
"Punya firasat sih enggak, Mom, cuma 'kan kita harus hati-hati saja mulai dari sekarang," jawab Robert yang terlihat tenang.
"Menurut kamu sendiri, Daddy kelihatan suka sama Tante Yumna nggak, sih?" Syifa sepertinya belum puas dengan jawaban Robert, sebab tak semua pertanyaannya berhasil dijawab.
"Sejauh ini Robert perhatikan sih nggak, Mom." Robert menggelengkan kepalanya. "Daddy masih terlihat mencintai Mommy, semoga saja seterusnya."
"Amin, Nak. Terus ... Daddymu sendiri orangnya setia nggak?"
Meskipun Syifa sudah mendengar langsung dari Joe dan mertuanya, jika suaminya itu pria yang setia—tapi sepertinya jawaban dari Robert masih dia butuhkan. Karena jawaban dari anak kecil tentu lebih akurat, dia terkadang lebih jujur ketimbang orang dewasa.
"Setia itu maksudnya gimana, Mom?" Robert menatap Syifa dengan raut bingung.
"Misalnya gini. Kamu 'kan temenan sama si Baim. Tentu kamu sayang juga, kan, sama dia?" tanya Syifa dan anaknya itu langsung mengangguk. "Terus ... nggak lama kemudian ada anak di kelasmu baru, eh kamu malah melupakan Baim dan lebih memilih main dengan anak baru. Sehingga Baim sedih, itu namanya kamu nggak setia. Sama saja seperti kata kamu tadi, yaitu berpaling," jelas Syifa panjang lebar.
"Oh ...." Robert mengangguk-anggukan kepalanya, sepertinya dia paham. "Kalau masalah itu Robert nggak tau, Mom."
__ADS_1
"Kok bisa nggak tau?"
"Kan dulu Daddy duda. Jadi Robert nggak tau dia setia apa nggak. Sedangkan pernikahan kedua saja baru sama Mommy. Dan pernikahan pertama sama Mommynya Robert, tapi 'kan Robert belum lahir saat itu. Jadi nggak tau, Mom," jelas Robert.
"Oh iya juga, ya." Syifa menggaruk kerudung dia atas kepala, merasa gatal entah mengapa. "Kenapa Mommy nggak kepikiran ke arah sana."
"Oh ya, terus ... apa semenjak Daddy jadi duda, dia pernah pacaran? Maksudnya, sebelum ketemu sama Mommy?" tanya Syifa yang masih berlanjut, sambil menyentuh dadanya.
Mommy yang dia maksud adalah dirinya sendiri, sengaja dia menyentuh dadanya sendiri takutnya Robert tidak paham dengan pertanyaannya.
"Ah masa sih, Rob? Nggak bohong, kan, kamu?" Syifa tampak tak percaya.
"Serius, Mom," jawab Robert meyakinkan. "Mana pernah Robert berbohong sama Mommy? Daddy memang nggak pernah pacaran selama jadi duda. Malah dia bilang ... dia nggak mau menikah lagi."
"Kalau teman dekat perempuan, Daddy punya nggak?"
__ADS_1
"Kalau teman dekat sih punya. Malah banyak."
"Apa? Banyak?!" Syifa menyeru dengan mata yang sontak melotot. Merasa terkejut mendengarnya. "Siapa saja? Dan apakah Daddymu sering pergi dengan salah satu dari mereka?"
"Kalau siapa saja Robert nggak hafal, Mom. Soalnya kebanyakan teman bisnis sama teman kuliah. Dan kalau soal pergi, kayaknya sih pernah ... meskipun nggak sering."
'Waduh ... ternyata meskipun Aa nggak punya pacar tapi pernah pergi sama teman perempuannya. Dan apa jangan-jangan sambil menginap di hotel juga, terus bercinta dengan gaya kepiting dan helikopter?' Jantung Syifa makin berdegup kencang tak karuan. Kegelisahan dan rasa sesak pun seketika menyeruak mengisi rongga dadanya.
Padahal baru menebak, tapi hatinya sudah merasa ngilu. Entah bagaimana nanti, jika benar Joe akan berpaling kepada Yumna. Pasti sakitnya melebihi daging yang sedang disayat-sayat.
'Bahaya banget sih ini, kalau beneran terjadi. Dan kalau teman perempuannya sampai hamil terus minta tanggung jawab gimana? Masa iya, aku dipoligami?' Syifa terdiam membeku sejenak, dan selanjutnya dia pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.
'Enggak! Aku nggak mau! Meskipun poligami diperbolehkan oleh Islam dan jaminannya adalah masuk surga ... aku tetap nggak mau! Aku nggak rela membagi cintaku untuk orang lain. Apalagi Aa 'kan tipe suami yang bisa memuaskan istrinya diranjang, bisa-bisa pas digilir kami nggak ada yang ngalah.'
Rupanya tebakan Syifa sudah melanglang buana, sampai-sampai ke arah poligami.
__ADS_1
...Kejauhan kamu mikirnya, Fa🤣🤣...