
"Gila gimana? Yang ada ide Papi ini cemerlang, Yum!"
"Nggak sudi amat aku—"
"Bang Yunus ...," panggil seorang perempuan berhijab yang baru saja datang, sehingga menghentikan apa yang ingin Yumna ucapkan.
"Eh, Naya." Ustad Yunus langsung menoleh ke arahnya, begitu pun dengan Papi Yohan.
"Abang kok ada di sini? Aku daritadi tunggu Abang lho di sana." Naya menunjuk pada mejanya, yang berada diujung sebelah kanan.
"Oh maafkan saya, Nay." Ustad Yunus langsung berdiri, kemudian menatap ke arah Papi Yohan. "Maaf, ya, Pak. Kalau begitu saya permisi."
"Tapi, Boy! Kamu belum ...." Papi Yohan ingin bertanya tentang jawaban dari permintaannya, hanya saja sayangnya pria itu sudah berlalu pergi bersama Naya menuju mejanya. Ingin berdiri menyusulnya pun tangannya kini ditahan oleh Yumna, jadi Papi Yohan memutuskan untuk duduk kembali ke kursinya.
"Papi berhenti bersikap konyol deh! Kan aku udah bilang, kalau aku dan dia hanya orang asing! Tapi kenapa Papi justru tiba-tiba mengatakan seperti itu padanya? Dia itu pria miskin, Pi! Kalau misalkan dia ge'er gimana?" geram Yumna dengan wajah memerah, karena kesal setelah mendengar apa yang dikatakan Papinya.
"Mau miskin atau kaya, Papi nggak masalah, Yum. Yang penting orangnya baik. Tapi ngomong-ngomong ... perempuan tadi itu siapanya si Boy, ya? Kok lembut banget dari cara ngomongnya?"
Papi Yohan memerhatikan mereka berdua yang kini duduk di mejanya, matanya memicing penuh penasaran.
"Kan tadi dia bilang mau ketemu sama temannya. Ya berarti itu temannya, Pi," jawab Yumna dengan malas.
"Masa sih teman? Kayaknya nggak mungkin deh, bisa jadi pacarnya." Papi Yohan menggeleng tak percaya. Tapi sorotan matanya tak lepas kepada Ustad Yunus yang kini tengah memesan menu.
"Mau siapa pun perempuan itu, aku nggak peduli! Nggak penting! Udah sih, mending kita makan. Aku udah laper banget tau, Pi!" Yumna mendengkus kesal, lalu melambaikan tangannya kepada sang pelayan yang baru saja lewat.
'Si Boy pria yang sangat baik, jarang-jarang ada orang baik seperti dia. Semoga saja dia dan gadis tadi nggak ada hubungan apa-apa,' batin Papi Yohan yang berharap.
"Maafin saya, Nay. Kalau membuatmu menunggu lama," ucap Ustad Yunus dengan perasaan tak enak. Tangannya pun lantas terulur ke atas meja, lalu meletakkan sebuah sovenir logam mulia. "Itu milikmu, jadi sekalian saya kembalikan."
"Terima kasih, Bang." Naya tersenyum dan mengambil benda tersebut. "Tapi ngomong-ngomong ... orang tadi sama perempuan tadi itu siapanya Abang? Kok kalian terlihat akrab banget?" tanyanya seraya menoleh ke arah meja Papi Yohan. Pria tua di sana yang masih memerhatikannya langsung tersenyum, kemudian melambaikan tangan.
"Yang Bapak-bapak tadi pernah saya selamatkan, Nay, dia korban tabrak lari. Dan perempuannya itu anak dia," jelas Ustad Yunus, lalu membalas lambaian tangan Papi Yohan dengan sebuah lambaian juga.
"Oh gitu. Kirain aku yang perempuan tadi pacar Abang, terus Abang mau dikenalin sama Papanya."
"Bukan kok, saya masih jomblo, Nay." Ustad Yunus menggeleng sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jomblo?" Naya menatap tak percaya. "Masa sih, Bang? Jangan bohong ah," tambahnya dengan gelengan kepala.
"Bener, Nay."
"Jangan bilang Abang ini mengaku jomblo karena dari awal aku mengatakan kalau aku jomblo. Iya, kan?" tuduh Naya penuh curiga. Sampai-sampai dahinya terlihat mengerut.
"Enggaklah, Nay." Ustad Yunus terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Saya memang jomblo kok, serius. Malah seriburius kalau kamu nggak percaya."
