Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
265. Buket bunga


__ADS_3

"Ya sudah, terserah kamu aja. Kalau begitu saya pamit masuk ke dalam lagi." Karena malas berdebat dan masih banyak sekali pekerjaan, Ustad Yunus akhirnya mengatakan hal itu demi bisa meninggalkan Yumna.


Perempuan itu langsung mengulum senyum. Entah mengapa dia justru senang. Lantas setelahnya, dia pun pergi dari masjid itu dengan menaiki mobil taksi tadi. Yang memang sengaja menunggu.


"Untunglah isi dompetku semua aman," gumamnya sambil menghela napas lega.


***


Malam hari.


Seorang pria turun dari mobil hitam yang berhenti di depan halaman rumah Ustad Yunus.


Umi Mae yang berada di dalam warung tampak bertanya-tanya, menatap pria asing yang kini menuju pintu rumahnya. Tapi tangannya memegang sebuah buket bunga mawar berwarna putih.


Sebelum pria itu mengetuk pintu, dia pun lebih dulu menghampirinya.


"Permi ...."


"Maaf, Mas ini siapa, ya?" potong Umi Mae cepat.


Pria yang memakai stelan panjang berwarna merah itu langsung menoleh. Kedua sudut bibirnya pun terangkat. "Maaf, Bu. Apa benar ini rumahnya Ustad Yunus?"

__ADS_1


"Benar." Umi Mae mengangguk. "Tapi Masnya siapa, ya? Dan mau apa datang ke mari?"


"Saya kurir dari toko bunga, Bu. Mau mengantarkan bunga untuk Ustad Yunus."


"Oh gitu. Saya Uminya, dan kebetulan anak saya lagi nggak ada di rumah. Apa boleh ... jika saya saja yang menerimanya, Mas?"


"Boleh, Bu." Pria itu memberikan buket bunga berukuran sedang ke tangan Umi Mae, kemudian memberikan juga sebuah nota dan pulpen. "Silahkan tanda tangan, Bu. Bukti kalau bunga yang saya kirimkan sudah diterima."


"Iya, Mas." Umi Mae mengangguk, lalu segera tanda tangan.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi, Bu. Selamat malam."


"Malam," jawab Umi Maryam sambil tersenyum sembari memandangi buket bunga. Dan kurir pengantar bunga itu pun masuk ke dalam mobilnya kemudian berlalu pergi dari sana. "Tumben ... Yunus beli bunga segala. Apa jangan-jangan buat perempuan yang fotonya di lemarinya itu, ya?" tebaknya senang.


"Assalamualaikum, Nak," ucapnya saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana.


"Walaikum salam, Umi."


"Apa Umi mengganggumu?"


"Enggak Umi. Kenapa, ya?"

__ADS_1


"Ini ... bunga pesananmu sudah datang. Dan Umi yang menerimanya karena kamu nggak ada di rumah."


"Pesanan bunga?" Ustad Yunus terdiam sebentar, lalu didetik selanjutnya dia meneruskan. "Tapi aku nggak pesan bunga, Umi."


"Kok nggak pesan? Ini buktinya bunganya sama Umi." Umi Mae mengerutkan keningnya, dia tampak bingung, tapi rasanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang anak. Bisa saja pria itu memang sengaja menutupinya. "Kamu jangan bohong lah, Nus ... Umi tau kok kamu udah punya calon. Pasti bunga ini mau kamu kasih ke perempuan yang fotonya kamu simpan di dalam lemari, kan?"


"Kapan Umi lihat foto perempuan di dalam lemariku?"


"Kemarin-kemarin," jawab Umi Mae. "Tapi bener, kan, dia calonmu. Dan bunga ini untuknya?" tanyanya penasaran.


"Kalau tentang perempuan itu calonku memang benar, Umi. Alhamdulillah aku sedang ta'arufan dengannya. Tapi kalau tentang bunga ... demi Allah, aku nggak pesan bunga itu. Mungkin salah alamat kali."


"Tapi dia pas datang nanya ini rumah Ustad Yunus atau bukan. Berarti dia tau dong, kalau kamu yang punya rumah."


"Mungkin Ustad Yunus yang lain kali, Mi."


"Memangnya di RT kita ... nama Yunus ada berapa banyak? Perasaan cuma kamu seorang?" Umi Mae terlihat makin bingung.


"Setengah jam lagi aku akan pulang, Mi. Nanti kita bicarakan lagi setelah aku sampai rumah saja, ya, biar enak."


"Oke. Hati-hati nanti pulangnya."

__ADS_1


"Iya, Umi," jawab Ustad Yunus, kemudian memutuskan sambungan telepon.


...Ada yang bisa nebak, ga, itu bunga dari siapa?? 🤔...


__ADS_2