Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
41. Tamu tak diundang


__ADS_3

"Yang, kamu ini apaan sih?" Joe terkekeh, lalu menjawab, "Kamu 'kan Syifa, bukan Sonya. Jadi yang aku lihat ya kamu. Bukan Sonya."


"Kalau masalah cinta bagaimana? Pasti Aa masih mencintai Mbak Sonya, kan?"


"Masih."


Dada Syifa sontak berdenyut mendengar jawaban cepat dari Joe, dan tiba-tiba saja air matanya itu meleleh membasahi pipinya.


"Lho, Yang, kok sekarang kamu nangis?" Joe makin dibuat bingung dengan sikap istrinya, apalagi dengan pertanyaannya tadi. "Kenapa? Apakah ada yang salah, denganku? Atau salah sedang jawabanku?"


"Aanya nggak bohong, kan? Apa yang Aa katakan tadi jujur?"


"Jujur, Yang. Tapi Kenapa kamu justru menangis?"


Syifa menggelengkan kepalanya lalu menyentuh dada. Segera, Joe pun memeluk tubuhnya. Lalu mengusap lembut punggung serta mencium puncak kepalanya.


Sebenarnya tak ada yang salah dengan jawaban Joe. Tapi menurut Syifa itu menyakitkan. Sebab yang dia mau, Joe hanya mencintainya saja. Tidak dengan perempuan lain meskipun itu orang yang sudah tiada.


"Yang ... jangan menangis terus, dong. Akunya bingung. Kamu juga bisa-bisa make up-nya nanti luntur."


"Memang kenapa kalau make upku luntur? Apa menurut Aa ... nantinya aku nggak akan cantik lagi?"


"Kamu ini bicara apa? Kamu tetap cantik, mau bagaimana pun juga. Dan meskipun tanpa make up." Joe berkata dengan sungguh-sungguh. Kemudian menciumi kembali puncak kerudung Syifa.


"Apa sampai sekarang, Aa belum bisa melupakan Mbak Sonya? Aa masih sangat mencintainya?"


"Sonya nggak akan pernah aku lupakan, Yang. Karena dia cinta pertamaku. Tapi ... kamu tenang saja, kamu tentunya punya tempat di hatiku dan kamu adalah cinta terakhirku. Kalian berdua ... adalah perempuan yang aku cintai. Dan juga berharga untuk hidupku," jelas Joe panjang lebar dan terdengar begitu tulus dari lubuk hati terdalam.


Bukankah semua yang telah dia lakukan selama ini sudah bukti kalau benar Joe sangat mencintainya? Tapi mengapa masih dipertanyakan?


Dan selama ini juga dia tak pernah membanding-bandingkan Sonya dan Syifa, sebab dia sendiri tahu—betapa sakitnya jika dibanding-bandingkan. Apalagi itu dari orang terdekat.

__ADS_1


'Tapi yang aku mau, Aa itu hanya mencintaiku saja. Hanya aku perempuan satu-satunya di hati Aa. Apakah aku terdengar egois, ya Allah?' batin Syifa dengan sendu.


"Lho, kalian kenapa? Dan Syifa kenapa? Kok nangis?" Abi Hamdan datang menghampiri mereka berdua sambil membawa segelas susu putih di tangannya. Dia tampak heran, melihat apa yang terjadi.


"Nggak kok, aku nggak apa-apa," jawab Syifa cepat. Mengetahui Abinya ada di sana, segera dia melepaskan pelukan Joe dan mengusap air mata pada kedua pipinya.


Joe pun langsung menarik beberapa lembar tissu yang berada di sisi sofa, lalu memberikan kepada Syifa.


"Nggak apa-apa kok nangis?" hardik Abi Hamdan yang masih tampak penasaran. Kedua matanya itu langsung menyorot tajam pada Joe. "Kau apakan Syifa, Jon? Harusnya dia itu bahagia, bukan malah nangis."


"Nggak aku apa-apakan kok, Bi," jawab Joe sambil menggelengkan kepala.


"Jangan bohong!"


"Aa Joe jujur, Bi, dia nggak bohong," sergah Syifa cepat, kemudian menatap segelas susu ditangan sang Abi. "Itu susu punya siapa? Boleh nggak buat aku? Aku haus, Bi," pintanya sambil menyentuh leher.


"Ini memang untukmu." Abi Hamdan pun memberikan segelas susu itu ke tangan Syifa dan gadis itu langsung menenggakkan. "Itu susu ibu hamil, yang memang sengaja Umi membuatkannya," tambahnya dan sontak membuat Syifa tersendak.