"Oke deh. Aku akan coba buat percaya ... meskipun masih agak ragu," balas Naya sambil tertawa.
Tak lama kemudian, pesanan mereka berdua pun datang. Ustad Yunus memutuskan untuk mengakhiri obrolan karena memilih makan terlebih dahulu. Sebab dia akan kembali berbincang dan lebih serius, masih ada banyak hal yang ingin dia katakan kepada Naya.
*
"Oh ya, Nay, boleh nggak saya tau ... kesibukan kamu sekarang?" tanya Ustad Yunus saat makan siang mereka berakhir. Dan momen berbincang pun sepertinya pas untuk sekarang.
"Aku kuliah, Bang. Tapi lagi magang jadi guru, untuk mengisi waktu luang aja," jawab Naya, kemudian berbalik tanya. "Abang sendiri apa kesibukannya?"
"Saya ngurus masjid, Nay. Jadi marbot. Tapi ada bisnis jual beli motor bekas juga buat sampingan."
"Muda gimana? Orang saya sudah tua."
"Memang umur Abang berapa?"
"Malu kayaknya kalau saya sebutkan, Nay."
"Katakan saja, Bang. Aku penasaran."
"37 tahun."
"Wah ... ternyata selisih kita 16 tahun ya, Bang. Aku bulan ini 21."
"Iya, jadi kelihatan banget saya tua, ya, Nay." Ustad Yunus tersenyum canggung. Dan entah mengapa dia jadi ragu ingin menyampaikan sesuatu. 'Masih muda banget ternyata si Naya. Aku jadi ragu, takutnya dia nolak aku.'
"Enggak tua lah, Bang. Itu namanya dewasa. Kalau tua itu udah di atas 50," balas Naya yang terlihat jauh lebih santai, dibandingkan Ustad Yunus yang tampak gelisah dengan posisi duduknya.
"Eeemm ... kamu itu dulunya pacarnya Fahmi atau gimana, Nay? Atau sekedar kenal saja?" Lebih baik Ustad Yunus bertanya hal lain dulu, demi menghilangkan rasa groginya.
__ADS_1
"Hanya kenal. Aku kenal dia dari IG, Bang. Kukira dia orangnya baik, nggak taunya ngeselin."
"Oh gitu. Bagus deh." Ustad Yunus mengangguk, lalu mengusap keringat pada dahinya.
"Abang sendiri dulunya sudah pernah menikah atau punya pacar?"
"Saya masih perjaka, Nay. Dan dari dulu saya belum pernah pacaran."
"Serius?" Naya menatap tak percaya. Sebab memang jarang sekali ada laki-laki seperti itu. Mungkin bisa jadi 1 banding 1000.
"Iya." Ustad Yunus mengangguk. "Apa kamu nggak percaya, Nay?"
"Percaya nggak percaya sih, Bang. Tapi namanya zaman sekarang 'kan, ya. Jangankan laki-laki, perempuan saja banyak yang nggak perawan."
"Iya sih." Ustad Yunus tampak setuju dengan pendapat Naya yang terdengar netral. "Tapi kita sebagai manusia musti punya keyakinan sendiri, Nay. Insya Allah kita bisa terhindar dari zinah di dunia kalau kita dekat sama Allah."
"Iya, Bang. Abang bener." Naya mengangguk setuju.
"Terus, Nay, apakah sekarang-sekarang kamu ada niat menikah? Atau tunggu lulus kuliah dulu?" tanya Ustad Yunus penasaran. Inilah hal yang ingin dia tanyakan sejak tadi, dan alasannya mengajak ketemu selain dari memberikan sovenir.
"Kenapa memangnya, Bang?"
"Jawab saja dulu, nanti biar saya jelaskan."
"Kalau aku sih nggak ada target ya, Bang, mau nikah kapan dan diumur berapa. Seketemu jodohnya aja," jawab Naya yang terdengar simple sekali. Tapi jawabannya itu benar-benar membuat lampu terang bagi Ustad Yunus.
"Seriusan, Nay?" Pria itu bahkan sudah mengulum senyum.
"Iya." Naya mengangguk. "Tapi kenapa ya, Bang?"
"Saya ada niat mengajakmu ta'aruf. Itu juga kalau kamu nggak keberatan, Nay," ungkap Ustad Yunus dengan sungguh-sungguh. Dan Naya terlihat terkejut mendengarnya.
"Ta'aruf?"
"Iya." Ustad Yunus mengangguk. "Kamu mau nggak, Nay? Karena saya nggak mau cari pacar, tapi cari istri."
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1