
"Daddy akan digundul sampai licin!" sahut Robert memberitahu, yang mana membuat Joe dan Syifa membelalakkan mata. Karena sangking kagetnya.
"Se-serius ... kamu, Rob?" tanya Joe dengan keadaan masih syok serta jantung yang tiba-tiba berdebar kencang.
"Iya, Dad, soalnya 'kan—"
"Nahh ... Tirta, sekarang kamu bisa melakukan hal diawal niatmu datang," ucap Abi Hamdan yang baru saja kembali dengan Tirta. Pria itu juga sudah memegang tas jinjing, yang berisikan peralatan mencukur.
"Abi ... apa aku beneran ingin dicukur gundul?" tanya Joe memastikan. Raut wajahnya tampak ketakutan.
"Bi ... jangan lakukan itu aku mohon ...." Syifa mendekat dan langsung memeluk tubuh Abi Hamdan. Jika memang benar, hukuman itu digundul—tentu dia ikut keberatan.
"Abi nggak mau dengar penolakan apa pun dari kalian!" seru Abi Hamdan dengan tegas. "Hukuman ini sudah Abi pikirkan matang-matang, dan menurut Abi ... hanya ini yang cocok."
"Tapi aku nggak mau digundul, Bi!" tolak Joe sambil menggelengkan kepalanya. "Seumur-umur aku belum pernah digundul, dan pasti aku akan sangat malu ... jika itu terjadi."
"Pas kecil kamu pasti sudah pernah digundul, Joe," sahut Tirta sambil terkekeh.
"Ya kalau pun waktu kecil pernah ... tapi aku 'kan nggak ingat, Tir."
"Ya mangkanya, biar ingat kamu mending aku gundul lagi." Tirta meletakkan jas jinjingnya di atas meja, lalu membuka resletingnya.
"Bi ... aku nggak mau, Bi!" pinta Joe memohon dan kembali memeluk lutut sang mertua. "Hukum aku yang lain saja. Asalkan jangan digundul. Nanti ketampananku luntur, Bi, aku nggak mau!"
"Banyak kok, Dad, orang gundul diluar sana yang tampan," sahut Robert. "Kalau memang dasarnya udah ganteng ... dia akan tetap ganteng walau nggak berambut," tambahnya dengan enteng. Tak tahu saja dia dengan perasaan Joe yang sudah semrawut.
"Daddy tetap nggak mau, Rob!" Joe sampai sudah menetaskan air matanya. Guna memohon ampun untuk tidak jadi melakukan hukuman.
"Bi ... Abi nggak boleh sampai berlebihan seperti itu. Kasihan Aa ...," pinta Syifa dengan raut memelas. Mungkin hanya dia di sini, yang menjadi satu-satunya orang yang membela serta mengkhasihani Joe.
"Abi bukannya sudah jelaskan pada kalian, ya, kalau hanya ini hukuman yang cocok. Biar kamu kapok!" tegas Abi Hamdan menatap tajam menantunya. "Malah tadinya ... Robert memintamu untuk berlari keliling komplek tanpa memakai celana. Apa kamu lebih memilih hal itu?"
"Ih jangan!" tolak Syifa cepat dan menggelengkan kepalanya. "Nanti banyak yang pengen sama Aa. Aku nggak ikhlas, Bi."
"Ya sudah, mangkanya turuti saja kemauan Abi."
"Memangnya nggak ada pilihan lain, ya, hukumannya ... selain digundul dan lari tanpa celana?" tanya Joe yang mencoba menegosiasi. Mungkin saja ada pilihan lain, yang menurutnya lebih ringan dari pada digundul.
__ADS_1
"Awalnya Robert menyarankan kamu untuk tidur berpisah dengan Syifa selama seminggu ... tapi Abi keberatan karena itu sama saja menyuruh kalian pisah ranjang. Kan nggak boleh dalam Islam. Terus yang kedua ... Robert meminta kamu disunat lagi, Jon. Tapi tetap Abi nggak setujui, karena nggak mungkin dan bisa-bisa ... tongkatmu buntung. Selanjutnya ... kamu keliling komplek tanpa celana, dan terakhir kamu berjemur seharian di halaman rumah," jelas Abi Hamdan panjang lebar.
"Rob ... Rob ... kamu kok tega banget, sih, sama Daddy, Sayang?" Joe meringis sedih sambil menatap anaknya. "Bisa-bisanya kamu memberikan sebuah ide hukuman seperti itu. Apa kamu nggak kasihan ... sama Daddy?"
"Sebenarnya kasihan ...," balas Robert dengan bibir yang mengerucut. "Cuma ya mau gimana ... siapa suruh Daddy bohong awalnya sama Robert. Harusnya dijelaskan saja dengan jujur ... ini malah milih bohong dan membawa pergi Mommy. Mana Robert nggak diajak lagi."
"Udahlah, Jon ...," desaah Abi Hamdan yang tampak begitu lelah. "Rambut juga akan tumbuh lagi. Jadi nggak masalah jika digundul."
"Tapi masalahnya ... tumbuhnya itu lama, Bi. Dan aku malu ... jika dilihat orang-orang."
"Ya itu resikonya. Suruh siapa kamu melakukan hal-hal nggak wajar di depan anakmu, yang harusnya Robert nggak tau."
"Kan aku udah minta maaf, Bi. Aku juga udah mengaku khilaf," sesal Joe.
"Abi akan memaafkan jika kamu sudah mendapatkan hukuman. Dan Abi juga nggak mau ... jika selama kamu gundul, kamu memakai penutup kepala. Karena Abi mau ... semua orang tau kamu gundul, Jon!"
"Dih ...." Joe kembali meringis dengan wajah frustasi. "Abi tega banget."
