Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
196. Mending usir saja


__ADS_3

"Ada apa ini? Kok masih pagi udah ribut?" tanya Joe yang baru saja datang dengan raut masam, kemudian disusul oleh Robert yang sekarang berdiri di sampingnya.


"Opa! Oma!"


Melihat ada Abi Hamdan dan Umi Maryam di sana, Robert pun segera berlari untuk menghamburkan pelukan kepada mereka. Pertama pada Abi Hamdan, kemudian Umi Maryam.


"Opa dan Oma kok tiba-tiba datang tanpa memberitahu? Ada apa, nih? Apa kangen sama Robert?" tanyanya dengan percaya diri.


"Tentu saja, Nak. Kami kangen sama kamu," sahut Abi Hamdan.


"Kami ke sini karena mendapatkan berita katanya kamu akan punya adik, Rob," lanjut Umi Maryam seraya berdiri.


"Oh ... memang itu benar, Oma, Opa! Mommy sedang hamil dan Robert akan segera punya adik." Sekarang bocah itu berlari menghampiri Syifa, lalu mencium perut Mommynya disertai elusan lembut.


"Kapan Abi dan Umi sampai? Dan kenapa tadi ribut?" tanya Joe. Dia pun mendekati kedua mertuanya, lalu mencium punggung tangannya silih berganti.

__ADS_1


"Kita baru sampai, Joe," sahut Umi Maryam. "Dan masalah ribut tadi Umi nggak ikutan. Itu mereka yang ribut karena ingin menyuapi Syifa," tambahnya sambil menatap Abi Hamdan dan kedua besannya yang masih memegangi kedua tangan Syifa kanan kiri.


"Kenapa musti ribut, sih?" Joe mendengkus. Dia melangkah maju ke arah Syifa, lalu menepis tangan kedua orang tuanya untuk melepaskan istrinya. "Kebiasaan deh. Papi dan Mami juga minimal mandi dululah kalau mau ribut tuh. Kan biar enak dipandang."


"Mami akan mandi. Tapi Syifa nggak boleh sarapan dulu, ya, Joe! Pokoknya Mami yang menyuapinya sampai kenyang!" pintanya dengan sedikit memaksa. Lantas, Mami Yeri pun berlari perginya menaiki anak tangga, berniat ingin kembali ke kamarnya untuk mandi.


"Papi saja yang suapi Syifa, ya, Joe. Lima menit ... hanya lima menit Papi mandi. Syifa, kamu tunggu Papi, ya? Jangan sarapan kalau bukan dari tangan Papi," pinta Papi Paul dengan tatapan memohon menatap menantunya.


Setelah itu, dia juga berlari pergi menaiki anak tangga, tapi bukan untuk menyusul istrinya yang sedang mandi. Melainkan memilih untuk mandi di kamar mandi yang lain, supaya bisa lebih dulu selesai.


"Maaf ya, Bi. Memang mereka itu lagi aneh banget tingkahnya. Bahkan sejak kemarin."


"Opa dan Oma tau nggak ...." Robert berbicara dan membuat orang yang dia panggil menatap ke arahnya. "Semalam Opa Paul dan Oma Yeri juga maksa banget, kepengen tidur bareng sama Mommy. Sampai-sampai karena nggak diizinkan sama Daddy ... mereka nekat tidur di lantai."


"Masa sih, Rob?" Umi Maryam tampak terkejut dengan bola mata yang sedikit membulat. Abi Hamdan pun demikian.

__ADS_1


"Lebay amat. Kenapa kepengen tidur bareng segala? Ya meskipun mertua ... tapi kalau laki-laki tetap nggak boleh, kalau tidur sama menantu perempuan."


"Maka dari itu, aku melarangnya, Bi," sahut Joe menanggapi ucapan mertuanya. "Ya meskipun Papi adalah Papi kandungku ... tapi aku 'kan nggak tau, isi hati dia sebenarnya itu apa. Bisa saja 'kan dia diam-diam ternyata naksir Syifa, terus berniat menikungku," tambahnya yang berpikir negatif, juga merasakan api cemburu yang menyala di dalam dada.


"Aa ... Aa nggak boleh su'uzon sama Papi," tegur Syifa yang mana membuat suaminya itu menatap matanya. "Bukan aku membela Papi, tapi aku yakin ... apa yang Papi lakukan adalah bentuk kasih sayangnya karena aku hamil cucunya. Itu saja, A. Nggak lebih."


Syifa mencoba selalu berpikir positif. Dan tentunya dia juga senang dengan perubahan sikap dari kedua mertuanya.


"Dia memang bilang kayak gitu, Yang. Aku juga ingat. Tapi aku nggak yakin seratus persen." Joe menggelengkan kepalanya. Semalaman kalau boleh jujur—dia sampai rela begadang, itu semua demi mengawasi Papinya.


"Nggak yakinnya gimana, Joe?" tanya Umi Maryam penasaran. "Apa ada sikap Papimu yang terlihat mencurigakan? Yang membuat kamu berpikir kalau Papimu naksir Syifa?"


"Sejauh ini sih belum, Umi." Joe menggelengkan kepalanya. "Cuma jujur saja ... aku nggak suka setiap kali melihat Papi menyentuh Syifa. Entah perutnya atau tangannya. Aku nggak suka banget! Dadaku juga panas rasanya," tambahnya sambil meraba dada.


"Mending usir saja Opa dari sini, Dad. Gimana?" saran Robert tiba-tiba, yang kali ini tampak memihak kepada Joe.

__ADS_1


...Eh, nggak boleh gitu, Rob! 🤣🤣...


__ADS_2