
"Pokoknya Papi mau Syifa juga ikut digundul! Pokoknya harus!"
"Maaf, Pi, tapi aku pernah dengar ceramah dari seorang Ustad ... kalau perempuan itu nggak boleh digundul, kecuali kalau memang dalam keadaan darurat. Haram juga, karena sama saja itu menyerupai laki-laki," jelas Syifa. Bukan tidak ingin menuruti permintaan, tapi memang apa yang Syifa katakan ada benarnya.
"Udah deh ... nggak usah bawa-bawa agama, Fa!" tekan Papi Paul yang tampak tak suka, jika segala sesuatu selalu dikaitkan oleh agama. "Alasan kamu digundul juga bukan karena ingin menyerupai laki-laki, tapi karena permintaan Papi yang ingin meminta keadilan untuk Joe!"
"Pi ... kalau Syifa ikut digundul, itu bukan keadilan. Tapi nggak adil!" tegas Joe. Tentu dia tak akan biarkan jika itu terjadi.
"Lha, kamu ini gimana, sih, Joe?" geram Papi Paul, karena lagi-lagi anaknya itu selalu saja melindungi Syifa. "Kan Papi udah bilang ... kalau masalah ini adalah masalah kalian berdua, bukan cuma kamu. Jadi kalau kamu digundul ... Syifa juga harus digundul, dong!"
"Tapi Syifa 'kan perempuan, Pi!" tekan Joe. "Masa Papi tega melakukan hal itu, sama perempuan? Apalagi perempuan itu adalah menantu Papi sendiri. Sekarang coba dibalik, kalau misalkan posisinya ada sama Papi ... apakah adil jika Mami juga ikut digundul? Apa Papi tega membiarkan perempuan yang Papi cintai hidup tanpa rambut?"
"Mami sama Syifa jelas bedalah, Joe! Nggak bisa kamu samakan!"
"Apa bedanya? Mereka 'kan sama-sama perempuan. Apa mungkin karena umur? Mami lebih tua, begitu?"
"Enak saja kamu, mengatai Mami tua! Mami masih cantik, Joe!" geram Papi Paul tak terima.
"Yang mangatai siapa? Aku ngomong sesuai fakta, Pi. Dan aku juga nggak ngomong kalau Mami udah nggak cantik. Mami memang masih cantik, cuma agak kisut."
"Enak saja kisut. Mami masih kencang segala-galanya, ya! Kamu durhaka banget sih, Joe, ngomong sembarangan sama orang tua!" Karena kesal, alhasil Papi Paul mencubit kecil perut Joe hingga membuat pria itu memekik kesakitan. "Tanpa Mami, kamu nggak akan lahir ke dunia. Nggak bakal bisa menikah sama Syifa!"
Kedua telinga Syifa rasanya berdengung, mendengar perdebatan di antara dua orang itu. Tapi suara Papi Paul lah yang paling melengking, karena Joe sendiri tak pernah berbicara keras di depan orang tuanya, melebihi orang tuanya itu sendiri. Meskipun sekesal apa pun dirinya
"Aakkh .... sakiitt!! Iya, iya, maaf ...," cicitnya yang langsung menepis tangan Papi Paul. "Lalu apa? Apa bedanya? Jelaskan dong!"
Papi Paul perlahan membuang napasnya dengan gusar, lalu menatap sinis pada Syifa. "Syifa 'kan pakai hijab, kalau Mami nggak. Kalau pun Syifa digundul ... semua orang nggak akan tau, karena tertutup oleh hijabnya."
"Lalu ... bagaimana denganku?" Joe menepuk dadanya, sambil memegang tangan Syifa. Jelas bahwa disini Joe masih berusaha melindungi istrinya, dari permintaan diluar nalar Papi Paul. "Otomatis aku bisa melihat Syifa gundul, Pi. Dan pokoknya aku nggak mau, membiarkan itu terjadi. Kalau pun Papi ingin berbuat nekat ... aku juga bisa berbuat nekat!" Diakhir kalimat, Joe menekankan.
"Apa maksudmu? Berbuat nekat apa?"
"Ya kalau Papi terus memaksa."
__ADS_1
"Terus, kamu ingin melakukan apa?"
"Ya apa saja, terserah. Bisa jadi ... rambut Robert juga ikut hilang."
"Apa kamu bilang?" Papi Paul membulatkan matanya, spontan dia kaget. "Kamu mau mengunduli si Robert juga, begitu?"