"Yang, hati-hati minumnya," tegur Joe dan segera dia mengusap sisa susu yang mengalir di bibir bawah istrinya. Tapi bukan dengan tangan atau tissu, melainkan dengan lidahnya sendiri.


Perlakuan yang Joe lakukan tentu membuat Abi Hamdan geram, sebab itu di tempat umum dan banyak sekali yang menyaksikan.


"Dasar mesum kau, Jon!" geram Abi Hamdan sambil menoyor kepala Joe tanpa dosa. Lalu mendorong tubuhnya untuk bergeser dari posisi duduknya saat ini. "Kalau mau cium-cium ya jangan sekarang! Nanti saja dikamar!" tambahnya sambil mengomel.


"Aku nggak cium Syifa, cuma nyeka sisa susu tadi, Bi," tampik Joe.


"Nyeka susu itu pakai tangan, bukan lidah. Memang mesum sekali otakmu ini!"


"Maaf, Bi. Habis gemes aku lihat bibirnya Syifa."


"Gemes sih gemes, tapi malu lah sama para tamu! Banyak ustad temen Abi juga, nanti yang ada Abi yang digunjing!" gerutu Abi Hamdan marah.

__ADS_1


"Iya, Bi, maaf. Maafkan aku," ucap Joe sekali lagi lalu mencium punggung tangan sang mertua secara bolak-balik.


Syifa menatap ke arah Joe dengan masih memegang gelas yang berisikan susu yang tinggal setengah. Ingin dihabiskan sebenarnya, tapi dia bingung sebab dia sendiri tidak sedang hamil. "Aa ... apa aku nggak apa-apa, minum susu ibu hamil?"


Abi Hamdan dengan cepat menimpali. "Ngapain kamu tanya, Fa, kan kamu lagi hamil. Wajarlah minum susu ibu hamil. Malah itu sehat."


"Apa aku nggak salah dengar ... Syifa hamil?"


Seseorang tiba-tiba saja datang dan berkata demikian. Abi Hamdan, Syifa dan Joe pun langsung menoleh ke arahnya. Ternyata orang tersebut adalah Fahmi.


Dia datang tidak sendiri, melainkan bersama seorang gadis berhijab pashmina berwarna merah maroon. Dilihat dari usia, dia seperti sedikit lebih muda dari Syifa. Tapi Syifa atau pun Abi Hamdan tak mengenal gadis itu, terlihat asing.


"Baru hari ini 'kan Syifa menikah, kok sudah hamil saja? Oh ... atau jangan-jangan hamil diluar nikah, ya?" tambah Fahmi yang terdengar mengejek. Matanya menyorot tajam ke arah Joe.


"Enak saja kalau bicara, aku nggak hamil, Kak!" bantah Syifa marah, sambil menyentuh perutnya.


Joe langsung merangkul pinggang istrinya, kemudian menarik sedikit supaya tubuh mereka saling menempel.


"Mau apa juga kau datang ke sini, hah? Aku nggak mengundangmu sama sekali! Keluar kau, dari sini!" usir Joe dengan lantang yang terlihat sama marahnya seperti Syifa. Jari telunjuknya lantas menunjuk ke arah gerbang depan, kedua bola matanya langsung melototi Fahmi.


"Nggak usah sombong kau, ya! Di sini aku datang karena menghargai Abi yang mengundangku!" Fahmi melirikkan matanya sebentar ke arah Abi Hamdan, kemudian menaikkan dagunya dan berkacak pinggang saat kembali menatap ke arah Joe. "Dan kalau bukan karena dia ... nggak sudi aku datang kemari!"


"Kenapa Abi mengundang Ustad abal-abal ini? Harusnya jangan, Bi!" kesal Joe menatap sang mertua. Selain Beni, Fahmi juga termasuk pria yang dibenci Joe. Jika diingat, terakhir bertemu saja dia dan pria itu sempat adu jotos.


"Abi nggak mengundang Fahmi, Jon," bantah Abi Hamdan.


"Lho, kok Abi bilang begitu?" Fahmi terlihat tak terima dan marah. Wajahnya memerah menatap mantan calon mertuanya itu. "Jelas-jelas Abi mengundangku! Kalau aku nggak diundang ... mana bisa aku datang kemari!"


"Yang Abi undang Papa Nak Fahmi, bukan Nak Fahminya," sahut Abi Hamdan dan seketika membuat dada Fahmi berdenyut sakit.


...Kasihan jadi tamu tak diundang 🤣 aku sih kalau jadi Bang Fahmi mending pulang, tapi minta bungkusin rendang dulu sama Abi Hamdan 😆...

__ADS_1


__ADS_2