
"Tapi, Rob, apakah kamu punya cara ... supaya Mommy bisa berhati-hati dan menjaga Daddy supaya jangan berpaling?" tanya Syifa, meminta saran pada bocilnya.
"Poin utamanya kita harus jauhkan Daddy sama Tante Yumna, Mom," jawab Robert. "Maka dari itu, kita harus segera balik ke Indonesia. Biar Tante Yumna dan Daddy nggak bisa ketemu," tambahnya.
"Tapi Mommy pernah dengar ... katanya Oma Yeri mau membantu Tante Yumna jadi model di perusahaan Daddy. Gimana itu, Nak? Kalau misalkan Tante Yumna benar-benar kerja sama Daddy, kan bisa bahaya ... mereka bisa ketemu setiap hari."
"Mommy tinggal bilang saja sama Daddy, supaya jangan terima Tante Yumna. Daddy 'kan bosnya, semua keputusan pasti ada di tangan Daddy, Mom."
"Kamu benar, Nak." Syifa menganggukkan kepalanya, kemudian mengusap puncak rambut Robert. 'Pokoknya aku nggak boleh biarkan, Yumna merusak rumah tanggaku. Baru kemarin kita tertimpa masalah, jangan sampai ada masalah baru lagi,' batinnya.
*
*
*
"Assalamu'alaikum," ucap Syifa, Joe dan Robert secara bersamaan. Ketika mereka sampai di ruang keluarga rumah Papi Paul.
"Wih ... enaknya yang habis main ke pantai, sangking serunya Oma nggak diajak, ya?" sindir Mami Yeri yang kebetulan berada di ruang keluarga. Tengah duduk sambil menonton televisi, dan memang sengaja menunggu kepulangan mereka bertiga.
Mami Yeri dan Papi Paul sempat berniat menyusul mereka. Selain karena ingin ikut nonton film, Mami Yeri juga ingin ikut main ke pantai.
Namun sayang, mall yang mereka kunjungi berbeda dengan mall yang Joe kunjungi. Sehingga mereka tak berhasil ketemu.
Sebenarnya ada keinginan menelepon Joe lagi, tapi ada rasa tidak enak. Sebab Joe sudah mengatakan ingin menghabiskan waktu bertiga.
"Siapa yang main ke pantai, Oma? Orang nggak." Robert berlari menghamburkan pelukan, dan Mami Yeri pun langsung memeluk tubuhnya dengan erat.
"Ah jangan bohong kamu, Rob, orang Daddymu yang bilang kok," jawab Mami Yeri sambil menatap Joe dengan sinis.
__ADS_1
Wajah anaknya itu tampak begitu lesu dan berminyak. Hanya dari guratan wajahnya saja, sudah terlihat dengan jelas jika Joe mengalami kelelahan dan capek.
Tapi di sini, Mami Yeri menebak jika rasa lelah dan capek Joe disebabkan dia puas menghabiskan waktunya berjalan-jalan ke pantai. Padahal yang sebenarnya bukan seperti itu.
"Aku nggak jadi ke pantainya, Mi," sahut Joe yang membungkukkan badan sambil meraih tangan Mami Yeri, kemudian mencium punggung tangannya.
Syifa pun melakukan hal yang sama.
"Masa?" Mami Yeri terlihat acuh dan tak mempercayai. "Tapi kok bajumu dan Syifa ganti?" Dia menatap Joe dan Syifa bergantian, dari ujung kaki hingga kepala. "Dan kenapa juga habis Magrib baru sampai? Ke mana saja memangnya, kalau nggak jadi ke pantai?"
"Ada musibah, Mi, di bioskop. Sehingga aku dihukum dan kena denda," jawab Joe. Dengan perlahan dia pun duduk di sofa single sambil menyentuh pinggangnya yang mendadak nyeri, urat-urat di wajahnya pun ikut tertarik karena dia meringis.
Mata Mami Yeri sontak membulat sempurna. "Musibah? Apa itu, Joe?"
"Daddy ngompol Oma." Yang menjawab Robert, dan bertepatan sekali dengan Papi yang baru saja datang dengan membawa secangkir kopi hitam di tangannya.
"Apa? Ngompol?!" seru Papi Paul yang tampak terkejut, begitu pun dengan Mami Yeri. "Serius? Tapi kok bisa ngompol? Kayak bocah saja kamu, Joe. Udah tua juga," tambahnya yang ikut duduk di samping Joe.
