Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
276. Kamu mau menikah?


__ADS_3

Beberapa menit setelah selesai makan, barulah Naya bicara.


"Oh ya, gimana acara sunat massal kemarin ... apa lancar semua, Bang?" tanyanya yang berbasa-basi dulu.


"Lancar kok, alhamdulilah ...." Ustad Yunus mengangguk. "Oh ya, tadi katanya kamu mau ngobrol. Ayok sekarang kita bahas, Nay."


"Kemarin-kemarin pas di mall ... kan Abang bilang, ada rencana mau melamarku habis tahun baru. Dan pas semalamnya ... aku langsung ngomong sama orang tuaku, Bang."


Mata Ustad Yunus langsung berbinar. Terlihat dia senang mendengar apa yang Naya ucapkan. "Terus, apa respon mereka?" tanyanya penasaran.


"Ayah kayaknya nggak setuju, Bang."


"Enggak setuju??" Wajah senang Ustad Yunus seketika luntur begitu saja. "Kenapa memangnya? Apa karena saya terlalu tua untukmu? Apa ada hal lain?"


"Dia nggak setuju kalau aku cepat menikah, Bang. Dia minta aku untuk fokus kuliah sampai jadi sarjana. Aku juga memang kebetulan punya cita-cita jadi dokter kandungan."


"Kemarin pas ketemu, bukannya saya sudah bilang, ya, kalau kamu masih boleh kuliah, Nay? Dan insya Allah... saya juga sanggup membiayai kulaihmu. Jadi kamu nggak perlu khawatir."


"Aku udah bilang, Bang, sama Ayah ... kalau meskipun aku menikah, aku masih tetap bisa kuliah. Tapi dianya tetap nggak setuju, dia bilang aku masih kecil," jelas Naya dengan sedih. Begitu pun dengan ekspresi wajah Ustad Yunus yang baru saja mendengarnya.


"Kalau Bundamu sendiri apa responnya? Apa sama?"


"Kalau Bunda malah meminta Abang untuk menungguku selesai kuliah. Sampai lulus."


"Memang kira-kira kapan kamu lulusnya? Dan udah semester berapa sekarang?"


"Sekarang udah semester 6, Bang. Kalau hanya ambil S1 aku bisa setahun lagi lulus. Tapi kalau lanjut S2, jadi 3 tahun," jelas Naya.


"Oh gitu. Eeemmm ...." Ustad Yunus terdiam sebentar, mencoba memikirkan. Dia tak mau memaksa Naya, tapi juga tak mau menyerah untuk menjemput jodohnya. "Boleh nggak sih, Nay, saya bertemu dengan kedua orang tuamu dulu, untuk sekarang-sekarang ini?"


"Abang mau langsung melamarku?"


"Saya ingin mengobrol dulu sama mereka, baiknya gimana. Barangkali mereka berubah pikiran... setelah mengobrol dengan saya, Nay. Syukur-syukur sih langsung setuju, biar lamaran saja jadi dipercepat sebelum tahun baru." Meskipun ragu, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Itulah yang Ustad Yunus pikirkan.


"Oh gitu ... ya sudah, nanti aku bicara sama orang tuaku pas pulang, kalau mereka mau ketemu sama Abang."


"Tapi kalau semisalnya saya menunggumu sampai lulus, apa kamu kira-kira akan berpaling dari saya, Nay?"


"Tentu enggak dong, Bang." Naya menggeleng. "Justru Abang kali, yang berpaling dariku."

__ADS_1


"Saya juga enggak kok." Ustad Yunus menggeleng.


Ting~


Tiba-tiba sebuah chat masuk yang berasal dari ponsel Ustad Yunus, gegas pria itu merogoh kantong celananya sebab takut penting jika diabaikan.


[Mas Boy ... aku tadi kirim makan siang ke masjid, lho, apa Mas Boy sudah memakannya?] Ini pesan dari Yumna.


Kening Ustad Yunus seketika mengerenyit, tapi dia pun segera membalasnya. [Kenapa kamu kirimin saya makan siang? Nggak usah, Yum. Lagian saya juga lagi keluar.]


[Kok nggak panggil Adek lagi, sih?]


[Maksud saya Adek Yumna, kamu nggak perlu mengirim saya makanan, Dek.]


[Nggak apa-apa. Sesekali, anggap saja tanda terima kasih.]


[Tanda terima kasih untuk apa? Tentang dompet 'kan udah lewat bunga.]


