"Namaku Naya, Pak," jawabnya yang memang dia benar adalah Naya. "Tapi ... kapan kita pernah bertemu? Maaf ... aku nggak ingat."


"Di pesta pernikahan Pak Joe dengan Syifa. Kan kamu jadi tamu undangan, terus kita nggak sengaja ketemu pas kamu nabrak saya dan bilang kehilangan sovenir." Ustad Yunus memiliki ingatan yang kuat, maka tak salah jika dia masih mengingat momen tersebut.


Naya terlihat mengerutkan keningnya sambil berpikir. Dan dimenit selanjutnya dia pun mengangguk cepat penuh antusias. "Oh iya, aku ingat. Maafin aku, ya, Pak. Karena nggak sengaja nabrak Bapak."


"Nggak apa-apa." Ustad Yunus tersenyum kecil. "Oh ya, waktu itu saya sempat cari kamu. Tapi sayangnya karena nggak tau, jadi saya nggak berhasil menemukanmu."


"Kenapa Bapak mencariku? Oh ... atau Bapak waktu itu telah menemukan sovenirku?"


"Iya. Sovenir itu ternyata nggak hilang, Nona. Tapi diambil orang."


"Diambil orang?" Kening Naya seketika mengerenyit. "Siapa? Siapa yang mengambilnya, Pak?"


"Fahmi."


Naya tampak terkejut, dia sampai membulatkan mata. "Seriusan? Ternyata Kak Fahmi?"


"Serius, Nona." Ustad Yunus mengangguk. "Saya melihatnya dari CCTV karena saat itu Fahmi dan Pak Joe memiliki suatu perkara."


"Terus, alasan Bapak mencariku waktu itu apa?"


"Tadinya Nona akan dijadikan saksi, untuk tambahan perkara antara Pak Joe dan Fahmi. Dan memberatkannya juga di penjara."


"Lho, kok sampai ke penjara segala, Pak? Dan apa hubungannya ... perkara Pak Joe dan Kak Fahmi denganku? Aku saja nggak tau, masalah mereka apa."


"Fahmi memfitnah Pak Joe, kalau dia menguncinya di dalam toilet. Padahal setelah dicek pada CCTV ... ternyata nggak. Malah di sana ketahuan juga kalau dia mencuri sesuatu di dalam tas, Nona. Dan setelah diselidiki ... ternyata itu adalah sebuah sovenir pernikahan," jelas Ustad Yunus panjang lebar.


"Oh gitu." Naya mengangguk paham. "Terus sekarang ... Kak Fahmi jadinya nggak di penjara apa gimana, Pak?"


"Tetap jadi, kasusnya pencemaran nama baik. Karena Pak Joe telah melaporkannya balik."


"Bagus deh." Naya tampak tersenyum puas. "Memang dia pantes masuk penjara. Lagian orangnya juga sombong."


"Iya." Ustad Yunus mengangguk, lalu merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya. Setelah itu mengulurkan kepada Naya.


"Kenapa, Pak?" Naya terlihat bingung.


"Kalau boleh, saya ingin minta nomor Anda. Supaya kapan-kapan kita bisa ketemu lagi dan saya akan memberikan sovenir milik Anda. Kebetulan sovenir itu saya pegang, Nona, cuma ada di rumah."


"Nggak usah deh, Pak." Naya menggeleng menolaknya. "Lagian itu udah lama, biar sovenirnya buat Bapak saja."

__ADS_1


"Saya nggak mau terima. Karena itu bukan hak saya, Nona," ucap Ustad Yunus dengan gelengan kepala. "Dan apakah saya nggak boleh, menyimpan nomor Anda?"


"Boleh, tentu boleh dong, Pak." Naya langsung mengambil ponsel tersebut. "Siapa juga yang melarang?" Setelah mengetik-ngetik nomor ponselnya dan juga mensave, Naya pun memberikan lagi benda itu ke tanan Ustad Yunus. Dan pria tersebut terlihat menerimanya dengan senang hati.


"Terima kasih, Nona."


"Sama-sama, Pak."


'Semoga saja Naya belum menikah. Tapi dilihat dari wajahnya sih dia masih sangat muda,' batin Ustad Yunus dengan senyuman kecil yang terlihat begitu manis di bibirnya.


"Terima kasih atas tumpangannya ya, Pak," ucap Naya yang sudah turun dari mobil Ustad Yunus, lalu merogoh ke dalam kantong celananya dan memberikan uang selembar lima puluh ribuan kepadanya.


"Lho, kenapa Nona memberikan saya uang?" Ustad Yunus terlihat bingung, tapi uang di tangan Naya belum dia ambil.


"Hitung-hitung ngasih uang bensin, Pak. Kan Bapak udah ngasih aku tumpangan."


"Nggak usah, Nona," tolak Ustad Yunus dengan gelengan kepala. "Kan saya yang awalnya menawari tumpangan, ditambah arah tujuan kita juga sama."