"Ngompol itu apa, Pi?" tanya Mami Yeri menatap suaminya.
"Kencing dicelana, Mi," jawab Papi Paul.
"Oh ... Itu pasti karena kebanyakan kamu pakai gaya kepiting, kan, Joe?" tebak Mami Yeri yang entah mengapa ada pikiran ke arah sana. "Berapa ronde sih emang kamu tuh, pas bercinta dengan gaya kepiting itu? Pasti lama, ya? Sampai-sampai tongkat bisbolmu mengalami kebocoran."
"Bercinta dengan gaya kepiting?" Robert mengulang kalimat yang Omanya ucapkan. Alis matanya pun tampak bertaut. "Memangnya, bercinta dengan gaya kepiting itu seperti apa, Oma? Dan bercinta itu kita ngapain?"
"Eng ... bercinta itu ...." Mami Yeri menggantung ucapannya sendiri, sebab merasa bingung. Dia pun langsung melirik ke arah Papi Paul. "Pi, tolong bantu menjelaskan dong."
"Lho, kok Papi? Kan Mami yang duluan ngomong."
__ADS_1
"Mami bingung, takutnya salah. Kan Papi laki-laki, jauh lebih pengalaman dari Mami." Mami Yeri melempar semua pertanyaan Robert kepada sang suami. Sebab dia tak mau pusing seorang diri.
Papi Paul pun menghela napasnya, lalu menatap ke arah Robert. "Bercinta itu kita membuat dedek bayi, Sayang," jawabnya kemudian.
"Dih, apa nggak apa-apa. Kalau kita terlalu jujur?" Mami Yeri menatap suaminya dengan raut ragu. Padahal dia tadi meminta pendapat suaminya, tapi justru merasa tak puas dengan jawabannya.
"Ya udah terlanjur. Lagian Mami ngomongnya ngasal aja, nggak lihat ada bocah dibawah umur." Papi Paul menyesap kopinya secara perlahan, lalu menaruhnya kembali ke atas meja.
"Lho, tapi kata Daddy ... bikin anak itu caranya kita musti berhubungan badan, Opa." Robert melangkah mendekati Papi Paul, kemudian duduk di atas pangkuannya. "Berarti, Daddy bohong, ya?"
"Bercinta sama berhubungan badan itu sama, Sayang. Cuma beda bahasa. Intinya sama."
"Oh. Tapi memangnya, bikin anak itu caranya gimana, sih?"
"Ah kalau itu ...." Papi Paul menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jadilah dia yang pusing sendiri untuk menjelaskan. "Tunggu kamu dewasa dulu, deh, baru boleh tau."
"Kok tunggu dewasa? Memang ... kalau sekarang kenapa?" tanyanya dengan polos.
"Kalau sekarang nggak boleh." Papi Paul mengusap kepala hingga turun pada kedua pipi Robert, kemudian mencium hidung mancung cucunya. "Kamu masih kecil, dan anak kecil nggak diperbolehkan tau. Karena itu sangat sensitif, Sayang."
"Sangat sensitif gimana sih, Opa? Kok curang sih, masa anak kecil nggak boleh tau?" Robert merengut, dia tampak kesal sebab harus menahan rasa penasarannya.
"Memang udah begitu dari sananya, Nak." Syifa menyahut dan mengulas senyum menatap anaknya. Robert pun langsung menoleh untuk menatapnya juga. "Kalau udah dewasa, baru kamu boleh tau," tambahnya kemudian.
"Memangnya umur orang dewasa itu seberapa, sih? Robert 'kan sudah 7 tahun, sudah sekolah SD, bisa baca, bisa nulis, bisa makan sendiri dan mandi sendiri. Jadi kenapa nggak boleh tau orang bercinta?"
"Kalau dewasa dilihat dari umur apalagi untuk laki-laki, mungkin sekitar 20 tahun ke atas, Nak."
"Ih ... masih lama dong, Mom. Sekitar 13 tahun lagi. Sedangkan Robert penasarannya sekarang." Robert mengerucutkan bibirnya. Dia pun lantas turun dari pangkuan Papi Paul dan beralih menghampiri Syifa untuk memeluk tubuhnya. "Robert jadi kepengen cepat dewasa deh. Kalau bisa sih ... besok langsung berubah jadi umur 20 tahun, Mom."
__ADS_1
...Yakin pengen cepat jadi dewasa?🤣 jangan nyesel tapi kalau Author kabulin, ya😂...