[Tentang Papi yang udah diizinkan ikut sunat. Terima kasih ya, Mas Boy.]


[Oh itu, sama-sama, Dek. Tapi saya nggak ngajak kok, Om Yohan sendiri yang mengajukan diri.]


"Enggak kok, Nay." Ustad Yunus menggeleng, lalu buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana. "Maaf, kalau saya tadi sibuk main hape. Oh ya, habis dari sini kamu mau pergi ke mana? Biar saya antar."


"Sebenarnya mau nonton sih, Bang. Tapi itu juga kalau Abang nggak sibuk."


"Boleh ... aku kebetulan hari ini nggak terlalu sibuk. Ayok kita nonton," ajaknya dengan semangat.


***


Sementara itu di rumah Papi Yohan.


Tepat di dalam kamar, pria tua itu sedang terlentang di atas kasur tanpa sarung. Di depannya ada kipas angin tornado yang menyala dengan kecepatan full.


Apa yang dilakukan Papi Yohan supaya tongkatnya tak lagi terasa perih, serta mempercepat waktu keringnya juga pikirnya.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk, pria itu pun langsung menoleh.

__ADS_1


"Siapa?"


"Ini Yumna, Pi."


"Oohh ... sebentar, Yum." Papi Yohan segera bangkit dan memakai sarungnya, kemudian berjalan tertatih dengan ngangkang untuk membuka pintu.


"Lama banget sih, Pi! Dan ngapain juga sih, siang bolong ada dikamar? Mana dikunci lagi!" gerutu Yumna kesal. Lalu melongok ke dalam menatap kipas angin yang masih menyala. "Itu juga ngapain ada kipas angin dikamar? Apa AC Papi rusak?"


"Bawel amat sih kamu, Yum. Papi sampai bingung mau jawabnya yang mana dulu." Papi Yohan mendengkus lalu menggaruk rambut kepalanya. "Udah, intinya kamu ada apa? Mau apa ke sini? Nggak ada syuting memangnya kamu?"


"Ada hal yang ingin aku bicarakan sama Papi dan Mami," ucap Yumna memberitahu. "Ayok turun ke bawah, Mami sudah aku minta untuk duduk di ruang tamu soalnya, Pi," ajaknya lalu memegang lengan kanan Papi Yohan, namun pria itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Papi males turun ke bawahnya. Senjata Papi sakit soalnya. Mending kamu suruh Mami naik ke atas saja dan kita ngobrol di dalam kamar."


"Senjata apa, sih?" tanyanya tak mengerti. "Dan sejak kapan Papi punya senjata?"


"Senjata dibawah, Yum. Kan kamu tau Papi habis disunat!"


"Oooh ya ampun. Jadi senjata yang itu, aku kita yang mana." Yumna mendesaah pelan sambil geleng-geleng kepala. "Ya udah, aku turun dulu buat manggil Mami, Pi. Papi tunggu saja di dalam."


"Ya." Papi Yohan pun kembali masuk ke dalam kamarnya, tapi tanpa menutup pintu.


Tak lama kemudian, anak dan istrinya itu datang lalu menutup pintu. Setelahnya keduanya menghampiri Papi Yohan yang duduk selonjoran di atas kasur.


Mami Soora duduk di sampingnya, sedangkan Yumna sendiri mengambil kursi meja rias untuk dirinya duduk dan meletakkannya di dekat ranjang.


"Sekarang katakan, Yum, ada apa. Tumben banget kamu ngajakin kita semua ngobrol kayak gini," ucap Mami Soora yang sudah penasaran duluan.


"Eemmm ... gini, Mi, Pi ...." Yumna tersenyum canggung, lalu merasakan jantungnya yang berdebar kencang. "Kalau dalam waktu dekat aku menikah ... bagaimana?" tanyanya dengan ragu.


Bola mata kedua orang tua itu sontak membulat, keduanya juga sama-sama tampak terkejut. Tapi tersenyum bersama dengan saling memandang sebentar.


"Seriusan, Yum, kamu mau menikah?" tanya Papi Yohan yang belum sepenuhnya percaya. Jadi dia ingin memastikannya lagi.


"Iya." Yumna mengangguk dengan wajah yang terlihat sudah merona.


"Sama siapa?" tanya Mami Soora cepat. "Bukan sama Joe, kan?"


"Pasti sama si Boy, iya, kan?" tebak Papi Yohan yang sudah kegirangan

__ADS_1


^^^Bersambung.....^^^


__ADS_2