Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
190. 3 Bulan


__ADS_3

"Hamil?!" Mami Yeri dan Papi Paul menyeru bersama dengan kedua mata yang membeliak. "Se-serius?"


"Hore!! Mommyyy hamil! Ye ye ye ... punya adik!" Robert sudah bersorak gembira sambil lompat-lompat, karena sangking senangnya mendengar kabar bahagia itu.


"Serius, Bu ... Pak," sahut Dokter itu dengan anggukan kepala. "Kandungannya sudah memasuki 12 Minggu lebih."


"Kalau 12 Minggu, berarti 3 bulan dong, Dok?"


"Benar, Bu." Dokter itu mengangguk.


"Puji Tuhan ... Syifa hamil, Pi! Mami seneng banget!" Mami Yeri langsung memeluk tubuh suaminya dengan sedikit berjingkrak-jingkrak. Dan Papi Paul pun melakukan hal yang sama, karena dia juga ikut senang tentunya.


"Puji Tuhan Papi juga senang, Mi. Semoga saja Syifa hamil kembar, ya? Kembar empat."


"Kenapa, kenapa dengan istriku?" Joe tiba-tiba saja datang dengan tergesa-gesa. Sampai-sampai deru napasnya pun tersenggal-senggal.


"Itu Daddy, Dok, suaminya Mommy." Robert menunjuk ke arah Joe untuk memperkenalkannya, kemudian langsung memeluk tubuhnya.


"Siapa nama Anda, Pak?" tanya Dokter itu dengan tangan yang terulur.


Joe pun langsung meraihnya, lalu menjawab, "Jonathan, Dok."


"Selamat Pak Jonathan, istri Anda sedang hamil. Usia kandungannya 12 Minggu lebih."


"Hamil?" Sama halnya seperti kedua orang tuanya tadi, Joe juga berekspresi kaget ketika mendengarnya. "Ah nggak mungkin deh, Dok, kayaknya."


"Lho ... kok nggak mungkin, sih, Joe?"


Ucapan Joe yang terdengar aneh itu membuat kedua orang tuanya perlahan melepaskan pelukannya masing-masing.


"Kamu nggak ngerasa buat apa gimana, Joe?" tanya Papi Paul heran. "Jangan sampai ucapanmu itu membuat kami semua berpikiran negatif tentang Syifa!" tegasnya yang tampak kesal.


"Bukan begitu, Pi." Joe menggelengkan kepalanya dan akan mencoba meluruskan apa yang dia katakan. Jangan sampai ini semua jadi salah paham. "Tentu aku ngerasa membuatnya, Syifa 'kan istriku. Tapi masalahnya ... Syifa belum lama ini baru selesai datang bulan. Dan kami belum berhubungan badan, tapi masa sekarang sudah 3 bulan hamil? Kan aneh." Dia pun menatap ke arah dokter dengan raut bingung.


"Berapa hari, istri Bapak mengalami datang bulan kemarin?"


"Enggak tau berapa harinya, sih, Dok. Tapi dia bilang ... darahnya nggak lancar. Nggak kayak biasa."


"Nggak lancar gimana maksudnya, Pak?"


"Ya nggak banyak. Cuma kayak ngeflek aja dia bilang. Terus hilang, tapi besoknya kayak begitu lagi. Tapi anehnya cuma ngeflek aja, Dok," jelas Joe.


"Sebelumnya apa Bu Syifa sudah pernah memeriksakan kondisinya ke Dokter, Pak?"


"Udah, Dok." Joe mengangguk. "Seminggu sebelum dia haid, aku mengajak Syifa ke dokter kandungan. Tapi pas diUSG ... Dokternya mengatakan Syifa nggak hamil."


"Sudah pakai tespek belum?"

__ADS_1


"Belum." Joe menggeleng, kemudian kembali menjelaskan. "Awalnya sehari habis periksa Syifa mau pakai tespek, eh taunya dia malah haid. Terus nggak jadi."


"Terus pas haid nggak lancarnya itu ... apa Bu Syifa dan Bapak sudah pergi ke dokter lagi?"


"Belum. Ada rencana sih besok, Dok, sekalian program hamil dan tes kesuburan."


"Tapi dari hasil pemeriksaan saya ... Bu Syifa dinyatakan hamil, Pak. Entah itu dari hasil USG atau respek. Dan kalau tentang haid itu ... menurut saya Bu Syifa tidak sedang haid."


"Lalu?"


"Itu hanya flek. Wanita hamil sering mengalaminya dan itu hal yang wajar, Pak."


"Udah Joe, ngapain pusing-pusing dengan hal itu," tegur Mami Yeri. "Harusnya kamu bersyukur dan intinya Syifa sedang hamil, itu saja."


"Iya sih, Mi."


"Bayi di dalam kandungannya ada berapa ya, Dok? Apa sudah bisa terlihat, kalau mereka kembar?" tanya Papi Paul penasaran.


"Belum terlihat, Pak, janinnya juga masih samar-samar." Dokter itu merogoh saku jasnya, kemudian memperlihatkan hasil USG 3D kepada Papi Paul.


Pria tua itu langsung mengambil selembar foto tersebut. Tapi bukan hanya dia saja yang melihatnya, melainkan Mami Yeri, Joe, Robert, Leon dan bahkan Pak Bambang juga.


Seperti apa yang dokter itu katakan, memang benar belum terlihat jelas. Di sana hanya ada sebuah bulatan kecil yang tampak samar.


"Masih ada kemungkinan nggak, ya, Dok, kalau menantuku itu hamil kembar? Aku kepengen punya cucu kembar soalnya."


