
"Iya, Dok." Abi Hamdan mengangguk.
"Silahkan ambil resepnya di apotek, Pak, sekalian bayar biaya administrasinya," titah Dokter. "Kalau begitu saya permisi." Setelah itu, dia melangkah keluar dari sana.
"Semuanya bisa keluar? Saya akan membantu Nona Syifa berganti pakaian," ucap Suster menatap beberapa orang di sana. Dia juga telah selesai mencabut jarum infusan yang sudah dua hari menempel pada punggung tangan Syifa.
"Aku mau ganti bajunya sama Umi saja, Sus," ujar Syifa.
"Oh begitu. Baiklah, Nona. Nanti baju pasiennya taruh saja di atas tempat tidur, ya?"
"Iya." Syifa mengangguk pelan.
"Saya pamit kalau begitu." Suster itu membungkuk sopan, lantas melangkah keluar.
"Abi sama Robert ngambil obat sama bayar administrasinya dulu, ya, Fa," pamit Abi Hamdan. Segera, dia meraih tubuh Robert, lalu mengendongnya dan melangkah keluar dari sana.
Ceklek~
"Mana resep obatnya, Bi, biar aku yang ambil sekalian bayar administrasinya."
Pintu kamar itu baru saja dibuka, dan Joe langsung menadahkan tangannya. Meminta selembar kertas kecil di tangan mertua.
"Bareng saja sama aku, Jon," ujar Abi Hamdan dan langsung melangkah. Joe yang mendengar apa yang dia ucapkan segera menyusul. Melangkah bersama menuju depo farmasi.
"Tapi nanti biar aku saja yang bayar ya, Bi, kan Syifa sudah menjadi istriku. Jadi apa pun yang dia butuhkan ... aku yang menanggung."
"Iya."
Tak lama, mereka pun tiba. Abi Hamdan pun lantas memberikan resep obat itu kepada apoteker yang menjaga.
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya, Pak." Apoteker itu mengambil, lalu melangkah menuju beberapa tak untuk mengambil obat yang tersedia.
"Oh ya, Jon, aku lupa mau ngambil hasil visum. Aku tinggal dulu sebentar, ya?" ucap Abi Hamdan yang baru teringat akan hal itu.
"Hasil itu sudah keluar, Bi." Joe langsung merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel. Setelah itu dia memperlihatkan gambar hasil visum yang dikirimkan oleh pihak polisi kemarin. "Ini. Hasilnya ada ditangan polisi karena dibutuhkan untuk kasusnya si Panu."
"Oh. Jadi polisi yang mengambil lebih dulu?" Abi Hamdan mengambil ponsel Joe, kemudian memperhatikan gambar pada layar. "Apa hasilnya ini, Jon?" tanyanya yang terlihat tak paham, meskipun sudah dibaca.
"Syifa hanya mengalami percobaan pemerkosaan. Tapi itu tidak sampai terjadi, Bi," jawab Joe.
"Alhamdulillah ya, Allah." Abi Hamdan mengusap dadanya yang terasa plong. Lantas mengusap wajahnya penuh syukur. "Aku senang mendengarnya, Jon. Kau juga, kan?" Menatap ke arah Joe.
"Tentu saja, Bi." Joe mengangguk dan tersenyum manis.
"Pemerkosaan itu apa, Dad?" tanya Robert dengan polosnya. Dia yang ikut mendengar tentu menjadi penasaran.
"Sesuatu hal yang dipaksakan, Nak," sela Abi Hamdan cepat.
"Oh." Robert mengangguk mengerti. 'Jadi, hal yang dipaksakan itu namanya pemerkosaan. Aku baru denger istilah itu,' batinnya. "Terus, visum itu apa, Opa?" tanyanya lagi sambil menatap Abi Hamdan.
"Visum itu kayak semacam pemeriksaan medis. Tapi yang melakukannya Dokter ahli," jelasnya.
"Hubungannya sama polisi apa? Kenapa polisi mengambil hasil visumnya Mommy?" Robert kembali mengajukan pertanyaan, yang menurutnya itu membuatnya penasaran.
"Karena Mommy sempat diculik, Rob." Sekarang, yang menjawab Joe. Sebab dilihat dari wajah mertuanya, dia tampak bingung. "Supaya nantinya pihak polisi memiliki bukti, akan apa yang telah dialami Mommy yang sebelumnya mereka nggak tau."
"Oh. Kayak semacam CCTV ya, Dad."
"Dih, bukan, Rob. Visum itu 'kan—"
__ADS_1
"Iya. Kayak CCTV," potong Abi Hamdan cepat. Lama-lama pusing juga dia menjelaskan, pada anak dibawah umur itu. "Sudah, kita langsung ke resepsionis buat bayar administrasinya, supaya bisa cepat pulang," lanjutnya. Setelah menerima obat, Joe segera membayar kemudian mereka langsung melangkah bersama.
***
Sebuah mobil Lamborghini sedan berwarna silver keluaran terbaru melintasi jalan raya ibu kota.
Di dalam sana sudah ada Joe yang mengemudi, Abi Hamdan di sampingnya dan di kursi belakang ada Syifa, Robert serta Umi Maryam.
"Ini mobil siapa, Dad? Kayaknya baru dan bagus banget." Robert yang duduk ditengah perlahan mendongakkan wajahnya, lalu menatap langit-langit mobil itu. Terasa asing menurutnya.
"Ini mobil Daddy. Nggak baru kok, Rob. Sudah lama belinya."
Joe berbohong. Sebenarnya memang baru, tapi untuk mengatakan baru dia merasa malu. Tidak enak juga, takut dikira pamer.
"Masa? Kok Robert baru lihat?" ujarnya tak percaya.
"Udah lama. Dulunya memang selalu ada di garasi," jawab Joe. Dia pun menatap ke arah kaca depan, yang memantulkan wajah Syifa. Gadis itu tengah diam sana sambil bermain ponsel. "Oh ya, Abi, Umi ... boleh 'kan, kalau aku izin ingin membawa Syifa tinggal di rumahku bersama aku dan Robert?" tanya Joe sambil menatap sebentar ke arah Abi Hamdan.
"Boleh." Abi Hamdan dan Umi Maryam menyahut secara bersamaan.
"Aku nggak mau tinggal di rumah Bapak." Syifa tiba-tiba menyahut, hingga membuat semua atensi mengarah kepadanya.
"Lho, kenapa, Mom?" tanya Robert seraya mengenggam tangan Syifa. Wajahnya mendadak sendu.
"Syifa. Kamu nggak boleh kayak gitu," tegur Umi Maryam yang menatap dalam anaknya. Kemudian menggelengkan kepala.
"Iya, kamu 'kan sudah jadi istrinya si Jojon. Jadi harus mau tinggal di mana pun asal bersamanya," tegur Abi Hamdan yang ikutan menyahut. "Kalau nggak mau, itu hukumnya dosa!!" tambahnya menegaskan.
...Bener, Bi, nasehatin tuh anaknya🙈...
__ADS_1