Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
124. Ayok ditolong


__ADS_3

"Kan aku udah bilang, nggak bisa dan malas. Kamu jangan maksa gitu dong, Yum." Joe merengut kesal. Dia pun langsung berlalu masuk ke dalam kamar inap Robert dengan acuh.


Melihat itu, Yumna segera menyusulnya. Berniat pamit sekaligus bicara kepada Mami Yeri. Barangkali, wanita itu akan membantunya supaya membujuk Joe untuk mau mengantar.


Yumna paling tidak suka dengan penolakan. Sedari kecil, dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan semua orang hampir menuruti permintaannya, tanpa pengecualian.


"Tante Yeri ... aku ingin pamit pulang," ucap Yumna sembari memasang wajah sedih kepada Mami Yeri yang masih duduk di sofa. Wanita tua itu kini tengah bermain ponsel seorang diri, sedangkan Papi Paul sendiri sudah tidur di atas kasur di dekat ranjang Robert.


"Lho, kok pulang? Nanti siangan saja, Yum," sahut Mami Yeri yang langsung mengalihkan atensinya, kemudian berdiri menatap Yumna.


Syifa yang masih berada diposisi semula hanya diam dan memerhatikan, tapi agak heran juga melihat raut wajah perempuan itu. Ditambah tadi sempat melihat suaminya masuk ke dalam tapi langsung menuju kamar mandi, meskipun dia sempat tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit. 'Kenapa dengan Yumna? Kok kelihatan sedih? Ngobrol apa saja dia dengan Aa?' batinnya penasaran.


"Enggak deh, Tan, aku mau pulang sekarang saja," tolak Yumna dengan suara yang terdengar dibuat-buat seperti orang yang sedang ingin manja, dia juga menggelengkan kepalanya sambil menggenggam tangan Mami Yeri. "Tapi masalahnya, masa aku pulang sendirian sih, Tan?"


"Diluar kamu lihat Sandi nggak? Biar Sandi—"


"Aku sebenarnya ingin Kak Joe yang mengantarkanku, Tan," sela Yumna cepat yang langsung mendekat ke telinga kanan Mami Yeri untuk berbisik. Sengaja dia melakukan hal itu, supaya Syifa tak mendengarnya. Yumna juga tahu, sejak tadi perempuan itu memerhatikannya.


"Oh gitu. Ya sudah, nanti Tante suruh Joe kalau dia udah keluar dari kamar mandi, ya?" ucap Mami Yeri dengan baiknya. Dia pun menarik lengan Yumna untuk duduk bersamanya di sofa di sampingnya.


'Nyuruh Aa? Nyuruh apa?' batin Syifa yang tak sengaja mendengar apa yang mertuanya katakan, tapi dia memilih diam saja. Sebab takut jika wanita itu tersinggung karena dirinya salah bicara.


"Ngobrol apa saja kamu tadi sama Joe? Apa kalian tadi sekalian ke restoran juga buat ngopi bareng?" tanya Mami Yeri.


Entah sengaja atau tidak peka, tapi sepatutnya Mami Yeri tak perlu bertanya dengan menambahkan kalimat 'ngopi bareng di restoran' yang jelas itu sangat menganggu isi otak Syifa.


Padahal sebelumnya, menantunya itu sudah sempat bertanya perihal tempat dimana mereka mengobrol. Sampai-sampai secara tidak langsung Syifa mendapatkan teguran dari Papi Paul, yang seolah-olah berpikiran negatif tentang Joe.


"Aku ngobrol cuma di depan kok, Tan, dan kami membahas masalah pekerjaan," jawab Yumna sambil tersenyum.


"Oohh ... Terus kamu sempat mengajak Joe kerjasama nggak? Dan apa tanggapan Joe?" tanya Mami Yeri dengan kepo.

__ADS_1


"Aku udah menawari diri untuk bekerjasama dengan Kak Joe, Tan. Tapi kata dia ... aku suruh tanya sekertarisnya," jawab Yumna.


"Ya memang si Imel sih, yang sering mengurusi model-model, Yum, Joe mah biasanya terima beres."


'Oh, jadi nama sekertarisnya Aa, Imel. Yang kata Robert suka pakai baju seksi itu, kan, ya?' batin Syifa. Dia benar-benar hanya ikut menjadi pendengar saja, tapi tentu juga dengan mencernanya.


"Tapi nanti Tante akan usahakan, kalau kamu bisa keterima menjadi model produk skincare milik Joe, kalau memang kamu begitu menginginkannya," tambah Mami Yeri membantu. Dia memang sejak kemarin terlihat begitu mendukung sekali Yumna untuk menjadi model anaknya, entah karena apa.


