Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
11. Jadi umat Islam itu nggak enak


__ADS_3

"Memangnya selama menikah atau berpacaran dengan Nona Syifa, Bapak belum pernah merayunya? Atau memberikan hadiah semacam bunga?" tanyanya. Dokter itu pada akhirnya duduk kembali ke kursi putarnya, tidak jadi pergi.


"Aku dan Syifa nggak pacaran dulu, Dok, langsung nikah. Dan tentang memberikan bunga ... aku pernah melakukannya, tapi kalau merayunya ... sepertinya sih nggak." Joe menggaruk-garuk rambut, sambil mencoba mengingat-ingat apakah dia pernah merayu Syifa atau tidak.


"Apa Bapak masih punya Ayah, atau teman pria?"


"Punya. Kenapa memangnya?"


"Coba tanya kepada mereka. Karena sesama pria jauh lebih mengerti hal seperti itu." Akhirnya, Dokter itu mendapat saran yang bagus. Supaya Joe mengakhiri percakapan dan pamit pergi dari sana. "Ketimbang saya yang seorang wanita, ditambah saya juga dokter, Pak, bukan raja gombal," tambahnya kemudian.


"Eemm ... ya sudah deh," jawab Joe yang akhirnya menurut. Dokter berambut kribo itu pun langsung menghela napasnya dengan lega. "Kalau begitu aku permisi, Dok, selamat siang dan terima kasih atau bantuannya." Perlahan dia berdiri kemudian melangkahkan kakinya keluar dari sana.


"Sama-sama. Selamat siang juga, Pak," jawabnya.


***


Di sekolah.


"Anak-anak, Bapak dengar dari Abinya Bu Syifa ... kalau dia sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Bapak ada rencana ingin menjenguknya pas pulang sekolah. Kira-kira ... ada yang mau ikut dengan Bapak, nggak? Naik mobil dengan Bapak," ucap Pak Bambang panjang lebar.


Kepala sekolah itu berdiri di depan para murid kelas 1 SD. Dia menyampaikan alasan Syifa tidak masuk dan ajakan untuk menjenguk bersama.


"Aku mau!"


"Aku mau, Pak!"


"Aku!"


Seluruh bocah yang ada di sana saling menyeru sambil mengangkat tangannya. Semuanya terlihat antusias ingin ikut. Terkecuali Robert yang tidak mengangkat tangan.


"Rob, kok kamu nggak angkat tangan, sih? Kan kamu yang paling sayang sama Bu Syifa. Kenapa nggak mau menjenguknya," tanya Baim heran. Dia duduk di samping temannya. Dilihat Robert tengah sibuk memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas.


"Aku nggak perlu ikut Pak Bambang, Im. Ini aku pulangnya saja mau langsung ke rumah sakit."


"Oh. Kamu udah ada rencana sendiri mau jenguk? Ya sudah, aku ikut denganmu saja, ya?" pinta Baim.


"Iya." Robert mengangguk.


"Aku juga ikutan dong." Leon yang berada di belakang ikut menyahut, dia juga menepuk pelan pundak kanan Robert.


"Iya, kamu boleh ikut," ucap Robert.


"Aku juga, Rob, sama Atta." Juna yang duduk di samping bersama Atta ikut-ikutan menyahut.


"Iya. Kalian juga boleh ikut," ujar Robert sambil tersenyum.


"Ternyata kalian semua mau ikut, ya." Pak Bambang menatap seluruh murid di depannya. "Kalian boleh ikut semua, tapi nanti ketemu Bu Syifanya bergilir, ya! Soalnya takut nggak diizinkan oleh pihak rumah sakit ... kalau datangnya rombongan."

__ADS_1


"Iya, Pak!" seru salah satu dari mereka, mewakili.


"Pak Bambang!" panggil Juna. Pria berkumis tebal itu langsung menatap ke arahnya.


"Iya, Jun?"


"Juna dan teman-teman ...." Manik mata Juna menatap teman-temannya yang dia maksud. "Jenguk Bu Syifanya bareng sama Robert, naik mobilnya, Pak."


"Boleh, nggak apa-apa." Pak Bambang mengangguk, kemudian tersenyum.


*


*


*


Robert, Juna dan Baim duduk di kursi belakang. Sedangkan Atta dan Leon, duduk di kursi depan di samping Sandi yang mengemudi.


Mobil berwarna hitam itu melaju dengan kecepatan sedang, menuju rumah sakit.


"Oh ya, Rob, hubungan Daddymu dan Bu Syifa gimana? Apa mereka beneran nggak bisa bersama?" tanya Baim yang memulai obrolan.


"Ide kesurupanmu nggak berhasil, Rob?" tanya Juna.


"Berhasil kok," sahut Robert sambil tersenyum manis. "Malahan ... Bu Syifa sekarang sudah resmi menjadi Mommy baruku," tambahnya dengan riang gembira.


"Iya. Semalam ... Daddy sudah ijab kabul. Dan mereka sudah resmi menjadi suami istri."


