
Akibat rasa khawatir di dalam dada, Syifa pun akhirnya memutuskan untuk membawa Joe ke rumah sakit dengan dibantu Sandi dan Satpam rumahnya.
Dia juga memutuskan izin tak masuk ke sekolah kepada Pak Bambang, dan memintanya untuk mencari guru yang tak sibuk untuk membantu anak-anak muridnya yang akan menghias kelas.
Kini, Syifa tengah berdiri mondar mandir di depan ruang UGD bersama Bibi pembantu yang menemaninya. Sedangkan Robert sendiri sudah diminta Syifa untuk pergi ke sekolah dengan diantar oleh Sandi.
Awalnya bocah itu sempat merengek, ikut tak mau masuk sekolah. Karena dia juga tentu ikut khawatir dengan kondisi Daddynya. Tapi setelah dibujuk terus menerus oleh Syifa, akhir dia menurut juga.
"Apa aku perlu telepon Papi dan Mami?" gumam Syifa yang berpikir keras sambil mengigit kuku ibu jarinya. "Ah telepon saja deh. Aku takut Aa kenapa-kenapa soalnya." Syifa pun menghentikan gerakan kakinya, lalu cepat-cepat merogoh tas selempangnya untuk mengambil ponsel dan menelepon Mami Yeri.
"Halo, assalamualaikum, Mi," ucap Syifa setelah beberapa menit panggilannya diangkat oleh seberang sana.
"Walaikum salam." Tanpa sadar Mami Yeri menjawab salam dari menantunya. "Ada apa, Fa? Apa kamu kangen sama Mami? Apa mau makan disuapi sama Mami?" Suara Mami Yeri terdengar begitu ceria sekali, tampaknya dia senang mendapatkan telepon dari menantunya.
"Enggak, Mi. Tapi ini sangat darurat. Mami ke rumah sakit sekarang, ya! Rumah Sakit Sejahtera, Mi!"
"Ke rumah sakit?!" Suara Mami Yeri sontak melengking keras. Sampai-sampai Syifa sempat menjauhkan ponselnya karena terdengar berdengung. "Siapa yang sakit? Kamu? Ada apa, Fa? Apa kandunganmu baik-baik saja?"
"Kandunganku baik-baik saja, Mi. Tapi ini karena Aa pingsan."
"Pingsan? Kok bisa? Kenapa, Fa?"
"Aku nggak tau, Mi. Tapi awalnya pas sarapan Aa mendadak muntah-muntah. Mau aku antar periksa dia nggak mau, eh malah keburu pingsan duluan sekarang," jelas Syifa.
"Ada apa, Mi? Siapa yang pingsan?" Dari seberang sana, terdengar suara Papi Paul yang memekik dan tampak terkejut.
"Ini, si Joe katanya pingsan, Pi. Tapi sebelumnya muntah-muntah." Mami Yeri menjawabnya.
"Pasti si Botak itu keracunan. Ayok kita ke rumah sakit sekarang, Mi!"
__ADS_1
"Syifa! Kamu masih dengar suara Mami nggak?" tanya Mami Yeri.
"Iya, Mi. Masih." Syifa mengangguk.
"Tunggu kami ya, Fa. Kami akan segera datang ke sana."
"Iya, Mi. Kalian hati-hati dijalan." Jawaban dari Syifa mengakhiri panggilan itu.
*
*
*
Beberapa menit kemudian, Papi Paul dan Mami Yeri pun sampai di rumah sakit dengan tergesa-gesa.
Kedatangannya yang menghampiri Syifa di depan ruangan UGD bertepatan dengan seorang dokter pria berkacamata, yang baru saja keluar dari sana.
"Apakah Anda keluarga dari Pak Jonathan, Nona?" tanyanya kepada Syifa.
"Iy—"
"Aku Papinya, Dok!" seru Papi Paul cepat dengan napas yang memburu dan dada yang naik turun.
"Aku Maminya," balas Mami Yeri yang juga terlihat terengah-engah.
Dia dan suaminya itu langsung lari terbirit-birit ketika sampai rumah sakit, karena memang sangking khawatirnya dengan kondisi anaknya.
"Kenapa dengan suamiku, Dok? Sakit apa dia?" tanya Syifa penasaran.
__ADS_1
"Beliau tidak sakit apa-apa, Nona." Dokter itu menggelengkan kepalanya.
"Enggak sakit kok muntah-muntah, Dok?" Syifa terlihat tak percaya.
"Pasti si Joe keracunan itu, Dok. Gara-gara makan nasi goreng pedagang kaki lima," tebak Papi Paul. Padahal dia sudah mendengar sendiri, kalau Joe tidak sakit apa-apa. Tapi bisa-bisanya dia menebak dengan sembarangan.
"Tapi dari hasil pemeriksaan, Pak Joe tidak mengalami keracunan, Pak."
"Magh kali," balas Mami Yeri.
"Magh juga tidak, Bu." Dokter itu kembali menggeleng sambil menatap Mami Yeri. "Tapi sebelumnya, bolehkah saya bertanya apakah Pak Joe sendiri punya istri?"
"Lho, ini istrinya, Dok." Papi Paul langsung merangkul bahu Syifa, lalu mengelus perutnya. "Namanya Syifa, dia istri kedua Joe dan sekarang dia sedang hamil cucuku yang kedua," tambahnya memberitahu.
"Berapa usia kandungan Anda, Nona?" Dokter itu menatap ke arah Syifa.
"Tiga bulan lebih, Dok," jawab Syifa.
"Udah empat bulan kali, Fa," sahut Mami Yeri yang sudah mendekat ke arah menantunya.
"Kok jadi empat bulan, Mi?"
"Ya iyalah, Fa. Kan kamu udah melewati beberapa hari setelah periksa dan dinyatakan hamil. Jadi bisa jadi sekarang sudah empat bulan," jelas Mami Yeri lalu ikut mengusap perut menantunya, dan kali ini terasa agak buncit.
"Kita mending ke dokter kandungan saja, Mi. Biar mastiin Syifa udah berapa bulan," saran Papi Paul.
Rasa kekhawatirannya kepada Joe tadi seketika lenyap entah mengapa, lantaran dia sudah menyentuh cucu keduanya yang masih berada di dalam perut.
"Papi benar juga." Mami Yeri mengangguki ucapan sang suami, lalu menarik tangan Syifa untuk ikut pergi bersamanya. "Ayok, Fa. Kita ke dokter kandungan, siapa tau jenis kelamin dan jumlah cucu kedua Mami sudah terlihat sekarang."
__ADS_1
...Lha, gimana dengan kondisi Om Joenya, nih?🤣 kok udah ditinggalin🙈...