"Tapi Abi akan memberikanmu keringanan. Yakni kamu masih boleh memakai peci, saat sedang beribadah."
"Ya Allah ... cobaan apa lagi ini," keluh Joe dengan pilu. Perlahan dia pun melangkah tertatih menuju kursi yang Tirta maksud. Lantas duduk dan memejamkan matanya.
"Nah ... Begitu dong, Dad. Sebagai seorang pria sejati ... Daddy harus mau bertanggung jawab. Ya salah satunya dengan menerima sebuah hukuman." Robert terlihat antusias dan girang sekali, melihat Joe sudah tertekan batin. Kali ini, dia sungguh puas. Dan tak lupa untuk mengabadikan momen lewat kamera, saat Joe dalan proses pengundulan.
'Aku jadi curiga, apa jangan-jangan Robert bukan anakku, ya? Kok bisa, dia setega itu ... harusnya sih, dia minta sama Abi ... supaya aku nggak musti dihukum,' batin Joe dengan kesal. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa sekarang, hanya berpasrah saja.
'Semoga saja rambut Aa cepat tumbuh lagi. Kasihan aku sama dia. Pasti Aa akan malu keluar rumah ....' Syifa membatin pilu, sambil memerhatikan Tirta yang sudah memegang alat cukur ditangan.
***
Hari pun berganti.
Sekitar jam 8 pagi, sebuah mobil berwarna merah berhenti di area parkir khusus pada kantor milik Joe.
Kemudian tak lama, dua perempuan berbeda generasi turun dari mobil tersebut yang ternyata mereka adalah Mami Yeri dan Yumna.
Keduanya tiba di Indonesia kemarin sore, dan niat Mami Yeri membawa Yumna ke kantor Joe adalah untuk memberikannya pekerjaan. Karena sebelumnya, perempuan itu terus merengek minta ikut ke Indonesia dan jadi model di kantor Joe.
__ADS_1
"Wahh ... ternyata ini perusahaan Kak Joe, gede banget ya, Tan." Yumna mendongakkan wajahnya, menatap gedung besar itu dengan takjub.
"Iya. Joe memang anak yang membanggakan. Dia merintis ini dari enol lho, Yum, dan pakai dananya sendiri," puji Mami Yeri tersenyum penuh bangga. Dia pun lantas merangkul bahu Yumna, kemudian sedikit menariknya untuk ikut bersama masuk ke dalam sana. "Ayok masuk, Yum."
"Ayok, Tan." Yumna menganggukkan kepalanya.
"Selamat pagi Bu Yeri." Satpam dan beberapa karyawan serta karyawati menyapa kedatangan wanita tua itu, sambil memberikan sebuah senyuman manis yang terlihat begitu tulus.
"Pagi juga." Mami Yeri membalas dan ikut tersenyum. Langkah kakinya yang mengajak Yumna langsung terhenti di depan meja resepsionis. "Apa Joe ada di ruangannya?" tanyanya pada seorang perempuan berambut pendek yang baru saja berdiri dari duduknya.
"Nggak ada, Bu." Perempuan itu menggelengkan kepalanya.
"Kok nggak ada? Ke mana dia?"
"Kebetulan Pak Joe memang belum datang, Bu. Entah belum datang atau mungkin nggak masuk."
"Masa belum datang? Ini 'kan udah jam 8." Mami Yeri menunjuk-nunjuk jam emas pada pergelangan tangannya. "Dan Joe orangnya selalu on time."
"Iya, Bu. Tapi semenjak menikah ... Pak Joe memang sudah jarang masuk ke kantor. Kalau pun datang ... jamnya nggak nentu."
"Ah nggak beres banget si Joe. Di mana-mana orang setelah nikah tuh semangat kerja, bukan malas kerja!" gerutu Mami Yeri yang tampak kesal. Segera, dia pun merogoh tas branded miliknya untuk mengambil ponsel. Berniat menghubungi sang anak.
"Namanya pengantin baru, Bu, mungkin Pak Joe memang ingin menghabiskan waktunya lebih lama di rumah. Apalagi sekarang dia ada istri, ada yang menemaninya kalau tidur," sahut perempuan penjaga resepsionis.
"Ah lebay! Biasanya juga kalau tidur ditemani Robert!" Mami Yeri berdecak sebal, apalagi pada ponselnya, sebab menghubungi Joe pun tak ada jawaban. "Ini lagi, ke mana sih ... kok nggak diangkat-angkat!" omelnya dengan emosi.
"Pasti Kak Joe lagi bareng istrinya itu, Tan. Dan bisa jadi Syifa memang sengaja, meminta Kak Joe untuk tidak mengangkat telepon," ucap Yumna mengompori.
"Ah masa, sih, si Syifa sampai segitunya, Yum?" Mami Yeri tampak tak percaya. Panggilan berikutnya dia lakukan.
"Ya bisa aja. Aku lihat Syifa itu tipe perempuan yang emosian dan egois, bisa jadi dia memang ingin menguasai seluruh waktu Kak Joe. Mangkanya telepon Tante nggak diangkat-angkat."
"Nona nggak boleh lho, ngomong kayak gitu," tegur perempuan penjaga resepsionis menatap ke arah Yumna. "Baik buruknya Bu Syifa ... dia tetap menantunya Bu Yeri. Dan nggak sepantasnya Nona menjelekkannya begitu. Apalagi di depan mertuanya."
"Dih ... apaan sih?!" Yumna mendengkus dengan tatapan sinis. "Siapa juga yang menjelekkan Syifa? Nggak perlu dijelekkan pun sifatnya memang sudah jelek dari sananya!" tambahnya membentak.
...Terus, maksud Lo, Lo baik gitu?🤨...
__ADS_1