"Wah ... seriusan?" Juna tampak terkejut, tapi dia terlihat senang mendengarnya. "Selamat ya, Rob," lanjutnya seraya merangkul bahu Robert.


"Iya. Itu berkat bantuanmu juga, Jun."


"Semoga Bu Syifa jadi Mommymu yang terakhir. Dan menyayangimu seperti anaknya sendiri," ucap Baim.


"Amin, terima kasih, Im."


"Semoga Daddymu dan Bu Syifa langgeng sampai maut memisahkan," ucap Atta.


"Amin ...." Robert mengusap wajahnya. Do'a dari teman-temannya itu sangatlah berarti. Dan dia juga yakin—tanpa support dari mereka, semuanya tak akan bisa terjadi.


"Semoga kamu selalu bahagia, Rob." Leon berbicara, dia juga ikut mendo'akan. "Bu Syifa, Daddymu. Semuanya bahagia."


"Amin, terima kasih Leon. Terima kasih semuanya. Tanpa kalian ... semuanya nggak akan terjadi," ucap Robert penuh haru. Bola matanya terlihat berkaca-kaca.


"Sama-sama." Juna mewakili ketiga temannya, lalu mengusap rambut kepala Robert. "Tapi, Rob, kok kamu nggak undang kami, sih, pas Daddymu dan Bu Syifa nikah? Kan aku dan Opaku sudah minta."


"Iya juga, kenapa, Rob?" tanya Atta.

__ADS_1


"Semalam hanya ijab kabul, Jun. Tapi kata Omaku ... nanti akan mengadakan resepsi di hotel, sekaligus mengundang banyak orang," jelas Robert.


"Oh ... jangan lupa nanti kita semua diundang ya, Rob. Aku mau makan rendang soalnya," ujar Atta.


"Iya, kamu tenang saja," jawab Robert sambil menganggukkan kepalanya.


"Makan rendang tinggal makan, sih, Ta, ngapain nunggu Daddynya Robert nikahan." Leon terkekeh.


"Rendang orang nikahan jauh lebih enak tau, Leon, daripada beli," ucap Atta.


"Ah masa? Bukannya sama saja." Leon terkekeh kembali. Dan teman-temannya yang lain pun ikut tertawa.


"Terus, Rob, Daddymu berarti sudah jadi mualaf dong?" tanya Baim.


"Sudah." Robert mengangguk. "Itu pas ijab kabulnya. Kalian mau lihat videonya, nggak? Om Sandi sempat merekamnya lho."


"Mau! Mau!" Keempat bocah itu menyeru bersamaan.


Sandi merogoh kantong celana bahannya untuk mengambil ponsel, lantas memberikan kepada Robert.


Mereka berlima menonton video itu, sampai tak terasa sudah sampai rumah sakit yang dituju.


"Oh ya, Rob, kalau Daddymu masuk Islam ... kamu sendiri gimana? Ikut masuk Islam nggak?" tanya Baim.


Dia, Robert, Juna, Atta dan Leon melangkah bersama menuju kamar Syifa. Sandi juga berada di samping Robert, ikut menemani.


"Aku—"


"Jangan ikut masuk Islam dong, Rob," sela Leon cepat.


"Kenapa memangnya?" tanya Robert menatap temannya.


"Nanti akunya sendirian. Nggak ada temen."


"Lha, kita semuanya 'kan temanmu, Leon," sahut Juna.


"Iya nih." Atta menimpali, wajahnya tampak kesal. "Jadi selama kami duduk dibangku TK bersamamu ... hanya Robert yang kamu anggap teman? Tega sekali!"


"Leon, kamu nggak boleh begitu. Kita semua temanmu lho." Baim ikut-ikutan menyahut. Tampaknya mereka semua salah paham, dengan apa yang bocah turunan China itu katakan.


"Ih bukan begitu maksudku," ujar Leon sambil menggelengkan kepalanya. Dia mencoba menjelaskan. "Yang aku maksud itu nggak ada teman yang sama-sama beragama Kristen. Kan kalian tau ... cuma Robert teman terdekatku. Bahkan sebelum kami masuk TK. Iya, kan, Rob?" Menatap ke arah Robert. Temannya itu langsung mengangguk.


"Tapi kalau Robert mau masuk Islam ... ya kamu nggak boleh melarangnya, Leon. Itu 'kan hak masing-masing," ujar Baim. Padahal, Robert belum menjawab apa-apa. Tapi semua temannya sudah berasumsi jika bocah itu pasti mengikuti jejak Daddynya, yakni menjadi mualaf.


"Iya. Atau kalau mau ... kamu juga ikutan, masuk Islam," usul Atta.


"Nggak ah. Aku masih sayang sama Tuhanku," tolak Leon dengan gelengan kepala. Lantas, mendekat ke arah Robert dan berbisik ke telinga kanannya. "Biarkan saja kalau Daddymu sudah masuk Islam. Tapi kamu jangan, Rob. Jadi umat Islam itu nggak enak tau."

__ADS_1


...Jangan sok tau, Leon 🤣...


__ADS_2