"Eeemm ... ya sudah deh kalau nggak usah." Naya menarik kembali tangannya, lalu menaruh selembar uang itu ke dalam kantong celana. "Sekali lagi terima kasih, ya, Pak."


"Iya, sama-sama."


"Bapak hati-hati dijalan," ucap Naya, dan pria berpeci itu mengangguk sambil tersenyum.


Seusai berziarah, Ustad Yunus pun kembali ke rumah miliknya. Sebuah rumah sederhana berwarna biru telor asin.


Di samping rumah tersebut ada warung kecil milik ibunya yang bernama Siti Maemunah, atau biasa dipanggil Umi Mae.


Bangunan kecil itu sebenarnya hadiah ulang tahun lalu yang diberikan oleh Ustad Yunus. Sengaja dia membuatkan warung kecil-kecilan untuk sang Umi, supaya wanita itu tak lagi jadi tukang buruh cuci.


Sebenarnya, meskipun gaji Ustad Yunus pas-pasan, makan dan kebutuhan lain mereka cukup-cukup saja. Malah, Ustad Yunus sendiri memiliki tabungan untuk berangkat haji bersama Uminya. Meskipun uangnya belum terkumpul semua.


Namun, terkadang Umi Mae selalu ngotot ingin bekerja dengan dalih bete, karena di rumah sering ditinggal sendiri.


Uang hasil kerjanya juga dia katakan lumayan untuk bantu-bantu perekonomian mereka. Sayangnya, Ustad Yunus justru melarangnya keras. Dia tentu tak tega, melihat Uminya bekerja.


Cukup dirinya saja yang kerja banting tulang, demi hidup mereka. Karena keduanya hanya tinggal berdua setelah dua tahun ditinggal oleh sang Abi.


"Yunus ... kamu udah pulang, Nak?"


Umi Mae melangkah keluar dari warung sambil membawa secangkir teh manis hangat.

__ADS_1


Sebetulnya teh itu dia buat untuk dirinya sendiri, tapi lantaran melihat anak bungsunya sudah duduk di teras rumah, jadilah dia menaruhnya di atas meja di dekatnya.


"Ini minum dulu, pasti kamu haus, kan?" tawarnya dengan sambil mengusap punggung sang anak.


"Terima kasih, Umi." Ustad Yunus langsung meraih cangkir tersebut, kemudian menyesapnya dengan perlahan.


"Tadi jadi sekalian ketemu sama temanmu yang mau beli motor? Udah deal?"


Selain bekerja jadi marbot masjid, Ustad Yunus juga memiliki bisnis jual beli motor bekas. Dan beberapa motor bekasnya berada di gudang, di belakang rumahnya.


"Nggak jadi, Mi. Orangnya bilang ada urusan," jawab Ustad Yunus lalu meletakkan cangkirnya kembali di atas meja.


"Oh ya, Umi denger dari Ibu-ibu pengajian ... katanya anaknya tetangga Ustad Hamdan udah pulang dari Arab, ya, Nus. Udah berhijab juga katanya sekarang, ya?"


"Anaknya tetangga Ustad Hamdan?" Kening Ustad Yunus seketika mengernyit. "Siapa, Mi?"


"Umi lupa namanya. Tapi yang Umi tau dia janda."


"Oh ... mungkin anaknya Bu Ningsih kali, yang dimaksud Umi."


"Iya. Itu anaknya Bu Ningsih." Umi Mae mengangguk cepat. "Tapi Umi juga nggak masalah kok ... kalau kamu menikah dengan seorang janda, Nus. Yang penting akhlaqnya baik."


"Ini maksudnya Umi nyuruh aku nikah dengan si Zaenab?" Ustad Yunus mendadak menaruh curiga, dengan pembasahan dari sang Umi.


"Siapa Zaenab?"


"Ya itu, anaknya Bu Ningsih namanya Zaenab, Mi."


"Oh ... tapi nggak kok, Umi nggak nyuruh kamu nikah," elaknya. Sebenarnya memang betul, hanya saja Umi Mae sengaja berkilah supaya sang anak tidak tersinggung.


Sebab selama ini, dia paling tidak suka jika diminta untuk buru-buru menikah. Apalagi dijodohkan.


"Terus apa?"


"Ya Umi cuma ngomong doang. Siapa tau kamu memang udah punya calon, jadi Umi merestui mau apa pun statusnya."


"Aku belum ada calon, Mi." Ustad Yunus menggelengkan kepalanya. Tapi seketika sebuah senyuman terbit di bibirnya, kala mengingat senyuman Naya tadi. "Tapi Umi do'ain aja, semoga semuanya berjalan sukses."


"Belum ada calon kok udah minta dido'ain? Ngaco aja kamu ini." Umi Mae langsung terkekeh, karena merasa tak habis pikir.


...Aminin dulu aja, Umi 🤭...

__ADS_1


__ADS_2