'Padahal aku di sini sudah mewanti-wanti ... supaya Aa nggak nerima Yumna. Tapi kok bisa-bisanya Mami ingin mengusahakannya? Apa Mami sama sekali nggak berpikir bagaimana perasaanku? Ya meskipun memang Yumna hanya bekerja ... tapi dia 'kan tetap lawan jenis dan bukankah hal wajar jika seorang istri memiliki rasa curiga serta takut kepada suaminya? Apalagi banyak sekali pelakor sekarang. Jangankan Yumna yang orang lain, keluarga kita pun bisa saja merebut suami kita, kalau memang ada niat dan mendapatkan celah,' batin Syifa sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak.


"Terima kasih ya, Tan, aku tunggu kabar baiknya dari Tante." Tentunya, Yumna jelas senang. Jadi dia tak perlu capek-capek bertanya kepada sekertarisnya Joe, tinggal menunggu dan duduk manis saja.


"Sama-sama, Sayang," jawab Mami Yeri sambil mengelus lembut bahu kanan Yumna.


Melihat kedekatan di antara keduanya, rasa sesak di dalam dada Syifa pun seketika kian bertambah. Dan sepertinya, semenjak dirinya sampai di Korea serta adanya kehadiran Yumna, Mami Yeri seolah berubah. Tidak sehangat dulu, saat dia masih berpura-pura tengah mengandung.


'Enggak, sepertinya ini hanya perasaanku saja.' Meski begitu, Syifa masih berusaha berprasangka baik. Mungkin memang alasan utama Mami Yeri berubah karena kebohongannya dengan Joe. 'Pasti nanti juga Mami akan hangat lagi seperti dulu. Iya, itu pasti. Ini mungkin karena efek marah saja, Papi Paul 'kan juga begitu kepadaku.'


Ceklek~


"Joe, ini si Yumna tolong kamu—"


"Yang ... bisa tolong aku, nggak?"


Ucapan Mami Yeri kalah cepat oleh Joe, yang langsung bertanya kepada istrinya dan membuat Syifa menoleh dengan raut bingung.


"Tolong apa, A?" tanya Syifa.


"Kamunya ikut aku dulu ke kamar mandi, sini!" Joe meraih tangan Syifa, kemudian sedikit menariknya.


Syifa pun pelan-pelan melepaskan tangan Robert dari perutnya, kemudian mencium keningnya dan perlahan turun dari ranjang.

__ADS_1


Mulut Mami Yeri sudah menganga, hendak berbicara lagi kepada anaknya. Namun sayang, Joe sudah bergegas menarik istrinya, mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar mandi dan terlihat buru-buru sekali.


"Kak Joe kenapa sih, Tan? Kok minta tolong istrinya segala?" tanya Yumna yang sejak tadi memerhatikan, dengan rasa kesal di dalam dada.


"Nggak tau, Yum. Mungkin kloset di kamar mandinya mampet," jawab Mami Yeri asal.


"Terus hubungannya dengan Syifa apa, Tan?" Yumna mengerutkan keningnya.


"Ya bantu nyiram mungkin."


Ceklek~


Setelah menutup pintu kamar mandi, Joe juga langsung menguncinya dengan rapat. Kemudian berbalik badan untuk menatap istrinya yang memasang wajah bingung.


"Tolong apa, A? Apa Aa susah berak?" tebak Syifa.


"Enggak." Joe menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Terus apa?"


"Ini, Yang ...." Joe bergegas membuka kancing celana bahannya, berikut dengan resleting.


Syifa sejak tadi masih memerhatikan dengan bingung, akan maksud permintaan tolong dari sang suami.


Setelahnya, Joe menurunkan begitu saja benda itu. Tapi dengan celanna dalamnya juga, hingga miliknya yang tegak serta berurat itu terlihat begitu gamblang di depan mata kepala Syifa.


Tentu hal tersebut membuat Syifa terkejut dengan bola mata yang membulat sempurna. Kedua pipinya pun ikut merona. Padahal Joe yang menunjukkan asetnya, tapi justru dialah yang malu sendiri.


"Sejak tadi tongkatku merengek, Yang, kasihan dia. Katanya kepengen tidur ditemenin kamu. Ayok ditolong," tambah Joe berterus-terang, kemudian menarik tangan Syifa untuk menyentuh miliknya.


...Siap gaya kepiting nih kayaknya 🤣...

__ADS_1


__ADS_2