Padahal tidak ada salahnya untuk berharap, lagian tidak dosa juga—pikir Papi Paul.


"Dari keluarga kita memang nggak ada Joe. Tapi 'kan kita nggak tau dari keluarga Syifa. Kan barang kali ada," ucap Papi Paul.


"Semoga saja ada, ya, Pi," sahut Mami Yeri


"Udah sih, Opa, Oma ... ngapain bahas kembar segala?" Robert terlihat tak suka. Baginya masalah kembar atau tidaknya itu tidak penting, yang terpenting adalah kondisi kesehatan Syifa dan calon adik bayinya. "Mau kembar atau nggak ya nggak apa-apa. Yang penting adik bayi dan Mommy sehat. Sekarang mending kita minta izin sama dokternya ... untuk bisa menemui Mommy. Pasti dia lapar dan haus, kan?" tambahnya memberikan saran sambil menggerakkan tentengannya secara naik turun.


"Kalian semua boleh menemui Bu Syifa sekarang, dan Bu Syifa juga tidak perlu dirawat. Mungkin saya akan meresepkan sebuah vitamin saja untuk dia minum setiap hari dan saya anjurkan Bu Syifa minum susu ibu hamil juga, ya, Pak ... Bu."


"Baik, Dok. Terima kasih banyak," ucap Joe sambil tersenyum.


"Sama-sama." Dokter itu melebarkan pintu, dan mereka semua masuk ke dalam sana, kecuali Pak Bambang.


"Mommyyyy!"


Robertlah yang lebih dulu memanggil sambil berlari menghampiri. Syifa yang tengah berbaring pada tempat tidur pun langsung menoleh ke arah mereka dengan ulasan senyum di bibirnya.


Tentu dia juga senang, saat tahu dirinya hamil. Karena momen inilah yang paling dia nanti-nantikan.


"Sayang, alhamdulilah ... kamu sekarang sedang hamil. Aku senang sekali," ucap Joe sambil tersenyum, kemudian membungkukkan badannya untuk mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Aku juga senang, A," balas Syifa.


"Robert juga senang, Mommy." Robert merentangkan kedua tangannya ke tubuh Syifa, kemudian memeluknya dengan erat. Leon yang berada di samping Robert pun melakukan hal yang sama.


"Selamat ya, Bu Syifa. Semoga ibu selalu sehat dan adik bayinya juga," ucap Leon.


"Terima kasih, Sayang." Syifa perlahan mengelus kepala botak Robert dan Leon bergantian.


"Mami seneng banget, Fa. Akhirnya kamu hamil." Mami Yeri duduk di tempat tidur di samping Syifa, lalu mengelus perutnya. Sangking senangnya, wajah Mami Yeri sampai merona. Begitu pun dengan wajah Papi Paul.


"Aku juga senang, Mi." Syifa tersenyum.


Seketika dia pun merasa Dejavu, mengingat saat dulu Mami Yeri juga pernah mengelus perutnya. Dan memang inilah yang dia inginkan. Yakni mendapatkan kasih sayang dari mertua.


Sebab dengan begini, mungkin Mami Yeri atau Papi Paul tak akan lagi memiliki pikiran untuk memisahkannya dengan Joe.


"Jaga yang benar kandunganmu, ya, Fa. Kamu juga musti jaga kesehatan. Papi nggak mau cucu kedua Papi kenapa-kenapa," ucap Papi Paul sambil tersenyum menatap perut menantunya.


"Iya, Pi." Syifa mengangguk.


"Sekarang kita pulang, ya, Yang? Soalnya Dokter bilang kamu nggak perlu dirawat." Joe meraih tubuh Syifa saat perempuan itu hendak duduk, setelah itu dia mengendongnya.


"Aku bisa jalan, A. Kayaknya nggak perlu digendong." Syifa menggelengkan kepalanya. Selain itu, dia juga merasa malu. Ditambah ada mertua dan anak serta anak muridnya.


"Mommy 'kan habis muntah dan pingsan, pasti lemes. Udah digendong aja sama Daddy," ucap Robert yang tampak setuju dengan apa yang dilakukan Joe.


"Tapi Mommy malu, Nak. Ini juga di rumah sakit." Wajah Syifa bahkan sudah merona, ketika Joe membawanya keluar dari ruang kandungan.


"Ngapain malu. Kamu 'kan istriku, Yang. Wajar juga ... seorang istri digendong suaminya. Yang nggak wajah itu jika istri digendong suami orang."


"Ya kalau kayak gitu memang nggak boleh kali, A."


"Mangkanya, udah nurut aja."


Sebelum pulang, Papi Paul mengambil obat vitamin yang diresepkan oleh dokter terlebih dahulu. Sampai akhirnya mereka semua berada dalam satu mobil.


Joe yang mengemudi di samping Papi Paul, sedangkan Syifa di belakang bersama Mami Yeri.


Robert dan Leon sendiri memilih pulang bersama Pak Bambang, sebab kedua bocah itu masih ada kegiatan sekolah. Robert juga ada rencana ingin memberitahukan kepada teman-teman sekelasnya kalau dia akan segera punya adik.


"Mertuamu yang botak udah dikasih tau belum, Joe, kalau Syifa hamil?" tanya Papi Paul menatap anaknya. "Kasih tau dia gih, inikan kabar baik. Pasti dia girang."


"Nggak usah pakai botak segala kali, Pi, ngomongnya," tegur Joe.


"Ya 'kan memang dia botak. Memang salah, ya? Tapi biar Papi saja deh ... yang telepon dia." Papi Paul merogoh kantong celananya, kemudian menghubungi Abi Hamdan.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


__ADS_2