"Iyalah. Lagian aku juga yakin ... kalau Robert lihat Mommy kesayangan digundul, apalagi gara-gara Papi ... bisa jadi dia sedih, ditambah akan membenci Papi. Papi mau memangnya dibenci Robert?"
"CK! Menyebalkan sekali kamu, Joe!" Papi Paul berdecak kesal. Rupanya Joe tahu kelemahannya ada didiri Robert, dan akhirnya membuat nyalinya seketika menciut.
"Sekarang Papi mau ke mana?"
Joe bertanya pada saat pria tua itu tiba-tiba keluar dari mobilnya.
"Bukan urusanmu!" ketus Papi Paul seraya melemparkan wig kribo ke depan wajah Joe, kemudian berlalu pergi menuju mobilnya sendiri.
"Alhamdulillah ...." Joe menghela napasnya dengan lega sambil mengusap dada. Plong rasanya, karena merasa sudah terbebas dari masalah.
"Papi nggak jadi, A? Apa gimana?" tanya Syifa bingung.
"Iya, A." Syifa mengangguk.
"Kita pindah duduk di depan, Yang," titah Joe yang mengajak Syifa duduk di depan, tapi tanpa keluar dari mobil.
Setelah itu mobil yang mereka tunggani melaju pergi. Joe yang mengemudi.
"Maafin aku, ya, A," ucap Syifa tiba-tiba, setelah beberapa menit berlalu.
"Maaf untuk apa?" Joe menoleh sebentar ke arah Syifa dengan raut bingung.
"Tadi bukan aku nggak mau menuruti permintaan Papi, tapi memang itu karena—"
"Udah, Yang ... nggak perlu dibahas lagi," potong Joe cepat. "Aku paham kok, dengan apa yang kamu ucapkan tadi sama Papi tentang haramnya perempuan yang digunduli. Dan nggak mungkin juga ... kamu mengatakan hal itu dengan ngasal, hanya dijadikan tameng supaya nggak mau digundul. Tapi memang semuanya benar ... sesuai ajaran kita. Iya, kan?"
__ADS_1
"Iya, A." Syifa mengangguk. "Kalau nggak salah ... Ustad Yunus yang dulu aku dengar ceramahnya yang tentang rambut itu."
"Iya, jadi nggak apa-apa." Joe tersenyum, lalu mengelus pipi kanan Syifa.
"Terima kasih, A. Aa suami yang sangat baik." Syifa meraih tangan Joe, lalu mencium telapaknya.
"Sama-sama. Kamu juga istri yang baik, Yang," balas Joe.
"Besok kita ke dokter kandungan, ya, A? Aa mau, kan, nganterin aku?"
"Tentu mau dong. Masa nggak mau," kekeh Joe. Tangannya terulur menuju perut Syifa, lalu mengusapnya. "Apa kamu merasa sudah ada calon adiknya Robert ... didalam sini?" tanyanya dengan raut sumringah.
"Belum sih, A. Tapi aku 'kan memang nggak tau gimana rasanya. Mangkanya aku mau periksa."
"Ya semoga saja membuahkan hasil, ya, Yang? Aku juga kepengen punya anak darimu." Joe mendekat, lalu mengecup bibir Syifa sebentar dan seketika membuat kedua pipi itu merona.
"Iya, A, amin ...."
***
Beberapa jam kemudian, mobil Papi Paul pun berhenti di depan rumah Abi Hamdan.
Tepat di depan teras, ada sang pemilik rumah yang tengah duduk sambil minum kopi bersama Ustad Yunus.
"Eh Pak Paul ...."
Abi Hamdan langsung berdiri, ketika melihat besannya sudah melangkah menghampirinya bersama seorang sopir di belakang.
Tapi agak heran juga, karena tumben sekali pria itu datang dijam malam. Ditambah wajahnya pun begitu masam.
Seketika, Abi Hamdan merasa Dejavu. Sebab momen seperti ini mirip seperti saat dimana pria itu datang ingin meminta Joe dan Syifa bercerai. Waktunya juga sama-sama dimalam hari.
'Semoga nggak ada hal buruk yang terjadi mengenai Syifa dan Joe. Dan kedatangan Pak Paul hanya bentuk dari silaturahmi,' batin Abi Hamdan yang berdo'a dalam hati, sambil menepis jauh-jauh pikiran buruknya.
__ADS_1
...Orang Papi Paul dateng mau ngajak perang, Bi🤣 siap" aja......